
.
.
“Kak Niko?”
Laura tercekat di tempatnya, baru kali ini dia melihat mantannya kembali, jalan berdua bersama istrinya yang cantik.
Niko berjalan mendekati Laura sambil menyunggingkan senyuman lebarnya.
“Laura! Akhirnya kita bertemu lagi, aku datang ke pesta pernikahanmu, tapi tidak bisa lama karena ada syuting, kamu sudah menerima kado dariku?” tanya Niko.
“Halo kak Niko!” Angel melambaikan tangannya pada Niko.
“Halo, Angel!”
Istri Niko hanya diam sambil menatap Angel dan Laura dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat.
“Sayang, mereka siapa?” tanya wanita itu.
“Oh, ini Laura, lalu ini Angel,” jawab Niko.
“Hmm, yang mantanmu yang mana?” tanya wanita itu lagi, dan pertanyaan itu membuat mereka menjadi canggung.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu masa lalumu, apa aku salah?”
Niko menghela nafas berat, kemudian menunjuk Laura, “Laura adalah masa laluku, dan kamu –”
“Oh ini? Hahaha – aku pikir yang satunya, ternyata gendut dan jelek, haha, aku jauh lebih cantik kan, sayang?”
Niko hanya diam, dia tersenyum lagi pada Laura, lalu tanpa berbicara lagi, dia menyeret istrinya pergi menjauh.
Angel mengusap bahu Laura pelan, “Laura, tidak perlu dimasukkan ke dalam hati ucapan wanita itu...”
Laura mengangguk dan tersenyum, “enggak kok! Lagian aku gendut kan karena hamil, dan bangga karena itu, aku tidak sabar menunggu anakku lahir.”
“Baguslah, biarkan saja mereka, kamu sudah memiliki suami yang menicantaimu.”
Laura mengangguk, lalu kembali menyantap makanannya.
Sesungguhnya, hati Laura hancur mendengarnya.
Dia gendut dan jelek.
Benarkah itu?
Bagaimana jika Kaisar mencari perempuan lain diluaran sana karena dia menjadi jelek? Laura sengaja menambah berat badan karena itu saran dokter kandungan, berat badan harus naik, jadi Laura tidak peduli dengan asupan makanannya selama itu bergizi. Bahkan Laura berpikir jika dia gendut, mungkin Devon dan David akan menjauhinya.
Tapi... kenapa sekarang dia khawatir ya?
Saat pulang ke apartemen, ternyata Kaisar datang bersama Devon dan Wonhi.
Melihat Wonhi yang secantik itu, Laura yakin jika Devon sudah tidak meliriknya lagi. Pinggang yang ramping, rambut panjang berkilauan, kulit putih bersih... Wonhi cantik sekali.
Malam hari segera datang, Laura duduk menyendiri di pojokan balkon, menatap langit malam.
Dia hanya merenung dan menatap kosong, namun tiba-tiba air mata itu jatuh begitu saja. Laura pun mengusapnya dengan lengan sweaternya.
Pipi Laura pun menjadi bengkak, chubby, tidak cantik lagi...
Seseorang datang, Laura buru-buru mengusap air matanya, jangan sampai ada yang tahu jika Laura menangis.
“Hei, kamu menangis?”
Devon duduk di sebelah Laura lalu menangkup wajah chubbynya.
Mendengar pertanyaan itu, entah kenapa air mata Laura kembali mengalir.
“Laura? Kenapa menangis, sayangku jangan sedih?”
“Devon... hiks – kok kamu masih memanggilku begitu?”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Aku kan sudah bilang aku mencintamu...”
Laura menggeleng pelan, “tidak mungkin... lihat aku! Aku gendut dan jelek! Lalu lihat kekasihmu yang kau khianati itu! Bagaimana mungkin kau mengkhianatinya untuk aku yang gendut dan jelek ini?”
Devon menarik Laura ke dalam pelukannya, lalu mengecup puncak kepala Laura.
“Hei, apa yang kau bicarakan? Aku menyukaimu bukan karena fisikmu, tapi karena itu adalah kamu, siapa pula yang bodoh menyebutmu seperti itu? Bahkan untuk ukuran ibu hamil, kamu tidak terlalu gemuk... lagian kamu kayak gini tuh imut banget... lucu tahu, aku jadi makin suka!”
Laura menangis lagi, dan Devon berusaha untuk menenangkannya.
Tanpa mereka sadari, Wonhi melihat mereka dari balik pintu balkon.
“Suka? Suka yang seperti apa?” gumam Wonhi.
***
Baru saja Wonhi pergi untuk menenangkan hatinya, kemudian dia mendapat telfon dari seseorang, jadi dia pun permisi pada Angel dan Kaisar untuk ke kamar tamu menerima telfon. Saat itu memang Angel membantu Kaisar masak, sementara Jason sudah tertidur lelap.
“Halo, sayangku... kamu tidak boleh menelfon saat ini, aku sedang berada di tempat calon mertuaku.”
[Kakak berjanji akan menjemputku di sekolah kan?]
“Duh, gimana ya?”
[Jika tidak bisa, aku akan pergi dengan teman-temanku...]
“Teman-teman berandalmu itu? Tidak boleh! nanti kamu ikut nakal seperti mereka, kakak akan menjemputmu, okay?”
[Aku tunggu di cafe depan sekolah.]
“Oke!”
Wonhi menutup telfonnya lalu meraih tas kecilnya dan keluar dari kamar.
Devon juga sudah masuk kembali ke rumah, sepertinya Laura masih di balkon.
“Devon, aku ada perlu sebentar... jadi aku pergi ya?”
“Kau tidak akan makan disini?” tanya Devon.
Sebelum pergi, Wonhi mengecup pipi Devon dulu, kemudian berpamitan pada Kaisar dan Angel.
Wonhi mengendarai mobilnya sendiri, karena dia kemari menggunakan mobilnya, bukan mobil Devon.
Dia terus melajukan mobilnya hingga sampai di depan cafe yang berada di depan salah satu sekolah SMA elit di Seoul.
Seorang siswa tampan masuk mobil, kemudian Wonhi mencium bibirnya.
“Kamu baru pulang, Hwan? Tumben pulang jam segini?” tanya Wonhi.
“Aku bukan siswa yang suka belajar, jadi pulang duluan saja... hehe bercanda, aku akan latihan di gedung agensi saja, grup ku akan comeback bulan depan, jadi aku pulang awal.”
Wonhi mengusak kepala pemuda itu gemas, “kamu anak yang baik! Ku dengar grup mu semakin terkenal, bukan? Setelah satu member pergi” ucap Wonhi, dia mulai menjalankan mobilnya menjauh dari area sekolah elit tersebut.
“Gitu deh, dia memutuskan pergi karena ada masalah, tapi setelah dia pergi, grup kami malah mendapat banyak sorotan, tapi member yang pergi memberi kami selamat.”
Wonhi terkekeh mendengarnya, “kamu yakin itu karena dia memang baik, atau karena dia sangat iri? Bisa jadi, dia begitu karena iri.”
“Kak, jangan begitu! Aku dekat dengan Wujin dan dia sangat baik!”
“Begitu ya? Aku ini lebih dewasa darimu, Hwan... kamu tidak akan mengerti jika aku mengatakan tunanganku mengkhianatiku demi wanita gendut yang sedang hamil anak orang lain.”
“Itu tidak mungkin, kak! Kakak sangat cantik, banyak lelaki mengantri demi mendapatkan hati kakak...”
Wonhi menepikan mobilnya di parkiran VIP sebuah restoran terkenal, kemudian dia menoleh pada Hwan, remaja yang baru menginjak kelas dua SMA. Wonhi bertemu Hwan beberapa kali karena Wonhi menjadi MC di sebuah acara musik, dan kebetulan Hwan pernah menjadi MC menggantikan seseorang. Dari sana mereka dekat, dan memutuskan berkencan. Hwan mengerti Wonhi memiliki Devon, tapi mau bagaimana lagi?
Dengan Hwan berkencan dengan Wonhi, Wonhi berjanji akan membantu memberi sponsor pada grupnya yang diabaikan agensi. Lagipula, siapa pria bodoh yang bisa menolak kecantikan Wonhi?
Wonhi sendiri mulai berbuat begitu karena tahu Devon sudah tidak mencintainya lagi, Wonhi bisa melihat di dalam mata Devon, jika cinta Devon bukan untuk Wonhi lagi.
Akan tetapi, karena Hwan masih bocah, belum cukup umur, jadi Wonhi takut. Makanya dia bertahan dulu dengan Devon, paling tidak sampai Hwan cukup umur.
“Kamu sungguh mencintaiku, atau hanya mempermainkanku?” tanya Wonhi.
__ADS_1
Hwan menatap Wonhi dengan tatapan polosnya, “aku mempertaruhkan karirku yang masih seumur jagung untuk bersama dengan kakak, aku pun tidak peduli kakak sudah punya tunangan, aku lakukan semua itu dan kakak masih tidak percaya padaku?”
Wonhi tersenyum kecil, “Tapi aku seperti pedofil jika denganmu...”
“Kak, kita hanya terpaut lima tahun! Satu tahun lagi aku legal kok...”
“Hwan...”
Kemudian Hwan memberanikan diri untuk memajukan kepalanya, lalu mencium Wonhi.
Itu adalah sebuah kisah cinta terlarang yang begitu mendebarkan, membuat jiwa remaja Hwan meledak-ledak.
Dia berpikir, dia bisa melakukan semuanya untuk Wonhi.
Padahal, dia hanya seorang remaja, juga seorang idol.
Dia tidak boleh main-main dengan karirnya jika tidak ingin jatuh.
Ah, tapi Hwan itu adalah cucu konglomerat, meski karirnya jatuh, dia akan baik-baik saja.
Ciuman itu harus terputus saat ponsel Wonhi berbunyi.
Wonhi segera mengangkatnya, kemudian Hwan memeluknya dari samping.
“Halo, Ruka?”
[Wonhi... kamu harus tahu ini! David dan Devon...]
“Iya, kenapa?”
[Ternyata bukan kita yang mengkhianati mereka, tapi mereka yang mengkhianati kita, untuk Laura!]
“Ah, aku juga baru tahu tadi... jika Devon menyukai Laura.”
[Kau tidak marah?]
“Bukankah kita selingkuh karena tahu mereka sudah tidak mencintai kita lagi?”
[Iy-iya sih... tapi setelah dipikir-pikir, aku ingin ayah dari anakku adalah David, paling tidak secara resmi.]
“Tapi itu anak Reza, kan?”
[Iya, aku tahu... tapi...]
“Kamu menyesal?”
[Sedikit?]
“Kita harus menerima konsekuensinya, karena kita memutuskan semuanya sendiri, lagipula mereka tidak bisa berbuat apapun, Laura menikahi ayah mereka.”
[David sudah tahu, itu kenapa kami harus bercerai]
“Tapi kau ingin ayah anak itu David? Kamu egois sekali, bagaimana dengan perasaan Reza, ayah kandungnya?”
[Jadi aku harus menyerah?]
“Terserah padamu.”
[Oke, aku tutup.]
Wonhi menghela nafas berat sambil memandangi ponselnya yang telah mati.
Hwan tidak tahu apa yang Wonhi bicarakan di telfon, tapi setelahnya mereka kembali berciuman mesra.
“Kamu mau makan malam disini?” tanya Wonhi setelah ciuman itu terputus.
“Tapi bagaimana jika ada yang melihat? Terutama media? Jika aku, mungkin aku hanya akan dikeluarkan, tapi kamu? Kamu sudah bertahun-tahun membesarkan namamu” ucap Hwan.
Wonhi menggeleng, “Aku member VIP disini dan kita bisa masuk lewat pintu khusus, jadi tidak akan ada yang melihat kita, okay?”
Hwan pun mengangguk pelan, “baiklah.”
.
__ADS_1
.