
.
.
“Wonhi pergi kemana?” tanya Laura.
“Dia pergi untuk sebuah urusan, aku tidak tahu itu apa” sahut Devon.
“Kamu tidak bertanya?” timpal Angel.
Devon menggeleng, “tidak, dia bebas berbuat apapun.”
“Kamu sudah tidak mencintainya?”
Devon terkejut mendengar pertanyaan ayahnya yang tiba-tiba tersebut.
“Papa... apaan sih? Enggak kok...”
“Jika kamu sudah tidak peduli seperti itu, artinya cintamu berkurang, aku melihat akhir-akhir ini kamu seperti itu dengan Wonhi, apa yang terjadi?” tanya Kaisar.
Tiba-tiba Devon menjadi gugup, karena ketahuan oleh ayahnya.
“Kami tidak memiliki masalah, Pa.”
“Pernikahan David akan kandas, jadi sebelum kamu juga begitu, lebih baik putuskan... kamu harus menikah dengan wanita yang sungguh-sungguh kamu cintai, iya kan, Angel?” ucap Kaisar sambil menoleh dan tersenyum pada Angel.
“Hah? Oh – iy... iya... hehe,” sahut Angel bingung.
“Ayo makan! Oh – sebentar... kalian bisa makan dulu.” Kaisar pun pergi untuk mengangkat telfonnya.
Ternyata dari Fano.
“Iya, Fano?”
[Om, aku ada di bandara nih... bisa menjemputku gak nanti?]
“APA? Kamu ada di bandara? Kenapa tiba-tiba?”
[hehe, ada deh! Bandara suekarno Hatta Om]
“Ya ampun, Fano! Kirain, ya udah nanti kalo nyampe kita jemput.”
“Uhuk!”
Angel tersedak makanannya setelah mendengar nama Fano, kemudian dia buru-buru menoleh pada Kaisar.
“Fano ternyata sudah ada di bandara mau terbang kemari... beberapa jam lagi dia sampai, nanti Devon jemput dia ya?”
“Ah, aku pikir udah nyampe sini” sahut Devon.
“Aku pikir juga begitu, ternyata baru akan berangkat, ayo kita makan malam dulu!”
Angel sudah tidak memiliki nafsu makan.
Dia memikirkan Fano.
Kenapa Fano tiba-tiba datang ke Korea? Padahal harusnya dia sibuk dengan perusahaan.
Apa yang terjadi?
Sementara itu, Laura yang tahu kenapa Angel hanya makan dengan santai, dia memuji Fano yang bergerak cepat, tapi dia juga berpikir jika Fano agak berlebihan dan terlalu panik.
__ADS_1
Kemudian Laura menoleh pada Devon yang ternyata sedang tersenyum padanya.
Kenapa lagi si Devon ini?
Sebuah chat masuk ke ponsel Laura, dari Devon.
‘Kamu imut banget’ begitu isi chatnya.
‘Dasar gombal! Makan yang benar sana!’ balas Laura.
***
Saat Fano sudah datang di jemput Devon, setelah sampai di apartemen, Angel sudah tidur dengan Jason. Yang bangun hanya Laura dan Kaisar saja, mereka menjamu Fano dengan kue dan teh hangat.
“Jadi, apa yang kau ingin lakukan disini?” tanya Kaisar.
“Aku ada masalah dengan Angel, aku tidak ingin terlambat menyelesaikannya” ucap Fano.
“Kalian bisa istirahat, aku tahu kalian pasti lelah kan?” lanjut Fano, sambil menyesap tehnya.
“Kau yang baru datang tapi malah meminta kami yang istirahat, gimana sih?” protes Devon.
“Haha, kalau begitu Om istirahat dulu ya Fano...” Kaisar pun berdiri dari duduknya, Laura mengikuti sambil memeluk lengan Kaisar dengan manja.
Fano menoleh pada Devon, sepupu gilanya itu sedang menatap Laura dengan tatapan mesum. Devon baru sadar setelah Fano menginjak kakinya.
“HEI!” protes Devon kesal.
“Lagian kamu ngliatin Laura terus, udah nikah sama papa mu itu...”
Devon berdecak kesal, “seperti kau tidak mengejar Angel saat masih ada kak Dexter aja” sahut Devon.
“Saat itu kak Dexter kan lagi koma, sebelumnya aku tidak begitu... aku menghargai kak Dexter, tidak sepertimu – mmmpp!” Devon buru-buru membekap mulut Fano.
“Halah, kau takut papa mu dengar kan?”
“Diam!”
Akhirnya Fano menurut saja diajak ke atap gedung apartemen, ada tempat duduk lebar disana. Devon membawa dua bungkus ramen dan panci, dia juga membawa satu botol wine. Sementar Fano juga membawa entah apa dalam plastik.
Ternyata di atap sudah ada meja lebar yang biasa dibuat duduk, ada kompor juga disana disimpan di gudang agar tidak bolak-balik membawa, padahal itu kompor portable.
Devon pun memasak ramyeon, di campur beberapa sayuran dan daging.
Fano menunggunya sambil meminum segelas wine.
“Apa kau tahu, Fano? Laura tadi sempat menangis, saat papa dan Angel masak, dia tiba-tiba insecure tentang tubuhnya yang berubah menjadi lebih gemuk” ucap Devon.
“Tapi kan itu normal sebagai ibu hamil? Kak Luna dan Angel dulu juga gitu kan? yang tidak terlihat tambah gemuk cuman Felly, lagipula kak Luna dan Angel juga jadi kurus lagi setelah beberapa bulan melahirkan,” timpal Fano.
“Itulah... padahal Laura lucu sekali gemuk begitu, hehe.”
“Dasar mesum!”
“Aku gak mesum ya!”
“Gak salah lagi maksudnya?”
Devon hanya mencibir dan lanjut memasak, Fano yang bosan akhirnya menatap pemandangan kota di depannya. Lampu-lampu membuat kota menjadi indah, seperti bintang yang bertaburan.
“Apa kau tahu Angel menerima Travis dan berkencan?”
__ADS_1
“HAH?”
“Aku tahu itu mengejutkan, aku juga tidak habis pikir, selama perjalanan kemari, aku memikirkan apa alasannya kira-kira, tapi aku tetap tidak bisa menemukan alasan yang tepat, aku pikir ini keterlaluan, iya kan?”
Devon mengangguk, “Angel yang keterlaluan, kamu banyak berkorban demi dia lalu dia menerima pria lain, itu tidak masuk akal.”
“Kalau kamu berada di posisiku, kamu akan bagaimana?” tanya Fano.
“Ya aku akan relakan saja, aku tau aku sendiri brengsek – tapi...”
“Ya gak gitu! Sejak dengan Angel, aku sudah banyak berkorban, aku setia padanya, tidak ada wanita lain – tapi balasannya seperti ini!”
Mereka pun terdiam, tidak ada yang berbicara, beberapa menit berlalu, masakan pun matang. Mereka makan dengan tenang.
“Kasih telur dan keju lebih enak” tawar Devon.
Fano hanya diam dan menerima saja.
Beberapa saat setelah makan dan suasana menjadi lebih tenang, akhirnya Devon kembali bicara.
“Pernah kah kamu memosisikan diri sebagai Angel dalam situasimu saat ini? Cobalah mengerti dia juga.”
“Entahlah Devon, sepertinya amarah sedang menguasaiku, jangan bicarakan itu lagi, atau aku akan marah padamu.”
Devon mengedikkan bahunya, lalu lanjut makan mienya.
“Oh iya, tumben gak ada Wonhi, kemana dia?” tanya Fano.
Devon mengedikkan bahunya, “gak tahu palingan pergi sama brondongnya.”
Fano cepat-cepat menoleh pada sepupunya tersebut, “apa?”
“Wonhi sering jalan dengan salah satu anggota boygrup yang saat ini sedang naik daun, dia masih kelas dua SMA.”
“Gila! Lalu kamu pura-pura gak tau?”
“Ini impas, dia juga pura-pura tidak tahu dengan apa yang ku lakukan... ku rasa, dia sudah mengetahuinya tapi masih bertahan denganku, karena pacarnya masih dibawah umur, kalau sudah legal, pasti dia mulai membongkar keburukanku, kemudian memutuskanku, pasti begitu” ucap Devon.
“Dan kau tidak keberatan?”
Devon tersenyum kecil, “entahlah, aku tidak ingin menghancurkan karirnya, dengan aku yang jahat, maka karir dia akan selamat, bahkan mendapatkan simpati publik, jadi harus aku yang brengsek, karena hal-hal seperti itu kan tidak mempengaruhi karirku...”
Fano mengangguk mengerti, ternyata Devon sangat memikirkan Wonhi, meski sudah tidak ada cinta.
“Ucapanmu tadi... tentang aku harus melihat perspektif Angel, aku akan mencobanya” ucap Fano.
Devon tersenyum lalu mengusak kepala Fano gemas, yang kemudian langsung Fano tepis dengan cepat.
“Gitu dong! Tapi, kamu boleh menyerah jika memang itu keterlaluan bagimu, kamu berhak bahagia juga, Fano, jika memang Angel bukan untukmu, lepaskan saja, walaupun jika aku jadi kau – mungkin aku akan bersikeras menahan Angel disisiku, seperti yang aku lakukan pada Laura.”
Fano menghela nafas panjang, “kamu dan David itu random sekali, aku baru tahu jika David juga sama sepertimu, mengejar Laura. Kenapa tiba-tiba ada Laura dihatimu coba?”
“Tidak tiba-tiba, kami baru bertemu Laura setelah kamu mencampakkan dia dulu kan? kau bodoh sekali Fano... setelah itu aku langsung terpesona padanya, tapi aku sudah ada Wonhi, aku terlambat, jadi aku diam saja.”
“Aku tidak menyukai Laura, perasaan kan tidak bisa dipaksa, jadi lebih baik, ku lepaskan Laura, meski aku tahu Laura sangat cantik dan seksi...”
“Ku rasa pasti ada sesuatu yang membuat Laura sampai menangis hanya karena berpikir dia gemuk, maksudku – Laura bukan perempuan yang akan menangis hanya karena hal itu kan?”
Fano mengangguk dengan ucapan Devon, “benar juga... Laura bukan orang yang gampang insecure juga.”
.
__ADS_1
.