
.
.
“Aku tidak menyangka papa membawamu ke apartemen ini, aku pikir papa trauma dengan apartemen ini” Devon.
Saat itu Laura sedang merendam kakinya di air hangat, sambil duduk di dekat jendela untuk melihat pemandangan indah kota New York.
Laura menoleh pada Devon yang duduk tenang di atas sofa, sambil memakan burger yang entah dia beli dimana.
Kelihatannya enak.
“Memangnya kenapa bisa trauma? Dia tidak kelihatan Trauma” sahut Laura.
Devon menoleh pada Laura, lalu menjawab, “papa kan membeli apartemen ini sebagai hadiah ulang tahun mama yang tertunda, tapi kemudian mama kecelakaan, setelah itu papa tidak mau kemari, atau membahas tentang apartemen ini. Aku pikir aku bisa mendapatkan apartemen ini, ternyata sudah dialihkan atas namamu” ucap Devon.
Laura menatap Devon dengan tatapan kesal, “Lalu? Kau tidak suka aku yang mendapat apartemen ini? Maaf karena papa mu memberikannya padaku!”
Devon terkekeh melihat Laura yang emosi, pipinya menggembung lucu.
“Apa maksudmu? Aku gak marah kok... itu terserah papa untuk memberikan apartemen ini padamu, aku akan membeli apartemen lain, kau mau yang seperti apa?”
“Kenapa kau malah bertanya padaku?”
“Kan nanti kita tempai berdua...”
“Enggak!”
“Mau burger?”
Laura mengeluarkan kakinya dari rendaman air hangat, mengeringkannya sebentar, lalu menghampiri Devon.
“Mau!”
Devon senang sekali melihat Laura makan dengan lahap, pipinya makin bulat saja, jadi menggemaskan. Dia kesal sekali saat istrinya Niko membuat Laura insecure dengan tubuhnya, padahal itu normal untuk ibu hamil. Seperti apapun bentuk Laura, Devon akan selalu menyukainya.
“Hubunganmu dengan Wonhi gimana?” tanya Laura, seelah menelan burger yang dia kunyah.
“Ya gitu gitu aja, tapi aku udah tahu siapa selingkuhannya, cuma bocah biasa yang mencoba kabur dari keluarganya yang mau dia membantu perusahaan keluarga, kau tahu banyak anak muda seperti itu, kemudian kabur dengan menjadi idol, padahal menjadi idol jauh lebih susah. Setelah tahu susah, dia pun menyesal tapi masih memiliki ego yang besar, akhirnya membutuhkan bantuan orang yang lebih berkuasa untuk sponsor, yaitu Wonhi.”
Laura berusaha mencerna ucapan Devon sambil memakan burgernya.
“Jadi selungkuhannya itu idol?”
Devon mengangguk, “iya, berkat bantuan Wonhi, mereka mulai mendapat sponsor dan grupnya mulai dikenal.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
Devon mengedikkan bahunya, “entah, aku tidak bisa menghakiminya, karena aku sendiri bukan pria yang baik, aku malah bermain-main denganmu kan?”
“Tapi aku tidak suka!”
Devon menyeringai pada Laura, “oh ya? Bukankah kamu selalu menikmati sentuhanku, sayang?”
“Jangan main-main, aku ibu tirimu sekarang!”
“Ibu tiri yang menggoda...”
Laura membawa burgernya lalu kembali ke depan jendela.
“Aku ke kamar dulu, mau mandi, kalo ada apa-apa bilang aja ya... nanti Angel dan Fano juga datang.”
Saat itu Kaisar yang kelelahan telah tidur, Laura tidak mau mengganggu, jadi dia memilih menghangatkan kakinya, namun Devon datang dan mengacaukan kedamaiannya.
__ADS_1
Laura sendiri tidak mau mengakui jika dia menikmati perlakuan Devon padanya. Laura masih yakin cintanya hanya untuk Kaisar.
Kenapa hal seperti ini terjadi padanya?
Laura hanya ingin hidup tenang dengan pria yang dia cintai, tapi kenapa harus ada kedua anak kembar iblis itu yang mengganggu hidupnya? Lebih parahnya lagi, Laura semakin terbiasa dan menikmatinya.
Kaisar berhak mendapat wanita yang lebih baik, Laura sudah berusaha dan tak bisa menjadi wanita baik untuknya.
Tanpa terasa, airmata Laura keluar begitu saja, mengalir di pipi chubbynya.
Apa jangan-jangan dia dulu melakukan banyak kesalahan, hingga hidupnya dipersulit seperti ini?
Tanpa terasa airmata mengalir di pipi Laura, dia sudah meletakkan burgernya yang tinggal setengah, lalu menangis tanpa suara.
Devon yang baru selesai mandi dan masih mengenakan bathrobenya heran karena suasana mendadak sepi, dia pun keluar kamarnya untuk melihat keadaan Laura. Betapa terkejutnya dia melihat Laura sudah menangis tanpa suara, sambil menatap ke luar jendela.
“Laura?” panggil Devon, dia pun mendekati Laura, kemudian memeluk Laura dari samping.
“Kamu kenapa?” tanya Devon.
Laura menggeleng pelan, namun kali ini dia menangis sambil terisak.
“Sudah, sudah... jangan menangis lagi, itu membuat hatiku ikut hancur, apa ini salahku?”
“Tidak – hiks, aku yang salah... semua salahku...”
“Laura, sebenarnya ada apa? Apa yang membuatmu menangis?”
Devon menangkup pipi Laura, namun Laura masih saja tidak mau menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya, menatap Devon dengan matanya yang berair.
Devon mendekat untuk mengecup kening Laura, “jangan menangis, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu, kamu masih ingat kan? kamu tidak boleh stress karena kehamilanmu.”
“Iya, tapi...”
Laura pun mengangguk, Devon kembali menarik Laura ke dalam pelukannya.
***
“Kamu sudah siap?” tanya Kaisar.
Laura mematut dirinya di depan cermin. Pagi ini Kaisar akan bertemu dengan saudara tirinya, yaitu Xiaokun, yang dua tahun lebih muda dari Kaisar. Jadi ayah Kaisar dulu menikahi seorang wanita dari Beijing, yaitu ibunya Xiaokun.
Xiaokun sendiri tinggal di Amerika untuk sebuah pekerjaan, dia membeli salah satu apartemen di New York, tapi agak jauh dari tempat Kaisar dan Laura.
Karena itu, berhubung Kaisar sudah ada di Amerika, Xiaokun ingin bertemu dengan saudaranya tersebut.
Laura mengenakan gaun yang sederhana, dipagu dengan mantel tebal, karena meski masih musim gugur, namun udara sudah sangat dingin, sedangkan Laura agak sensitif.
Meski tubuhnya jadi kelihatan dua kali lebih besar, Laura tidak peduli, yang penting dia hangat.
“Sudah!”
Kaisar tersenyum lalu mengecup kedua pipi Laura, lalu mengecup bibirnya sekilas.
“Kamu cantik sekali, sudah merasa hangat kan? di luar akan lebih dingin lagi...”
Laura mengangguk yakin, “sudah!”
“Ayo berangkat!”
Mereka pun keluar dari kamar, terlihat Angel yang bermain dengan Jason dan Hanna. Untuk sementara Angel menjaga Hanna, karena Jay masih sibuk dengan urusannya. Ada Fano dan Devon yang memasak di dapur.
“Kalian sudah mau berangkat?” tanya Angel.
__ADS_1
“Iya, gimana penampilanku?” tanya Laura, dia kemudian memutar tubuhnya untuk menunjukkan gaun dan mantelnya yang cantik.
Angel bertepuk tangan, kemudian dua bayi juga ikut bertepuk tangan.
“Cantik banget! Itu yang dibeli di Gangnam kemarin ya?” tanya Angel.
“Iya, ini beli sama Wonhi, pilihan dia bagus banget sih... hangat juga” ucap Laura.
“Kami pergi dulu ya” kata Kaisar, dia menarik Laura keluar dari apartemen.
“Jangan lupa oleh-olehnya!” sahut Fano dari arah dapur.
Restoran yang akan mereka kunjungi adalah restoran China-Amerika, yaitu Wo Hop, salahsatu retoran tertua di New York. Mereka awet karena memiliki menu andalan khas mereka sendiri yang unik.
Bahkan pelanggan banyak yang mengantri setiap harinya di depan pintu masuk. Belum sampai saja Laura sudah tahu apa yang ingin dia makan disana, yaitu Chickn chow mein, atau beef chow fun. Atau membeli keduanya, Kaisar pasti tidak masalah jika Laura memesan banyak kan?
“Kamu kelihatannya sangat bersemangat ya, sayang?” tanya Kaisar.
“Hehe, aku penasaran dengan makanannya, katanya sangat terkenal” jawab Laura.
“Syukurlah jika kamu senang, nanti makan yang banyak ya? Biar bayi kita makin sehat!”
Laura mengangguk semangat, “tentu saja! aku akan makan banyak!”
Kaisar pun mencubit pipi Laura yang kenyal dan chubby itu dengan gemas, mengingatkan Kaisar pada saudari kembarnya, Keira, yaitu ibunya Fano.
Jadi bisa disimpulkan jika sekarang Laura adalah bibi tirinya Fano.
Sungguh hubungan yang rumit, padahal Laura dan Fano dulu mantan juga.
Namun, senyuman lebar Laura tidak bertahan lama, karena setelah sampai, dia melihat seorang wanita yang cantik, mungkin umurnya sekitar tiga puluhan. Meski begitu, dia sangat cantik, tubuhnya terawat, kulitnya bagus dan kenyal, pokoknya cantik sekali, seperti selebriti.
“Laura, kenalkan, ini saudara tiriku, Xiaokun, dan ini istrinya Kun, Yue...” Kaisar mengenalkan kedua orang asing tersebut.
“Kami datang ke pesta pernikahan kalian lho, masa gak ingat?” tanya Kun.
“Ya maklum, Laura mungkin capek, ada banyak orang, dia bingung...”
“Maaf...” ucap Laura sambil menundukkan kepalanya.
“Kak Kai, kamu bilang istrimu itu masih muda... aku tidak melihat dia masih muda” ucap Yue.
“Dia sedang hamil...” ucap Kaisar.
“Ah, pantesan, dulu aku hamil juga gemuk sih... dan kelihatan lebih tua, jangan khawatir Laura, lihat aku saja, aku berhasil cantik kembali kan?” ucap Yue.
Laura hanya tersenyum, bingung bagaimana untuk menjawabnya.
Pada akhirnya, Laura harus menahan dirinya untuk tidak heboh, dia hanya memesan chicken chow mein saja dan berusaha makan dengan anggun. Sepanjang pertemuan itu, Laura hanya diam karena tidak tahu harus bicara apa, dia tidak banyak mengerti obrolan mereka. Tapi untungnya Yue sesekali mengajak laura bicara, Laura jadi merasa tertolong.
“Siang ini kalian ada acara gak?” tanya Yue.
“Enggak kok, kenapa?” sahut Kaisar.
Yue menggeleng lalu menatap Laura, “aku cuma mau ngajak Laura jalan-jalan, ibu hamil kayak dia butuh banyak jalan-jalan lho, biar sehat, boleh kan?” tanya Yue.
“Oh, boleh banget, Laura mau gak?” tanya Kaisar.
Laura mengangguk malu-malu, saat itu, Laura tidak memiliki prasangka buruk sama sekali.
.
.
__ADS_1