
.
.
“Cium aku maka aku beberkan rahasia Fano, bagaimana?”
“Aku tahu kamu tidak bisa melakukannya pada ku kan? tidak apa, kamu tidak perlu tahu rahasianya –” ucapan Devon terhenti saat Laura tiba-tiba menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.
Laura menciumnya!
Tanpa ragu, Laura ******* bibir Devon, menyesapnya... membuat Devon tidak tahan untuk tidak membalasnya. Akhirnya ciuman itu berubah menjadi lebih panas.
Devon kini memimpin ciumannya, membuat Laura pasrah dibawah kungkungan tubuhnya yang kekar. ******* suara lembut Laura semakin membuat libidonya naik.
Tanpa Laura sadari, pakaian atasnya telah dilucuti oleh Devon, membuat tubuh atasnya polos tanpa sehelai benangpun. Laura baru sadar setelah Devon memasukkan salah satu dada Laura ke dalam mulutnya, lalu dada yang lain diremas oleh tangan besarnya.
“Dev...aaahh! mmhh, jangan – hhhh!”
Laura malu karena dia malah terbawa oleh permainan iblis yang satu itu, dia malah menikmatinya dan tak mau mulut Devon berhenti menggelitik puncak dadanya.
Pagi itu semakin menggairahkan saat Devon menarik tubuh lemas Laura ke dalam kamar mandi. Devon meletakkan tubuh Laura di dalam bath tub, kemudian dia melucuti pakaiannya sendiri.
“Tidak, Devon...”
“Akan ku beritahu rahasia Fano... okay?”
Laura mengangguk saja karena dia sudah lemas, bahkan untuk melawan Devon pun tidak sanggup, tangan dan kakinya terasa lemas seperti jelly.
Laura bahkan tidak melawan saat Devon memainkan tubuh polosnya.
“Fano itu... ada perasaan dengan Angel, tapi dia tidak berani pada Dexter atau Darren, jadi diam saja dan pura-pura tidak ada apa-apa, padahal Fano hampir saja berhasil memperkosa Angel waktu itu. Aku mengetahuinya karena Fano tidak sengaja menceritakannya padaku saat bocah itu mabuk. Setelahnya Fano selalu mendekati Angel sebagai teman, karena tahu tidak mungkin dia mengalahkan Dexter. Itu adalah rahasia terbesar Fano, selebihnya, dia sering bermain dengan wanita lain lagi, meski tidak sampai melakukan hal yang tidak senonoh.”
“Kalau begitu, kau lebih brengsek...”
Devon tertawa mendengar sahutan Laura.
“Ku akui itu, aku memang lebih brengsek... tapi apakah kau lebih suci dariku? Tidak, kan?”
Laura pun terdiam, Devon benar, Laura sendiri tidak suci, dia juga brengsek.
“Laura... aku akan memutuskan Wonhi jika kamu mau bersama denganku...”
Laura menggeleng, “tidak mau.”
Devon tersenyum tipis, “begitu? Baiklah, tapi jangan harap aku melepasmu, sekarang... bantu aku menuntaskan hasratku.”
Laura hanya diam lalu melakukan apa yang Devon perintahkan, karena dia takut juga dengan Devon, lalu, tidak mau munafik, dia menikmati perlakuan Devon padanya.
__ADS_1
“Aahh, Laura, kau sangat cantik, sayang...”
Laura melirik ke atas, melihat wajah Devon yang sedang menatapnya dengan tatapan mesum.
Laura jadi heran, sebenarnya, kenapa Devon dan David tiba-tiba tergila-gila padanya. Laura bukan gadis yang baik, yang lebih cantik dari Laura juga banyak, padahal Wonhi lebih terkenal, Ruka lebih kaya raya, tapi keduanya bisa berpaling pada Laura.
Kenapa?
Padahal Laura sedang mengandung anak ayah mereka, kenapa mereka seperti itu padanya. Rasa penasaran Laura tersebut membawanya pada saat ini.
Saat dia bercinta dengan anak dari ayah bayinya di dalam bathtub besar di dalam kamar mandi.
“Laura... bagaimana jika anak itu anakku? Kamu tahu aku yang lebih dulu memasukkannya?”
“Tidak! aku yakin bukan... itu anak Kaisar.”
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Aku ibunyaaaa –aaahh! Devon hentikan!”
“Kamu bisa saja salah perhitungan, bisa saja itu bayiku!”
“Tapi... mmhhh”
Devon tidak membiarkan Laura membantahnya lagi, segera dia cumbu bibir menggoda itu sekali lagi. Bibir yang sangat dia sukai, bibir yang membuatnya candu.
Dexter dinyatakan koma oleh dokter, tidak tahu pasti dia akan bangun kembali kapan. Yang pasti Angel terlihat sangat sedih dengan kenyataan itu.
Laura dan Luna ada disana untuk membantu menenangkan Angel dan menghiburnya, sementara Jason yang menangis sedang digendong oleh Fano.
Sejak Laura, David, dan Devon datang, Fano sudah ada bersama Angel dan Bagas, membantu menggendong si bayi, menggantikan popok dan lain-lain. Laura kini percaya dengan ucapan Devon tentang Fano, jika Fano sebenarnya ada perasaan dengan Angel. Dia bahkan mengesampingkan kuliahnya untuk menjaga Angel dan bayinya.
Darren juga ada di sana, menunggu Dexter yang entah kapan bisa bangun.
“Fano... bisa gantian gak?” Airi datang menemui Fano, berniat ingin menggendong bayi Jason yang menangis dan merengek tanpa henti.
Fano yang berpikir mungkin Jason menangis karena tidak nyaman dengannya, akhirnya membiarkan Airi untuk menggendong si bayi, tapi ternyata Jason menangis semakin kencang.
Airi pun mengembalikan Jason pada Fano, untungnya setelah itu Jason tidak menangis lagi.
“Mungkin harus dibawa jalan-jalan, barangkali dia bosan terus berada disana, dia sudah minum susu kan?” tanya Devon.
Fano mengangguk, “baru aja tadi dia minum sampai kenyang kok, aku melihatnya sendiri” ucap Fano.
David terkekeh mendengarnya.
“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Devon dengan nada mengejek.
__ADS_1
“Iya, aku melihatnya sendiri saat Jason disusui, kenapa sih kalian? Gak usah mikir mesum deh!” sahut Fano kesal.
“Hahaha, maaf deh, gak usah ngambek... mending kamu sama Airi ajak jalan-jalan Jasonnya, ibunya biar kami jaga disini” ucap David.
Akhirnya Fano pun mengajak Jason jalan-jalan bersama Airi, mereka pergi ke taman, membeli minuman di vending machine, membeli makanan seperti kebab yang dijual di depan rumah sakit.
Jason sudah lebih ceria saat jalan-jalan.
Mereka juga bertemu dengan bayi lain, orang-orang pikir Fano dan Airi itu orangtuanya dan menikah muda, Airi sih sudah bilang, dia hanya bibinya si bayi, tapi Fano tidak mengatakan apapun jika dia bukan ayahnya si bayi, dia hanya tersenyum saja menanggapi orang-orang yang kepo.
“Fano...” panggil Airi saat mereka hanya duduk di bangku taman sambil menghabiskan makanan yang mereka beli.
“Kenapa?”
“Aku pernah mendengar dari Angel, jika kamu pernah –”
“Angel menceritakan itu padamu?”
Airi berdecak kesal, “Tentu saja, sebelum dekat dengan Laura, dia lebih dulu dekat denganku!”
Fano memutar bola matanya malas, “oh, gitu?”
Airi memukul lengan sepupu tengilnya itu karena kesal, “kau ini menyebalkan sekali, yang pasti, aku agak heran melihatmu yang sepertinya tidak ada masalah apapun dengan Lily, tapi ternyata...”
“Siapa bilang tidak masalah? Saat ini aku ada masalah dengan Lily kok...”
“Masalah apa? Jadi karena itu kamu tidak terlihat berdua dengan Lily lagi?”
Fano menghembuskan nafas berat, “mungkin ini karena aku sendiri penyebabnya, Lily hanya lelah denganku yang kekanakan ini, jadi dia perlahan-lahan meninggalkanku, aku tidak apa, asal dia bahagia saja” ucap Fano.
“Kamu ini ngomong apa, mungkin dia hanya sibuk dengan kuliahnya saja kan?”
Fano tersenyum kecil, kemudian merogoh saku, memperlihatkan suatu foto di ponselnya.
Airi membelalakkan matanya terkejut melihat foto tersebut.
Disana terlihat Lily sedang jalan berdua dengan seorang pria tapi tidak jelas wajahnya.
“Kamu sudah tahu siapa laki-laki ini? Maksudku – jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu!”
Lalu Fano mengambil ponselnya kembali, memperlihatkan foto lainnya.
Kali ini foto lebih jelas, ternyata ada beberapa foto.
Foto lain memperlihatkan Lily berciuman dengan pria itu, foto lain memperlihatkan siapa pria tersebut.
Airi menoleh pada Fano, menatap sepupunya tersebut dengan tatapan khawatir.
__ADS_1
“Ini siapa?”