Dihamili Tiga Pria

Dihamili Tiga Pria
Ups! ketahuan


__ADS_3

.


.


“Kamu kenapa ikut panik begitu?” tanya Devon.


Devon sudah memperhatikan Laura jadi diam dan banyak merenung setelah kabar Dexter kecelakaan. Kemudian Laura menoleh pada Devon, lalu mengernyitkan dahinya setelah melihat raut wajah Devon yang malah terlihat cemburu.


“Aku panik karena khawatir dengan Angel, apa-apaan wajah cemburumu itu?” sahut Laura.


Mereka sudah duduk di pesawat. Laura mendapat tempat duduk bertiga dengan si kembar iblis berada di samping kanan kirinya. Sementara Darren, Airi dan Roun ada di depan mereka.


“Aku juga cemburu jika kamu mengkhawatirkan kak Dexter” sahut David, sambil berbisik di telinga Laura.


“Kalian jangan berlebihan! Wajar saja aku mengkhawatirkan orang yang terkena musibah ya!”


Devon dan David terkekeh seolah ucapan Laura itu lucu.


“Iya deh iya... kami cuma bercanda, kami juga khawatir dengan kak Dexter” ucap Devon.


“Apalagi ada istri dan anak bayi... pasti Angel sangat sedih” sahut David.


Laura mengigit kuku jarinya, dia tidak sadar melakukan itu, karena terlalu khawatir.


“Jangan khawatir, jika kamu ikutan sedih, kasihan Angel nanti, kamu tidak boleh sedih, harus menghibur dia” ucap Devon, lalu menarik tangan Laura agar tidak menggigiti kukunya.


David kemudian meraih wajah Laura agar menghadap padanya, kemudian mengecup bibirnya sekilas, “udah baikan?”


PLAK!


Devon terkekeh bahagia saat Laura menampar David.


“Jangan membuatku terkejut!” protes Laura, jantungnya hampir copot tiba-tiba dicium seperti itu, mana di dalam pesawat yang ada banyak orang, kalau ada yang melihat bisa gawat nanti.


“Awas saja jika kalian sembrono melakukan itu lagi, padahal aku sudah baik tidak melaporkan kalian pada pihak berwajib!”


“Jika kamu juga suka, kamu tidak bisa melaporkannya, sayang...” bisik Devon.


“Cih, aku tidak suka!”


“Kamu boleh saja berkata tidak, tapi kamu tahu... kamu menyukainya, iya kan?” David ikut berbisik juga.


Laura hanya terdiam, dia sudah malas menghadapi dua iblis itu, kepalanya bisa pusing jika terus memikirkannya.


Lebih baik tidak dipikirkan.


Beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di Indonesia, namun karena sudah dini hari, mereka memilih istirahat di mansion keluarga Raynold dulu.


Laura yang ketiduran di mobil dalam perjalanan dari bandara menuju mansion, tidak sadar jika dia sudah digendong menuju kamar Devon. Devon masih memiliki kamarnya sendiri di mansion tersebut.


Karena semua orang panik dengan keadaan Dexter, tidak ada yang curiga jika Devon tidur dengan Laura, yah... walaupun itu hanya tidur berbaring saja, bukan konotasi negatif.

__ADS_1


Yang pasti, Laura di pagi hari terbangun karena merasakan ada yang aneh di lehernya, dia pikir ada serangga besar yang mengigitnya.


Ternyata memang serangga.


“Devon...”


Devon berhenti menggigit dan menciumi leher Laura, lalu dia terkekeh seakan tidak bersalah sama sekali. Sepertinya Laura juga salah karena saking capeknya, dia tidur seperti batu.


“Mingg – mmmhhh!” baru saja Laura ingin menyingkirkan Devon, iblis satu itu sudah membungkan mulutnya dengan sebuah ciuman.


Dia masih saja gila!


“Morning kiss...” ucapnya setelah selesai mencium Laura.


“Kau gila apa?” Laura memukul Devon dengan boneka kelinci yang entah kenapa ada di kamar itu, entah milik siapa.


“Apa yang kalian lakukan ini?”


Sebuah suara asing membuat keduanya terkejut.


Oh tidak, itu Fano!


Fano adalah sepupu David dan Devon, Sedangkan Kaisar adalah saudara kembar dari ibunya Fano. Dan mansion Raynold adalah milik ayahnya Fano dan Jaden, juga milik ayahnya Felly yang masih adik dari ayahnya Fano.


***


Saat itu Fano pagi-pagi ingin membangunkan semua penghuni untuk sarapan, karena dia yang memasak sarapan. Dia bingung katanya Laura datang, tapi orangnya tidak ada di kamar tamu, jadilah dia pergi ke kamar Devon yang lebih dekat terlebih dahulu.


Fano melongo saking terkejutnya.


Hubungan macam apa itu?


Fano sudah pusing dengan keadaan Dexter, suami Angel sekaligus sepupunya, yang belum siuman dari koma setelah kecelakaan, lalu sekarang dia melihat perselingkuhan di depan matanya langsung.


Ini gila, benar-benar gila!


“Apa yang kalian lakukan ini?” teriak Fano yang masih terkejut.


Laura dan Devon menoleh, mereka sangat terkejut melihat Fano berdiri disana, kemudian Fano berjalan perlahan mendekati mereka.


“Aku mencari Laura kemana-mana ternyata ada disini, apa yang kalian lakukan? Devon, kau sudah memiliki Wonhi, aku masih ingat kamu berusaha membuatnya jatuh cinta padamu, membuat dia berpaling dari kakakku, Jaden. Tapi ini apa Devon?”


Devon tertawa setelahnya, membuat Fano semakin geram saja.


Kemudian Devon turun dari ranjang dan mendekati Fano, lalu menepuk bahu Fano sambil tersenyum miring.


“Fano, aku memegang rahasiamu, jadi kamu jangan macam-macam...” desis Devon, jangankan Fano, Laura saja merinding mendengar ucapan Devon, padahal Laura tidak salah.


Devon memang kelihatannya saja manis, tapi sekali dia serius, aura hitamnya keluar semua.


“Jangan macam-macam denganku, Fano, jika tidak mau rahasiamu ku sebarkan, bagaimana nanti reaksi Lily? Reaksi keluargamu yang menganggapmu anak baik itu? Jaden akan kecewa berat punya adik sepertimu... jadi jangan melewati batas!”

__ADS_1


Fano terlihat meremat tangannya, menatap Devon dengan tatapan tajam.


“Oke, kita memegang rahasia masing-masing, kau memang brengsek! Tidak berubah dari dulu...”


Devon terkekeh pelan, “jangan mengatai orang jika kamu sendiri juga brengsek, kau lebih brengsek dariku, jangan sok suci!”


Krieekkk.


Mereka berhenti berdebat saat pintu kamar kembali terbuka, terlihat seorang bocah tampan yang kira-kira berumur sepuluh atau sebelas tahunan masuk. Itu adalah adik dari Ruka, istrinya David, namanya Ruto.


“Kak Jaden bilang kalian harus cepat sarapan habis itu pergi ke rumah sakit...” ucap Ruto.


“Baiklah, kita akan kesana... yang lain sudah bangun?” tanya Fano, dia berjalan menghampiri Ruto lalu keluar kamar bersamanya.


“Aku udah bangunin kak Ruka dan kak David... tinggal kak Lily.”


“Oke, kita bangunkan bersama – kalian berdua cepatlah turun untuk sarapan!” teriak Fano, sebelum kemudian menutup pintu dengan agak keras.


BRUK.


“Haish, bocah itu...” keluh Devon.


“Memang apa rahasia Fano?” tanya Laura.


Devon berbalik lalu mendekati Laura, kemudian memeluk perutnya dengan erat, “ada deh... jika aku memberitahumu, itu namanya bukan rahasia dong sayang... yang pasti, tidak jauh berbeda dariku. Aku sampai bingung, sebenarnya Fano itu adiknya Jaden atau adikku sih? Hehe.”


Laura hanya menatap Devon datar.


Memang dinilai dari tingkat kebrengsekannya, Fano lebih cocok menjadi adik Devon dan David, mengingat Jaden itu satu-satunya pria baik-baik dan tidak brengsek sama sekali di keluarga Raynold.


Keluarga Raynold memiliki satu yang seperti Jaden saja sebuah keajaiban.


Laura mengernyitkan dahinya untuk berpikir, “apa... Fano mengkhanati Lily?” tanya Laura dengan hati-hati.


Devon menatap Laura sambil tersenyum tipis, “kamu sungguh ingin tahu?” tanya Devon.


Laura mengangguk pelan.


“Aku bisa saja membocorkannya padamu, tidak adil jika Fano memegang rahasiamu tapi kau tidak tahu apa-apa... jadi... ada syaratnya!”


Laura berdecak malas, “Ugh...”


“Cium aku maka aku beberkan rahasia Fano, bagaimana?”


Devon menyeringai melihat Laura yang bimbang.


Laura penasaran dengan rahasia Fano, apalagi, dulu Fano pernah ada di hatinya. Ceritanya, Laura dan Fano itu ada ikatan dari kecil, tapi Fano mengkhianati Laura demi Lily. Karena Lily itu gadis baik-baik, jadinya Laura mengalah... barulah setelah itu Laura bertemu Kaisar dan jatuh hati padanya.


“Aku tahu kamu tidak bisa melakukannya pada ku kan? tidak apa, kamu tidak perlu tahu rahasianya –” ucapan Devon terhenti saat Laura tiba-tiba menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.


.

__ADS_1


.


__ADS_2