Dihamili Tiga Pria

Dihamili Tiga Pria
Pergi ke sarang harimau


__ADS_3

.


.


Malam itu ada pesta yang cukup besar, tentu saja Laura dan Angel harus datang, walau tidak mau.


Itu adalah pesta keluarga Jung, atau keluarga suaminya Felly, keluarganya Dojun. Nah, jika itu keluarganya Dojun, maka akan ada Niko beserta istrinya yang akan datang.


Karea Niko itu masih pamannya Dojun.


Sementara Kaisar adalah teman dari ibunya Dojun, memang dulu ibunya Dojun menikah muda.


“Kamu harus tampil cantik, Laura, agar tidak diremehkan perempuan kurus kerempeng itu lagi” ucap Angel, yang sedang memoleskan mek-up pada Laura.


Laura mengangguk mengerti, “benar! Aku tidak boleh kalah dengan perempuan itu!”


“Itu baru semangat yang bagus!”


Sementara Fano yang sedang rebahan sambil menjaga Jason diatas karpet bulu hanya terkekeh pelan mendengar pembicaraan para perempuan tersebut.


“David dan Jaden katanya sudah sampai di bandara, aku akan menjemput mereka dulu ya!” ucap Devon, dia berdiri di ambang pintu sambil masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


“Keringkan rambutmu dengan benar! Di luar sangat dingin tahu!” omel Laura.


Devon memutar bola matanya malas, “yes, mommy!”


Laura berdecak kesal saat Devon memanggilnya mommy lalu kabur begitu saja, “menyebalkan sekali dia itu!”


“Gimana rasanya punya anak seperti Devon?” tanya Fano.


“Seperti di neraka” jawab Laura, Angel tergelak mendengar jawaban Laura tersebut.


“Sudah ku duga” sahut Fano yang puas dengan jawaban tersebut.


“Fano, cepat siap-siap sana! Lalu pakaikan Jason pakaian yang sudah ku siapkan!” perintah Angel, dia sudah malas melihat Fano yang hanya rebahan dan tidak melakukan apapun, sedangkan Jason duduk anteng diatas perut Fano sambil memeluk boneka donat.


Jason dibelikan beberapa mainan, ada boneka kelinci molang, ada juga boneka ice cream, avocado, bola basket, mobil-mobilan... tapi yang paling Jason suka adalah boneka donatnya.


“Baiklah...” Fano pun bangkit duduk, kemudian meletakkan Jason diatas karpet, setelah itu pergi untuk berganti pakaian.


Jason ingin bergerak untuk mengejar Fano, tapi sayang sekali Fano menutup pintu kamar Laura rapat-rapat.


Jason yang kesal pun beralih merangkak mendekati ibunya, lalu mencoba berdiri.


“Jason... hati-hati” ucap Laura, dia membantu Jason lalu meletakkan bayi itu dipangkuannya.


Jason adalah bayi yang anteng, tidak banyak tingkah, kecuali jika dia sedang menginginkan sesuatu.


Selesai bersiap-siap, akhirnya Devon kembali lagi, bersama David dan Jaden.


“Aku sangat lelah...” keluh David, dia langsung merebahkan diri diatas sofa.


“Kalian mau langsung ikut pergi ke pesta atau nanti saja?” tanya Angel.


“Kalian tunggu saja sebentar, papa masih dalam perjalanan kemari, tidak perlu cepat-cepat” ucap Devon.


Laura pun kembali duduk, “benar juga, aku tidak mau cepat-cepat sampai di pesta itu” ucap Laura.


“Memangnya ada apa?” tanya Jaden.

__ADS_1


“Kami tidak menyukai istrinya Niko” sahut Angel.


“Kenapa dia?” David ikut bertanya.


“Dia mengataiku jelek dan gendut! Menyebalkan sekali... mentang-mentang dia kurus!” sahut Laura, jika diingat-ingat, dia kembali jengkel.


“Berani banget! Namanya juga hamil, gendut itu sudah biasa” ucap David.


“Oh, jadi kamu pikir aku juga gendut?” sambar Laura.


David buru-buru menutup mulutnya, sepertinya dia sudah salah bicara.


“Tidak... bukan begitu maksudku...”


Jaden menepuk bahu David dengan dramatis, “David, wanita itu paling sensitif dengan bahasan berat badan atau gemukan, harus diingat-ingat ya!”


“Maaf...”


***


Pesta yang sangat meriah membuat Laura merasa tidak nyaman, padahal biasanya Laura suka saja dengan pesta. Mungkin karena dia masih memikirkan ucapan istrinya Niko, dia jadi tidak percaya diri dengan tubuh gemuknya.


Seakan-akan setiap pasang mata sedang menilai dirinya, mencibirnya, padahal kebanyakan tidak peduli.


Laura merasa seperti itu, dia menjadi tidak nyaman, jadi dia terus menggandeng lengan Kaisar, kemanapun Kaisar pergi dia ikut.


Sampai kemudian Kaisar menemui pemilik acara.


Laura menyapa mereka semua dengan senyuman yang canggung. Laura tahu orangtua Niko masih tidak terlalu menyukainya, tapi mereka tidak berani dengan Kaisar, karena itu mereka hanya tersenyum ramah pada Laura.


Setelah itu dia melihat Niko, yang ternyata sedang menatapnya juga. Saat pandangan mata mereka bertemu, Niko tersenyum ramah.


Niko pikir dia sudah baik-baik saja dengan istrinya yang cantik jelita.


Namun, istrinya hanya cantik dan berasal dari keluarga terpandang saja, selebihnya Niko tidak tahu apa yang bisa dibanggakan lagi.


Beruntung karena istrinya bisa memberikan keturunan, seorang bayi laki-laki yang sehat. Dulu bayi itu lahir prematur dan hampir membuat istrinya dalam bahaya, tapi untungnya semua selamat.


Berbeda dengan Laura yang hamil dengan sehat, istri Niko tidak bertambah berat badan saat hamil, dia pun susah untuk makan apapun, dia bilang penampilan nomor satu, dia tidak mau gemuk. Bahkan setelah melahirkan yang istrinya pikirkan hanya perawatan saja agar tubuhnya kembali lagi.


Niko tidak masalah dengan hal itu, bahkan saat istrinya sudah menyiapkan babysitter untuk membantunya mengurus bayi. Niko tidak mempermasalahkannya.


Tapi, jika istrinya malah menghina Laura yang hamil dengan sehat dan baik-baik saja dengan ucapan buruk, Niko tidak bisa tinggal diam.


Karena itu, dia meminta istrinya mendekati Laura dan meminta maaf.


Tapi, istrinya malah marah.


“Aku tidak mau melakukannya di depan keluargamu dan suaminya dia!”


“Kenapa? Kamu mempermalukan Laura di restoran! Lakukan sekarang juga!”


Laura yang bingung dengan pertengkaran itu hanya diam memperhatikan, sambil memeluk lengan Kaisar.


Akhirnya istri Niko mendekati Laura.


“Hai, aku minta maaf atas kejadian kemarin” ucap wanita itu.


“Minta maafmu kurang tulus, katakan dengan benar!”

__ADS_1


Tiba-tiba saja Devon muncul, dia menatap istri Niko dengan tatapan sebal.


“Aku minta maaf...”


“Hei, ada apa ini? Kenapa kamu minta maaf?” tanya ibu dari Niko, wanita tua menyebalkan yang selalu memaksa anak-anaknya menikah.


Anak perempuan pertama, yaitu ibu dari Dojun masih beruntung karena meski dia dijodohkan dengan pria yang lebih tua, mereka akhirnya saling mencintai. Tapi Niko... meski Niko sudah menolak beberapa kali, ada saja alasan ibunya, Niko yang pengecut itu akhirnya menurut saja, meninggalkan Laura yang sangat dicintainya.


“Ibu, Yura telah menghina Laura di restoran kemarin” ucap Niko, yang sedang menggendong putranya.


“Memang apa yang menantuku katakan?”


Istri Niko, Yura, langsung mendekati wanita tua itu lalu menunjukkan wajah memelas.


“Ibu, aku tidak bermaksud begitu... aku hanya bilang dia chubby saja, tapi dia malah mengamuk, mengatakan aku tidak sopan!” ucap Yura.


Bahkan Niko saja melongo mendengar alasan istrinya tersebut.


“Kamu tidak berkata seperti itu kemarin!” sahut Laura, dengan sedikit berteriak karena dia sudah tidak bisa menahan emosinya.


“Tapi apa aku salah? Kamu kan memang gendut dan jelek! Kamu tidak pernah punya kaca apa?”


Laura yang sudah berada di ambang batasnya tidak bisa menahan lebih dari itu, dia pun mendekati Yura lalu menarik rambutnya.


“Kamu yang jelek! Kurus!”


“Aku bukan kurus tapi langsing!”


“Berhenti!” teriak Niko, dia segera menarik istrinya.


“Kaisar, kamu harus mendisiplinkan sitrimu ini, bagaimana dia bertindak bar-bar begini?” ucap wanita tua ibunya Niko.


“Mama...”


Kaisar memeluk Laura lalu mengecup keningnya, “Aku tidak perlu melakukannya, yang tidak memiliki sopan santun adalah menantu anda, bagaimana bisa wanita terhormat mengejek orang lain dengan ucapan kasar begitu? Meski istriku bukan berasal dari keluarga terhormat, tapi dia mengetahui sopan santun lebih baik dari menantu anda, istriku berbuat seperti itu berarti menantu anda sudah keterlaluan.”


“Kaisar!” kakak dari Niko, atau teman Kaisar mendekat.


Kaisar menoleh pada temannya tersebut, “Fani, maaf ya, aku tidak bisa lama-lama di acara ini, aku harus pergi karena Laura sudah tidak nyaman lagi.”


Fani, teman Kaisar yang menyelenggarakan acara tersebut tersenyum.


“Baiklah... Laura, maaf ya, kamu beruntung karena menikah dengan Kaisar, dia orang yang sangat baik, maafkan keluargaku...”


Laura mengangguk pelan lalu tersenyum tipis, “tidak apa tante.”


“Ayo kita pulang, sayang...”


“Kami juga pulang,” ucap Devon dan David bersamaan.


“Tante Fani, maaf ya... kita juga akan pulang” Jaden meminta maaf dengan sopan.


“Ah, tidak apa...”


“Kak Dojun, duluan ya! Besok main ke apartemen!” ucap Fano pada suami Felly.


.


.

__ADS_1


__ADS_2