Dihamili Tiga Pria

Dihamili Tiga Pria
Tidak mungkin benar


__ADS_3

.


.


Beberapa hari terasa sangat canggung, Devon tidak pernah menyangka ada saat dimana dia menyesali semua perbuatannya. Karena tidak pernah bersyukur memiliki ayah seperti Kaisar, karena berusaha merebut kekasih ayahnya. Dia menyesali semuanya, tapi dia sungguhan mencintai Laura, dia tidak menyesal pernah mencintainya sama sekali.


Pagi itu, di hari sebelum tes DNA akhirnya diumumkan, Devon mendapat telfon dari Wonhi, jika dia minta maaf telah mengkhianati Devon. Rupanya, hubungan gelap Wonhi dan brondongnya terungkap oleh salah satu media.


Jadi, pagi itu juga Devon menggunakan kekuasaannya untuk menghapus berita tersebut. Dia bahkan mengumumkan pernikahan dengan Wonhi dan membantah rumor. Devon berharap, semoga dengan dia menikahi Wonhi, semuanya akan kembali seperti awal. Devon tidak marah karena Wonhi selingkuh, untuk apa? Dia sendiri lebih buruk dari Wonhi.


David sendiri berusaha menghubungi Ruka, istrinya yang mungkin sedang hamil anak orang itu, untuk membahas pernikahan mereka.


Sebenarnya, yang lebih mereka takutkan adalah jika mereka memang bukan anak Kaisar dan terbukti Kaisar tidak punya anak. Bukan hanya mereka yang akan diusir, tapi mungkin Laura juga.


David dan Devon mencintai Laura, mereka tidak mau Laura hancur karena hal itu.


“Kalian sudah siap?” tanya Kaisar.


“Aku mau ikut...” pinta Laura.


Kaisar menggeleng, “tidak perlu sayang, kamu disini saja dengan Angel, biar aku, Devon, David dan Fano yang akan pergi, sebentar lagi juga Jay dan Hanna akan datang kan? kamu jaga apartemen saja” ucap Kaisar, sambil mengusak kepala istrinya dengan lembut.


“Kalau begitu hati-hati...”


Perasaan Laura sudah tidak enak saat itu. Dengan sabar dia menunggu di apartemen bersama Angel sambil main dengan Jason.


Kemudian Jay datang bersama bayi Hanna, Jay juga membawa serta beberapa keperluan Hanna. Karena Jay akan menitipkan Hanna pada Angel dan Fano untuk sementara, karena dia masih belum bisa menjaga anak kecil.


Lagipula, Jason dan Hanna sangat akrab, mereka bermain dengan akur.


Beberapa jam berlalu, masih tidak ada kabar dari Kaisar dan yang lainnya.


“Jangan terlalu khawatir, semua akan baik-baik saja, Laura” ucap Angel dari arah dapur, dia sedang membuatkan minuman untuk dirinya sendiri dan juga Laura, sementara Laura menjaga para bayi bermain dengan mainan mereka.


“Perasaan ku sangat buruk, bagaimana jika ternyata Devon dan David memang bukan putra dari Kaisar? Maksudku – pasti Kaisar sangat terpukul,” ucap Laura.


Angel datang membawa dua minuman untuknya dan untuk Laura, kemudian meletakkannya di meja.

__ADS_1


“Laura, aku tidak berpikir begitu, Devon dan David mirip dengan Om Kaisar kok... kecerdasannya juga mirip, mungkin istri Om Kaisar sebelumnya memang selingkuh, tapi bukan berarti itu anak selingkuhannya, masih ada kemungkinan itu anak Om Kaisar” ucap Angel.


Laura meraih gelas minumannya, kemudian menyesapnya pelan, setelah itu dia meraih kue yang Jay bawakan untuk mereka. Setelah mengigit sedikit, Laura meletakkannya kembali.


Jelas Laura terlihat khawatir, mungkin kata-kata Angel belum bisa menenangkan Laura.


“Angel, jika mereka bukan anaknya dan dia memang tidak bisa memiliki anak, bagaimana dengan kehamilanku?” tanya Laura dengan suara lirih, dia memegangi gelasnya dengan tangan sedikit bergetar, berusaha meminumnya dengan tenang tapi dia tak bisa tenang.


Angel meraih gelas Laura kemudian meletakkannya di atas meja, setelah itu dia menggenggam tangan Laura.


“Laura, percayalah, semua akan baik-baik saja, okay?”


***


Kaisar menatap surat-surat di tangannya tidak percaya, seorang dokter dengan wajah jutek memberikan hasil tes DNA sekaligus tes dari Kaisar.


Semua kemungkinan buruk yang Kaisar ingin buang jauh-jauh saat itu muncul di depannya.


Dokumen yang menjelaskan jika Devon dan David tidak memiliki hubungan keluarga dengannya.


Kemudian Dokumen yang menjelaskan jika Kaisar tidak bisa memiliki anak.


Setelah menikah dengan Lisa dulu, Kaisar melakukan beberapa tes dengan Lisa, karena keduanya menginginkan anak. Dokter dengan wajah ceria mengatakan keduanya bisa memiliki anak dan keadaan kesehatan mereka bagus.


Setelah pemeriksaan itu, tiga bulan kemudian Lisa hamil.


Kaisar protes dengan dokter berwajah jutek itu, dia yakin tes itu salah. Dia sangat yakin Devon dan David adalah anaknya, tapi dokter itu malah marah dan mengusir Kaisar.


Lalu disinilah dia, di sebuah restoran yang cukup terkenal di New York, menyesap amerikano pahitnya dengan tatapan hampa.


“Ba-bagaimana jika kalian tes lagi? Atau – mungkin aku bisa ikut tes juga? Jika sepupu pasti ada kesamaan DNA kan? aku –”


PUK!


Fano terdiam setelah Kaisar menepuk bahunya sambil tersenyum pahit, “sudahlah Fano, aku baik-baik saja...”


Meski Kaisar berkata seperti itu, ketiga pemuda lain sangat khawatir dan ketakutan.

__ADS_1


“Aku juga yakin aku anak papa, dan... dan... eum –” David ingin mengatakan ‘dan janin dalam kandungan Laura juga anak Kaisar’ tapi lidahnya mendadak kelu.


Kaisar menatap David, lalu merentangkan tangannya, isyarat jika dia ingin David memeluknya. Kemudian Devon dan David pun memeluk Kaisar dengan erat.


“Papa! Aku gak mau jadi anak orang lain...” gumam Devon.


“Papa juga yakin kalian anak papa, dulu papa pernah periksa di dokter, jika papa baik-baik saja dan bisa memiliki anak, kenapa sekarang pernyataannya berbeda? Papa tidak mengerti, bahkan golongan darah kita bertiga sama-sama A, mama kalian itu O. Papa yakin kalian anak papa, anak-anak yang papa sayangi, meski kalian sudah menjadi besar dan bisa melakukan hak buruk, papa tetap menyayangi kalian berdua” ucap Kaisar.


Devon dan David kembali merasa bersalah.


Ternyata mereka egois selama ini, ingin merebut kebahagiaan ayah mereka, padahal ayah mereka sangat tulus menyayangi mereka.


“Ayo kita kembali ke apartemen... kita bisa memeriksa kembali di Indonesia, atau Korea, papa yakin hasil itu tidak benar” ucap Kaisar.


Mereka pun kembali ke apartemen.


Laura, Angel dan dua bayi gemas menyambut mereka.


Kemudian Kaisar langsung memeluk Laura dengan erat, Laura bingung, namun setelah Fano menjelaskan semuanya, dia ikut sedih.


“Aku yakin tes itu salah Laura, aku yakin yang dalam kandunganmu ini anakku, iya kan?”


Laura tidak bisa menjawab pertanyaan Kaisar, dia hanya menangis tanpa terisak, hanya air matanya yang keluar membasahi pipi putihnya yang kemerahan.


“Laura, kamu tidak selingkuh dengan lelaki lain kan, sayang?” bisik Kaisar, dia hanya bingung karena Laura hanya menangis dalam diam, kemudian Laura menggeleng pelan. Kaisar kembali memeluk Laura, lalu mengecup keningnya.


“Aku tahu itu... kamu adalah wanita yang sangat ku cintai, aku yakin itu buah hati kita berdua.”


Tangis Laura semakin deras, dia tidak tahu bagaimana Kaisar akan kecewa jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Apalagi, jika terbukti itu adalah anak dari salah satu putra kembarnya, yang kemungkinan memang bukan anaknya.


Laura tidak mau Kaisar hancur karenanya.


Laura tidak peduli jika dirinya yang hancur, asal itu bukan Kaisar.


‘Maafkan aku, Kaisar... aku mencintaimu, tapi, aku juga telah mengkhianatimu.’

__ADS_1


.


.


__ADS_2