
.
.
Setelah sarapan nasi goreng, Laura kembali pergi menemui Angel, dia masih bersiap-siap di kamarnya.
“Halo sayang... hari ini aku antar ya?” tiba-tiba David masuk ke kamar, lengkap dengan seringai tampannya yang terlihat menyebalkan di mata Laura.
“Kamu bukannya pergi mengejar istrimu ke Bandung!”
“Aku ingin menginterogasi Fano, sedangkan Fano mau pergi ke rumah sakit untuk Angel, jadi aku memutuskan untuk pergi dan menginterogasinya disana” ucap David.
“Aku sendiri meski selama ini dekat dengan Ruka, aku tidak mengenal Reza sama sekali” ucap Laura.
“Aku sudah bertanya pada Ruto, dia bilang Ruka sering pergi dengan Reza, entah untuk urusan kuliah, atau urusan nongkrong dengan teman, Ruto tidak ingat semuanya tapi rata-rata alasannya seperti itu, Ruto hanya bocah, jadi mungkin dia tidak banyak mengerti tentang kakaknya.”
“Baiklah, kau bisa mengantarku...”
David pun mendekat lalu memeluk Laura, “thanks, baby...” kemudian dia mengecup leher belakang Laura.
“David...”
“Kenapa?”
“Kau tidak ingat ucapan Jaden tadi?”
“Yang itu... aku ingat kok, kenapa?”
Laura berdecak kesal, lalu berbalik menghadap David, “jika kamu ingin rumah tanggamu utuh, mulailah untuk menjauhiku dan selamatkan rumah tanggamu!”
“Tapi hatiku hanya untukmu...”
“David, ayolah... jangan begini!”
“Lalu kau ingin aku bagaimana? Membendung perasaanku untukmu? Bersedih karena ada kemungkinan istriku mengkhianatiku? Memendam hasratku padamu? Begitu? Kalau iya, aku tidak bisa melakukannya, aku tidak pandai berpura-pura!”
Laura tertawa setelahnya, “tidak pandai berpura-pura? Kau sendiri berpura-pura baik di depan ayahmu!”
SRET
Laura membelalakkan matanya saat David menarik pinggang rampingnya, hingga tubuh mereka bertabrakan, refleks Laura memegangi bahu David agar tidak jatuh.
“David...”
“Berhenti membicarakan ayahku atau Ruka saat hanya kita berdua, aku mungkin tidak memperlihatkannya, tapi aku cemburu dan sakit hati, aku juga tidak melihatmu dekat-dekat dengan Devon tapi aku tidak punya pilihan lain, aku ingin kau jadi milikku seutuhnya, tapi tahu tidak bisa... aku memiliki masalahku sendiri...”
Laura hanya diam, menatap kedua mata David yang terlihat sangat tajam dan mematikan, tatapannya sangat dalam, membuat Laura tenggelam dalam mata yang kelam tersebut.
Tanpa Laura sadar, David sudah mendekatkan wajahnya, meraih tengkuk Laura, memiringkan kepalanya sedikit, lalu menyabar bibir merah menggoda milik Laura.
Saat Laura akhirnya sadar dari lamunan, David sudah ******* bibirnya dengan agresif, awalnya Laura berusaha untuk menahan David dan menyingkirkannya, tapi lama kelamaan dia semakin terlarut dalam permainan itu.
David memojokkan Laura ke tembok, menahan kedua lengan Laura agar lebih leluasa dengan perbuatannya.
__ADS_1
Ciuman itu semakin turun menuju leher Laura.
“Mhhh, David, berhentiihhh kita harus segera pergii – aaah! Jangan gigit, jangan menimbulkan bercak apapun!”
David melepaskan leher Laura, lalu menyeringai.
“Sebenarnya, kamu menikmati semua ini kan? perlakuanku, Devon... kau tidak menolak sama sekali.”
“Bedakan antara tidak menolak dan tak bisa menolak!”
David terkekeh, “Tidak, aku melihatnya, kamu menikmati semua ini... iya kan?”
“Tidak!”
“Jangan munafik, Laura, kamu menikmati sentuhanku, iya kan?”
Kemudian tangan David terangkat, mengusap bibir Laura dengan ibu jarinya.
“Bibir yang merah ini... menyambut bibirku dengan baik, kan? bukankah ini sangat menyenangkan, Laura?”
Baru saja Laura membuka mulutnya untuk menyangkal David sekali lagi, tapi David sudah menyambar bibir Laura sekali lagi, kali ini dia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Laura yang tadi sedikit terbuka.
Ciuman panas itu kembali terulang, membuat kaki Laura tiba-tiba lemas, dia tidak bisa bergerak, tubuhnya hanya diam menerima segala sentuhan yang David berikan padanya.
David itu memang gila.
Tapi sepertinya Laura lebih gila lagi, karena ternyata David benar, Laura juga menikmati semua itu, dia hanya berusaha menolak selama ini. Mungkin memang Laura yang munafik, tapi bagaimana pun juga, itu tidak benar. Laura memang harus menolaknya, bukan?
Laura tidak tahu dia harus bagaimana sekarang.
“Fano!”
Fano yang sedang mengajak Jason jalan-jalan pun berhenti, kemudian dia berbalik dan melihat David sedang berjalan menghampirinya.
“Ada apa? Ku dengar Ruka pergi ke Bandung karena dia marah padamu, kau tidak mengejarnya?” tanya Fano.
“Ayo kita duduk dan bicara, yang aku ingin bicarakan adalah tentang Ruka juga.”
Fano mengernyitkan dahinya bingung, tapi dia menuruti ucapan David, mencari tempat duduk yang teduh lalu duduk disana.
“Ngomong-ngomong bayi itu anteng juga ya?” tanya David.
“Tentu saja, dia sudah mengenalku dan nyaman denganku – apa yang ingin ku bicarakan, jangan bertele-tele” ucap Fano.
“Kau kenal siapa itu Reza?”
Fano menoleh pada David, menatapnya selama beberapa detik, sebelum kemudian menjawab juga.
“Reza itu teman kuliah Ruka, satu jurusan juga, sebelum Ruka memutuskan berhenti kuliah demi menikah denganmu,” ucap Fano.
“Ruka berhenti kuliah karena ingin meneruskan bisnis ayahnya di Jepang, dia bahkan memintaku untuk tinggal di Jepang, kami membicarakan itu lagi setelah pernikahan, bukan karena menikah denganku!”
Fano mengernyitkan dahinya, “Lho tapi... sebelum memutuskan menikah denganmu, Ruka bilang sepertinya dia hamil, jadi harus berhenti kuliah dan menikah denganmu, begitu...”
__ADS_1
“Hah? Ruka tidak hamil sebelum menikah denganku kok... tunggu – iya, enggak kok, kamu jangan mengada-ada dong, Fano!”
Fano jadi ikut emosi, “aku gak mengada-ada, Ruka bilang sendiri kayak gitu!”
“Oke oke, baiklah... kita kembali pada Reza, dia siapa sih?”
“Reza itu ganteng banget, banyak sekali wanita yang rela mengantri untuknya, dia mantan anak band yang dulu cukup terkenal saat dia SMA, tapi dia berhenti setelah masuk kuliah karena ingin fokus kuliah, dia juga menjadi pembalap motor, ku rasa sudah profesinal deh, anak-anak perempuan bilang dia keren banget, beberapa temanku juga bilang dia keren, tapi bagiku keren itu kak Jaden seorang.”
David memutar bola matanya malas, Fano terlalu overproud dengan kakak kandungnya, tidak heran lagi dia, tapi tetap saja jengkel saat mendengarnya.
“Iya iya Jaden keren, terserah denganmu saja, mantannya Angel si Jayden juga keren” ucap David.
“Idih amit-amit! Aku jauh lebih keren!”
“Dia sudah punya perusahaan game sendiri sejak SMA, bro! Bahkan sekarang semakin berkembang dan maju, sudah ada di Amerika dia” ucap David.
“Enggak! Dia gak keren, lihat aja sendiri aku akan jadi jauh lebih keren darinya!”
David mengernyitkan dahinya, dia heran kenapa sepupunya ini tiba-tiba seakan anti dengan Jayden, padahal David pikir keduanya sudah berdamai, apa David melewatkan sesuatu?
“Kalau mau lebih keren, buat perusahaanmu sendiri, buktikan kamu lebih baik dari Jayden.”
“Akan ku buktikan! Oh iya... Reza menyukai Ruka, sepertinya kamu tidak tahu karena Ruka tidak pernah mengatakan itu padamu, yang tahu hanya aku dan Lily... mungkin Ruto juga tahu, yang pasti, mereka sering jalan, entah berdua atau bersama teman-teman, aku biasa saja karena ku pikir Ruka kan sangat mencintaimu.”
“Fano, Lily kelihatannya juga mencintaimu tapi apa? Dia mengkhianatimu... pagi ini alasan Ruka pergi ke Bandung adalah karena aku bercanda dengannya, aku bilang, ‘kamu jangan seperti Lily ya’ begitu, tapi dia marah-marah lalu mengancam pergi, kemudian pergi betulan, aku bingung... tapi setelah mendengar ucapan Ruto tentang teman Ruka bernama Reza aku jadi curiga.”
Fano tertawa kencang, sampai membuat Jason yang tadinya sudah mengantuk kembali bangun, lalu Jason menangis kencang.
Fano pun berdiri dan menimangnya agar bayi itu kembali diam.
“David, kamu sendiri bagaimana? Apakah tidak pernah sekalipun mengkhianati Ruka? Lily seperti itu mungkin karena aku yang selama ini menyia-nyiakan dia, tapi kamu? Bagaimana denganmu?”
David menyandarkan punggungnya pada bangku taman, “aku juga sama sepertimu, Fano.”
Fano pun melirik pada David, “oh ya? Dengan siapa?”
“Kau tidak perlu tahu, bocah...”
“Kita bisa bertukar informasi agar bisa saling percaya.”
David mengernyitkan dahinya, “jadi kau punya rahasia sendiri yang aku tidak tahu?”
Fano mengangguk, “iya, ku rasa kau tidak mengetahuinya.”
“Aku tidak mau, aku tidak membutuhkan rahasiamu... lagipula, aku tidak ingin kamu tahu rahasiaku, apalagi itu kamu...”
“Kenapa?”
David menggeleng, “tidak, pokoknya tidak bisa.”
Fano berdecak kesal, “ya udah sih.”
.
__ADS_1
.