Dihamili Tiga Pria

Dihamili Tiga Pria
Dua iblis kejam


__ADS_3

.


.


Laura mulai beres-beres barangnya di sore hari, karena semua barang-barang ada di apartemen lama, maka David mengajukan diri untuk mengantar. Ruka sih setuju saja karena dia percaya dengan suaminya.


Laura jadi tidak enak hati, Ruka itu terlalu baik dan punya pemikiran polos dibalik sifatnya yang ceria dan bar-bar. Dia terlalu mempercayai David, dan itu tidak baik.


“Sudah semuanya?” tanya David.


Laura mengangguk, menyeret koper yang sudah siap ke ruang tengah, tempat David duduk dengan nyaman sambil menonton film.


Setelah itu Laura duduk, mengambil remote dan mematikan televisi, David menoleh jengkel, “kenapa sih?”


“Aku tidak tahu sampai kapan kamu dan Devon akan diam saja, kalian keterlaluan!”


David mengernyitkan dahinya, “apa maksudmu?”


“Jangan katakan apapun pada Om Kaisar, jika kalian katakan, dia mungkin tidak mau menikahiku, jadi kalian diam saja” ucap Laura.


“Hei, tunggu, apa yang kamu bicarakan sih?”


“Jangan pura-pura bodoh, David!”


David diam sejenak, berusaha mencerna ucapan Laura. Namun, setelah dia pada akhirnya mengerti, dia menyeringai.


“Ah, ternyata kamu masih mengingatnya ya? Kenapa kamu diam dan tidak mengatakan apapun, malah pura-pura tidak tahu, jadi kami memilih bungkam juga.”


“Kalian brengsek!”


“Tapi kamu menikmatinya kan? tidak ingat kamu memohon-mohon pada kami –”


PLAK!


David memegangi pipinya yang baru saja Laura tampar.


“Bajingan!”


David masih bisa menyeringai, lalu terkekeh pelan, “kamu juga menikmatinya, kenapa harus kami yang disalahkan? Itu hubungan sama-sama untung bukan?”


Laura pun terdiam, kemudian duduk di sebelah David, lalu David merangkul bahunya.


“Jadi kamu ingin merahasiakan dari papa? Kamu ingin menikahi papa?”


Laura mengangguk, “iya, aku mencintai ayahmu.”


“Aku dan Devon bisa merahasiakannya, asal ada syaratnya.”


Laura menoleh pada David dengan cepat, “syarat apa?”


Seringaian David membuat Laura tidak nyaman, gugup, sekaligus takut.


Kemudian David meraih dagu Laura, lalu mengecup bibirnya, ********** sebentar, lalu menjauhkan kepalanya.


“Aku masih menginginkamu...”


“Kamu brengsek...”


David tertawa keras, “aku memang brengsek, tapi Devon juga pasti sama, dia tergila-gila denganmu, dia saja ingin memutuskan Wonhi dan mengejarmu tapi keburu kamu berkencan dengan papa dan sekarang hamil, aku yakin dia sedang frustasi saat ini.”


“Kalian berdua gila ya!”


“Ini salahmu karena datang saat kami berdua sudah memiliki kekasih, lalu kau malah suka dengan pria yang lebih tua!”

__ADS_1


“Memang kenapa jika tipeku begitu?”


David menarik pinggang Laura yang masih ramping itu, lalu mengecupi lehernya, meski Laura sudah sekuat hati untuk melepaskan diri, David jauh lebih kuat.


“Aku akan memibiarkanmu menikahi papa dan melahirkan anak papa, tapi selanjutnya anakku...”


“Tidak! kau gila!”


Laura menyesal dia telah mencoba untuk mendapatkan kata maaf dari David. Jika tahu akan seperti itu dia tidak akan menyinggungnya sama sekali.


“Ayolah Laura sayang... oh iya, jangan katakan hal ini pada siapapun, terutama Angel.”


“Memangnya kenapa?”


“Angel memang akan menyimpan rahasia, tapi dia bisa ikut campur dan semuanya kacau, kau masih ingin menikah dengan papa kan?”


Laura mengangguk pelan, dia merasa sedang dalam ancaman, jadi dia merasa takut dan gugup.


David itu menyeramkan jika sedang serius.


***


“Mmmhh, David, hentikan!”


Laura berusaha untuk menjauhkan David yang sedang menciumi lehernya. Laura baru saja selesai mandi, padahal mereka baru saja datang. Tadinya David dan Laura kelelahan, mereka menunggu Devon datang jadi tiduran sebentar. Satu jam kemudian Laura terbangun, lalu mandi agar tubuhnya terasa segar.


Tapi baru saja dia keluar dari kamar mandi, David sudah datang dengan bertelanjang dada, dia tiba-tiba menciumi leher Laura, menekan Laura di tembok sambil menahan kedua tangannya diatas kepala.


“DAVID!”


David pun menjauhkan kepalanya, melihat wajah Laura yang memerah, matanya berair seperti mau menangis.


Wajah yang menyedihkan dan penuh penderitaan itu sangat cantik, membuat David menjadi gila.


“Kamu cantik sekali, Laura... aku sampai tidak sadar melakukan ini, jadi kamu diamlah dan nikmati semuanya.”


Laura kembali mendesah tidak karuan, saat David menggigit puncak dadanya, menggelitik dengan lidahnya yang hangat, lalu menyesapnya dengan kuat.


David diam-diam menyeringai saat mengetahui Laura sudah mulai menikmati sentuhannya, dia pun melepaskan tangannya yang menahan kedua lengan mungil Laura.


Laura yang mulai menjadi gila karena permainan David, kini melingkarkan lengannya di leher David, menekan kepala David untuk terus memainkan dadanya.


Saat itu, Devon membuka pintu apartemen, dia terkejut melihat kelakuan David dan Laura.


Devon merasa terkhianati dengan David yang saat ditelefon seperti orang suci, sekarang malah David duluan yang menyentuh Laura kembali.


“Si brengsek ini... David!”


Laura membelalakkan matanya melihat Devon datang.


David pun melepaskan Laura lalu menatap kembarannya dengan tatapan sengit.


“Kau bilang dia hamil, tapi kenapa kau menyentuhnya begini?” tanya Devon.


“Aku hanya menciumi dadanya saja, kenapa sih?”


“Kau lupa dengan apa yang kau bicarakan di telfon?”


David berdecih malas, “baiklah, aku ceritakan semuanya! Laura sebenarnya tahu jika kita melakukan hal itu waktu itu... dia pura-pura tidak tahu agar papa tetap bersama dengannya dan menikahinya” ucap David.


Devon menoleh pada Laura yang sedang merapihkan penampilannya dan mencoba kabur dari sana.


Tapi terlambat karena Devon sudah menarik Laura, lalu memeluknya erat.

__ADS_1


“Kamu melakukan itu untuk papa? Kenapa kau tidak memilihku?”


“Kau sudah memiliki Wonhi! Sadarlah Devon!”


“Aku tidak mau sadar, tapi baiklah... kau bisa menikahi papa kami, namun ada syaratnya...”


“Aku sudah memberinya syarat, dia sudah menyetujuinya.”


“Untuk jadi mainan kita?”


David dan Devon tertawa, membuat Laura menangis seketika.


Dia kembali menyesali perbuatannya, kenapa dia berkata seperti itu pada David? Sekarang dia pun terjebak diantara anak kembar itu. Entah bagaimana Laura menghadapi Ruka dan Wonhi setelah ini, Laura merasa sangat kotor.


Setelahnya Devon menarik Laura ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya diatas ranjang. David melepas bathrobe Laura, membuat tubuh Laura polos.


Kedua iblis jahat itu menatapi tubuhnya dengan tatapan lapar.


“Hentikan... aku sedang hamil... ku mohon, jangan! AAAHH!!”


Laura hampir menjerit saat Devon menahan tangannya diatas kepalanya, lalu meremas dadanya dengan kencang. Rasanya sakit.


Belum lagi David yang sedang membelai kewanitaannya dibawah sana.


Laura tidak bisa menahannya lagi, dia pun menangis kencang, baru kali itu Laura merasa benar-benar lemah tidak berdaya dan sangat menjijikkan.


Andaikan Kaisar datang dan menolongnya dari perbuatan kedua putranya yang seperti iblis itu...


Tapi, tidak mungkin, Kaisar masih sibuk di perusahaan.


David dan Devon menyentuhnya sore itu, tidak sampai melakukan yang jauh, hanya mencium dan bermain dengan tubuh Laura saja.


Namun, Laura merasa sangat kotor, karena dia juga menikmati permainan itu.


Menjijikkan.


Kenapa dia seperti itu?


Kenapa dia menyukai sentuhan kedua iblis itu? Kenapa dia juga menginginkan lebih? Apa Laura sudah menjadi gila?


“Aku tidak tahan lagi, aku ingin memasukinya” ucap Devon.


“Jangan gila, Devon!”


“Kau yang memulai duluan ya?”


TING TONG!


Bel pintu berbunyi nyaring, membuat mereka panik.


“Ah, sial, itu pasti papa!” ucap David.


“Kau coba buka pintunya, aku akan membereskan Laura, cepat!”


“Oke!”


Setelah itu Devon memakaikan Laura pakaian santai, kemudian merapihkan pakaiannya sendiri yang berantakan, lalu membiarkan Laura keluar.


Tapi sebelum Laura keluar, Devon berbisik, “awas saja jika kamu katakan apa yang kami lakukan pada papa ya!”


Tenang saja, Laura tidak mungkin melakukannya, karena takut Kaisar akan pergi darinya dan merasa jijik.


Itu tidak boleh terjadi.

__ADS_1


.


.


__ADS_2