Dihamili Tiga Pria

Dihamili Tiga Pria
Fano yang bodoh


__ADS_3

.


.


Angel merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya lelah sekali, dia baru bisa merasa aman meninggalkan Dexter jika sudah ada Darren dan Airi. Jason juga sudah terlelap di ranjang bayi yang berada di dekat ranjang Angel.


Angel kembali bangkit lalu membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia merasa lebih segar. Tiba-tiba perutnya berbunyi karena lapar.


Sore hari itu Travis datang mengunjungi Dexter, tapi hanya sebentar, dia harus pergi lagi untuk menyapa keluarganya. Travis juga mengunjungi ayahnya yang sudah menikah lagi dengan seorang wanita muda berumur dua puluhan.


Di rumah hanya ada Angel, Bagas, Tari, dan Jason. Sementara yang masih bangun hanya Angel saja, yang lain sudah tidur karena itu sudah sekitar jam sepuluh malam.


Angel malah memasak nabe karena dia lapar.


Semua bahan-bahan sudah Angel siapkan, tapi... dia tidak yakin dengan resepnya, jadi dia menghubungi seseorang yang bisa memasak.


Fano kelihatannya masih bangun, jadi Angel mengirimnya chat.


Angel mengirim foto bahan-bahan nabe pada Fano, lalu bertanya ‘bagaimana menurutmu bahan-bahan membuat nabe ini? Apa ada yang kurang?’ tanya Angel.


Tidak lama kemudian Fano membalasnya lagi, dia juga mengirim foto kepiting segar.


‘Lebih enak jika ditambah ini lho.’


Angel belum apa-apa sudah ngiler hanya dengan membayangkannya.


‘kayaknya enak itu...’ balas Angel.


Fano pun menelfon Angel, langsung saja Angel angkat.


[Kamu mau memasak nabe?]


“Iya, laper nih... pengen makan.”


[Ini udah malem lho... kak Dexter siapa yang jaga? Kak Darren?] tanya Fano.


“iya, ada kak Darren dan Airi, jadi aku merasa tenang, katanya Om Chris juga akan datang malam ini.”


[Ah, papa mau dateng ya? Kalo gitu aku kesana ya? Pasti mau kepitingnya kan?]


“Mau!”


[Hahaha, aku kesana, tunggu ya, buat saja minuman dulu yang hangat.]


“Hmm okay!”


Angel pun memutuskan panggilan tersebut, dia senyum-senyum sendiri tanpa sadar. Kemudian dia pun berdiri untuk membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri.


Tepat setelah minuman selesai, Fano datang.

__ADS_1


Keduanya pun memasak nabe bersama, kebanyakan Fano yang memasak sih, Angel hanya membantu sedikit saja.


“Sudah selesai!”


Mata Angel berbinar-binar melihat masakan sudah jadi.


Karena hanya ada mereka berdua, mereka pun makan, tapi makan di balkon. Saat itu udara tidak terlalu dingin, jadi aman saja meski Angel hanya memakai baju tidur yang tipis.


Fano sendiri menguatkan hatinya agar tidak tergoda dengan tubuh Angel, dia tidak mau brengsek seperti dulu lagi. Dia mau berubah, tapi tubuh indah Angel benar-benar membuat konsentrasinya buyar.


“Hmm, enak banget!”


“Angel aku menginap disini ya?”


“Oke! Oh iya, kamu seriusan putus dengan Lily?” tanya Angel.


Fano tersenyum pahit lalu mengangguk, “benar, dia bahkan datang tadi, hanya untuk mengatakan dia akan menikah bulan depan.”


Angel pun menatap Fano dengan tatapan prihatin.


Fano terdiam menatap Angel yang sedang menatapnya dengan tatapan kasihan tersebut, dia pasti berpikiran sama seperti ibunya, Keira, tentang hubungannya dengan Lily.


“Aku akan tersinggung jika kamu menatapku seperti itu, Angel, aku tidak mau dikasihani...”


Angel buru-buru menatap ke arah lain, “oh! Eum – ma-maaf... aku tidak bermaksud begitu, aku hanya... prihatin.”


“Iya, itu sama saja kan? aku baik-baik saja, kita berdua sudah tidak cocok, jika dia bahagia dengan pria lain, untuk apa aku ngotot mempertahankannya? Hubungan ini sudah tidak baik. Jika kita tetap bersama, itu sama saja menyakiti diri sendiri.”


Setelah itu tidak ada percakapan lagi sampai makanan dan minuman kandas.


Angel mengajak Fano untuk kembali ke dalam.


Karena Fano belum bisa tidur, akhirnya mereka berdua menonton film.


Bodohnya, film kali itu adalah film yang mirip dengan kisah cinta Fano.


Yaitu sepasang kekasih yang hubungannya kandas. Si pria itu brengsek dan menyia-nyiakan cinta kekasihnya, hingga seorang pria baik merebut kekasihnya tersebut. Si pria brengsek pun jatuh dan terpuruk, meski akhirnya bisa kembali bangkit setelah mendapat cinta yang baru.


Entah kenapa Fano merasa tersindir dengan film tersebut, menyebalkan sekali.


Tapi, di satu sisi, fano juga ingin seperti si pria, yang bisa bangkit lagi meski sudah terpuruk.


“Fano... jika kamu melepas Lily karena ingin dia bahagia, bagaimana denganmu sendiri? Kamu merasa bahagia kah?”


Fano menoleh pada Angel, yang matanya sudah berkaca-kaca, dia seperti menahan air matanya, Angel sedang emosional, padahal akhir film semua bahagia, si pria dengan kekasih lamanya juga sudah baikan.


Jangan-jangan Angel masih memikirkan Fano.


Fano pun menangkup wajah cantik Angel, menatapnya dalam-dalam, hingga pikirannya terseret ke dalam mata indah tersebut.

__ADS_1


Tanpa Fano sadari, dia pun bergerak untuk mencium bibir Angel.


Karena Angel tidak menolak sama sekali, ciuman itu semakin lama menjadi semakin liar dan agresif. Fano baru melepas ciuman itu setelah mereka berdua kehabisan nafas.


Fano pun terkejut dengan perbuatannya, Angel mengucurkan air mata hingga membasahi pipinya.


“Angel, aku – aku minta maaf karena terbawa emosi... aku hanya – aku mencintaimu, Angel.”


PUK.


Fano heran saat Angel tiba-tiba memukul lengannya.


“Bodoh! Aku juga terbawa emosi... jangan pedulikan air mataku, ini karena film yang tadi, aku tidak marah kok – eh, tunggu! Tadi kamu bilang apa?” tanya Angel.


Satu hal dari Angel yang membuat Fano greget adalah... Angel mudah terbawa emosi.


Entah karena kesal atau karena masih nafsu, Fano pun menarik Angel, membawa Angel ke kamarnya, lalu melanjutkan berciuman disana.


“Mmmhh! Fanooohh – henti –mmmhh!” tangan Angel sangat lemas, tidak bisa menahan atau menyingkirkan Fano dari atas tubuhnya.


Fano melepaskan ciuman itu, menatap Angel dari atas, kemudian menyingkirkan anak rambut yang menghalagi wajah Angel, menyelipkannya ke balik telinganya.


“Angel, aku serius dengan ucapanku...”


“Kamu ini sedang stress karena patah hati kan? aku bisa mengerti Fano.. tapi apa tidak keterlaluan melampiaskannya padaku? Aku tidak akan marah, tapi, jangan begini... aku sudah punya suami dan anak.”


Ucapan Angel tersebut membawa Fano kembali pada kenyataan.


Benar, dia yang bodoh.


Angel itu masih istri dari sepupunya yang sedang koma di rumah sakit.


Bodohnya Fano.


“Maaf, tapi aku boleh tidur disini sambil memelukmu kan?”


“Tentu saja tidak boleh – Fano?”


Fano tidak menghiraukan ucapan Angel, dia hanya langsung tidur sambil memeluk tubuh Angel.


Angel yang sudah capek mengomel agar Fano melepaskan pelukannya akhirnya tenang juga, dia pun mendengar dengkuran halus dari Fano.


Angel bingung harus kasihan atau baper dengan Fano.


Fano itu keras kepala, tidak bisa dibilangi.


Namun, karena pelukan Fano itu hangat, pada akhirnya Angel ikut tertidur, dalam pelukan hangat tersebut.


.

__ADS_1


.


__ADS_2