
"Gapapa non istirahat aja ya , makan bibi ambilin."
"Makasih ya bi..Aleta makan nasi goreng tadi aja."
"Iya non..Bibi ambilin non istirahat aja kan lagi hamil."
"Makasih bi."
Gendra yang sudah dikamar dengan Bira yang mengantarkannya.
"Gendra ,ngga boleh kasar sama istri Lo!"
"Dia itu harus di kasarin dulu biar ngerti ,kalo ngga gitu dia bakal terus ngelunjak. Dia juga ngga tau Lo ,Lo itu sahabat gue mana mungkin Lo kasih bumbu udang di masakannya. Lagaian Lo juga tau kalo gue alergi udang."
"Iya iya gue ngerti kok, makasih udah belain gue. Tapi dia mungkin ngga tau kalo Lo alergi udang."
"Seharusnya dia tanya."
Bria yang melihat Gendra marah bersmirk. Rencananya berhasil membuat mereka bertengkar lagi.
"Yaudah kalo gitu Lo istirahat aja. Biar Lo lebih relaks. "
"Lo mau kemana habis ini? Pulang?"
"Ngga tau sih ,binggung mau kemana."
"Disini aja dulu temenin gue. Gue butuh teman saat ini."
"Ada istri Lo!"
"Gapapa biarin aja."
"Ngga gend gue mau pulang aja."
"Yaudah terserah Lo. hati hati."
"heemm.."
Bria memutuskan pulang. Ia menuju ke bawah untuk mengambil tasnya. Melewati dapur Bria melihat Aleta yang tengah makan siang dengan nasi goreng buatannya tadi.
Bria mendekati Aleta dan berbisik di telinga Aleta.
"Ini baru pertama, mungkin besok besok akan lebih dari ini."
Selesai mengatakan itu Bria langsung bergegas pergi dari rumah Gendra.
Aleta hanya diam tak melanjutkan makannya lagi.
"Apa maksud Bria tadi?" gumam Aleta.
"Non..non..."
"..."
Tak ada jawaban dari Aleta ia melamun.
"Non..." panggil bibi sambil menepuk pundak Aleta pelan.
"Eehhh.. bibi.."
"kenapa ngelamun non,itu makannya dihabisin dulu."
"Ngga papa kok bi. Aleta ngga habis makannya."
"Yaudah gapapa. Non Aleta istirahat aja biar bibi yang beresin."
"Kalo begitu makasih ya bi."
"iya non."
__ADS_1
Aleta memutuskan untuk berjalan ke taman belakang. Ia berniat ingin nelepon Bara. Ia duduk di kursi taman, sambil menikmati pemandangan disana yang begitu indah dan terasa sejuk. Aleta merasa tenang dan nyaman di sini.
Tutt...Tut....
"Halo? Al?"
"Kak Bara...."
"Ada apa Al?"
"Ngga papa aleta cuma mau nelpon kak Bara aja. Kak Bara sibuk ngga?"
"Engga ,udah selesai meeting ini. Mau apa?"
"Kak Bara kesini ya.. Aleta bosen tau.."
"Iya nanti gue kesana. Gendra kemana emangnya?"
"Ada Kak Gendra lagi istirahat,terus Aleta sendirian deh."
"Iya nanti gue kesana. Mau di bawain apa Al? Sekalian lewat supermarket nanti."
"Apa aja deh terserah Kak Bara. Eskrim sih kalo ada hehehe..."
"Iya nanti gue beliin. Udah dulu ya..."
"Oke. Makasih Kak Bara..."
"iya Al.."
Aleta menutup telponnya. Ia kembali menikmati suasana di taman belakang sambil mengelus elus lembut perutnya.
"Ngga nyangka banget aku udah hamil dan akan jadi seorang ibu."
"Siap ngga siap buat aku jadi seorang ibu." gumam Aleta sendirian.
"Coba telpon ibu sama ayah deh kangen banget Aleta."
Tutt...Tut...Tut....
"Halo nak? Ada apa tumben nelpon ibu?"
"Aleta kangen ayah sama ibu. Aleta pengen ketemu."
"Ayah sama ibu juga kangen. Gimana kandungan kamu sayang?"
"Kandungan Aleta baik baik aja kok. Ayah sama ibu ngga usah khawatir."
"Kamu juga abaik baik aja kan nak?Ngga disakitin kan sama suami kamu?"
"Engga kok Bu,yah tenang aja Aleta disini bisa jaga diri Aleta. Yang penting ibu sama ayah juga sehat sehat ya."
"Iya nak.."
"Yaudah ya yah,Bu Aleta tutup telponnya."
"Iya nak,jaga diri ya."
"Iya.."
Alaeta menutup telponnya. Tak berapa lama kemudian Bara datang.
"All..."
"Kak Bara cepet banget. "
"Iya tadi selesai telpon gue langsung berangkat."
"Ngga ada kerjaan lagi setelah ini?"
__ADS_1
"Engga Al,semua udah di urus sama sekertaris gue."
"Iya deh yang sekarang udah kerja. Mana jajannya?"ucap Aleta dengan mata berbinar kala melihat Bara yang membawa dua kantong plastik berisi makanan.
"Nih..Buat Lo semua. Kurang baik apa coba gue sama Lo?"
"Iya kak Bara yang gantenggg..... makasih ya...."
"Hemm.. Gendra mana Al?"
Aleta yang kini tengah menikmati eskrimnya ditanya oleh Bara tak menjawab. Ia menikmati sambil mendengarkan musik.
"All?"
"Jangan ganggu ih,mood Aleta lagi baik."
"Iya deh iya..Gue cari Gendra dulu ya."
"heem oke."
Bara bergegas mencari gendra ke kamarnya.
Tok..tok...tok...
Tak ada jawaban dari dalam. Bara mencoba memanggilnya dan Gendra pun menjawab dari dalam.
"Siapa?"
"Gue Bara."
"Ngapain Lo kesini?"
"Ada yang perlu gue bicarain sama Lo."
"Masuk."
Bara masuk kedalam kamar dan duduk di sofa dekat ranjang.
"Mau bicara apa Lo?"
"Lo masih nuduh kalo anak yang dikandung Aleta itu anak gue?"
"Ngga tau."
"Kenapa ngga tau? Tapi jujur Gend ,gue ngga ada hubungan apapun sama Aleta. Lo sahabat gue mana mungkin gue ambil istri dari sahabat gue sendiri. Gue anggep Aleta itu adik kecil gue. Setelah kepergian adik perempuan gue,gue bener bener merasa kehilangan dia. Tapi semenjak ketemu Aleta gue ngerasa dia itu mirip banget sama adik gue , sifatnya,tingkah lakunya bener bener mirip adik gue. "
"....."
Gendra tak menjawab hanya diam saja.
"Kehadiran Aleta bener bener ngingetin gue sama adik gue. Please percaya sama gue. Dia mengobati rindu gue sama adik gue yang udah ngga ada gen."
Ya dulu bara memiliki seorang adik perempuan tapi adik Bara mempunyai penyakit yang sulit disembuhkan. Ketika Bara berusia 19 tahun adik bara meninggal dunia. Dan saat itu Bara kehilangan seseorang yang dia sayang setelah ibunya. Dan saat bertemu Aleta Bara merasa tingkah , sifat dan perilaku Aleta benar benar mirip dengan Adiknya. Makanya Bara sangat menyayangi Aleta seperti Adiknya sendiri.
"Gue percaya sama Lo."
"Lo emang harus percaya,kasian Aleta dia Lo bawa paksa kerumah Lo dan sekarang malah Lo nyakitin hati dia. Apalagi Aleta sedang hamil anak Lo. Sikap seorang yang sedang hamil bisa berubah-ubah. Moodnya kadang baik kadang engga. Jadi lo harus sabar ngadepin Aleta. orang hamil kadang juga nyidam yang aneh aneh Lo harus bisa turutin itu. "
"Iya gue tau."
"Gend ,ayo gue anter lagi buat berobat. Gue--"
"Stop bilang kaya gitu! Biar itu urusan gue sendiri."
"Gue sahabat Lo dari kecil ,gue udah tau sifat Lo. Lo harus berusaha buat bisa cerita sama Aleta. Sembuhin penyakit Lo. Kasian Aleta sekarang lagi hamil Lo bakal jadi seorang papa. Takutnya anak Lo nanti yang kena imbasnya."
"Pikirin Gend, buat kebaikan Lo , Aleta ,dan calon buah hati Lo."
Gendra hanya diam tak menjawab lagi perkataan Bara. Entah apa yang ia pikirkan setidaknya Bara sudah menjelaskan semuanya.
__ADS_1