
Kini matahari sudah terbenam dan langit berganti gelap dengan adanya bintang dan bulan. Aleta dan Gendra kini sedang ada di meja makan menikmati makan malam mereka berdua.
"Kak gimana masakan aku enak ngga?"
"enak banget sayang...."
"Kak Aleta kangen tau sama ibu sama ayah."
"Sabar ya sayang. Untuk saat ini kita belum bisa keluar rumah,karna.pasti mereka mereka tadi masih mengintai kita. Kita bisa telpon ibu dan ayah sayang.."
"hmm yaudah deh ngga papa kak." ucap Aleta lesu. Ia benar benar ingin bertemu ibu dan ayahnya tapi bagaimana lagi mereka sedang tidak aman untuk keluar rumah.
"Selesai makan kita telpon ibu dan ayah ya. Kamu habisin dulu makanannya."
"Iya kak."
Gendra lebih dulu selesai makan.Ia lalu beranjak dari meja makan untuk kedapur.
"Bi susu hamil Aleta ditaruh mana ya?"
"Oh susunya ada di lemari atas tuan."
"Baik bi."
Ternyata gendra kedapur ingin membuatkan susu hamil untuk Aleta.
"Sayang ini susunya ,diminum biar babynya sehat ya."
"Tumben banget kak gendra. Tapi makasih papa udah buatin susu buat baby."
"Sama sama sayang." ucap gendra sambil mengelus perut Aleta.
Aleta segera meminum susu yang dibuatkan gendra sampai habis. Lalu ia merapikan piring kotornya dan meletakannya didapur.
Aleta dan gendra lalu bergegas ke kamar.
"Kita telpon ibu dan ayah ya."ucap gendra.
Aleta mengangguk pertanda ia mengiyakannya.
Tut Tut Tut..
"Halo ayah ibu?"
"Halo nak ,udah lama ngga kerumah. Kemana aja?"
"Aleta dirumah Bu yah. maaf Aleta jarang main kesitu."
"Iya ngga papa nak. Aleta baik baik aja kan?"
"Aleta baik baik aja. Ini Aleta juga sama kak Gendra."
"Syukur kalo kamu semua baik baik aja. Gimana kandungan kamu?"
__ADS_1
"Kandungan Aleta sehat yah,Bu. Ibu sama ayah gimana kabarnya?"
"Ibu sama ayah juga sehat."
Cukup lama Aleta dan kedua orang tuanya mengobrol lewat telepon,mereka sama sama menyalurkan rasa rindunya satu sama lain. Disisi lain Gendra hanya mendengarkan percakapan mereka saja. Dirinya juga menyibukkan diri dengan laptopnya.
Selesai menelpon Aleta lalu menghampiri Gendra yang sedang duduk dibalkon.
"Kak....."ucap Aleta sambil memeluk gendra dari belakang.
"Udah selesai telponnya?"
"hmmm udah. Kak gendra lagi apa?" ucapaleta sambil mengambil duduk di sebelah Gendra.
"Ngga ngapa ngapain sayang..."
"Kak ,Aleta pengen makan donat coklat."
"Nyidam?"
"ngga tau tapi Aleta pengen banget sekarang." ucap Aleta gemas.
"Iya aku suruh anak buah aku yang cari ya."
"Yey...makasih kak gendra." Aleta yang begitu senengnya tiba tiba memeluk gendra dan mencium pipi gendra berkali kali.
"Sayang... aku telpon dulu ya.. nanti lagi kalo mau pelukk cium."
"maaf kak ,abisnya Aleta seneng banget." ucap Aleta sambil menampilkan giginya.
Gendra sudah menelpon anak buahnya untuk mencarikan donat.
"Tunggu ya sayang..."
Aletamengangguk.
"Kak nanti babynya mau cewe atau cowo?"
"Aku lebih suka cewe soalnya biar cantik kaya kamu."
"Kenapa ngga cowo? Kan kalo cowo nanti bisa jagain aku kalo kamu lagi marah sama aku."
"Iya sayang... terserah tuhan aja yang mau aksih cewe atau cowo yang penting babynya sehat."
"Iya yang penting babynya sehat."
"Al ,aku boleh ngomong sama kamu?"
"Kan dari tadi kak gendra juga ngomong sama aku."
"Iya all..ihh gemes banget jadinya."
"Maksudnya aku mau ngomongin hal yang bikin aku jadi sulit kontrol emosi." lanjut gendra.
__ADS_1
"Kak gendra udah siap?"
Gendra mengangguk mengiyakan.
"Aku bakal dengerin apapun yang kak gendra ceritain sama.aku yang penting kak gendra siap buat ceritainnya kalo engga Aleta bakal tunggu sampai kak gendra siap kok."
Gendra kembali melamun ia sebenarnya siap tidak siap akan menceritakannya pada Aleta. Disisi lain mungkin saat gendra bersikap baik dengan Aleta ia benar benar nyaman dan merasa aman. Tapi di saat ada yang mengusiknya entah mengapa emosi ini muncul secara tiba tiba.
"mama sama papa baik baik aja kan? Gendra kangen. Gendra ngga siap buat jalanin hari harinya." batin gendra.
"Sekarang gendra ngga tau kenapa setelah kepergian kalian ,gendra jadi seperti ini. Ini semau gara gara Gabriel. mereka yang udah bunuh orang tua gue." batin gendra.
Saat ini Aleta hanya diam menatap Gendra yang melamun. Aleta juga melihat bahwa tangan gendra terkepal kuat seperti menahan emosi.
Aleta lalu meraih tangan gendra yang terkepal kuat dan mengelusnya dengan lembut.
Gendra yang menyadari itu lalu menatap Aleta.
"Kak gendra tenang ya,jangan cerita kalo belum bener bener siap. Aku yakin kak gendra pasti kuat buat jalaninnya. Aleta akan selalu di sisi kak gendra. Ada Baby juga." ucap Aleta sambil mengarahkan lengan gendra ke perutnya.
"maaf Al aku belum siap lagi." gendra menundukkan kepalanya.
Aleta dengan cepat memeluk gendra agar gendra merasa tenang. Ia juga mengusap pelan rambut gendra.
"Kak Gendra tenang ya kita jalanin semuanya sama sama. Aku yakin kak gendra bakal berubah seiringnya waktu. Semua masalah pasti juga akan cepat selesai.Yang penting jangan lukai diri kak Gendra oke?"
"Al nyaman banget dipeluk kamu gini ,hati rasanya tenang banget. Bantu aku berubah dan memperbaiki kehidupan aku bersama kamu. Aku janji bakal cepet selesaiin masalah ini."
"Iya kak aku yakin kak gendra pasti cepat selesai dengan maslaah Kaka. Jangan menyimpan dendam ke orang lain terlalu lama.Bisa aja itu akan membahayakan orang orang terdekat Kaka juga."
"Iya al. maaf. Mulai besok aku akan mulai menyelesaikan masalah ini satu persatu. Setelah itu aku janji akan berhenti menjadi seorang mafia. Aku ngga ingin anak aku nanti jika sudah lahir tau jika papanya seorang mafia dan akan membuatnya takut."
ujar gendra.yang masih dipelukan Aleta.
"Iya kak. yang penting Kak gendra harus hati-hati ya.Aleta percaya sama kak gendra."
Gendra mengangguk. Ia merasa lebih lega sekarang. Ya walaupun ia belum mengatakan semuanya.Tapi gendra ingin mengatakannya saat nanti jika ia sudah berhasil menyelesaikan masalahnya dengan musuhnya ya jika itu bisa. Karna Gabriel dunia mafia susah untuk dilepaskan apalagi musuh musuhnya. Tapi Gendra akan berusaha demi keluarganya. Dan sekarang ia akan menjadi seorang papa. Gendra tidak mau jika anaknya nanti menuruninya sebagai seorang mafia,atau anaknya nanti tau jika papanya adalah seorang mafia ia tidak ingin membuat anaknya takut dengannya.
"Sekarang istirahat yuk kak."
Gendra melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam Aleta. Tiba tiba ia mencium lembut bibir Aleta. Aleta tidak memberontak sama sekali karna ciuman yang gendra berika sangat lembut jadi ia juga membalas ciuman gendra.
"All....." ucap gendra setelah melepaskan ciumannya tadi.
"Kenapa kak?"
"Boleh?" tanya gendra. Aleta mengerti maksud dari perkataan gendra.
"Tidak untuk waktu dekat ini ya kak. Babynya masih kecil. Kata dokter belum dulu." ucap Aleta lembut dengan senyuman.
"yah...." gendra merasa lesu ia mengerucutkan bibirnya.
"Kalo yang ini boleh kok." ucap Aleta sambil menunjuk bibirnya.
__ADS_1
Gendra tersenyum kepada Aleta dan langsung mencium bibir Aleta lagi dengan lembut.