
Aleta diam dirinya hanya menangis saja tidak berbicara lagi. Sampai di pintu belakang tiba tiba...
"Mau kabur ke mana Lo? Lo semua ngga bisa kabur dari sini! Jangan harap kalian semua bakal bisa keluar begitu aja ,Ingat Gendra nyawa di balas nyawa."
Ya tiba tiba saja Bria ada di sana dengan Gabriel. Mereka mencegat Gendra,Aleta dan Bara. Apalagi saat ini kondisi Aleta yang tidak memungkinkan dan harus cepat di bawa kerumah sakit.
"Biar gue yang urus ,Lo berusaha cari jalan lain dan cepat bawa Aleta pergi dari sini!" bisik Bara.
Gendra mengangguk. Dirinya melihat mengarah ke arah yang masih di gendongnya dan menahan sakit di perutnya.
Bria dan Gabriel yang kini sudah bersiap untuk menyerang gendra dan bara pun sudah menyiapkan pistolnya.
"sayang tenang oke kita bakal keluar dari sini. Percaya baby ngga bakal kenapa Napa. Tenang sayang...." Gendra yang sangat khawatir dengan keadaan Aleta yang begitu menyedihkan kini gendra hanya bisa mendekap Aleta dalam.
Bria yang mulai menembakan pelurunya kesembarang arah membuat Gendra kaget.
"Bria tolongg....gue mohon biarkan gue pergi dari sini setelah gue bawa Aleta kerumah sakit terserah Lo apapun yang akan Lo lakuin sama gue. Kondisi Aleta benar benar lemah dan sekarang dia lagi bawa nyawa.di perutnya." Ucap gendra yng tiba tiba memohon kepada Bria. Dirinya rela merendahkannya dirinya demi Aleta baik baik saja.
"Apa? Gue ngga salah denger? Seorang GENDRA yang katanya ketua mafia memohon seperti itu ke gue? Hahahaha lucu banget ya? Seharusnya gue tadi ngevideo Lo pas Lo bilang gitu sama gue? Coba ulang lagi dong GENDRA gue ngga denger." Bria menertawakan perkataan gendra tadi . Ia juga menekankan nama gendra di setiap perkataannya.
Bara lalu menatap ke arah gendra yang kini menunduk melihat ke arah Aleta yang sudah pingsan di gendongan Gendra.
"Sayang...bangun heyy....buka matanya...jangan tutup dulu...Aleta...." Gendra yang panik pun langsung menerobos Bria dan Gabriel yang ada di depannya. Ia tidak memperdulikan lagi dirinya yang entah akan jadi seperti apa, yang gendra pikirkan saat ini adalah nyawa Aleta dan bayi dalam kandungan Aleta.
"GENDRA!! BERANI BERANINYA LO PERGI GITU AJA! OKE RASAKAN PEMBALAS GUE!! " Ucap Bria yang siap menembak gendra yang kini sudah berjalan di depan. Pistol Bria.mengarah ke tubuh gendra yang kini berlari untuk keluar dari sana.
Saat Bria akan menarik pelatuknya tiba tiba....
DOR....DOR....
"aaarrgghhhh......." Ucap dua orang itu bersamaan.
Ya Bara lebih dulu menembak Gabriel dan Bria yang tengah lengah dan hanya fokus pada Gendra. Tapi Bria lupa kalau di belakangnya masih ada bara disana. Al hasil mereka sendiri yang kena getahnya.
Bara menembak Gabriel tepat di pundak kanannya. Sedangkan Bria tepat di kaki kirinya.
mereka menahan sakit dan bara langsung menghubungi anak buahnya lewat HT untuk mengurus Bria dan Gabriel.
__ADS_1
Bara juga dengan cepat lalu menyusul Aleta dan gendra. Bara tidka mungkin membiarkan gendra untuk menyetir mobil dengan kondisinya yang tidak memungkinkan.
Pas sekali Bara sampai di mobil Gendra juga baru saja sampai.
"CEPAT BAR!! GUE TAKUT ALETA KENAPA NAPA!"
bara lalu membuka pintu mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gendra yang kini duduk di belakang sambil terus berbicara kepada Aleta untuk membuka matanya.
Gendra benar benar hancur saat ini melihat Aleta yang lemah tak berdaya.
"Tuhan tolongg...jangan buat saya kehilangan orang yang saya sayangi untuk kesekian kalinya lagi." batin gendra sambil menitihkan air matanya.
Beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit . Gendra dengan cepat mengendong Aleta masuk.
"DOKTER DOKTER CEPAT TOLONG ISTRI SAYA!!"" teriak gendra.
Beberapa suster akhirnya datang dan Aleta di letakkan di brangkar dan di bawa ke ruangan untuk di periksa.
"Bapak mohon tunggu di sini ya. Biarkan pasien saya periksa terlebih dahulu."
"Mohon maaf ya pak."
"AAARRGGG...."
"tenang gendra. Berdoa gue yakin Aleta ngga bakal kenapa Napa. Jangan kaya gini Lo bisa sakit juga gendra!"
"Dia lemah Bar. Kasian Aleta pasti sakit banget. Dia ngga sekuat itu." ucap Gendra yang kini sudah terduduk di lantai dengan keadaan yang begitu kalut.
"Iya gue tau Aleta ,tapi gue yakin Aleta pasti bisa ngelewatin ini semua." Bara berusaha menenangkan gendra.
Kring....Kring .....
"Sebentar ibunya Aleta telpon." ucap bara.
"Halo? Bu?"
"Halo nak bara. Gimana Aleta? sudah ketemu?"
__ADS_1
"Aleta sudah ketemu Bu.Ini Aleta lagi ada di rumah sakit. Lagi di tangani oleh dokter."
"Syukurlah kalo sudah ketemu. Ibu dan ayah kesana sekarang ya? Alamat rumah sakitnya di mana?"
"Tenang ya Bu,yah. Ini sudah ada gendra dan saya di sini. doakan Aleta baik baik saja. Ibu sama ayah besok aja kesininya. Sekarang sudah malam ,dan juga ngga ada kendaraan untuk kesini malam malam. Lebih baik ibu sama ayah berdoa saja untuk kesembuhan Aleta."
"Yasudah kalau begitu. Ayah sama ibu titip Aleta ya. Kabari ibu kalo ada apa apa sama Aleta."
"Iya Bu. Kalau begitu Bara tutup teleponnya."
"Iya nak Terimakasih ya.."
Selang beberapa lama akhirnya dokter yang menangani Aleta keluar.
"Gimana kondisi istri saya dok?" tanya gendra gelisah.
"Mohon maaf tapi kami sudah melakukan yang terbaik ,tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang di kandungnya.kandungan pasien tidak bisa di selamatkan. Karena perutnya sepertinya telalu banyak luka yang di terima jadi ,calon babynya meninggal di dalam kandungan. Jadi kita harus melakukan operasi untuk mengambil bayinya. "jelas dokter itu.
Gendra yang mendengar itu seketika hidup gendra terasa hancur. Ia gagal menjaga anak dan istrinya. Ia merasa tidak becus mengurus Aleta dan calon babynya.
"Kondisi pasien sekarang bagaimana dok?" tanya bara.
"Kondisi pasien saat ini sangat lemah. Seharusnya di kondisi seperti bahaya untuk melakukan operasi tapi keadaannya sangat darurat jadi saya mohon doanya agar operasinya nanti berjalan lancar dan tidak ada hal hal yang tidak di inginkan."
"Baik dok. Lakukan yang terbaik untuk Aleta. Saya percaya kepada dokter dan tim." jelas Bara.
"Baik terimakasih,kalau begitu saya langsung membawa pasien ke ruang operasi." ucap dokter itu lalu kembali ke ruangan untuk membawa Aleta ke ruang operasi.
Gendra yang saat ini tengah duduk di lantai ,menangis tersedu sedu. Mengingat betapa Aleta menangis menahan sakit di perutnya.
"Gue gagal...gue gagall..... aaaagggkkhhhh......." gendra memukul tembok rumah sakit dengan tangannya. Ia meluapkan emosinya di sana.
"Tenang gendra! Aleta akan melakukan operasi ,kita berdoa sama sama semoga Aleta bakal baik baik aja. Jangan kaya gini. Kalo Aleta liat Lo kaya gini dia pasti bakalan sedih."
Pintu ruangan Aleta terbuka menampilkan Aleta yang kini terbaring lemah dengan selang yang ada di tubuhnya. Gendra yang melihat itu hanya menahan tangisnya dan menghampiri Aleta.
"Sayang.....aku yakin kamu bisa melewati ini. Aku ada disini. Tolong bertahan demi aku ya... aku hancur kalo kamu ngga ada Al." gendra menangis sambil menggenggam tangan Aleta.
__ADS_1