Dipaksa Menikah Dengan Mafia

Dipaksa Menikah Dengan Mafia
PERINGATAN BRIA


__ADS_3

"Bu,yah biar anak buah saya yang mengantar." ujar gendra tiba tiba hal itu membuat Aleta langsung menatap ke arah gendra.


"Ngga usah nak ,biar ayah sama ibu naik kendaraan umum saja."


"Ngga papa Bu. Jangan menolak ya. Saya ingin belajar menjadi menantu yang baik buat ibu dan ayah."


Aleta yang mendengar itu pun langsung terharu. Baru pertama kali ini Aleta mendengar gendra bersikap lembut dengan ke dua orang tuanya.


Gendra lalu mengeluarkan handphonenya untuk mengabari anak buahnya untuk mengantar orang tua Aleta.


"Sebentar ya ,mungkin anak buah saya anak cepat sampai."


Beberapa saat kemudian anak buah gendra yang di perintahkan untuk mengantar orang tua Aleta pun sampai.


"Kami pamit ya nak."


"Iya bu hati hati ya." ucap Aleta.


"makasih ya nak gendra."


"Sama sama Bu." ujar gendra dan mendekati orang tua gendra untuk bersalaman. Saat gendra menjulurkan tangannya orang tua Aleta pun kaget. Gendra benar benar berubah sikapnya. Apa mungkin ia benar benar ingin berubah? menjadi bersikap baik dan lembut? Entah lah yang terpenting saat ini Aleta menatap gendra sendu. Ia melihat perubahan dalam diri gendra.


Setelah kepergian orang tua Aleta. Gendra mendekat ke arah Aleta dan duduk di samping brangkar Aleta.


"Kak?"


"Iya Al? Ada apa mau minum?"


Aleta menggeleng,ia meraih tangan gendra dan menatap gendra dengan tatapan sendu.


"kenapa hmm?"


Aleta tiba tiba meneteskan air matanya. Ia benar benar terharu dengan perubahan sikap gendra yang menjadi baik dan lembut dengan orang tua Aleta. Ini yang Aleta harapkan dari dulu.


"hei kenapa nangis? aku nyakitin kamu?" tanya gendra khawatir.

__ADS_1


Aleta menggeleng.


"Kak makasih ya udah mau bersikap baik smaa ayah dan ibu. Aleta benar benar terharu liatnya tadi. A-aleta ngga nyangka kalo kak gendra bisa mengubah sikap kak gendra ke orang tua Aleta. Aleta benar benar--"


"Ssttt ,udah ya jangan nangis. Aku baru sadar kalo sikap aku ke orang tua kamu dulu benar benar jahat Al. Maaf ya ,aku mau ngerubah sikap aku sekarang .Maaf kalo aku terlambat setelah membuat anak kesayangan mereka jadi seperti ini aku baru sadar." ucap gendra sambil menundukkan kepalanya dia benar benar merasa malu di depan Aleta saat ini karena gagal menjadi suami yang baik untuk Aleta.


"Udah ya kak ,jangan nyalahin diri Kaka sendiri. Aleta tau kak gendra itu sebenernya orang yang baik. udah ya Aleta laper banget nih." ucap Aleta untuk mencairkan suasana.


"Kamu laper?" tanya gendra sambil mendongkakkan kepalanya.


Aleta mengangguk. Gendra lalu menatap bungkus makanan yang di bawa oleh bara tadi. untung saja bara membawakan makanan tadi.


"Tadi bara beli sarapan,sekarang kamu makan ini aja ya? kayanya bubur deh."


"Kak Bara beli sarapan buat kak gendra?"


"Iya Al." ucap gendra sambil membuka bungkus makanan yang ada di atas meja.


"Berarti kak gendra belum sarapan dong?"


Gendra diam ,ia kembali duduk di kursi sambil menyiapkan makanan ke mulut Aleta.


"Udah Aleta. Sekarang kamu yang makan ya."


"Bohong ,aku tau kak gendra belum sarapan."


"Udah sayang....." ucap gendra gemas sambil mencubit hidung aleta.


"Sini buburnya." Aleta meraih bubur yang ada di tangan gendra.


"Sekarang aku yang suapin kak gendra balik ,kita sarapn bareng. Kak gendra juga harus sehat ngga boleh sakit." ucap Aleta sambil menyodorkan sendok berisi bubur itu.


Gendra tersenyum ke arah Aleta. Dirinya saat ini benar benar bahagia ia baru merasakan indahnya di kelilingi dengan orang orang yang baik apalagi istrinya yang saat ini sudah sadar.


"Ayo kak buka mulutnya. aaaa..... pesawat terbang..."

__ADS_1


Gendra lalu membuka mulutnya, ia tersenyum dengan tingkah Aleta yang benar benar lucu.Aleta juga ikut tersenyum.


"Ternyata bahagia sesederhana ini ya Al." batin gendra.


...****************...


Kini Bara sedang berada di gudang tempat penyekapan Aleta waktu itu. Ia tengah melihat bagaimana kondisi Bria ,Gabriel dan anak buah Gabriel.


"Lepasin gue!!" Teriak Bria.


"Lo mau gue lepasin? Lo tau apa yang udah Lo lakuin sama Aleta hmm?" Ucap Bara.


"Gue tau. Itu pantes buat Aleta dan gendra. Gue puas udah buat Aleta sekarat tapi itu belum seberapa. Gue masih belum membuat mereka benar benar merasakan sakit seperti yang orang tua gue rasakan dulu! Bahkan Gendra menyiksa orang tua gue tanpa ampun! GUE MASIH BELUM PUAS DENGAN SEMUA INI!! GUE BAKAL BUAT MEREKA TERSIKSANYA SEPERTI YANG ORANG TUA GUE RASAKAN HAHAHHAH!!! Teriak Bria dengan napas yang memburu menahan rasa sakitnya orang tuanya dulu. Bria benar benar marah. Ia mengingat saat dulu gendra menghabisi nyawa orang tuanya.


FLASHBACK ON


"*Lepasin saya ,Saya mohon Tuan!!" ucap Edgar ayah Bria.


"SETELAH SEMUA YANG TELAH KALIAN PERBUAT KALIAN MINTA UNTUK DILEPASKAN?" teriak gendra.


"Saya minta maaf tuan ,saya mohon lepaskan saya dan istri saya. Saya masih mempunyai anak perempuan saya mohon lepaskan saya. Kasihani saya." Edgar memohon sambil bersujud di kaki gendra.


Saat itu gendra membawa orang tua Bria di gudang yang cukup sepi tidak ada orang pun yang bisa menjangkau tempat itu. Dan saat itu juga Bria mengikuti ke mana orang tuanya di bawa secara diam diam tanpa ketahuan.


Bria berada di balik tembok yang cukup tinggi untuk bersembunyi. Ia menangis dalam di di balik tembok itu. Melihat orang tuanya yang di siksa habis habisan oleh gendra karena gendra mengira bahwa ayah Bria *yang ikut bekerja bersama papa gendra di perusahaannya telah mengelapkan uang perusahaan dan mencuri semua senjata papa gendra.


Bria melihat sendiri bagaimana orang tuanya di hajar habis habisan ,di tembak ,di sayat tubuhnya dan bagiamana kondisi orang tuanya Setelah tidak bernyawa seklaipun Bria melihat itu semua.


Dan mulai saat itu Bria memiliki rencana untuk menghancurkan kehidupan Gendra. Tapi kematian orang tua gendra juga bukan karena Bria. Karena Bria saat itu belum berani saat ini untuk mengambil keputusan akan menghancurkan gendra saat itu.


Flashback off


Bria yang kini kembali mengingat masa lalunya membuat dirinya benar benar hancur. Dimana orang tuanya yang dulu sangat menyayangi Bria. Bahkan Bria hanya anak satu satunya mereka.


Bria yang selalu di beri kasih sayang oleh mereka. Selalu di turuti apa kemauannya. Bahkan Bria sangat di jaga oleh ayahnya. Bria taunjika ayahnya waktu itu di jebak oleh seseorang tapi Bria tidak tau siapa orang itu.

__ADS_1


Saat itu Bria benar benar tidak bisa berbuat apapun selain meratapi kepergian orang tuanya.


"Gue tetap bakal balas perbuatan Lo gendra! Gue ngga bakal buat hidup Lo tenang ,semua ini belum berakhir!!" batin Bria dengan mengepalkan tangannya kuat.


__ADS_2