Dipaksa Menikah Dengan Mafia

Dipaksa Menikah Dengan Mafia
I LOVE YOU


__ADS_3

"Jangan salahin diri Lo gendra. Mungkin ini udah jalannya. Yang harus Lo pikirin sekarang adalah rumah tangga lo dan Aleta. Lo harus hati hati sekarang. Gue takutnya Bria menyuruh anak buahnya yang lain untuk mencelakai Lo dan Aleta. Jadi Lo jangan pernah tinggalin Aleta sendiri. Satu lagi jika Lo ninggalin Aleta sendiri Lo harus siapin anak buah Lo yang bener bener terpercaya gue takutnya salah satu dari anak buah Lo ada yang berkhianat."


Gendra diam setelah mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Bara. Bara benar dirinya harus berhati hati sekarang. Walaupun Bria dan gabriel di sekap olehnya tapi bisa saja mereka mempunyai akal yang licik. Ia bisa saja menyuruh orang lain untuk mencelakai keluarganya.


"Kak?" Gendra sadar dari lamunannya saat Aleta yang tiba tiba memanggilnya. Gendra lalu bergegas menuju Aleta.


"Iya sayang. ada apa hmm?" Tanya gendra saat sudah di dekat Aleta.


"Aleta mau minum ,maaf ya kak kalo Aleta ganggu. Tadi Aleta coba ambil tapi ngga sampai." ucap Aleta merasa bersalah karena menganggu gendra yang sedang mengobrol dengan bara.


"Ngga papa sayang... Kamu paling penting. Aku sama Bara juga udah selesai ngobrolnya."


Gendra lalu membantu Aleta untuk minum. "Makasih kak."


"Sama sama sayang. Sekarang kok panggilnya kak terus sih,bukanya waktu itu udah bisa panggil pake kata sayang ya?" tanya gendra.


Bara yang ada di sana pun hanya bisa tersenyum melihat keromantisan mereka berdua. Gini nih nasib jomblo wkwk bisanya cuma ngelihat orang orang pada bucin.


"Hehehe maaf ya kak ,lupa. Sekarang ada kak bara jadinya malu." ucap Aleta sambil melihat ke arah bara.


"Ohh jadi gue di sini ganggu kalian nih. Gini banget nasib jomblo. Oke deh gue pamit pulang aja. Selamat ngebucin ya... Awas Aleta masih sakit gendra ,nanti Lo lupa lagi Lo ajak aleta gituan." Bara lalu bergegas pergi begitu saja. Aleta dan gendra hanya tertawa mendengar perkataan Bara.


"Kak Bara maafin ya." ucap Aleta saat bara sampai di depan pintu ruangannya yang hendak pergi.


"Santai aja Al. Gue ngga papa. Gue cari cewe dulu ya biar bisa pamer ke kalian." Ucap bara yang membuat mereka berdua tertawa.


"Udah Al jangan ketawa terus ah. Nanti jahitannya robek. Sekarang kamu mending istirahat ya. Udah malem ,ini martabaknya udah kan? atau masih mau di makan lagi?"


"Udah kak,Aleta udah kenyang banget ini."


"Yaudah istirahat ya sayang... Kalo ngga bobo bobo nanti aku ajak kamu gituan loh." Goda gendra.


"Ihh apaan sih kak. mesum banget. padahal istrinya masih sakit juga masih aja mesum. dasar om om." ucap Aleta lalu menutup dirinya dengan selimut.


"Heii, kenapa kalo aku mesum sama kamu hmm? kan udah halal boleh dong mesum sama istri sendiri." goda gendra sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Aleta.


"Kak gendra........" Aleta kesal dengan tingkah gendra yang terus saja menggodanya.


"Apa sayang? mau sekarang hmm?" gendra terkekeh pelan melihat muka Aleta yang kini merah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Tau ah ,Aleta mau tidur aja dari pada di perkosa sama om om mesum." Aleta lalu menutup matanya.


Gendra yang melihat itu hanya tersenyum tipis.


"Tidur yang nyenyak ya sayang." gendra mendekat ke Aleta sambil mengecup kening Aleta dan mengusap lembut rambut Aleta.


Aleta yang masih bisa mendengar ucapan serta perbuatan gendra pun juga membalas mengecup pipi gendra.


"Eh..." gendra kaget dengan tingkah istrinya yang tiba tiba. "i love you." ucap Aleta lalu kembali memejamkan matanya.


"i love you babe."


...****************...


Pagi hari sinar matahari kini telah memasuki sela sela ruang rawat Aleta. Pagi ini gendra bangun lebih dulu. ia membuka tirai di kamarnya agar matahari masuk ke ruang rawat Aleta. Gendra kini sudah menyiapkan sarapan untuk Aleta dan dirinya juga.


Tok Tok Tok


Pintu ruangan Aleta di ketuk oleh seseorang.


Gendra bergegas untuk membukakan pintunya.


"Pagi dok." jawab gendra.


"saya izin untuk memeriksa nyonya Aleta."


"Silahkan dok."


Aleta yang masih terlelap tidur pun tidak merasa terganggu saat dokter memeriksanya. " kondisi nyonya Aleta sudah mulai membaik pak.Mungkin besok sudah di perbolehkan untuk pulang. Luka jahitannya juga sudah kering, tapi tetap harus berhati hati untuk nyonya Aleta melakukan aktivitas ."


"Baik dok terimakasih."


"Sama sama tuan. Kalau begitu kami permisi."


Setelah kepergian dokter ,gendra mendekati Aleta yang baru saja bangun.


"eeunghh...."


"Sayang.. udah bangun. "

__ADS_1


"Kak gendra. Aleta mau ke toilet kebelet banget." ucap Aleta yang sudah menahan buang air kecil.


"Iya sayang ,sini biar aku bantu." ucap gendra dengan mengendong Aleta menuju ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi dan sarapan Aleta dan gendra kini menuju ke taman rumah sakit. Karena Aleta meminta untuk keluar menghirup udara segar.


Aleta di dorong gendra dengan kursi roda. "Kak? Aleta boleh telpon ibu sama ayah ngga? kangen banget." Ucap Aleta saat mereka sudah sampai di salah satu kursi di taman rumah sakit itu.


"Boleh sayang.. sebentar ya." Gendra lalu mengeluarkan handphonenya dan menelpon orang tua Aleta.


Tut Tut Tut


"Halo nak?"


"Halo Bu,yah. Aleta kangen katanya." Gendra lalu memberikan handphonenya ke Aleta. Aleta lalu menerimanya dengan senang hati.


"Bu,Yah? gimana kabarnya?" tanya Aleta.


"Sehat nak. Aleta sendiri gimana?"


"Aleta udah mendingan."


"Syukurlah ,suami kamu sehat juga kan?"


"Sehat kok. Ini kak gendra selalu nemenin aku di rumah sakit."


"Oh ya nak. Gimana sama kandungan kamu?"


"Hhuuffttt.... Aleta udah tau semuanya Bu,yah. Kak gendra udah ngasih tau ke Aleta." ucap Aleta sambil tersenyum getir.


Ya sebenarnya hal ini belum akan di ungkap oleh gendra,ayah ,ibu dan orang terdekat Aleta. Tapi gendra pikir lebih baik memberitahunya sekarang karena jika nanti nanti malah akan membuat Aleta stress dan membuat Aleta tidak bisa menerimanya.


Gendra juga lupa belum memberi tahu oleh orang tua Aleta jika dirinya sudah memberi tahu tentang kandungan Aleta.


"Nak yang sabar ya. ini ujian dari Tuhan ,kamu berdoa saja semoga tuhan menggantinya dengan yang lebih lagi." ucap ayah Aleta untuk menenangkan putri satu satunya agar tidak sedih.


"Iya yah. Aleta juga belajar ikhlas untuk ini semua. Aleta percaya suatu saat nanti aleta pasti bisa gendong anak Aleta dan kak gendra. Doain ya yah,Bu semoga keluarga kita selalu sehat dan tidak ada masalah yang menimpa lagi. " ucap Aleta dengan mata berkaca-kaca. Gendra yang melihat itu langsung membawa Aleta ke dalam dekapannya.


Gendra tau jika Aleta masih sedih dengan kehilangan anak yang bahkan belum lahir dan mereka belum sempat melihat anak itu.

__ADS_1


__ADS_2