
"Kalo aku bisa ya kak."
"Kak Gendra sekarang istirahat aja ya ,tangannya masih sakit,jadi jangan banyak gerak. Atau mau makan dulu?"
"Mau istirahat aja ya, kamu temani aku disini."
"Iya aku temani kamu di sini kak."
Mereka berdua memutuskan untuk istirahat kejadian tadi benar benar membuat gendra berubah.
Beberapa saat kemudian kini jam menunjukan pukul 13.00 siang. Aleta dan Gendra sudah bangun dari tidurnya.
"Kak makan ya? Aleta ambilin."
Gendra mengangguk.
"Sebentar ya kak. Tunggu disini."
"Iya sayang..."
Aleta pergi mengambilkan makan ,Gendra berjalan ke arah balkon untuk menikmati suasana disana.
Tiba tiba pikiran gendra teringat dengan kejadian tadi pagi. Siapa sebenarnya mereka?
"Selain Gebriel gue ngga ada lagi musuh. Terus siapa mereka?Kenapa mereka ingin sekali menghancurkan keluargaku."
"Kak?"panggil Aleta.
"Kak gendra disini?"
"...." Gendra tak menjawab panggilan Aleta ia masih melamun.
"Kak?"panggil Aleta lagi sambil menepuk pundak gendra.
"ehh ngagetin aja hmm."
"Kak gendra kenapa kok ngelamun?"
"Ngga papa Al."
"Beneran? Kak gendra kalo ada yang mau di ceritain cerita aja sama Aleta ya."
"Ngga papa Al. mana makanannya?"
"ini." menunjukan piring berisi nasi dan lauk.
"Suapin sayang..."
"Manja banget ihh.."
"kan tangannya lagi sakit." ucap gendra sambil menunjuk tangannya yang sakit.
"iya sayang aku suapin." ucap Aleta.
Selesai mereka makan ,Aleta dan gendra kini masih berada di balkon kamarnya.
"Kak ganti dulu ya perbannya."
"Iya."
kring...kringgg....
__ADS_1
"Siapa kak?"
"Bara."
"Halo ada apa?."
"Gue udah tau siapa di balik semua ini."
"Siapa?"
"Gue kerumah Lo sekarang. kita perlu bicara langsung.Tapi ini tebakan gue aja."
"Oke gue tunggu dirumah."
Gendra lalu mematikan teleponnya.
"Kenapa kak?" Tanya Aleta.
"Katanya bara tau siapa dibalik ini semua."
Aleta mengangguk.
"Udah." ucap Aleta yang sudah selesai mengganti perban gendra.
"makasih ya sayang."
"Sama sama kak gendra."
"Baby lagi apa di dalem hmm?" tanya gendra sambil mengelus perut Aleta lembut dan dengan suara seperti anak kecil.
"Baby ngga boleh nakal ya diperut mama. Baby harus pinter okay?" lanjut Gendra lagi.
mereka pun tertawa. Inilah yang di inginkan Aleta. Kebahagian bersama gendra.
Beberapa saat kemudian Bara sudah ada di rumah gendra. Mereka berada di balkon kamar gendra ada Aleta juga disana.
"Gimana Bar?"
"Gue menaruh kecurigaan di Bria."
Saat Bara berbucara seperti itu mereka semua diam. Termasuk Gendra.
"Ngga mungkin. Bria yang ngelakuin kaya gitu."
"Gue cuma curiga Gend. Bukan berarti itu bener kan?"
"Tapi kenapa kak Bara curiga dengan Bria?"
"Jadi saat gue nyusul Lo pas diserang itu.Gue lihat mobil Bria ada disekitaran situ. Dan gue juga lihat Bria ada didalam mobil itu. Bisa aja kan Bira sedang melihat anak buahnya yang sedang menyerang Lo."
"Mungkin aja dia ngga sengaja lewat kan Bar?" Ucap gendra.
"Kalo dia sengaja lewat kenapa dia ngga nolong Lo berdua hmm?"
"Jangan pernah Lo tuduh Bria kaya gitu kalo belum benar benar ada bukti!! Bria itu udah Deket banget sama gue. Dan ngga mungkin dia ingin keluarga gue hancur padahal.dia yang bantuin gue buat dapetin Aleta saat itu!"
Aleta yang berada diantara perdebatan Gendra dan Bara hanya diam ia binggung harus memihak yang mana. Disatu sisi omongan Bara ada benarnya juga ,kenapa saat itu Bria tidak menolongnya jika dia tidak sengaja lewat. Dan disatu sisi ia juga tidak berani jika Gendra sudah marah seperti ini.
"Iya gue tau gendra. Tapi bisa aja kan dia ada motif lain buat bantuin Lo. Semua orang itu bisa berubah gendra."
"Termasuk Lo berarti?!" ucap gendra.
__ADS_1
"Gendra percaya sama gue,okay gue bakal buktiin ke Lo kalo emang motif di balik ini semua adalah Bria! Pegang omongan gue."
"Oke gue pegang omongan Lo. Jika engga gue yang bakal bunuh Lo!"
"Gue terima itu gendra."
"Kak? udah stop! kenapa jadi kaya gini hmm? Bukanya kalian berdua udah sahabtan dari lama ,kenapa cuma masalah kaya gini kalian malah kaya gini. Selesaikan semua dengan kepala dingin."
"Aku ngga tau disini yang salah siapa dan yang benar siapa. Tapi tolong jangan hancurin persahabatan kalian hanya karna ini." lanjut Aleta.
"Ini bukan masalah sepele Al. Ini masalah keluarga Lo dan gendra. Gue cuma mau kalian baik baik aja."
"Oke kak aku tau jika ini menyangkut keluarga aku dan kak gendra. Tapi tolong jangan kaya gini ya. Aku ngga mau."
"Kamu ngga tau apa apa Al." ucap gendra pada aleta.
"Maaf." jawab gendra dan menundukkan kepalanya.
"Gue pamit Al ,gend. Aleta ngga papa ya tenang oke gue bakal cari tau tentang ini ,jangan khawatir."
Aleta mengangguk tak menjawab lagi dan berbicara lagi. Ia takut hal itu akan membuat gendra marah.
"Maaf Al. Tapi kamu ngga tau semua ini oke. Aku yakin semua akan kebongkar di balik masalah ini."
"Iya kak ,Aleta minta maaf. Aleta tau Aleta ngga tau apa apa disini."
"ngga papa justru aku yang harusnya minta maaf Al."
...****************...
Diperjalanan pulang Bara memutuskan untuk singgah di cafe sebentar untuk menenangkan pikirannya. Setelah perdebatan tadi dengan Gendra membuat pikirannya kalut.
Sampai di cafe Bara memilih tempat dan memesan kopi dan roti. Bara sibuk dengan handphonenya tapi tiba tiba ia mendengar dua orang yang ada di dekat meja gendra berbicara tentang gendra?.
Bara langsung menoleh ke arah suara itu sepertinya tidak asing dengan suara itu.
" *oke sekarang kita pakai rencana yang ini."
"tapi sangat membahayakan."
"Biarlah gendra pantas mendapatkan itu."
"Oke oke sekarang kita harus susun rencananya dengan matang agar tidak gagal lagi."
"Gendra keluarga kamu akan hancur.Tunggu permainan saya*."
Bara yang mendengar itu kaget. Ya dia benar benar Bria dan Gabriel. Bara juga tak lupa untuk merekam itu sebagai bukti bahwa benar di balik masalah ini semua ada sangkut pautnya dengan Bria.
"*nikmati kebahagian kamu dulu gendra setelah ini banyak masalah yang akan menimpamu."
"oke sekarang kita pikirkan rencana kita nanti. Kita nikmati dulu juga sekarang sebelum memulai rencana." ucap Bria dengan mengangkat gelas yang berisi minuman keras.
"cheers." ucap Bria dan Gebriel bersamaan.
"Gendra gendra ternyata lo juga bodoh dalam percaya dengan orang." ucap Bria sambil terkekeh pelan.
"Setelah ini lo temui gendra jangan lupa dengan drama yang sudah Lo persiapkan."
"siap Gabriel. Tenang drama gue sudah ada disini." ucap Bria sambil menunjuk kepalanya*.
Bara yang mendengar itu hanya geleng geleng kepala. untungnya tadi bara membawa topi jadi mereka tidak curiga bahwa ada Bara disana. Setelah itu bara memutuskan untuk pergi dari sana sebelum bara ketahuan.
__ADS_1