Dipaksa Menikah Dengan Mafia

Dipaksa Menikah Dengan Mafia
PERUBAHAN SIKAP GENDRA


__ADS_3

"Sayang...bangun ya...aku ada di sini." ucapan itu yang sering keluar di mulut gendra saat sedang mengobrol dengan Aleta. Ia berharap Aleta cepat bangun dan bisa melihat senyum Aleta lagi.


Kini Bara sudah kembali setelah mencari sarapan. "Gendra Lo sarapan dulu ya."


Gendra menggeleng. "Lo harus sarapan gendra,setelah itu minum obatnya."


"Gue ngga mau. Gue cuma mau di sini nemenin Aleta." ujar gendra.


"Gue tau Lo khawatir sama Aleta tapi lo juga harus pikirin kondisi Lo dong. Gue juga khawatir sama Aleta ngga cuma Lo."


Gendra diam masih dengan posisi yang sama.


"Jangan sampai Lo juga sakit. Nanti kalo Aleta udah sadar malah dia kepikiran sama kondisi Lo. Gendra makan ya demi Aleta." ucap bara membujuk gendra agar mau makan.


Gendra masih diam ,ia malah mengeser kursinya untuk sedikit menjauh dari bara.


"Oke kalo Lo ngga mau makan sekarang. Gue taruh sarapannya di sini ya kalo Lo mau makan." ucap bara sambil meletakkan makannannya di meja.


"Oh ya ,orang tua Aleta perjalanan ke sini. Gue juga izin pamit buat urusin Bria dan Gabriel. Jaga diri Lo ya,jagain Aleta juga." ucap bara. Gendra hanya menggangguk menanggapi ucapan bara.


Bara lalu bergegas pergi dari ruangan Aleta.


"Sayang....bangun ya... aku mohon...aku rindu sama kamu." ucap gendra dengan nada lesu. Ia bahkan menundukkan kepalanya dengan air mata yang kini sudah turun membasahi pipi gendra.


Beberapa saat kemudian orang tua Aleta datang.


"Tuan , bagaimana kondisi Aleta?" tanya ibu Aleta.


"Masih sama,Aleta belum sadarkan diri. Kata dokter mungkin beberapa saat lagi,kondisi Aleta sudah normal tinggal menunggu Aleta sadar saja." Tutur gendra.


"Syukurlah.Keadaan calon babynya?" lanjut ibu Aleta.


"Kandungan Aleta tidak bisa di selamatkan karena banyak benturan yang terjadi dengan perutnya. Jadi terpaksa calon babynya harus di ambil dengan operasi."


Orang tua Aleta yang mendengar itu terkejut. Tapi mereka belajar ikhlas menerimanya.


"Maaf tuan yang sabar ya. Mungkin ini cobaan dari Tuhan. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik buat ke depannya."


Gendra hanya mengangguk, ia tak berbicara lagi. Dirinya mundur agar memberi ruang untuk ke dua orang tua Aleta untuk berbicara dengan anaknya.

__ADS_1


Gendra duduk di sofa ruang tamu di ruangan itu. Dirinya diam tak melakukan apapun bahkan pandangannya pun kosong.


"Apa ini karma gue karena dulu gue ngambil Aleta paksa dari orang tuanya. Apa gue harus minta maaf sama orang tuanya saat ini?" batin gendra bertanya tanya.


Gendra memutuskan untuk berbicara dengan ke dua orang tua gendra.


"Maaf boleh saya berbicara sebentar?" ujar gendra.


"Boleh tuan."


Gendra mengajak orang tua gendra menuju ke ruang tamu.Mereka duduk di sofa.


"Pa,Bu maaf jika saya berbuat jahat dengan kalian.Mungkin ini karma saya karena telah berbuat jahat kepada kalian dulu. Mohon restui pernikahan saya dan Aleta ,karena saya benar benar mencintainya. Maaf sekali lagi pak,Bu. Saya benar benar menyesal telah gagal menjaga anak kalian." ucap gendra dengan air mata yang kini sudah turun,bahkan gendra yang katanya seorang mafia yang di takuti kini berbicara dengan kepala tertunduk di hadapan orang tua Aleta.


"Tuan,saya sudah memaafkan kesalahan kamu. Saya juga merestui pernikahan kamu dan anak saya Aleta. Untuk menjaga Aleta mungkin memang ini sudah jalannya. Berdoa sama tuhan semoga kalian selalu di lindungi." jelas ayah Aleta.


"Tolong anggap saya sebagai anak kalian. Jangan panggil saya dengan sebutan tuan lagi. "


"Iya ,saya sudah anggap kamu sebagai anak saya sendiri. Tolong jaga Puti kesayangan saya ,buat di bahagia dengan pernikahan ini."


"Terimakasih pa, Bu. sudah memaafkan saya. Saya janji akan buat putri anda bahagia bersama saya." ucap gendra dengan memeluk ke dua orang tua gendra.


Saat Gendra dan ke dua orang tua berada di ruang tamu ,Mereka mendengar suara Aleta. Gendra pun langsung bergegas menemui Aleta.


"Sayang...." Ucap gendra sambil mendekat ke arah Aleta.


"Kak??" ucap Aleta lemah namun masih terdengar.


Orang tua Aleta juga menyusul untuk melihat ke adaan Aleta.


"Ada yang sakit? Sebentar aku panggilin dokter ya." Gendra dengan cepat menekan tombol di atas tempat tidur Aleta untuk memanggil dokter. Tak cukup lama akhirnya dokter dan suster datang di ruangan Aleta.


"Sebentar ya saya periksa pasiennya lebih dulu." ujar dokter itu.


Selesai memeriksa.


"Bagaimana dok keadaan Aleta?" tanya gendra.


"kondisi Aleta saat ini sudah membaik. detak jantungnya juga sudah normal. Mungkin beberapa hari lagi pasien sudah di perbolehkan untuk pulang."

__ADS_1


"Syukurlah , terimakasih ya dok."


"Iya sama sama. Kalau begitu saya permisi ya."


Setelah kepergian dokter ,Gendra lalu mendekat ke Aleta dan menganggap erat tangan Aleta.


"Sayang mau minum atau mau makan? Ada yang sakit ngga? pusing? atau apa hmm? Bilang aja Al." gendra benar benar khawatir ia sampai bertubi tubi menanyakan Aleta. Aleta yang melihat gendra seperti itu lalu tersenyum tipis.


"Kak..aku ngga papa. Khawatir banget hmm." ucap Aleta sambil mengelus pipi gendra lembut.


"Maaf ya sayang aku gagal." ucap gendra menundukkan kepalanya.


"Ssttt udah Aleta udah ngga papa sekarang. Oh ya ayah ibu? sampai lupa kan." ujar Aleta.


"Ngga papa nak. Suami kamu khawatir sama kamu."


"Ayah sama ibu jangan khawatirin Aleta ya. Aleta udah baik baik aja sekarang..Aleta udah sehat ,kandungan Aleta juga baik baik aja kan?"


DEG!!


Seketika jantung gendra berhenti sejenak. Ya Aleta belum tau jika anak yang di kandungnya tidak bisa di selamatkan. Apa Aleta akan benci pada gendra nanti saat dirinya mengetahui jika anak yang di kandungnya sudah tidak ada?


Gendra diam ia bahkan tidak bergerak sama sekali ia melamun.


"kak?? kenapa? ada yang salah sama Aleta?" tanya Aleta binggung.


"Ehh engga sayang."


"Al maaf ya ayah sama ibu tidak bisa lama lama di sini. Ayah sama ibu harus cepet balik lagi. Maaf ya nak. Jaga diri baik baik ya."


"Yah ,padahal Aleta masih kangen banget sama ayah dan ibu."


"Sekarang ayah udah ada kerja nak.. dan tadi hanya di beri izin setengah hari aja. Terus perjalanan ke sini juga lumayan jauh." jelas ayah Aleta.


"yaudah ayah sama ibu hati hati ya. Jaga kesehatan ya yah,Bu. Aleta pasti bakal kangen banget sama ayah dan ibu."


"Iya sayang. Kami pamit ya nak." ucap ibu dan ayah Aleta sambil memeluk Puti kesayangannya itu.


"Bu,yah biar anak buah saya yang mengantar." ujar gendra tiba tiba hal itu membuat Aleta langsung menatap ke arah gendra.

__ADS_1


__ADS_2