
"Sayang.....aku yakin kamu bisa melewati ini. Aku ada disini. Tolong bertahan demi aku ya... aku hancur kalo kamu ngga ada Al." gendra menangis sambil menggenggam tangan Aleta.
"Udah gendra. Biar Aleta cepat di tangani." ucap bara sambil merangkul pundak gendra.
Sebelum gendra melepaskan genggaman tangannya pada Aleta ia mencium kening Aleta dalam. Setelah itu Aleta di bawa masuk ke dalam ruang operasi. Gendra saat ini menunggu di depan pintu ruangan operasi dengan keadaan gelisah ,ia takut jika istrinya kenapa Napa.
Beberapa saat kemudian lampu di depan ruang operasi sudah mati.Berarti operasi yang di lakukan di dalam sudah selesai. Gendra merasa tenang tapi ia masih memikirkan apakah kondisi Aleta saat ini baik baik saja?
Ceklek
Gendra langsung menatap ke arah pintu ruang operasi saat mendengar pintu itu terbuka.
"Bagaimana dok kondisi Aleta?"
"Kondisi pasien saat ini masih lemah karena selesai operasi. tapi operasi berjalan lancar." Jelas dokter itu.
Gendra merasa lega jika operasi Aleta berjalan lancar begitu pun dengan bara yang berada di samping Gendra ia juga merasa tenang.
"Kalau begitu kami akan membawa pasien ke ruang rawat."
Baik dok terima kasih."
Dokter itu mengangguk dan kembali ke ruangan untuk membawa Aleta ke ruang rawat.
Kini Gendra ,Bara sudah di depan ruang rawat Aleta. Setelah Aleta di bawa ke ruang rawat VIP Gendra dan Bara belum masuk ke ruangan karena dokter sedang mempersiapkan perawatan Aleta.
Kini dokter dan suster sudah keluar dan memperbolehkan gendra dan Bara masuk.
Gendra yang baru saja membuka pintu kini merasa sedih melihat Aleta terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Gendra mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur Aleta.
"Sayang bangun aku ada di sini." lirih gendra. Bara yang mendengar itu ia merasa sedih juga. Ia tidak menyangka jika akan berakhir seperti ini.
"Gendra gue permisi tunggu di luar ya." Bara izin ke gendra untuk menunggu di luar saja. Karena ia ingin memberi gendra ruang untuk meluapkan perasaan dengan Aleta yang masih belum sadarkan diri.
Bara telah keluar dari ruangan itu. Kini tinggal gendra dan Aleta. Gendra hanya menatap Aleta sendi sembari memegang tangan Aleta dan mengelusnya lembut.
"Maaf aku belum bisa menjaga kamu dan calon baby kita." ucap gendra lirih tak sadar jika ia sudah meneteskan air matanya.
"Aku kehilangan seseorang lagi. Setelah papa dan mama dan kini calon baby kita. Calon baby yang kita tunggu tunggu. Ini salah aku. Aku tidak bisa menjaga amanah yang tuhan berikan kepada kita." Ucap gendra dengan rasa bersalah. Ia terus menangis sembari menggengam tangan Aleta.
__ADS_1
"Sayang bangun aku butuh kamu saat ini. Kau tidak mau kehilangan seseorang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya lagi."
perasaan gendra saat ini benar benar hancur. dirinya tidak tau harus bagaimana lagi. Ia harus siap saat Aleta sadar nanti ,dan Aleta tau jika bayi yang di kandungnya sudah tidak ada. Hal itu pasti membuat Aleta merasa sedih.
Kini sudah benar benar malam tapi gendra masih setia duduk di sana dengan terus mengajak Aleta berbicara. Ia bahkan belum tidur dan masih menyesali bahwa dirinya tidak bisa menjaga Aleta dan calon babynya.
Bara melihat gendra dari balik pintu ,ia merasa kasian dengan gendra yang kini kehilangan seseorang di hidupnya lagi. ya walaupun dia belum bisa hadir tapi itu yang di tunggu tunggu gendra.
Bara memutuskan masuk ke dalam ruangan leta.
"Gen.." ucap bara lirih.
Gendra menoleh.
"Istirahat,lo capek. Tenangin diri Lo jangan salahin diri Lo oke. Ini udah malem banget dan Lo juga harus fokus dengan kondisi Lo sekarang." jelas bara yang hanya di abaikan oleh gendra.
Bara tiba tiba mengeluarkan obat dari dalam sakunya. "Minum obat Lo,biar ngga kambuh." ucap bara sambil mengulurkan obatnya.
Gendra menerima obat itu dan langsung meminumnya.
Setelah itu bara langsung bergegas keluar dari ruangan Aleta. Ia masih menunggu di luar ia tidak tega jika gendra yang harus menunggu sendiri. Apalagi kondisi gendra yang lagi dalam masa pemulihan.
...****************...
"Sial!!" ucap Bria kesal.
"Kita harus bisa keluar dari sini! Kita harus hancurin Gendra!" ujar Bria lagi.
Bria kini menatap tajam ke arah anak buah gendra. Dirinya begitu kesal dan marah. Kenapa mereka bisa lolos. Semakin mereka bahagian semakin gencar juga untuk Bria menghancurkan keluarga gendra.
"okay,untuk saat ini silahkan kalian bersenang senang dengan apa yang kalian punya. Tapi ingat anak dari orang tua yang kamu bunuh ini masih menyimpan dendam gendra!!" ucap Bria dalam hati.
"Kalian bisa saja hidup tenang setelah ini,tapi aku sedikit puas karena pasti anak yang kalian kandung sudah mati!" lanjut Bria.
Tiba tiba suara yang kini hening kembali bersuara karena adanya telepon berbunyi dari ponsel anak buah gendra.
"Halo?"
"Gimana aman?" ucap bara di sebrang sana.
ya yang menelponnya adalah bara. Bara ingin memastikan jika mereka semua masih di tangan anak buah gendra dan tidak melarikan diri.
__ADS_1
"Aman ,Tuan."
"Baik. Jangan lakukan apapun tetap jaga mereka jangan sampai kabur."
"Baik Tuan."
Anak buah itu menutup telponnya.
...****************...
Gendra yang kini sudah terlelap dalam tidurnya. Tapi ia masih setia duduk di kursi itu dengan menggenggam tangan Aleta.
Bara juga sudah istirahat di dalam ruangan Aleta tapi ia berada di ruang tamunya.
Matahari pagi telah masuk ke dalam kamar Aleta. Gendra kini juga mulai bangun dari tidurnya.
Ia menatap Aleta yang masih belum bangun juga. Ia memutuskan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai dari kamar mandi ,ia sudah melihat Aleta yang kini sedang di periksa oleh dokter.
"Bagaimana dok?"
"Kondisi Aleta sudah mulai membaik ,mungkin beberapa saat lagi pasien akan bangun."
"Baik terimakasih dok."
"Sama sama. kalau begitu kami permisi."
Gendra mengangguk.
seletah dokter dan suster keluar ,tiba tiba bara juga masuk ke ruangan Aleta membawa berberapa paperbag.
"Ganti baju Lo dan Aleta. Lo bisa bersihin tubuh Aleta. Pakai handuk aja." ucap bara.
Gendra mengangguk lalu mangambil air hangat dan handuk yang di bawa bara daru rumah.
"Gue keluar ya. Cari sarapan sebentar."
Gendra mulai mengelap tubuh Aleta. Dirinya tiba tiba meneteskan air mata. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh gendra tapi ia benar benar terlihat begitu sedih. Bahkan ia juga jarang berbicara saat di ajak ngobrol oleh Bara atau yang lainnya.
Selesai membersihkan tubuh Aleta. Ia kembali duduk dan memandangi wajah Aleta sesekali mencium punggung tangan Aleta.
__ADS_1
"Sayang...bangun ya...aku ada di sini." ucapan itu yang sering keluar di mulut gendra saat sedang mengobrol dengan Aleta. Ia berharap Aleta cepat bangun dan bisa melihat senyum Aleta lagi.