Dipaksa Menikah Dengan Mafia

Dipaksa Menikah Dengan Mafia
KEBOHONGAN ALETA


__ADS_3

"boleh deh." akhirnya Aleta memberikan nomor handphonenya kepada Leo. Disisi lain Gendra yang berjalan dengan membawa 2 buah kelapa pun melihat istrinya yang sedang mengobrol dengan pria itu bahkan gendra juga melihat istrinya sepertinya bertukar nomor handphone? gendra masih diam ia tidak melanjutkan jalannya. ia masih ingin melihat apa yang akan di lakukan kedua orang itu.


Saat ini gendra benar benar emosi karena ia benci yang namanya berkhianat. Apalagi saat ini dirnya masih menjalankan pengobatan untuk mengontrol emosinya.


Gendra menarik nafasnya dalam untuk tidak meluapkan emosinya saat ini juga ,ia berusaha untuk berpikir positif jika pria itu tidak sengaja bertemu dan mungkin saja hanya bertanya sesuatu oleh Aleta.


"kalau gitu gue pergi dulu ya Al. semoga kita bisa ketemu lagi." ucap Leo pamit.


"iya ,hati hati ya kak." Aleta melambaikan tangannya sambil melihat kepergian Leo.


Aleta yang masih fokus melihat kepergian Leo pun terkejut saat ada gendra yang tiba tiba berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kak gendra ngagetin aja sih."


"liatin apa?"


"Apa jujur aja ya sama kak gendra kalau aku tadi ngga sengaja ketemu sama Leo. Tapi takutnya kalau aku bilang nanti kak gendra marah. gimana ya?" batin Aleta.


"kenapa bengong hmm?" ucap gendra lalu duduk di samping Aleta dan memberikan satu buah kelapa ke Aleta.


"emmm ngga papa. tadi liatin suasana aja kak." ucap Aleta lalu menyesap minuman kelapa muda itu.


"Bohong!" batin gendra kesal.


"kenapa ngga jujur sama gue,apa mereka ada apa apa? Aleta saya tidak suka kamu berkhianat di belakang saya." batin gendra lagi.


"kak gendra kok tadi lama banget belinya." tanya Aleta agar gendra tidak berpikiran macam macam tentang dia tadi.


"antri."ucap gendra bersikap dingin.


"Foto yuk kak,jarang jarang kita foto bersua kan? mumpung suasananya lagi adem dan cerah juga jadi bagus buat foto." Aleta lalu mengeluarkan handphonenya.


cekrek...

__ADS_1


"Ihh kok muka kak gendra kaya ngga seneng gitu? Senyum kak... ayo satu kali lagi kak gendra harus senyum ya.." Aleta kembali memotret dirinya dan gendra menggunakan kamera depan.


"Tuh kak gendra masih ngga senyum juga kenapa? senyum kak gini nih.." Aleta menunjukkan senyummnya pada gendra.


"sekali lagi ya hehehe soalnya kak gendra ngga senyum sih."


"ayo kak lagi ya...kak gendra harus senyum ya..."


"Pulang!!" ucap gendra tiba tiba.


Aleta yang terkejut pun langsung menurunkan handphonenya dan menatap gendra.


Gendra lalu berdiri dan langsung meninggalkan Aleta begitu saja. Aleta tanpa berbicara lagi juga langsung mengikuti gendra di belakangnya dengan kepala menunduk. Ia binggung dengan sikap dingin gendra yang tiba tiba.


Gendra masuk mobil di ikuti dengan Aleta juga. Ia langsung melajukan mobilnya tanpa berbicara atau pun menoleh ke arah Aleta. Aleta juga hanya diam ia takut jika ia berbicara membuat gendra akan marah.


Hening tak ada obrolan apa pun di dalam mobil hingga akhirnya suara telepon berbunyi memecah keheningan itu.


"APA?! BAGAIMANA BISA?" gendra yang tiba tiba berbicara keras pun membuat Aleta terkejut. Pasalnya suaminya ini sedang marah ,entah siapa yang meneleponnya Aleta tidak tau tapi dari raut wajah nada bicara gendra saat ini sepertinya sedang menahan emosi di dalam diri gendra.


"Saya kesana sekarang!!" gendra lalu menutup teleponnya dan menaruh handphonenya dengan kasar ia juga memukul stir mobil dengan keras. Membuat Aleta merasa ketakutan.


"k-kak ke-kenapa?" akhirnya Aleta bertanya akrena Aleta penasaran ada apa sebenarnya. dengan rasa takut Aleta memutuskan untuk bertanya.


Tapi tidak ada jawaban dari gendra ,gendra hanya diam dan fokus menyetir mobil. Hal itu membuat Aleta tak berani berbicara lagi. ia tau sekarang suaminya ini sedang dalam keadaan emosi.


Tiba di perkarangan rumah gendra ,Aleta lalu turun tapi tidak dengan gendra. Ya gendra langsung pergi begitu saja tanpa meminta izin pada sang istri atau pun pamit untuk pergi.


"kak gendra kenapa?" gumam Aleta sambil melihat kepergian gendra. Aleta yang masih binggung pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


...****************...


Bara dan anak buah gendra yang kini sedang berada di rumah tua waktu itu pun sedang binggung dan ada beberapa anak buah yang sedang mencari keberadaan Bria dan gabriel. Ya Bria dan gabriel berhasil kabur dari penyekapan gendra ,itulah alasan kenapa gendra marah tadi dan telepon tadi bara yang menelponnya dan memberi tahu jika Bria dan gabriel kabur.

__ADS_1


"Cari keberadaan mereka tetap pantau sekitar." ucap bara memerintahkan anak buah gendra.


"Baik Tuan."


"Bria dan Gabriel berhasil kabur ,hal ini pasti membahayakan keluarga gendra , mereka tidak mungkin tidak akan membalas perbuatan gendra dan akan tetap menghancurkan keluarga gendra." gumam bara sendiri.


...****************...


Di sisi lain gendra yang saat ini tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi pun tengah kalut dengan emosinya. Perjalan ke rumah tua itu yang cukup memakan waktu lama membuat gendra ingin cepat sampai di sana.


"AAAGGGHHHHH." teriak gendra dengan memukul stir mobilnya keras.


"kenapa masalah ini terus saja ada di keluarga gue?! Mama...gendra sendirian..." gumam gendra mengingat mamanya.


"gendra capek ma...setelah kalian ngga ada gendra sendiri. Gendra ngga ada buat tempat cerita lagi...gendra selalu salah mengambil keputusan..."gendra yang kini masih menyetir mulai meneteskan air matanya ketika ia mengingat masa kecilnya bersama mama dan papanya.


Ya dulu sebelum mama dan papanya tiada Gendra selalu berbicara apa pun kepada mamanya ,gendra sangat dekat sekali dengan mamanya.


*FLASHBACK ON


Di pagi yang cerah ini keluarga gendra sedang berkumpul di ruang tengah , ya hari ini hari libur jadi gendra yang masih kecil pun sedang di pangkuan oleh mamanya.


"gendra ,kalau sudah besar nanti harus jadi anak yang baik ya." ucap mama gendra.


"iya mama, gendra mau kaya mama . Mama baik ,cantik mama juga sayang sama gendra."


"iya sayang...nanti jangan pernah sakitin perempuan ya."


"iya mama. oh ya ada banyak cerita kemarin di sekolah loh ma,pa." ucap gendra kecil yang sangat antusias untuk menceritakan kesedihannya,apa yang telah di lakukan ya bahkan apa pun gendra akan menceritakannya pada mamanya itu. Karena mama gendra selalu mengajarkan gendra untuk selalu bercerita agar tidak pernah memendam perasaannya sendiri. Hal itu selalu mama gendra terapkan agar gendra tidak merasa sendiri. Karena apapun yang di pendam sendiri pasti akan meluapkan semuanya dengan emosi.


Seperti sekarang gendra tidak ada tempat bercerita jadi ia memendamnya sendiri dan merasa penuh di kepala membuat dirinya meluapkan emosinya kepada orang lain.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2