Dipaksa Menikah Dengan Mafia

Dipaksa Menikah Dengan Mafia
37. NYAWA DIBALAS NYAWA


__ADS_3

Gendra dan Bara dengan cepat bergegas menuju ke mobil. Ia kembali ke markas dulu untuk melakukan perjalanan bersama sama agar jika ada apa apa mereka bisa dengan cepat mengatasinya.


"Dugaan gue Aleta dibawa oleh Bria*."


"Kenapa Lo bisa ngomong gitu?"


"Gue yakin Aleta ada sama Bria. Handphone Bria gue lacak ada di sekitar hutan. Perjalanan dari sini sekitar 3 jam. Dan ngga mungkin kan Bria ada di sebuah hutan kalo ngga ada apa apa? Ngga ada salahnya kita coba kesana.


"Gue tadi juga nemuin Bria. Dan saat gue minta bantuan buat cari informasi tentang siapa yang nyerang gue sama Aleta itu dia malah tanya balik. Dan Lo saat itu juga liat Bria ada disana kan? dari situ gue ragu sama Bria.


"*Waktu itu gue sama Aleta diserang oleh beberapa orang dia pake jaket lambang elang juga kaya yang waktu itu. Tapi Lo bisa ngga sih cari informasi tentang mereka? soalnya terakhir gue suruh Lo cari informasi itu sampe sekarang aja Lo ngga ada info apa apa."


"Sorry sorry gen. Gue lagi sibuk soalnya ada urusan yang gue urus juga ,jadi jarang banget bantuin Lo buat cari informasi."


"Lo ada urusan apa? " tanya gendra mengintimidasi.


"Ada pokoknya. Oh ya lo.diserang dimana?" tiba tiba Bria mengalihkan pembicaraannya.


"Kenapa Bria tanya? bukannya waktu itu bara ngelihat Bria ada disana ya? Kayaknya bener ada yang ngga beres." batin gendra.


"Gendra? kok ngelamun sih?"


"Ehh sorry sorry. Gue diserang di daerah menuju taman kota waktu itu yang jalan sepi itu."


"Oke kalo gue bisa bantu cari informasi mereka gue bakal cepet kasih tau ke Lo kok*."


Gendra menceritakan kepada Bara saat Gendra ketemu dengan Bria waktu itu.


"Oke dari cerita Lo bisa jadi Bria pura pura dengan itu semua. Dan bisa jadi juga Bria ada sangkut pautnya dengan kehilangan Aleta saat ini."


Sekarang Gendra dan Bara sudah sampai di markas. Semua bodyguard dan anak buah Gendra sudah berkumpul semua di sana.


"Oke semua jaga diri. Pakai mobil aja biar tidak ada yang curiga!" ucap Gendra.


"Baik Tuan!"


"Kita berangkat sekarang!"


Semua bodyguard dan anak buah Gendra sudah siap termasuk Gendra dan Bara juga. Mereka semua berangkat menggunakan mobil agar tidak ketahuan.


Perjalanan menuju kesana kurang lebih 3 jam. Hal itu membuat Gendra khawatir karena perjalanan jauh. Takutt jika Aleta kenapa Napa. Apalagi dia sekarang sedang hamil dan usia kehamilannya masih rentan.


...****************...


Aleta menemukan sebuah cutter tapi jarak cutter dan tempat duduk Aleta lumayan jauh. Apalagi Aleta susah untuk menjangkaunya.


"Ada cutter disana aku harus bisa mengambilnya." gumam Aleta.

__ADS_1


Aleta mencoba menggerakkan kursi dan tubuhnya dengan susah payah.


BRAKK...


"Aaawwss......" Aleta terjatuh saat mengerak gerakkan kursinya. Ia inggin bangit lagi tapi kesusahan karena tubuhnya terikat dengan kursinya.


Diluar Bria dan Gabriel mendengar suara dari dalam.


"Lo denger ngga?" Tanya Gabriel.


"Iya gue denger, kita cek sekarang takutnya dia kabur."


Gabriel dan Bria lalu bergegas ke tempat Aleta disekap. Mereka lalu membuka.pintu dan sudah melihat Aleta tergeletak dengan kursinya.


"Sayang....kenapa.jatuh hmm?" tanya Gabriel.


"hiks...hiks..." Aleta menangis.


Gabriel mendekati Aleta tapi ia tidak bergerak untuk menolong Aleta. padahal posisi Aleta sat ini tergeletak miring.


"Mau kemana hmm? Kenapa bisa jatuh? Mau kabur?" tanya Gabriel lagi.


"hiks...hiks....hiks..." Aleta hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan dari Gabriel. Disana Bria hanya berdiri menatap Gabriel dan Aleta.


"Tolongg lepasin saya...hiks..hikss... Mau apa sih kalian?" Ucap Aleta sambil menangis sesenggukan.


Gabriell beranjak dari sana menuju keluar untuk mengambilkan makanan untuk Aleta. Beberapa saat Gabriel kembali membawa piring berisi nasi dan lauk serta minum untuk Aleta.


"Makan ya sayang... kamu pasti laper kan? Aku suapin." ucap Gabriel sambil menyodorkan sesendok nasi kepada Aleta.


"Hiks...hiks...."


"Buka mulutnya sayang...."


Aleta masih diam ia menutup mulutnya rapat rapat.


"Buka mulutnya Aleta!" ucap Gabriel dengan nada sedikit keras.


Gabriel memaksa Aleta untuk membuka mulutnya tapi Aleta menggeleng tidak mau membukanya. Terpaksa Gabriell harus bersikap kasar dengan mencengkeram dagu Aleta dan memaksa Aleta membuka mulutnya.


"Makan gini aja apa susahnya sih? Tinggal buka mulut aja."


"Uhukk...uhuk...." Aleta tersedak saat Gabriel memaksa mebuka mulutnya dan menyodorkan makannannya dengan paksa.


Bria lalu mendekat ke Aleta dan Gabriel. Aleta menatap Bria ya walaupun Bria tidak dapat dikenali karena menggunakan topeng.


"Tolongg..lepasin saya....hiks...hiks...."

__ADS_1


"Ngga akan saya lepasin kamu Aleta! Kamu harus membayar semua perbuatan suami kamu Gendra! Dia udah bunuh kedua orang tua gue. Gendra akan merasakan kehilangan lagi setelah kedua orang tuanya meninggal." Ucap Bria dengan emosi.


Aleta yang mendengar itu terkejut.


"Apa mungkin dia Gabriel?" batin Aleta.


"Tapi siapa wanita itu?" batin Aleta lagi.


"Gue juga pengen Lo mati Aleta! Termasuk bayi yang ada dikandungan Lo!" Teriak Bria.


"NGGA!! KALIAN NGGA BOLEH NYETUH CALON BABY AKU! SELESAIN SEMUANYA DENGAN KEPALA DINGIN!" ucap Aleta dengan nada tinggi.


Gabriel lalu menolong Aleta untuk bangkit. Kini posisi Aleta sudah seperti semula walaupun masih dnegan kaki dan tangan diikat.


Bria mendekati Aleta dan menyentuh wajah Aleta.


"Nyawa harus di balas dengan nyawa!" ucap Bria berbisik.


Aleta menyadari suara itu. Ia hafal suara Bria. Dia yakin kalau itu adalah Bria. Aleta juga kaget ternyata Bria hanya memanfaatkan Gendra. Benar apa kata Bara semua masalah ini ada sangkut pautnya dengan Bria juga.


"Lo pasti udah tau kan gue siapa?" tanya Bria.


"Gue Bria." ucap Bria sambil membuka topengnya.


"Aleta Aleta tenyata gendra memang sebodoh itu. Gendra itu pembunuh orang tua gue. Dia yang udah bunuh orang tua gue Aleta!!" Teriak Bria sambil memegang pundak Aleta erat.


"DAN GUE AKAN BALAS PERBUATAN GENDRA YANG DULU. Nyawa dibalas dengan nyawa."


"hiks...hiks..."


"Gendra bakal ngerasain lagi kehilangan. Gue bahagian kalau Gendra terlihat seperti orang bodoh. Apalagi saat traumanya kembali. Gue bahagia Aleta!!" Ucap Bria sambil tertawa.


"Sebelum menghabisinya gue pengen main main dulu Bria." ucap Gabriel.


"Boleh.Terserah Lo aleta mau Lo apain setelah itu gue yang bakal habisi dia."


"Ngga... kenapa kalian seperti ini? hiks...hiks... Kita bisa selesaiin ini dengan cara baik baik.hikss..hikkk.."


"LO PIKIR KEHILANGAN SESEORANG ITU MUDAH? GENDRA SENDIRI YANG KEHILANGAN ORANG TUANYA JUGA BALAS DENDAM ALETA ASAL LO TAU ITU!! DAN KENAPA GUE NGGA BOLEH BALAS DENDAM JUGA?"


"DKALO EMAMG BISA NGEMBALIIN ORANG TUA GUE ,GUE NGGA MASALAH!!"


"Gue tau itu gue tau... tapi stop jangan kaya gini...hikss...hiks..."


"LO SIAPA? LO BUKAN SIAPA SIAPA ALETA . DAN GUE TERSERAH MAU NGELAKUIN AOA AJA."


Bria benar benar marah saat ini. Aleta juga sangat takut saat ini ,ia takut akan terjadi hal hal yang tidak di inginkan.

__ADS_1


"kak... gendra....hiks...hiks...tolongin Aleta...kak....Aleta...takut...hiks..hiksss....." batin Aleta.


__ADS_2