
Gendra dan Aleta sudah sampai d kamarnya. Aleta merebahkan dirinya di kasur.
"kangen banget sama kamar ini. Hhhhufftt akhirnya Aleta bisa ngerasain lagi kasur nyaman ini."
"Cuma kangen sama kamarnya? ngga sama yang punya?"
" Engga Aleta cuma kangen sama kamarnya aja."
Gendra mendekat ke arah Aleta. "Jangan pernah kangen sama kamar ini ya. Kamar ini udah pernah jadi saksi di mana aku pernah nyakitin kamu."
Aleta yang mendengar ucapan gendra pun terdiam ia kembali mengingat di saat gendra menyakitinya tanpa ampun.
"Aku janji akan berubah Al. Bantu aku ya." tambah gendra.
"Kak gendra.... Aleta bakal bantu kamu buat berubah. Walaupun kamar ini pernah buat Aleta sedih tapi Aleta tetep kangen sama kamar ini. Kamar ini menyimpan semua senang dan duka buat Aleta." Aleta tersenyum tipis dan merangkul wajah gendra yang ada di depannya. Dengan beraninnya juga Aleta mulai memiringkan kepalanya dan mencium bibir gendra terlebih dahulu.
Gendra yang tak ingin melewatkan kesempatan ini pun mulai membalas ciuman Aleta dengan tangannya yang mulai menarik tenguk aleta agar memperdalam lagi ciumannya.
Tok Tok Tok
Gendra dan Aleta yang sedang menikmati ciumannya tiba tiba terhenti ketika mendengar suara pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Gendra melepas ciumannya lalu menatap Aleta.
"udah nanti lagi ya kak." ucap Aleta sambil mengusap bibir gendra dan terkekeh pelan.
"ganggu aja siapa sih. Lagi enak enak padahal." gendra mendengkus kesal.
"udah sana buka dulu pintunya. Nanti lagi kak..." gendra lalu beranjak menuju ke pintu.
ceklek
"ini tuan browniesnya." ternyata pembantu gendra yang datang menganggu kegiatan Aleta dan gendra. Pembantu itu lalu menyerahkan nampan berisi dua minuman dan satu piring berisi brownies.
"Makasih bi. Oh ya bilang ke semua yang ada di rumah jangan ada yang menganggu saya dan istri saya ya."
__ADS_1
"baik Tuan. saya permisi." pembantu itu lalu pergi dari sana.
Gendra menutup pintu dan berjalan ke arah Aleta.
"ini browniesnya sayang."
"masih kak. Aleta mau makan di balkon aja."
"sebentar aku taruh ini dulu.Aku bantu jalan." ucap gendra dan berjalan menaruh nampan tadi ke balkon.
"Aleta bisa jalan sendiri."
"Diam di situ dulu sayang.... nanti jahitan kamu ke buka." gendra masih khawatir jika Aleta berjalan sendiri karena jahitannya baru saja kering.
"Iya sayang ,Aleta tunggu di sini."
Gendra kembali ke dan menuntun Aleta berjalan ke arah balkon.
"Mau lanjut yang tadi?" goda gendra setelah mereka duduk di balkon.
"berarti habis makan boleh dong." goda gendra lagi.
"Liat aja deh nanti gimana." Aleta tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya. Ia sangat suka mengoda gendra saat gendra sedang menginginkannya.
Mereka berdua menikmati brownies di balkon. Mereka juga bercerita di sana , menikmati suasana rumah yang sudah beberapa hari tidak mereka tinggali. Setelah kejadian itu gendra tidak pernah meninggalkan Aleta sendirian ,ia takut dengan kejadian waktu itu.
"Sayang.... setelah ini istirahat ya. Tapi jangan lupa minum obat dulu." ucap gendra.
"emm ,iya kak. Tapi kak gendra tetap di rumah kan? kak gendra ngga akan kemana mana kan?"
"iya sayang ,aku ada di rumah."
Aleta lalu bergegas ke kamar untuk beristirahat tak lupa ia juga meminum obat terlebih dahulu.
__ADS_1
"ini obatnya." ucap gendra sambil mengulurkan tangannya yang sudah berisi 3 jenis obat.
Aleta menerimanya dan langsung meminum obat tersebut.
"Istirahat ya sayang. Aku ada di sini."
Aleta mengangguk ,ia lalu merebahkan dirinya dan gendra menarik selimut untuk menyelimuti Aleta sampai batas dada. Tak lupa juga gendra mengecup lembut kening Aleta.
Setelah cukup lama gendra menemani Aleta tidur kini gendra keluar kamar menuju ke bawah.
"Tolong panggilkan semua bodyguard dan pembantu yang ada di rumah ini untuk menuju ke ruang tamu." suruh gendra kepada salah satu anak buah yang menjaga di sana.
"baik Tuan."
Entah apa yang akan gendra lakukan yang jelas saat ini ekspresi wajah Gendra datar dan dingin.
Beberapa saat kemudian semua bodyguard sudah berkumpul menghadap gendra yang sudah ada di sana. Mereka semua terdiri dari 20 orang bodyguard dan 5 orang pembantu. Berjajar rapi di depan gendra dengan kepala yang mereka tundukkan.
"Saya mengumpulkan kalian semua di sini karena ada masalah penting yang ingin saya bahas. Terutama karena kehilangan istri saya! Di rumah ini saya sudah menyediakan 20 bodyguard untuk menjaga keamanan rumah ini. Tapi apa? kalian semua bisa kecolongan. Hal ini tidak mungkin jika tidak ada campur tangan dari salah satu bodyguard atau pun pembantu yang berada di rumah ini!" jelas gendra dengan tatapan yang menyeramkan dan mengintimidasi.
"Saya yakin jika ada yang berkhianat di sini. Saya tidak tau siapa orang itu tapi saya yakin satu diantara kalian semua!" sikap gendra saat ini benar benar menyeramkan dirinya akan marah jika ada yang berkhianat dengannya apalagi ini menyangkut keluarganya.
"Sebelum saya bertindak lebih jauh dari ini ,saya mohon ada yang mengaku siapa orang yang berani berkerja sama dengan Bria dan Gabriel. Jika tidak ada terpaksa saya menyelidiki sendiri dan setelah ketahuan nanti siapa pelakunya saya akan menyiapkan sesuatu yang sangat besar." jelas gendra lagi.
Semua bodyguard dan pembantu di sana tidak ada yang berani berbicara ,satu diantara semua yang berdiri di sana ada yang menahan gugup dan takut tapi ia tidak mau mengaku. Ia tetap tutup mulut. Gendra yang geram karena semua tidak mau mengaku pun akhirnya membuka pembicaraannya lagi.
"tidak ada yang mau mengaku?! Baik saya akan bertindak sendiri dan kalian semua tunggu hal besar yang akan saya lakukan nanti!" selepas berbicara seperti itu ,gendra lalu meninggalkan ruang tamu dengan semua orang yang masih diam di sana menunduk takut.
Gendra kembali ke kamarnya ia masuk dan melihat Aleta yang masih tertidur pulas. Ia mendekat dan ikut merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi menghadap Aleta. Dengan pikiran yang masih kalut gendra memaksakan matanya untuk ikut tertidur ,ia masih harus belajar untuk mengontrol emosinya ,ya walaupun ia sempat berhenti untuk berobat karena aleta sakit waktu itu. Tapi ia tetap harus bisa mengontrol emosinya. Entah kenapa masalalu di saat itu masih saja memenuhi pikiran gendra.
Beberapa saat kemudian kedua insan itu sudah berada di alam mimpinya. Dengan gendra yang memeluk tubuh mungil Aleta.
...****************...
__ADS_1
Terlewat sudah 3 hari setelah Aleta pulang ke rumahnya ,Kini kondisi Aleta jauh sudah lebih baik dirinya saat ini tengah berada di taman rumahnya dengan gendra yang menemaninya. Pagi ini Aleta di sibukkan dnegan menyirami tanaman yang berada di taman itu.
"Sayang ,sini duduk." panggil gendra untuk duduk di sebelahnya. Aleta tak menolak dirinya menyudahi menyirami tanaman dan bergabung bersama gendra serta duduk di sampingnya.