
Saat itu Bria benar benar tidak bisa berbuat apapun selain meratapi kepergian orang tuanya.
"Gue tetap bakal balas perbuatan Lo gendra! Gue ngga bakal buat hidup Lo tenang ,semua ini belum berakhir!!" batin Bria dengan mengepalkan tangannya kuat.
...****************...
Kini sore hari Aleta dan gendra sedang menikmati indahnya pemandangan dari balkon kamar rawatnya.
"Al aku boleh bicara sesuatu?" tanya gendra hati hati.
"Kak gendra mau ngomong apa emangnya? ngomong aja ngga papa."
"Janji ngga boleh nangis atau marah ya. Kamu harus belajar ikhlas ya sayang." ucap Gendra.sembari menatap Aleta dalam dan mengelus pipi Aleta dengan lembut.
Aleta menatap gendra binggung. Dirinya penasaran apa yang akan di katakan oleh gendra. Kenapa tiba tiba suasana menjadi tegang seperti ini.
"Al....." ucap gendra menatap nanar Aleta sembari memegangi perut Aleta.
Aleta menatap gendra balik dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Baby yang ada di sini udah ngga ada." ucap gendra dengan berat. setelah mengucapkan kata itu gendra lalu membawa Aleta ke dekapannya.
Deg...
Seketika tubuh Aleta menegang. tubuh Aleta serasa di timpa batu yang besar mendengar kata yang baru saja di ucapkan oleh suaminya itu. Ia diam tak menjawab apapun. Pikirannya seketika kosong.
Gendra melepaskan pelukannya dirinya menatap Aleta yang kini sudah mengeluarkan air mata.
"Sayang... it's okay. Mungkin ini ujian dari Tuhan buat kita. Nangis aja ngga papa. Maaf ya aku gagal buat jagain anak kita dan juga kamu. Aku terlambat buat nolongin kamu. aku minta maaf ya Al." ucap gendra yang kini juga mengeluarkan air mata.
"Kamu boleh pukul aku, marah sama aku juga ngga papa Al. ini salah aku ,aku ngga bisa jagain kamu dan anak kita. Aku gagal Al." gendra semakin menangis sesenggukan begitu pun Aleta yang juga menangis.
Aleta melihat gendra yang menyalahkan dirinya sendiri merasa kasihan ,ini bukan salah gendra juga.
Aleta sebenarnya ingin marah tapi bagaimana ini sudah takdir jalannya. Mungkin Tuhan belum memberi izin Aleta untuk merawat babynya.
"Kak...." ucap Aleta sambil merangkul wajah gendra agar menatapnya.
"Maaf Al.."ucap gendra lagi.
__ADS_1
"Aleta memang sedih mendengar kabar ini kak. Tapi Aleta pikir mungkin Tuhan belum bisa menitipkan seorang anak untuk kita. Ngga papa Aleta belajar ikhlas. kak gendra juga ngga boleh nyalahin diri kak gendra ya... ini bukan salah kak gendra. ini takdir kak."ucap Aleta.
"Aleta tau kak gendra sedih dengan kepergian baby. Aku juga sedih kak. Kita berdoa aja buat baby ya." tambah Aleta lagi.
Gendra lalu memeluk Aleta erat. Ia meluapkan emosinya di dalam dekapan Aleta begitupun Aleta juga.
Kini siar matahari telah berada di sebelah barat. Aleta dan gendra yang sudah tenang dengan pikirannya dan mencoba ikhlas dengan kepergian babynya.
"Kak ,Aleta mau mandi ya. Badan Aleta udah lengket."
"iya. aku antar ke kamar mandi." gendra lalu mengendong Aleta menuju ke kamar mandi. sampai di kamar mandi Aleta di dudukkan di wastafel.
"Aku bisa mandi sendiri kak. Kak gendra keluar aja ya." ucap Aleta malu.
"Kamu malu? aku udah pernah liat sayang.... janji deh ngga macem macem lagian kamu juga lagi sakit."
"tapi kak.....Aleta malu..." Aleta menundukkan kepalanya malu saat gendra mulai membuka pakaiannya.
"Hei sayang.... aku suami kamu. jangan malu ya.."
"tapi kak--"
Aleta malu saat ini ya walaupun gendra sudah pernah melihat bahkan merasakannya tapi tetap saja Aleta malu. apalagi dia sekarang yang memandikannya. Ia takut jika gendra khilaf nantinya.
Gendra dengan perlahan memandikan Aleta ,Aleta yang kini duduk di wastafel hanya diam melihat gendra yang sangat telaten mengurusnya. Ia tau jika gendra saat ini sedang menahan hasratnya. Tidak mungkin jika gendra tidak merasakan ada yang mengajal di bawah sana. Apalagi keadaan Aleta yang saat ini tengah telanjang ,pasti hal itu membangunkan hasrat gendra.
Gendra berhenti saat ia mengelap wajah Aleta. Ia memandangi bibir Aleta bahkan mengusap dengan jari telunjuknya.
"sayang...boleh?" tanya gendra berharap Aleta memperbolehkannya.
"Kak? kiss aja ya? ngga sampai kemana mana,aku masih sakit." jawab Aleta.
"Iya ,cium aja. boleh kan?" Aleta mengangguk.
gendra mulai memiringkan kepalanya. kini bibir Aleta dan gendra sudah bersentuhan ,gendra mulai ******* bibir Aleta lembut. Aleta yang terbawa suasana pun juga mengikuti gerakan bibir gendra sambil memejamkan matanya.
Aleta mengalungkan kedua tangannya ke leher gendra. ciuman itupun semakin dalam dan panas. Tangan gendra juga mulai meraba raba area dada Aleta.
"eegghhh..." lenguh Aleta.
__ADS_1
beberapa saat kemudian ciuman itu selesai ,cukup lama mereka berciuman.
"makasih Al." ucap gendra sambil mencium sekilas lagi bibir Aleta. Aleta tersenyum.
Kini langit sudah berganti malam ,kedua insan yang sedang bercengkrama di dalam ruang rawatnya.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Tok Tok Tok
Ceklek
"Kak bara?"
"hai Al,gendra. Nih aku bawain martabak manis buat kamu." ucap gendra sembari berjalan mendekati Aleta dan gendra dengan membawa martabak manis di tangannya.
"wahh... makasih kak bara tau aja Aleta suka martabak manis." Aleta lalu meraih martabak itu dar tangan bara dan membukanya.
"Gimana mereka?" tanya gendra.
"Masih di gudang itu. Gue binggung mau kasih pelajaran apa ke mereka. Gue serahin semuanya sama Lo. Karena lo.yang berhak menghukum mereka." Jelas bara.
"Oke urusan itu gampang."
"Tapi gend ,ada hal yang harus gue bicarain sama Lo berdua aja." ucap bara sedikit berbisik agar Aleta tidak mendengarnya.
"Al ,aku sama bara izin ngobrol dulu ya cuma di ruang tamu aja kok. Nanti kalo butuh apa apa panggil aja."
"Oke kak. Aleta mau habisin ini ya ,enak banget soalnya." gendra menatap gemas Aleta yang tengah memakan martabak itu ,gendra juga mengelus rambut Aleta lembut.
Kini gendra dan bara sudah menjauh dari Aleta.
"Gimana?" tanya gendra.
"Bria tadi masih membahas tentang Lo yang ngebunuh orang tuanya. ia masih ingin ngehancurin Lo dan Aleta. mungkin dia saat ini belum memulai aksinya tapi pasti suatu saat nanti Bria akan memulainya lagi."
"Bria. Kenapa dulu gue bisa percaya sama Bria ya? kenapa gue ngga curiga sama dia , bahkan gue malah meminta tolong semuanya sama dia. Gue bodoh!" ucap gendra menyesali dirinya yang begitu gampangnya ia percaya dengan Bria.
"Jangan salahin diri Lo gendra. Mungkin ini udah jalannya. Yang harus Lo pikirin sekarang adalah rumah tangga lo dan Aleta. Lo harus hati hati sekarang. Gue takutnya Bria menyuruh anak buahnya yang lain untuk mencelakai Lo dan Aleta. Jadi Lo jangan pernah tinggalin Aleta sendiri. Satu lagi jika Lo ninggalin Aleta sendiri Lo harus siapin anak buah Lo yang bener bener terpercaya gue takutnya salah satu dari anak buah Lo ada yang berkhianat."
__ADS_1