
Zahra Khairunnisa biasa dipanggil Nisa itulah namaku, aku dibesarkan oleh Kakek dan nenek karena orang tua ku bercerai diusia ku yang masih kecil sekitar 2 tahun.
bagiku mereka adalah sumber kehidupan yang merawat,mencukupi serta membesarkan ku.
ibuku sudah menikah diusia ku 3 tahun dan ayahku entah pergi kemana.
kami tinggal berempat dengan adik ibuku yaitu Paman ku yang sekarang masih sekolah di kelas 2 SMA.
Aku terlahir dari keluarga sederhana, nenek dan kakek kerja menjadi kuli memetik pucuk teh diperkebunan, pekerjaan yang tidak mudah bukan, tapi mereka menjalani nya dengan sabar sebab itulah salah satu mata pencaharian penduduk kampung sini yang biasa ditekuni.
Semenjak ibu meninggalkan aku bersama nenek, aku diurus uyutku waktu itu karena Kakek dan nenek selalu berangkat pagi pulang diwaktu senja.
hingga usia 6 tahun dimana ingatan dan pemikiran ku mulai kuat, aku langsung masuk sekolah SD tanpa tk/paud dlu.
Disitu aku mulai mandiri sebab aku mengerti dengan keadaan Kakek dan nenek yang begitu sibuk, aku mulai mandi sendiri merapihkan semuanya sendiri.
Aku termasuk siswi yang cepat tanggap dikelas satu aku orang ke tiga yang bisa baca dan menulis sendiri meskipun tulisannya tidak terlalu bagus, dan mendapat peringkat 3 dikelas satu dan dua.
__ADS_1
Pamanku saat itu sudah mulai kerja serabutan, dikelas tiga semester pertama nilaiku menurun disitulah pamanku marah, aku dikunci dikamar yang gelap karena aku tidak mahir dalam perkalian matematika.
Aku menangis berharap Paman membukakan pintu.
"menangis tidak menyelesaikan masalah, yang ada mata bengkak suara serak, pikirkan apa kesalahan dan titik masalahnya jika tidak mengerti atau tidak bisa memahami,bertanyalah pada orang yang mengerti dan paham akan masalah nya, jangan hanya berdiam diri" itu ucapan pamanku sambil menyalakan lampu.
Aku berusaha semampu ku untuk menyelesai perkalian itu dan memberikan hasilnya pada paman ku.
"usaha yang bagus, Paman janji kalau Nisa peringkat lagi dikelas ini nanti Paman belikan coklat kesukaan Nisa ya" ucapnya mengelus kepalaku, ia tau betul apa kesukaan ku dan ia juga salah satu orang yang paling menyayangi ku.
Aku terus belajar berharap nilaiku lebih baik dari semester pertama, dan apa yang aku usahakan selama ini membuahkan hasil dan aku peringkat ke dua, tentu saja Paman memenuhi janjinya itu.
kenaikan kelas pun segera tiba berbagai persiapan telah dilakukan, ada yang belajar tarian daerah, menyanyi, perpisahan kelas enam dan lain-lain.
"Nisa kalau tidak bisa menghafalnya boleh dibaca diatas panggungnya kok" ucap ibu guru cantik mengagetkan ku.
"huuuuuuhhhhh" menghela nafas panjang
bagaimana aku bisa menghayati puisi ini.
hari itu pun tiba diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran disambung perpisahan kelas enam, diteruskan tarian anak-anak lalu bernyanyi dan tiba lah saat nya untuk ku menaiki panggung.
__ADS_1
gemetar dan lagi-lagi rasa percaya diri itu hilang.
" aku akan membacakan sebuah puisi berjudul ibu" ucap ku bergetar
"ibu"
"ibu, kau bagaikan cahaya yang tidak ada dua"
"mengasihi, mengayomi tiada tara"
"kelembutan mu adalah surga dunia"
"kasih sayang mu adalah pelindung yang nyata"
"dekapan mu adalah rasa aman yang sempurna"
"ibu,pengorbanan mu sangatlah berharga"
"tidak ada balasan yang setara"
"ibu"
"surgaku adalah dirimu"
"jiwa ragaku adalah pengorbanan mu"
"kehidupanku adalah berkat kasih sayang mu"
yang tertulis di kertas hanya sebatas itu namun aku merangkainya sedikit
"belaianmu yang selalu ku rindu"
__ADS_1
"dimana pun dirimu,ingatlah selalu aku"
tak terasa air mataku menetes membaca 2 syair yang terakhir terasa begitu tersayat karena rindu.