
sedikit renungan
semua butuh waktu dan proses banyak yang bilang, lebih baik gak berjilbab tapi baik dari pada berjilbab tapi munafik, pemikiran itu tidaklah benar sering melakukan kebaikan tapi tidak berjilbab sama saja kita mengisi ember yang bocor, amalan baik seperti amal ember seperti diri kita dan lubang yang bocor itu seperti kita tidak berjilbab, yang artinya kebaikan yang kita lakukan akan ditukar dengan dosa nya membuka aurat, lalu berjilbab tapi munafik kenapa kita gak berprasangka baik, karena dengan itu tidak membuat hati menjadi hati yang pedengki sebaliknya kita akan menjadi orang yang berpikir positif jauh dari kata suudzon, dan disitu pula kita berdoa mudah-mudahan dengan berjilbab bisa sedikit-sedikit merubah dirinya, jangan sebab kemunafikan seseorang kau men-judge semua yang berjilbab munafik.
coba tanya diri sendiri kenapa tidak bisa berjilbab...
-hati belum siap
*lalu apa hatimu siap menarik ayahmu ke neraka
-diri belum baik
semua orang ga ada yang sempurna, cobalah dulu
-gak cantik kelihatan tua
__ADS_1
kecantikan hanya titipan dan sesaat siksaannya tak sepadan dengan wajah cantik
-takut di cemooh orang
kau takut dengan cemoohan orang tapi tidak takut dengan sikapnya Allah
-belum siap aja
*lalu kapan siap nya, yakin umurmu siap menunggu kau untuk berjilbab ?
END
akhirnya sampai juga di kota dimana aku bertemu suamiku dan banyak pengalaman yang aku dapatkan disini.
menurutku Kakek orang yang baik dan shaleh dia juga mengajarkan banyak hal kepadaku bagaimana rasanya menjadi ikhlas, banyak menceritakan kisah tentang ajaibnya sebuah doa, sabarnya dalam meminta sesuatu pada Allah, hingga menceritakan tentang instan nya balasan tentang shadaqah dan kebaikan meskipun kebaikan itu tidak seberapa.
__ADS_1
aku juga kenal seorang cowok yang lumayan tampan dan kaya ia mencintaiku sampai ia rela kesukabumi untuk melamar ku namun sayang aku sudah dijodohkan oleh habib.
awal pertemuan dengan suami..
Kakek suka hadir dalam pengajian majlis ta'lim dia mempunyai guru seorang habib dan habib ini punya murid namanya ahmad, dia orangnya lumayan tampan dengan perawakan tinggi, kurus dan mancung.
aku ingat sering berdoa kepada Allah, berikanlah aku suami yang mampu mendidik ku kejalannya Allah, yang tinggi, mancung dan berlesung pipi, berkendaraan dan orang jauh.
Allah mengabulkan permintaan ku itu,kami hanya sekali ketemu dan dia langsung membawa keluarganya untuk melamar ku kesukabumi.
hanya sebulan aku tinggal bersama aki.
Ahmad dan aku berbeda 8 tahun saat nikah aku 17 tahun dan dia sudah 25, kami benar-benar ta'aruf tidak pacaran, setiap ada keperluan untuk pernikahan dia selalu berbicara dengan keluarga ku.
semenjak itu hubunganku sama ibu mulai membaik, namun dengan ayah tiri tidak.
aku sering berpikir sebelum nikah, apa ini benar keinginan ku atau ini karena nafsu, atau karena aku ingin lari dari kehidupanku, bahkan sering gelisah memikirkan itu semua, bagaimana bisa menikah tanpa tau sifat aslinya, sifat keluarganya dan bahkan aku tidak tau dia tinggal di daerah mana.
__ADS_1
jangan lupa like dan kritiknya ya