
ibu berdandan begitu cantik dan anggun dengan jilbabnya ayah tiri pun sudah rapih membawa tas ransel.
"bu aku titip Nisa sama Rani ya mak" ucap ibu kepada nenek sambil mencium tangan dan memeluk nenek
"Iya tenang aja hati-hati dijalan ya kalau sudah sampai sms aja ke sini ya " ucap nenek
"Mak aku juga titip Nisa dan Rani sama Mak juga ya" ucap ibu pada uyut
"Iya gak bakalan kelaparan tenang aja" jawab uyut
tak terasa air mata ku pun terjatuh.
"Nisa jangan nangis, kalau Nisa nangis ibu jadi tidak tega ninggalin Nisa lagi, Nisa yang sabar doain ibunya ya, ibu janji jika tabungan ibu sudah terkumpul buat sekolah Nisa dan keperluan sekolah lainnya ibu akan jemput Nisa sama Rani kesini" ucap ibu sambil terus mencium semua wajah ku.
"iya Bu, gak apa-apa" jawab ku tertunduk, aki tak boleh egois.
mereka pun melangkah keluar rumah, tapi aku tak sanggup mengantarkan kepergiannya.
ibu dan ayah pun mulai jauh hingga aku tak melihat punggung mereka lagi, aku melihat Rani duduk di pojok kasur sendirian.
"dek sudah bangun ( panggilan ku pada Rani)"
"teh kemana ibu sama ayah (teteh panggilan Rani kepada ku)" tanya Rani lesu
__ADS_1
"ibu dan ayah pulang dulu sebentar dek, ada urusan nanti adek main sama teteh aja yah, ngaji, sekolah agama sama teteh pasti adek suka" ucap ku menenangkan nya
"beneran ya teh ajak Rani ngaji dan main juga" ucap Rani
"iya pasti dek, ayo teteh ajarin shalat dan berdoa adek ikutin gerakan teteh saja dulu ya" ucap ku kepada Rani ambil melaksanakan shalat.
Rani tipe anak yang penurut tapi dia juga galak dan centil, tubuhnya yang kecil dan lincah membuat semua orang ingin mencubit nya.
aku terbiasa sekolah agama dari pukul dua sampai pukul lima, disitu diajarkan kitab, bahasa arab, bab shalat, dan banyak lagi setiap hari selalu beda jadwal.
sesudah magrib aku pergi ngaji sampai jam delapan malam, biasanya mengaji cuma sampai isya saja namun karena tambahan belajar kitab dan khusus baca surah al-mulk jadi pulang pukul delapan kadang pukul setengah sembilan.
yang namanya hidup bersama kakak beradik pula pasti tidak selamanya senang pasti sedihnya, rani sering nangis gara-gara aku, begitu pun aku juga sering nangis karena dia galak kadang tiba-tiba memukul ku pakai benda.
tetapi bagiku itu hal yang wajar dan sangat senang, meskipun sekolah ku telat setahun tapi tak mengapa adik ku selalu bersama ku, membuat hariku tak sesepi dulu saat dirumah.
waktu berjalan sangatlah cepat adik ku sudah bisa membaca iqra dan aku sudah khatam Alquran, dengan jangka waktu 3 bulan.
Rani selalu menanyakan kapan ibu menjemput, itu yang membuat ku sangat sakit hati dan sedih.
anak sekecil Rani masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu sama sepertiku dulu.
__ADS_1
aku selalu berusaha menjadi teman dan Kakak yang terbaik buat dia agar dia tidak merasa kesepian.
"Teteh kangen gak sama ibu" ucap Rani
"Jelas atuh dek, teteh kangen banget sama ibu" jawab ku
"Teteh ayah itu bawel tau, ibu sering berantem sama ayah tapi tidak lama, ayah juga sering becanda sama ibu, ibu suka digendong ayah, aku juga suka di gendong ayah dibelakang dan ibu di depan" kata Rani
"Kamu beruntung dek, punya ayah dan ibu yang lengkap" ucap ku tertunduk
"Ayah aku juga ayah teteh kan" ucapnya lagi
"Ah iya, tapi ayah tiri adek belum paham masalah ini nanti kakak cerita dilain waktu ya" ucap ku
Dia pun menarik ku keluar rumah untuk bermain.
"Teh aku mau dong jambu air, ambilin ya" kata rani sambil mendongak keatas melihat jambu air yang sudah matang.
Dihalaman rumah aku ada pohon jambu air, jambu merah dan jeruk yang asam.
"Ahh iya kakak ambilkan ya" ucap ku sambil naik ke pohon jambu air
Aku anak yang tidak takut ketinggian jadi aku suka naik-naik pohon.
__ADS_1