
tidak disangka semua berjalan begitu menyakitkan dan tak pernah terbayangkan akan seperti ini.
aku benar-benar putus asa dan begitu sedihnya.
selang satu Minggu aku tidak mengangkat telpon atau membalas pesan dari Robi, dan bahkan aku mengganti no ponselku karena enggan untuk diganggu olehnya lagi.
tenang rasanya tanpa pacar atau orang lain yang mengganggu, selain teman-teman ku saja yang tau no ponsel ku yang baru.
satu bulan berlalu aku mulai menata hatiku yang berkali-kali jatuh dan rapuh, aku habiskan waktu dengan belajar karena mau ujian tengah semester.
tidak disangka orang yang paling tidak ingin ku temui datang kerumah bersama omnya itu, ya Robi dia yang paling aku benci saat itu, aku bahkan enggan untuk sekedar bertatap muka dengannya.
__ADS_1
"Nisa Robi mau ngomong sesuatu katanya" ucap ibu
"kenapa Bu, kalau untuk membicarakan hal selanjutnya tentang pertunangan, maaf-maaf saja aku tidak mau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi semua sudah berlalu" ucap ku menjelaskan
"apa maksudmu" tanya ibu
"sudahlah Bu, sudah jelas aku sudah tidak mau hubungan ini tetap berlanjut terserah kalian mau gimana yang pasti aku tetap pada pilihan ku yaitu akhiri" jelas ku didepan Om nya
"tapi nak Nisa,ini hubungan pertunangan bukan pacaran biasa semua orang sudah tau hubungan kalian, akan malu jika hubungan ini berakhir begitu saja, coba pikirkan kembali" ucap Om menjelaskan
"bagaimana pendapat mu tentang ini,"(Paman nya bertanya pada robi)
__ADS_1
"jujur saja aku sangat mencintai Nisa bahkan tidak mau berpisah dengannya tapi jika melepaskannya adalah kebahagiaan untuk nisa maka aku berusaha melepasnya meski hati tidak merelakannya" jawab Robi tertunduk
"semua sudah jelas sekarang tidak ada alasan lagi untuk dipertahankan sisa nya aku serahkan pada ibu dan Paman, aku mau istirahat dulu capek" ucapku berlalu pergi
Robi terus menatapku tanpa berkedip dan aku sungguh enggan untuk melihat rasa memelasnya itu.
"cukup semua sudah berlalu, aku tidak mau terjebak lagi dan menghancurkan hatiku lagi" gerutuku
waktu berjalan seperti biasa tidak ada lagi yng namanya pacaran, selang satu tahun itu aku menjadi jomblo meski banyak yang mendekatiku aku menolaknya secara baik-baik.
kehidupan SMP pun sudah berakhir dengan kelulusan, semua sahabat berpencar melanjutkan sekolahnya di sekolah yang mereka inginkan.
__ADS_1
dan aku hanya duduk dirumah membantu kerjaan ibu dan menganyam bambu membantu kerjaan ayahku, karena setiap apa yang aku mau aku harus berusaha sendiri dengan bekerja di bapak ku sendiri.
seperti ingin membeli baju, ponsel baru, dll nya aku rajin menganyam bambu untuk keinginan ku.