Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Jangan Mau Tidur di Rumah Sakit


__ADS_3

Dua hari sebelumnya.


12.45 waktu Jakarta. Laboratorium X.


 


 


“Ambilkan sianida di samping meja preparat tersebut!” teriak salah satu dokter.


Mereka sedang kelabakan karena melihat peristiwa mengerikan. Entah apa yang baru saja terjadi, karena ini pertama kalinya bagi mereka menyaksikan kejadian seperti di dalam sebuah film. Bukan khayalan atau tipuan mata, ini adalah kenyataan dan sedang terjadi di dalam laboratorium yang meneliti cairan aneh dari tubuh suami Hartanti.


Ayam yang digunakan untuk menguji cairan aneh itu tiba-tiba mati seketika. Namun, saat empat jam berlalu, ayam itu kembali hidup. Bangkit dari kematian layaknya pertunjukan film zombie. Dokter yang menangani pengujian di lab tersebut lalu menyuntikkan sianida ke dalam tubuh ayam tadi, tetapi tidak berpengaruh sama sekali. Ayam tersebut tetap hidup dan bertambah kuat. Kepakkan sayapnya membuat tiga orang petugas harus memegangi ayam tersebut.


“Apa-apaan semua ini? Apakah ini sungguh nyata?” ucap si dokter.


Rekan-rekannya juga kebingungan. “Bagaimana kalau kita remukkan tubuh ayam itu?” salah satu dokter menimpali.

__ADS_1


Karena dengan sianida tidak mempan untuk mematikan bangkai hidup tersebut. Akhirnya dokter mencoba menggunakan aliran listrik. Ayam itu disetrum dengan tegangan tinggi. Namun tetap gagal seperti sebelumnya.


“Kenapa tetap saja hidup? Ini ilusi ataukah memang sungguh terjadi.” Dokter itu memenggal kepala ayam itu sampai putus. Ayam itu akhirnya ambruk lalu mengejang beberapa saat dan tidak bergerak lagi.


Semua petugas lab benar-benar ketakutan. Bangkai hidup baru saja mereka lihat. Kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pihak rumah sakit masih menyelidiki cairan aneh itu dan belum membeberkan kepada publik. Hanya saja, Jason saat itu sudah berada di rumah sakit bersama polisi suruhannya. Dia mengambil hasil uji coba dari laboratorium lalu menyalin hasil itu.


Frans mendesah. “Aku belum tahu pasti ada berapa orang yang menjadi kaki tangan Mr. B itu. Selalu saja hal rumit harus membuat kami menduga-duga. Kebenaran suatu saat akan terungkap.”


Jason mengerjap. “Ya, suatu saat pasti akan terselesaikan. Begini, setelah mengambil hasil dari uji coba di lab, aku meneliti data-data cairan tersebut, memang tidak ditemukan di data manapun terkait nama, unsur, dan metode pembuatan cairan aneh itu.”


Sekarang Frans sedang makan buah apel yang tergeletak di atas meja dengan ekspresi wajah datar serta ia benar-benar mengabaikan kami yang berada di dekatnya. Sambil mengunyah, ia kembali berbicara. “Jason, apa cairan tersebut juga mampu membuat mayat manusia hidup kembali? Jika mayat suami Hartanti kabur, sudah pasti akan membuat heboh jika ada orang yang melihat mayat dengan leher tergolok berjalan-jalan.”


“Kepala ayam terpotong baru dia mati lagi? Sedangakan leher suami Hartanti hanya sebatas digolok, jadi harus memutuskan kepala jika benar dia hidup lagi. Saat autopsi apakah tim forensik membelah kepalanya untuk meneliti otaknya? Atau memenggal lehernya sekalian? Kalau iya. Mungkin mayat itu dicuri bukan jadi zombie dan jalan-jalan sendiri. Ah, aku harus segera pergi dari ranjang pemalas ini.” Frans berusaha bangun.


“Data autopsi .... hei! Jangan bodoh!” Jason berang. “Kau tertembak pada bagian betis dan mengenai otot besarmu. Sekarang otot itu mengalami robek. Meski tidak mengenai tendon pada bagian lutut karena kau terkena peluru pada betis, tetapi otot besar Achilles mengalami robek parah tingkat III, artinya putus! Pembedahan selain untuk pengangkatan peluru juga dilakukan untuk menyambung ototmu yang robek. Dalam kasusmu ini, kau butuh waktu tiga bulan bahkan lebih untuk proses pemulihan. Karena itu, setelah pembedahan kau harus istirahat total, meski dalam waktu enam minggu kau sudah merasa baik, kau juga perlu menggunakan tongkat untuk berjalan agar membantu proses pengembalian kekenyalan ototmu.”


“Lebih baik tidur di kolong jembatan daripada tidur di rumah sakit,” Frans menggerutu.

__ADS_1


Dasar gembel, batinku. Kalau hanya ingin tidur di kolong jembatan tidak perlu membeli rumah. Suasana semakin serius karena cairan aneh yang dibahas Jason, ditambah lagi Frans tetap bersikukuh untuk pulang secepatnya dari rumah sakit. Untuk masalah cairan aneh itu, sudah pasti para dokter menjadi ketakutan. Namun, ada beberapa yang masih berusaha berpikir positif, mungkin saja saraf ayam tersebut masih berfungsi pasca kematian, sehingga menghasilkan kejutan yang kuat dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Di tengah kekalutan ini, tiba-tiba kami dikagetkan dengan kaca jendela yang pecah. Batu berukuran cukup besar jatuh di lantai lalu menggelinding sesaat.


Jason langsung berlari ke arah jendela, dia melongok ke luar dan mendapati seorang pria bertubuh kekar membalikkan badan lalu berlari. Jason melihat sekilas wajah orang tersebut. Polisi suruhan Jason berjaga di luar, dia langsung mengejar pria yang melemparkan batu ke arah kamar Frans. Tetapi dia gagal meringkus orang tersebut. Kasus yang dulu sempat dibilang sudah diselesaikan sendiri oleh Frans ternyata berbuntut panjang sampai seperti ini. Saat dia diculik dan aku memaksa untuk menceritakannya, dia dengan santai menanggapi kalau kasus itu sudah diselesaikan. Ternyata masih ada kasus baru yang terus menimpa kami karena ulah dari Mr. B.


“Tenanglah, aku sudah melihat wajah orang tadi. Sepertinya dia bukan remaja yang bernama Teguh atau Reyhan seperti yang diceritakan klienmu, Frans. Aku akan meminta bantuan polisi suruhanku untuk menggambarkan sketsa wajahnya, dia pasti juga telah melihat sekilas,” ucap Jason.


Orang yang tadi melempar batu memang sudah kabur. Entah apa tujuannya melemparkan batu ke dalam kamar tempat Frans berbaring. Mungkin untuk menimbulkan rasa takut yang lebih kepada kami. Yulia mulai berkeringat karena kejadian barusan. Semua klien kami memutuskan tidak pulang ke penginapan atau pun rumah masing-masing. Mereka sepakat untuk mengikuti Frans dan aku selama penyelidikan ini.


“Baiklah! Itu lebih aman bila kalian menginap di sini,” ucap Jason.


Yulia tampak gemetaran. “Aku sungguh tak tahu lagi harus bagaimana. Terima kasih untuk kalian semua.”


“Tenanglah. Kita akan saling melindungi,” celetuk Agung.


Aku hanya terdiam mendengar pembicaraan itu. Uh, bagaimana jadinya bila Yulia menginap di sini bersama Frans—satu ruangan? M-meski beramai-ramai, rasanya cukup canggung dan membuat hatiku mengganjal.


Kini, sebentar lagi malam. Benar saja, polisi suruhan Jason ternyata juga bekerja dalam bagian pembuatan sketsa wajah orang buron serta pelaku kriminal lainnya. Tepat pada sore hari pukul 16.00, polisi itu datang memberikan hasil sketsa wajah pelaku yang melempar batu tadi. Frans menerima sketsa dari polisi tersebut, ia lalu memandangi dengan saksama hingga keningnya berkerut. Si pembuat sketsa hanya diam menunggu Frans berkomentar terkait gambar wajah itu.

__ADS_1


“Kenapa pria ini memiliki kumis seperti kumis ikan lele? Kau bisa menggambar atau tidak?” celetuk Frans.


__ADS_2