
Kalau diingat-ingat kembali, kasus yang sedang kami tangani sejauh ini menimbulkan banyak pertanyaan. Mr. B itu orang seperti apa, wajah dan sifatnya belum dapat kami tebak. Memasuki permainan ini kupikir sama saja memasang nyawa sebagai tumbal jika gagal. Aku tidak menyangka pekerjaan yang dengan mantap kuambil untuk mengikuti kera sinting itu justru membawa ke dalam pusaran ombak yang begitu mematikan.
Bagai seekor burung yang sedang diburu—entahlah, mungkin saja kami yang tengah memburu Mr. B atau justru memang sebaliknya. Kami seolah memasuki pusaran ombak yang berpuntal-puntal, terkatung-katung karena dipermainkan angin nan bergemuruh di tengah lautan yang mengamuk. Sungguh, aliran darahku bergolak hebat membayangkan kejadian rumit ini. Sekarang Frans terbaring di rumah sakit karena peristiwa di hutan malam itu.
Kaki kiri tertembus peluru yang entah dari mana datangnya. Beruntung kami bisa keluar dari hutan dengan selamat. Sempat timbul pikiran buruk bahwa mungkin saja tembakan itu tak hanya sekali dan akan terjadi serangan lagi yang mengenai salah satu dari kami. Namun, ketakutanku tak terjadi, sungguh rasanya aku sangat lege. Kami juga bersyukur karena Jason juga ada di sana. Meski dia selalu saja ribut dengan Frans terkait siapa yang lebih hebat. Musibah yang menimpa Frans kali ini membuat kami terpuruk dan sedikit kehilangan harapan. Dia harus beristirahat total selama tiga bulan sampai kakinya kembali normal. Mengapa harus tiga bulan—uh ternyata cukup serius luka yang diterima Frans. Sekarang sudah pukul 07.18 WIB, Frans mulai membuat keributan di dalam kamar rumah sakit tempat ia berbaring.
“Kau bercanda, Jason? Aku hanya diberi waktu enam bulan untuk melawan Mr. B!”
Frans sudah bangun dari tidur akibat obat bius. Jason yang menangani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di betis Frans. Lisensi seorang dokter bedah memang dapat membantu, meski pada awalnya pihak rumah sakit tidak mengizinkan ia untuk melakukan praktik tanpa persetujuan pimpinan rumah sakit. Kurasa Jason sedikit mengerjai Frans, dia tidak membius setengah badan, tetapi membuat Frans pingsan betulan. Jason paham kalau Frans dibius setengah badan, Frans pasti akan terus merepet seperti kucing ingin kawin.
“Pulihkan dulu kondisimu, sekarang serahkan kasus ini padaku.” Jason tampak mengecek selang infus di samping kiri Frans.
“Otakmu sudah dimakan cacing, ya? Mr. B menantangku, bukan kau.”
Yulia, Agung, dan Irfan hanya diam mendengarkan perdebatan orang yang disebut sebagai detektif. Mungkin mereka bertiga berpikir kalau dua detektif tersebut adalah anak kecil yang sedang bermain detektif-detektifan seperti Upin dan Ipin. Aku mencoba menenangkan Frans yang belum bisa menerima keadannya. Alhasil dia mau berhenti berdebat. Jason izin keluar meninggalkan kami. Sekarang tinggal kami—Tim D yang dibentuk oleh kera sembrono yang sedang terbaring di ranjang.
Frans menarik napas lalu memejamkan mata sejenak. Dia menatap ke arah kami—memandangi satu persatu. Sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Sorot mata itu seolah mengisyaratkan bersalah yang sangat besar.
“Agung, maafkan aku.” Celetuk Frans.
Agung kaget karena Frans tiba-tiba meminta maaf. “Kenapa Anda minta maaf kepada saya, Tuan?”
__ADS_1
“Sudah kukatakan, hilangkan keformalan antara kita. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Bro, Frans, atau apa saja yang kau mau. Aku minta maaf terkait pertemuan kita pertama kali. Karena aku membiarkan kau bercerita tentang kasus yang menimpamu di hadapan Irfan.”
“Baiklah, aku akan memanggilmu seperti teman dekat. Soal itu tidak perlu dipikirkan, lagi pula aku tidak keberatan Irfan mendengarkannya. Justru karena dia mendengar kisahku, kita jadi tahu kalau memiliki masalah yang sama—yaitu ancaman yang datang melalui surat Mr. B.”
“Iya, Mas. Saya juga minta maaf karena sudah sembrono tetap duduk di dalam ruangan milik Tuan Frans dan mendengarkan kisah Anda,” celetuk Irfan.
“Sebenarnya aku sudah tahu kalian punya masalah yang sama. Karena kalian datang dengan tergesa-gesa seperti ingin menyampaikan sebuah ancaman besar. Sewaktu kalian melangkah masuk ke ruanganku, tangan kalian sama-sama masuk ke dalam saku, bukan? Kalian memegang surat itu di dalam saku kalian.”
“Iya. Bagaimana kau bisa tahu hal sekecil itu, Bung?” Agung memasang wajah penasaran—mencoba sok akrab dengan memanggil Frans menggunakan sebutan Bung yang justru terdengar kaku dan lucu di telingaku.
“Jangan meragukan mataku, biarpun kelihatannya cuek, sebenarnya aku juga selalu memperhatikan setiap klien yang datang. Maklum, tidak ada wanita yang aku perhatikan karena aku lajang.”
“Kau melupakanku, Frans?” aku menarik telinganya.
Frans mengaduh karena kesakitan. Semuanya tertawa melihat apa yang sedang aku lakukan kepada Frans. Yulia diam di kursi kecil yang terletak di samping meja tempat meletakkan vas bunga serta piring makan untuk pasien. Dia menatapku sejenak lalu menundukkan kepala. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
“Waktuku tinggal tiga bulan lagi dan....”
Frans membelalakkan matanya seperti melihat setan. Dia seperti menyadari sesuatu yang mungkin saja penting. Semua terkejut melihat ekspresi wajah Frans, seolah dia terserang penyakit ayan.
“Ada apa, Frans?” tanyaku.
__ADS_1
“Kalian ingat surat yang disampaikan oleh orang misterius sewaktu kita dari rumah Hartanti? Pergilah ke hutan di barat kota, saat malam hari pukul 22.00 dan kau harus datang tepat waktu. Akan aku mulai permainan yang sebenarnya, jika kau sudah gagal di tahap ini. Semuanya akan aku habisi tanpa ampun.”
“Iya, kami mengingatnya. Kenapa?”
“Aku sudah gagal karena tertembak, nyawa kalian sekarang terancam. Mr. B akan menghabisi nyawa kalian tanpa ampun.”
“Ya! Aku akan menghabisi semuanya tanpa terkecuali kau, Frans.”
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu. Kami kaget setengah mati karena berpikir itu Mr. B. Rupanya Jason, dia masuk sambil melemparkan sebuah kertas.
“Itu dari Mr. B yang baru saja kuterima. Barusan ada orang mencurigakan di depan pintu dan meletakkan surat itu.”
Frans menerima surat tersebut lalu membacanya. “Mr. B meminta maaf.”
“Apa maksudnya?” tanya Agung.
“Dia menuliskan kalau dia minta maaf perihal kejadian di tepi sungai. Orang yang menembakku adalah anak buahnya yang bernama Pipin. Dia menambak atas kemauan sendiri, bukan atas perintah dari Mr. B. Saat ini Mr. B tidak akan membunuh siapa-siapa dahulu, karena sedang menikmati waktu yang dia sepakati sebelumnya. Aku sekarang terbaring di ranjang busuk ini. Ah, aku harus tetap melanjutkan penyelidikan ini.”
Wajah Frans berubah menjadi kesal. Kami bisa bernapas lega karena tidak ada ancaman untuk saat ini. Namun, Frans sangat marah karena merasa diremehkan oleh Mr. B dan anak buahnya.
“Aku sudah dapat informasi terkait cairan aneh yang ditemukan pada mayat suami Hartanti. Cairan tersebut bukan cairan tubuh, melainkan dari bahan kimia yang aku sendiri belum pernah menjumpainya,” Jason tiba-tiba serius.
__ADS_1
“Cairan apa itu?” tanyaku.
“LFZ, mungkin itu penamaan yang sangat asal untuk menandai cairan tersebut. Karena memang tidak ada bahan kimia yang aneh seperti itu. Hal buruk mungkin akan terjadi. Setelah menguji sisa cairan itu kepada seekor ayam. Tiba-tiba sang ayam mati dalam sekejap. Namun, para penguji kaget, ayam yang masih dibiarkan di dalam kaca penguji selama empat jam, bangkit lagi dari kematiannya.”