
Cuaca tampak bersahabat, langit tidak mendung dan tidak terlalu panas. Awan-awan tipis berarak ke utara—cukup cerah dan sejuk, membuat orang-orang terlihat bersemangat melakukan aktivitasnya. Kami memutuskan untuk menyudahi penelusuran kali ini dan berencana kembali ke rumah Frans untuk melanjutkan diskusi terkait informasi yang sudah didapat dan beberapa hal lainnya. Ancaman dari Mr.B benar-benar sukses membuat kami was-was.
“Jika pelaku dibalik semua kejahatan ini menginginkan uang, tentu dia sudah meminta tebusan terhadap keluarga korban atau anggota keluarga yang mereka manfaatkan. Namun, nyatanya tidak demikian, dalang dibalik kejahatan ini menginginkan sebuah pengakuan. Benar sekali, pengakuan dari hasil persaingan, karena dengan jelas Mr. B menantangku untuk mengalahkannya.” Frans hilir mudik di dekat meja kerja.
“Kurasa dia merasa terusik dengan kecerdasanmu, Frans—yang mungkin saja ia anggap menyaingi dirinya. Kalau kita gali lebih dalam, surat-surat yang ia kirimkan kepada kita, seolah mengisyaratkan bahwa dia sedang tertekan dan merasa tersaingi. Sehingga, dia memutuskan untuk membuat permainan yang konyol seperti ini. Permainan yang melibatkan nyawa orang lain demi sebuah pengakuan dan harga diri.” Aku menimpali.
“Kenapa harga diri?” Frans berhenti dan menatapku.
“Ya, kurasa orang ini juga memiliki harga diri yang sangat tinggi sama sepertimu, Frans. Dia tidak mau tersaingi dari segi pemikiran, aksi, dan kekuatan. Kupikir memang begitu memalukan, karena hanya merasa tersaingi, dia sampai rela berbuat keji. Pemikirannya mungkin telah kalap dirasuki setan, atau mungkin dia memang sudah benar-benar tidak waras.”
Terlebih lagi, ada hal sangat mengejutkan kami dapati tatkala akan menuju rumah Frans. Tadi di depan mobil berdiri seorang pria tak dikenal. Dia memakai topi serta kacamata dan berjaket hitam. Menurut perkiraanku usianya sekitar 30 tahunan, tulang pipinya terlihat menonjol dan kulitnya coklat gelap. Dia tersenyum ke arah kami sambil merogoh sesuatu dari kantong jaketnya.
“Tuan, ada titipan untuk Anda. Silakan diterima.”
Pria asing tadi melemparkan sebuah kertas yang diremas hingga jadi gumpalan. Frans menangkapnya dengan tangan kiri. Kulihat tingkahnya yang sedikit mencurigakan. Senyumnya sangat sinis dan seolah merendahkan. Pria itu langsung berlari dan Frans tidak sempat menanyakan titipan dari siapa, buru-buru Frans membuka dan membaca tulisan di kertas yang kusut tersebut.
Pergilah ke hutan di barat kota, saat malam hari pukul 22.00 dan kau harus datang tepat waktu. Akan aku mulai permainan yang sebenarnya, jika kau sudah gagal di tahap ini. Semuanya akan aku habisi tanpa ampun.
Mr.B
Semua terkejut mengetahui isi surat lusuh tersebut, dengan sangat cepat, orang yang memberikan surat itu berlari meninggalkan kami. Dia menghilang di antara gang-gang sempit. Frans terdiam sejenak, dia mencoba menganalisis kembali tulisan tersebut. Tidak lama kemudian dia telah memutuskan untuk menuruti perintah yang tertulis di dalam kertas itu.
“Apa kita akan berangkat sekarang?” tanyaku. Frans mulai tenang, ia duduk di kursinya.
“Kalau kita menuruti pria asing pengantar surat kusut tadi, maka kita akan mengetahui apa yang akan terjadi. Namun, pasti aka risiko yang pasti kita dapatkan, aku tak mau melibatkan para klienku lebih jauh.”
__ADS_1
“Kami siap ikut! Lagi pula, ini adalah kasus kita dan sudah sepatunya saya juga terlibat dalam penyidikan yang Anda lakukan.” Agung menyergah.
“Baiklah. Ini keputusan yang cukup berat. Aku akan mengajak kalian bersamaku.” Frans telah membuat keputusan.
Kami memasuki mobil dan langsung menuju hutan yang dimaksud. Perjalanan cukup lama dan sekarang sudah pukul 4 sore, kemungkinan kita akan sampai di sana pukul 9 malam. Karena kami sepakat untuk berhenti dahulu dan makan malam di restoran tepi jalan. Kami mengikuti keputusan Frans yang langsung menanggapi surat aneh tadi, meski dalam perjalanan Irfan sempat memprotesnya. Irfan berpikir kalau ini terlalu tergesa-gesa. Walau hanya sebentar, kurasa perdebatan mereka sedikit alot. Namun, semua dapat reda karena bantuan Agung. Akhirnya Irfan setuju untuk melanjutkan perjalanan menuju hutan.
Kami berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai untuk makan malam. Matahari sudah hampir menghilang, langit keemasan mulai memudar. Frans mengakui kalau memang tidak ada persiapan sama sekali. Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan. Beruntung di dalam mobil ada dua senter dan Agung juga membawa korek api.
Tepat pukul sembilan malam kami sudah berada di tepi hutan. Kami langsung memasuki hutan untuk mencari jawaban dari isi kertas lusuh tadi. Tidak ada petunjuk dalam tulisan tersebut. Hanya menyuruh untuk datang ke hutan, entah permainan seperti apa yang telah dirancang oleh Mr. B. Aku sama sekali tidak dapat menebaknya. Yulia tampak kedinginan dan bibirnya mulai pucat. Udara memanga sangat dingin, aroma tumbuh-tumbuhan menusuk hidung kami.
Cahaya senter tidak begitu terang menembus pekatnya hutan belantara yang mulai diselimuti kabut. Pohon-pohon besar berdiri kokoh seolah-olah mengepung kami. Rerumputan mulai basah karena mulai berembun. Langkah kami selalu hati-hati serta mengamati sekitar dengan penuh rasa was-was.
Obat anti serangga, losion pelembab, air minum. Semua itu sama sekali tidak kami miliki. Benar-benar datang dengan tangan kosong tanpa ada persiapan. Kami telah berjalan selama lima belas menit dan diiringi kecemasan yang tiada banding. Entah posisi kami berada di hutan sebelah mana. Sudah jelas kami sangat khawatir dengan berbagai ancaman yang mungkin saja terjadi. Misalnya digigit ular, atau bertemu dengan beruang.
Semua mendadak menjadi kepanikan saat kami mendengar suara dari balik semak-semak. Kami berjalan mancari sumber suara tersebut, Frans berada di paling depan, Yulia dan aku berada pada posisi kedua dan ketiga kemudian di belakangku Irfan, kemudian Agung berada di posisi paling belakang. Senter hanya ada dua, di pegang Frans dan Agung.
Sesekali aku melangkah dengan membalikkan badanku sehingga aku berjalan mundur. Minimnya cahaya membuat mataku selalu memicing dan bekerja ekstra untuk melihat di dalam kegelapan. Dengan langkah hati-hati, kami menyusuri rumput ilalang yang sedikit tinggi. Tanaman rambat terlihat mengelilit pada beberapa batang pohon, nyaring suara jangkrik memekakkan telinga dan sesekali terdengar suara burung hantu.
Tiga bintang utama dan satu yang terjauh tapi paling terang, ikuti saja bintang yang paling terang. Aku menunggumu.
Ternyata pelat tersebut merupakan petunjuk untuk kami. Sudah pasti yang menyiapkan adalah Mr. B atau anak buahnya. Frans tampak berpikir tentang kalimat tersebut, kami diam terpaku di belakangnya. Kemudian Frans membalikkan badan dan mengusap dagu lalu berucap, “Hm, teka-teki ini seharusnya cukup mudah. Namun, aku butuh waktu untuk memikirkannya.”
__ADS_1
“Apa kita berhenti dulu di sini?” tanya Yulia.
“Ya, ada baiknya kita istirahat di sini sambil memecahkan teka-teki ini. Apakah ada yang membawa kompas, atau gawai canggih?”
“Tidak ada sama sekali yang membawa, ponsel kami hanya ponsel biasa. Bukan gawai cerdas yang sudah dilengkapi GPS atau pun kompas,” celetuk Irfan.
Tampaknya Agung juga begitu, ia menggunakan gawai yang hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan singkat dan bertelepon. Aku melirik ke arah Yulia—wanita kaya itu, apa ia juga tak membawa gawai canggih? Perhiasan yang ia kenakan cukup mentereng, kan?
“Aku sendiri tak suka memakai gawai, dan lebih sering menerima panggilan dengan telepon rumah atau berbalas pesan melalui surel,” kataku. “Nah. Nona, apa kau mempunyai gawai?” aku memandangi Yulia.
“Ah. A...aku, gawaiku tertinggal di rumah saat aku buru-buru menemui Tuan Frans. Sungguh, saya tak membawa gawai canggih.” Sahut Yulia sedikit terbata.
“Terpaksa kita harus berusaha lebih keras,” tukas Frans.
Konyol sekali, zaman secanggih ini tidak ada yang membawa gawai pintar. Apakah tim ini isinya orang-orang yang malas dengan kemajuan teknologi? Aku sendiri mengakui, kalau memang jarang sekali menggunakan gawai. Kurasa, itu sangat mengganggu.
Udara semakin tajam menusuk-nusuk kulit, aku mengusap-usapkan kedua telapak tangan untuk mengurangi rasa dingin. Frans menjatuhkan diri di atas rumput dan menekuk kaki untuk bersila, raut wajahnya tampak serius. Dia bertanya kepada kami apakah ada yang tahu makna kalimat di pelat baja tersebut. Kami menggeleng tanda tidak mengerti sama sekali maksud tulisan itu.
Sepuluh menit berlalu, jam sudah akan menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktu yang ditentukan oleh Mr.B sudah semakin dekat. Frans mengerutkan kening lalu tersenyum lebar. Sepertinya dia mulai menemukan jawaban dari kalimat di pelat itu.
“Jangan cemas, kalian tenanglah. Aku sudah menemukan jawaban dari tulisan ini. Kalimat ini merupakan petunjuk untuk menuju tempat di mana Mr. B berada.”
“Benarkah? Lalu apa artinya?” tanyaku.
“Tiga bintang utama dan satu yang terjauh menggambarkan sebuah petunjuk dari langit. Ada empat bintang yang dimaksud, yaitu menunjukkan sebuah rasi bintang pari atau sering disebut rasi bintang crux. Tiga bintang utama adalah yang saling berdekatan, ini menunjukkan arah utara, dan yang dimaksud paling jauh serta bersinar paling terang menunjukkan arah selatan. Ikuti cahaya yang paling terang, berarti kita harus menuju selatan mengikuti rasi bitang tadi. Sekarang kita cari rasi bintang tersebut.”
“Bagaimana caranya? Hutan ini rimbun dan tertutup daun pohon yang tinggi. Kita susah untuk melihat langit,” sergahku.
“Cari tempat yang sedikit lapang, pasti ada.”
__ADS_1
Kami akhirnya menemukan tempat yang tidak tertutup pohon, dan dapat menatap langit dengan leluasa. Rasi bintang yang dimaksud pun telah terlihat. Kami mengikuti cahaya bintang yang paling terang itu. Sampailah kami di tepi sungai yang lumayan lebar. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari belakang kami.