
Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Aku kesal, marah, bercampur sedih. Pokoknya campur aduk menjadi satu. Setelah aku menuliskan kisah kaburnya Frans dan apa yang dilakukan Yulia, membuatku berpikir tentang tulisanku ini. Aku membuatnya menjadi kilas balik seperti kisah-kisah misteri pada umumnya.
Aku kuliah jurusan hukum. Dahulu semasa kuliah, ada dosenku yang sangat tidak menyukai novel. Anak hukum kok bacanya novel. Novel itu bikin pusing, ceritanya dibolak-balik. Dari awal ke tengah. Eh, kembali lagi ke awal. Setelah itu, sampai tengah lagi baru ke akhir. Anak hukum ya belajar hukum dari buku yang ditentukan, bukan baca novel.
Aku sempat membatin, dasar dosen ******, kalau tidak suka membaca ya tidak usah komentar. Terserah, aku memang marah karena dia menghina bacaan dan buku.
Ah! Kucoba menghiraukan omongannya. Karena ada satu editorku. Dia mengatakan kalau karya sastra itu bebas. Mau nulis cerita seperti apa saja, gaya apa saja, menggunakan bahasa tidak karuan, bahasa gaul atau bahasa Alien sekali pun tidak ada aturannya, terserah. Sastra itu bebas. Berbeda kalau menulis karya ilmiah yang memang harus memperhatikan ejaan serta kaidah yang benar dan tepat. Aku sangat setuju dengan pernyataannya.
“Memang, tulisan yang baik harus mudah dipahami, tidak banyak salah ketik, dan menggunakan ejaan yang tepat. Kalau novel mau bercerita bolak-balik, absurd, tidak masuk akal, apa lagi cerita fiksi, terserah penulisnya, dong. Kurasa itu masuk gaya penulisan, ciri khas dari sang author. Nanti tinggal dibenahi saat proses editing,” ucap Mbak Tira yang kerap kurepotkan untuk menyunting tulisanku dan memberi masukan-masukan terhadap apa yang tengah kutulis. “Karya sastra itu bebas! Sama seperti seni lukis, musik, tari, tidak ada batasan dalam berkarya. Kalau menulis dibatasi, namanya pelanggaran hak asasi menulis.” Ia mengimbuhkan.
“Loh, kok bisa?” ucapku pura-pura serius agar pembicaraan tak membosankan.
Ia tersenyum “Ya, bisa. Goku yang bisa kamehameha saja banyak penggemarnya. Itu cerita tidak masuk akal, karena fantasi itu luas. Bebas, semua suka kebebasan, kan? Termasuk bebas berpendapat. Memang, fiksi itu harus masuk akal ada sebab akibatnya, juga tidak boleh terlalu asal walau ada yang namanya kebebasan. Jadi, tulislah semaumu, selama tulisanmu tidak menjadikan negara ini kiamat. Semua tulisan mempunyai daya hasut. Itu harus! Entah, menghasut pembaca menjadi lebih gila, lebih percaya diri, ataupun menjadi lebih pemalas.”
__ADS_1
“Terima kasih, Mbak. Sungguh aku lega rasanya bisa memiliki editor telaten sepertimu. Dahulu, meski aku seorang wanita. Aku memang sangat suka sekali membaca komik Dragon Ball, dan aku menirukan kamehameha yang dilakukan Son Goku. Saat aku sedang buang air besar pun, aku mencoba menirukan jurus itu, meski wajahku sampai merah, tetap saja tidak keluar ledakan.”
Mbat Tira tergelak. ”Benar sekali, apa yang kau baca akan mempengaruhi hidupmu, entah itu tingkah laku, gaya hidup, atau pun gaya bicara.”
“Tapi aku cenderung suka cerita misteri. Kalau suka baca cerita misteri, mungkin akan jadi sepertiku, wajahku selalu penuh misteri.”
Ia kembali tertawa. “Ya. Kau ini ...! Jadi, tetap semangat selesaikan semua apa yang sudah kau mulai. Aku dengan senang hati selalu menjadi editor yang bisa kau andalkan. Tulislah sebebasnya, kalau kata Michelle Obama, 'jangan takut jika pikiranmu berbeda dengan kebanyakan orang'. Keren, pendapat Michele. Bebas yang kumaksud bukan berarti bebas tanpa aturan, pemikiran semua orang tidak selalu sama. Berbeda adalah keindahan, taati aturan yang memang perlu dan benar. Kalau sedang berkendara di jalan raya, ya taati semua aturan yang ada.”
Aku mengangguk dan seketika teringat dengan Frans. Menaati aturan? Ah sungguh muskil bagi pria itu. Dia memang sangat menyukai kebebasan, (meski aku juga ****** karena percaya kamehameha itu nyata). Frans punya aturan sendiri yang lebih tinggi. Dia adalah orang yang suka melawan arus (sikapnya serong) dan tidak suka diatur. Setidaknya dia tidak melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Itu lebih baik, karena bisa kusebut sebagai prinsip. Pria harus punya prinsip. Aku jatuh cinta padanya karena keyakinan dalam hatinya yang kuat.
Tom and Jerry kenapa dia menyukainya? Mungkin dia ingin jadi detektif gara-gara Tom dan Jerry yang selalu kejar-kejaran. Kurasa tidak, animasi Scooby-do lebih cocok kalau ingin jadi detektif.
“Apa yang membuatmu menyukai Dragon Ball, Frans?” tanyaku sewaktu di kantin.
__ADS_1
Ketika itu aku sengaja bolos mata kuliah yang diampu dosen yang mengatakan kalau novel jelek. Aku kabur bersama Frans yang juga bolos dari kelas. Aku belajar tidak taat aturan dari Frans. Rasanya asyik, tapi hal buruk ini tak kusarankan untuk ditiru. Tidak baik, ingat, banyak orang sukses lahir karena mereka tidak taat aturan. Tidak mau sekolah, tidak mau belajar, jutru mendalami hobi yang disukai. Itu karena mereka beruntung.
“Aku menyukai tokoh Piccolo yang berwarna hijau. Melihatnya, aku ingin memakan kepalanya yang botak seperti kacang ijo.”
Mendengar jawaban Frans membuatku tertawa terkikik. “Apa lagi yang kau sukai dari manga itu.”
“Kamehameha yang pernah kutirukan.”
“Aku juga pernah menirukannya, tapi gagal.”
Jadi kusimpulkan saja, semua anak kecil zaman dulu pernah menirukan jurus pamungkas Son Goku itu. Kalau ada di antara pembaca yang pernah mencoba kamehameha tapi gagal. Berarti kita seumuran. Percakapan itu yang membuatku semakin tertarik mengenalnya. Dia kakak tingkatku saat kuliah. Tingkahnya memang suka nyeleneh sejak dulu.
Kalau ke kantin, selalu berutang. Saat dia wisuda, aku yang disuruh membayar semua utangnya. ****** bin bahlul, miskin binti kere. Kenangan bersamamu selalu kuingat, Frans. Kuharap kau tidak jatuh ke pelukan Yulia. Kalau pun kau masih ******, aku akan tetap mencintaimu dengan segenap kegoblokanku juga.
__ADS_1
Kenapa kutulis kisah cinta ini? Ah, jadi serasa curhat. Aku memukul-mukul pelipis ketika mengetahui yang kutulis justru membahas kenangan saat masa kuliah dulu. Cinta benar-benar membuat orang menjadi pribadi yang lain. Kalau kata Kahlil Gibran, 'Cinta tumbuh bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan kemampuan menerima kelemahan-kelemahan orang itu secara sempurna'.
Sungguh indahnya kata-kata pujangga itu. Ah! Aku mengerjap sejenak dan sekarang kukatakan pada diri sendiri, kalau aku jadi bodoh karena cinta, berarti hati dan perasaanku masih normal. Logika tidak berguna untuk orang yang dimabuk cinta. Orang mabuk karena alkohol saja bisa kehilangan akal. Jangan takut jadi bodoh karena cinta, takutlah jika cinta tidak lagi ada dihatiku. Ah ... aku bisa benar-benar jadi bodoh. Mungkin kali ini tulisanku kebanyakan adalah pendapat pribadi yang keluar dari pikiran nakalku.