Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Surat dari Mr. B


__ADS_3

Saat itu hujan di Bulan November, kasus besar ini adalah awal dari semua petaka yang kami tangani. Aku tidak menyangka, semuanya saling berkaitan. Hilangnya Eno dan penculikan ibunya sudah diatur oleh seseorang. Saat itu, aku dan Frans tiba di rumah Hartanti. Nasib malang menimpa suaminya, suami Hartanti tewas dibunuh oleh komplotan misterius. Tiga orang tersebut kabur membawa Hartanti setelah menggorok sang suami yang terbaring sakit.


Suami Hartanti tewas diranjang pesakitannya. Darah bersimbah di lantai dan dipan. Frans dan aku berlari mengejar komplotan tersebut, sayangnya mereka lenyap tanpa jejak. Polisi dan mobil jenazah datang 20 menit kemudian. Kami menjadi saksi dalam tragedi ini.


Sudah dua bulan kasus ini belum menemukan titik terang. Seperti biasa, Frans melamun di tempat kesukaannya. Ia tampak larut dalam pemikiran yang begitu dalam. Aku tahu dia sedang memikirkan misteri yang besar ini. Seminggu berlalu, tiba-tiba ada dua orang tamu mengetuk ruang kerja Frans. Saat itu aku sedang mengambil baju-baju kotor miliknya untuk me-laundry bersama baju milik Frida.


Mereka adalah laki-laki, yang satu kurus tinggi dengan wajah penuh bekas jerawat. Satunya lagi bertubuh pendek dan gendut. Rupanya mereka tidak saling kenal satu sama lain. Urusan mereka tentu juga berbeda. Namun, kuperhatikan mata Frans, dia sangat tajam dan tidak mengalihkan pandangan terhadap dua pria yang baru datang. Aku sudah tahu, pasti dia sedang mengamati sesuatu. Tatapan tajam itu menandakan dia sedang berpikir keras.


“Baiklah, silakan menjelaskan terlebih dahulu masalah yang sedang Anda hadapi.” Frans menunjuk pria yang berbadan gendut.


Pria gendut yang ditunjuk Frans tampak melirik ke arah pria kurus. Frans hanya tersenyum.


“Jika Anda merasa terganggu, saya akan menyuruh Anda yang berbadan kurus untuk menunggu di luar,” celetuk Frans sambil menunjuk ke arah pria yang bertubuh ramping.


“Sebenarnya ini privasi saya, tapi saya rasa tidak masalah jika dia tetap di sini,” sahut pria berbadan gendut.

__ADS_1


“Tidak. Saya tidak keberatan untuk menunggu di luar,” pria berbadan kurus menimpali.


“Tunggu. Aku ingin mendengarkan cerita dari kalian berdua secara bergantian. Sepertinya aku akan menemukan sesuatu yang menarik,” akhirnya Frans membuat keputusan. Kurasa, ini keputusan paling bodoh yang pernah dibuat Frans. Dia seolah tidak peduli dengan privasi kliennya. Anehnya, kedua tamu juga saling mengangguk tanda setuju. Akhirnya pria bertubuh gendut membuka mulut.


“Begini, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk meminta bantuan Anda untuk mengusut kasus yang menimpa saudari saya. Nama saya Agung, saya tinggal di Jakarta bersama adik saya, Lisa. Orang tua kami meninggal tiga tahun silam. Empat minggu yang lalu Lisa tewas dibunuh, leher adik saya disembelih menggunakan pisau dapur. Cerita ini mungkin akan membingungkan, semoga Anda tidak keberatan untuk menyimak.”


“Tidak masalah. Namun sekali lagi saya akan tanya, apakah tamu kita yang satu tetap boleh mendengarkan lanjutan kisah Anda?” Frans bertanya dengan menyilangkan kakinya, sepertinya dia hanya ingin memastikan.


“Tentu, saya tidak keberatan.” Sahut pria berbadan gemuk tersebut.


“Baiklah, silakan lanjutkan.”


“Hal ini berkaitan dengan teror yang saya alami. Kematian Lisa masih membuat saya sedih dan berduka. Namun hal lain justru membuat saya semakin terganggu dan selalu gelisah. Tujuh hari setelah pemakaman Lisa, saya mendapat sebuah kiriman surat yang sangat aneh. Surat itu datang hari Senin, 19 November. Tidak ada alamat pengirim dan isinya sangat misterius. Ini surat tersebut. Hanya tertulis nama pengirimnya saja. Nama tersebut tertulis Mr.B. Isinya berbunyi 'Malam itu gelap dan sunyi. Hanya genderang yang dapat menghiasinya. Maka datanglah padaku untuk menemui Lisa, dia bersamaku.'”


Tiba-tiba pria kurus dan tinggi terperangah dengan wajah pucat. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu.

__ADS_1


“Ada apa, Tuan?” Frans juga kaget melihat tingkah klien yang satunya.


Pria kurus tersebut mengeluarkan sebuah amplop. “Surat tersebut sama dengan yang saya dapat. Isinya juga sama persis, hanya saja nama Lisa tertulis nama teman saya.”


“Benarkah? Saudara Agung, bagaimana jika kita dengarkan dahulu kisah teman kita ini.”


“Baiklah, saya setuju.” Agung mengangguk.


“Terima kasih. Langsung saja, nama saya Irfan, saya adalah murid dari salah satu sekolah di kawasan Purworejo. Saya tergabung di klub silat bersama beberapa teman. Masalah ini sebenarnya menimpa teman saya yang bernama Teguh. Bapaknya mati dibunuh karena tidak sanggup melunasi hutang. Kemudian Teguh balas dendam kepada saudagar yang merenggut nyawa bapaknya. Teguh menghabisi anak buah dan saudagar kaya tersebut. Saudagar itu bernama Rano. Setelah melakukan aksi balas dendamnya, dia sempat berkelahi melawan saya dan anggota klub silat kami. Klub kami bernama Gagak Putih, kami geram karena Teguh menodai dunia persilatan, dia membunuh menggunakan ilmu bela dirinya.”


“Kejadian ini terjadi delapan minggu lalu, sebelum pembunuhan Lisa, adik Mas Agung. Setelah Teguh membalas dendam, dia kabur ke luar kota. Namun, Teguh berhasil dibekuk polisi seminggu yang lalu, dia dijatuhi hukuman mati. Saat hari ketiga di dalam penjara. Kami terkejut karena pihak kepolisian mengabari kakaknya, bahwa Teguh menghilang dari dalam sel tahanan. Malamnya, kakak perempuan Teguh yang bernama Ajeng mendapatkan surat aneh, malam itu juga saya langsung ditelpon oleh Ajeng. Maka tiga hari kemudian saya berangkat menemui Tuan Frans menuju Jakarta. Karena Anda begitu terkenal di berita, kami berharap Anda dapat membantu kami. Surat tersebut sama persis dengan yang di dapat Mas Agung. Isinya juga sama, meski nama Teguh yang dituliskan di dalamnya. Pengirim juga tertulis Mr.B, saya benar-benar terkejut tadi. Inilah surat yang didapatkan Ajeng—dia sangat berharap dapat melihat adiknya lagi.” Irfan menyodorkan surat tersebut.


Frans membuka surat itu dan membaca dengan serius. Aku hanya terdiam dan mengintip sedikit isinya, tulisan tangan di surat itu sungguh rapi. “Sangat berat,” ucap Frans. “Kasus ini benar-benar membuat saya tertarik, meski masih sedikit petunjuk yang saya dapatkan. Setelah mendengar kisah kalian berdua, saya pikir ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang saya tangani.”


“Benarkah begitu? Saya berharap Anda dapat membantu menangani kasus yang menimpa kami,” ucap Irfan sambil memandang Agung.

__ADS_1


“Tidak semudah itu. Mr.B si pengirim surat ini pasti orang yang sangat cerdas. Karena dia dengan mudahnya menyusun kejahatan yang terorganisir sampai melibatkan remaja di desa. Saya rasa semua itu....”


Suara Frans berhenti karena pintu ruangannya ada yang mengetuk. Siapa lagi yang datang?


__ADS_2