Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Lidah


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan bahwa kejadian buruk seperti ini akan menimpaku. Aku tidak bisa lagi merasakan semua rasa makanan. Lidahku benar-benar rusak, rasa pahit, manis, asam, pedas, asin, semuanya hambar tak dapat kunikmati. Semua bermula ketika kecelakaan yang aku alami dua tahun silam. Sebuah truk menabrak motor yang aku kendarai. Truk tersebut melaju begitu kencang, aku terpelanting ke aspal. Meski menggunakan helm, kepalaku membentur aspal sangat keras tepat pada bagian belakang. Motor menghantam pohon mahoni di tepi jalan. Truk tersebut membuat motor hancur, beruntung aku tidak terlindas karena terpental ke arah samping, jalanan juga sepi.


Selama dua tahun ini aku menjalani hidup yang begitu berat. Nikmatnya masakan tidak lagi dapat kurasakan. Rasanya seperti tidak memiliki lidah. Namun, jika lidah tergigit, aku masih bisa merasakan rasa sakit. Dokter mengatakan jika ada saraf di otakku yang rusak akibat benturan saat kecelakaan. Mungkin itulah penyebab hilangnya sensitifitas indra pengecap milikku. Ke mana perginya si sopir truk itu, entahlah, aku juga tidak tahu. Dia melarikan diri setelah menabrakku. Dasar **** sialan, benar-benar pengecut. Aku semakin tidak tahan dengan kehidupan yang sekarang, kenikmatan bercinta dengan kekasihku rasanya berkurang. Ketika kami saling berciuman, tak dapat lagi kurasakan bagaimana sensasi dari mulut kekasihku. Seperti sebuah manekin, diriku benar-benar memalukan.


“Akhir-akhir ini kau begitu bernafsu kepadaku. Lihat, kau menggigit bibirku sangat keras, Reyhan.”


“Ah, maaf. Apa kau bahagia saat bersamaku?”


“Tentu, kau yang terbaik,” ucap Lisa sambil merangkulku.


Tak masalah bagiku selama aku tidak kehilangan orang-orang yang aku cintai. Namun, semua berakhir ketika diriku begitu ingin merasakan makanan. Aku rindu dengan berbagai rasa sedap yang ada pada masakan. Alhasil aku membuat berbagai masakan, aku coba satu persatu. Hambar, tidak terasa sama sekali, lidah seperti hilang. Kemudian aku membuat jus apel, kutambahkan begitu banyak gula. Tidak terasa sama sekali, sama saja dengan semua masakan yang telah aku makan.


Aku berkali-kali konsultasi ke dokter, tapi tidak ada kemajuan. Semua nikmatnya makanan di dunia ini benar-benar tidak dapat aku rasakan lagi. Dulu, makan apa pun terasa lezat. Aku mengumpat dalam hati, rasa kesal meluap-luap di dalam dada. Akan kucari siapa yang telah menabrakku. Sopir itu harus ketemu. Dialah penyebab dari kecacatan alat pengecap ini. Jika sopir truk itu kutemukan, akan aku habisi dia!


Dendam di dasar hati semakin pekat. Berbagai cara kupikirkan untuk menemukan sopir itu. Kepolisian benar-benar tidak becus menangani kasus ini. Mereka justru mengatakan bahwa akulah yang harus lebih hati-hati di jalan. Dasar berengsek! Mereka seolah merendahkan dan secara tidak langsung menghinaku. Itu semua tidak kuanggap sebagai nasihat. Justru kuanggap sebagai pelecehan dan merendahkan harga diriku.

__ADS_1


“Aku sangat malu bila menghadiri perjamuan makan atau pesta bersama teman-teman. Semua orang begitu menikmati hidangan yang tersaji. Sedangkan diriku, hanya tersenyum getir menerima kenyataan pahit ini. Benar-benar membuat risih, haruskah aku menjalani hidup yang hambar selamanya.”


Lisa menggeleng. “Masih ada aku yang akan selalu setia menemanimu. Bagaimanapun keadaanmu, kau tetap menjadi orang yang berharga bagiku.”


Percakapan itu seakan membuatku tenang walau sebentar. Namun, pikiran-pikiran negatif masih kerap menghantuiku. Aku benar-benar menyimpan dendam yang mendalam terhadap sopir truk yang menabrakku dan justru kabur begitu saja.


 


 


Sore itu, suasana hatiku sedikit tenang. Aku mencoba lagi untuk memasak sesuatu di dapur. Meski kutahu ini adalah hal yang sia-sia. Aku frustrasi dan mengobrak-abrik barang yang ada di dapur. Tidak lama kemudian, Lisa datang menemuiku di dapur, dia membawakan satu bungkus daging segar yang baru dia beli di toko. Dia begitu heran dengan keadaan dapur yang amburadul.


“Reyhan! Kenapa kau seperti ini. Apa yang terjadi padamu. Hentikan, daging itu belum dimasak!” teriak Lisa.


Masih tak terasa, sialan! Apa selamanya diriku akan menjalani hidup seperti ini? Entahlah, perasaan campur aduk, semua kacau balau. Bagaikan piring kaca yang pecah, hati terasa hancur berkeping-keping. Benar-benar membuat gila. Akal sehatku seakan telah lenyap. Aku mengambil pisau di atas meja, lalu kujulurkan lidahku. Lisa menghampiriku lalu berusaha merebut pisau tersebut.

__ADS_1


“Jangan gila! Hentikan! Kumohon hentikan kegilaanmu ini. Apa yang akan kau lakukan dengan pisau ini.” Lisa mencengkeram tanganku.


 Tenagaku lebih kuat, pisaunya tetap berada di tanganku. Aku mendorong Lisa sampai terpental ke belakang, dia tersungkur di lantai lantas melenguh sejenak.


Kesempatan bagus, aku menjulurkan lagi lidahku lalu dengan sangat kuat memotong lidah sendiri dengan pisau yang kugenggam. Pisau yang luar biasa, sangat tajam, karena lidahku dengan mudahnya terpotong. Pisau terjatuh, darah muncrat dari lidah, potongan lidah aku lemparkan ke wajah Lisa.


“Re...Rey...! Hentikan! Jangan lakukan hal gila,” ucapnya dengan suara bergetar.


Dengan ekspresi ketakutan, dia mundur ke belakang. Aku teriak dengan suara tak lazim, seperti binatang yang meraung-raung. Darah menodai baju yang aku kenakan dan menetes di lantai.


Mentalku benar-benar telah hancur, aku kehilangan akal. Kuambil pisau yang tadi terjatuh di lantai kemudian menuju tempat Lisa. Dia tidak sempat menghindar, karena dengan sekejap aku telah mencengkramnya sangat kuat.


“Le...lepaskan aku, Rey! Jangan seperti ini.” Lisa menangis, air matanya menganak sungai dan bisa kurasakan aura ketakutannya sungguh besar.


Tak kupedulikan rintihannya, lantas aku jambak rambutnya, aku mengendus lehernya yang jenjang. Harum sekali tubuhnya, pisau di tanganku merobek lehernya, kutancapkan dan kutarik—menyembelih perlaha dan pembuluh darahnya terputus. Darah menyembur mengenai wajahku, tubuh gadis itu mengejang lalu ambruk. Aku melucuti semua pakaiannya, kemudian bercinta dengan mayat Lisa. Oh, betapa cantiknya tubuh kekasihku.

__ADS_1


Mungkin tetangga ada yang mendengar keributan barusan. Aku bergegas kabur. Aku sadar betul apa yang telah terjadi barusan. Bagaimana nasibku nantinya? Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua ini adalah kesalahan sopir truk sialan itu. Suatu saat akan kutemukan dia, akan kuhabisi nyawanya dengan tanganku sendiri.


Mungkin, ini adalah catatan terakhir selama aku masih bisa berpikir jernih. Kelak, bisa saja aku sudah mati membusuk, gila, atau meringkuk di dalam penjara. Tidak ada yang tahu, biarlah semuanya menjadi misteri. Aku hanya ingin lidahku kembali normal, dan bisa merasakan semua rasa makanan. Namun, kini lidahku telah kupotong sendiri, aku hanya orang cacat tak berguna. Sungguh menyedihkan. Reyhan-Dear Diary (Tercatat)


__ADS_2