Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Gagak Putih Pantai Selatan


__ADS_3

“Ampunilah kami, istri saya sedang sakit. Saya mohon, beri waktu seminggu lagi. Kami akan melunasi semua hutang tersebut.”


Suara guci pecah nyaring terdengar dari dalam rumah Wiryo. Cerutu besar menghiasi bibir lebar Tuan Rano yang sangat indah seperti habis tersengat lebah. Kepulan asap membubung dari cerutunya sehingga membuat sesak napas. Begitu menyengat hidung, asap itu memenuhi ruangan sempit milik Wiryo. Nampak, Suwiryo sedang bertelut di hadapan Rano sang juragan tanah paling bengis dan serakah di Desa Nampu. Di belakang punggung Rano berdiri dua orang anak buahnya yang berbadan kekar seperti binaragawan.


“Telat lagi? Sudah minta tambahan waktu satu bulan, sekarang masih belum bisa membayar?” Rano menjambak rambut Wiryo dengan kasar. “Kalau begitu serahkan anak gadismu, akan aku nikahi dia, maka hutangmu aku anggap lunas!”


Karto Suwiryo, acap kali di panggil Pak Wiryo, dia hanya seorang petani biasa. Mereka tinggal dekat pantai Jatimalang, pesisir selatan yang sangat indah. Hidupnya serba kekurangan, ditambah lagi sekarang istrinya sedang sakit keras. Dia terpaksa meminjam uang 50 juta kepada Tuan Rano untuk biaya pengobatan istrinya. Wiryo memiliki dua orang anak, satu anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak gadisnya bernama Sri Ajeng Pangestuti, sedangkan anak laki-lakinya bernama Teguh Saputro.


“Tidak, Tuan! Saya menolak menyerahkan putri saya kepada Anda!” Suwiryo gusar dengan tawaran Rano.


“Kalau begitu rumah ini saya ambil. Eh, tunggu dulu. Rumah ini lebih mirip kandang ayam, tidak ada gunanya untukku.”


 


 


Di sekolahan, putra Suwiryo yang bernama Teguh sedang berlatih silat dengan klubnya. Beberapa menit kemudian dia telah selesai latihan lalu segera pulang menuju rumah.


“Aku langsung pulang saja, ya. Sudah terlalu sore,” Teguh mangambil sepedanya.


“Baiklah, sayang sekali kau tak ikut. Kita mau mampir ke warung Bu Atik dulu,” sahut Irfan rekan satu klub silatnya.


“Lain waktu saja, aku pulang dulu.”


“Jangan lupa, besok tidak ada latihan silat!” celetuk Hendri.


“Iya, aku ingat!”


Teguh mengayuh sepeda bututnya dengan tenang, meninggalkan semua teman klub silatnya. Jarak sekolahan dengan rumah hanya 500 meter saja. Dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah. Sang ayah sedang dalam bahaya menghadapi juragan tanah kejam.


 


 


“Maaf! Tolong beri kami waktu, saya tidak terima Anda terus merendahkan keluarga kami! Kami akan berusaha melunasi hutang tersebut.


“Ooouu? Kau tidak terima? Sekarang berani melawanku, hah!?” Rano menampar Suwiryo dengan sangat keras hingga tersungkur. “Habisi dia!” perintah Rano kepada dua orang anak buahnya.

__ADS_1


Suwiryo babak belur dihajar oleh anak buah Rano. Tidak ada ampun bagi siapa saja yang berani melawan tuan Rano. Salah satu anak buahnya mengambil alu yang sering digunakan untuk menumbuk padi. Kemudian memukulnya dengan kuat tepat di bagian belakang kepala Wiryo. Seketika Wiryo ambruk tak bergerak, hidungnya mengeluarkan darah. Dia tewas di tangan anak buah Rano.


Tanpa sepengetahuan mereka, Teguh putra Suwiryo sudah sampai rumah, mengintip dari balik korden pintu tengah. Dia baru pulang sekolah dan masih menggunakan baju silatnya, kemudian masuk melalui pintu belakang. Dia sempat melihat dua anak buah Rano ketika meninggalkan rumahnya. Alu yang digunakan untuk memukul Wiryo ikut dibawa untuk menghilangkan barang bukti.


Teguh yang masih kelas dua SMA langsung menghampiri bapaknya yang sudah tak bernyawa. Dia meraung-raung seperti binatang yang tertembak pemburu. Kakaknya baru pulang dari warung untuk membeli sayur. Dia juga kaget menyaksikan jasad sang ayah yang tergeletak di lantai. Ibunya tidak bisa bergerak sama sekali karena penyakitnya dan hanya terbaring di dalam kamar.


Dua minggu berlalu, dendam semakin menyelubungi hati putra Suwiryo. Teguh, adalah anak perguruan silat Gagak Putih di sekolahnya. Dia tiga kali menjuarai ajang silat tingkat kabupaten dan satu kali tingkat provinsi. Angin setan semakin kuat berembus menerpa wajah Teguh yang sedang duduk di depan rumahnya. Dia semakin kesal karena kepolisian menyatakan kalau bapaknya mati karena dirampok lalu di bunuh dan perampoknya belum tertangkap. Kesaksian Teguh ditolak karena tidak ada bukti pembunuhnya adalah Rano dan antek-antek.


Polisi berengsek! Sudah pasti mereka disuap oleh Rano untuk tutup mulut mengenai kematian bapakku! Teguh mengepalkan tangan lalau beranjak pergi. “Nyawa dibalas nyawa!” ucapnya geram.


“Teguh, di mana kau? Tolong bantu Mbak untuk memandikan Ibu!” suara Ajeng terdengar dari dalam rumah.


Karena tidak ada jawaban, Ajeng keluar menuju depan rumah. Namun dia tidak menemukan Teguh. Dia kembali masuk ke dalam rumah untuk mengurus ibunya.


Di tempat lain, terlihat dua pria sedang asik mengisap rokok dan bermain kartu. Tiba-tiba mereka ditendang dari belakang. Rupanya Teguh yang menyerang mereka. Dua orang tersebut adalah anak buah Rano. Teguh kembali melancarkan serangan, menarik baju salah satu anak buah Rano. Memukulinya hingga bersimbah darah, Teguh mencekik pria itu hingga lemas. Kemudian menyudutkan ke tembok lalu menghantam kepalanya dengan lutut. Anak buah Rano hidungnya patah, lalu dengan sigap Teguh segera mematahkan lehernya.


Anak buah satunya berhasil kabur kembali ke tempat sang majikan. Dia lari tunggang-langgang seperti dikejar anjing. Sesampai di rumah Rano, dia menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya serta rekannya. Rano murka, lantas dengan suara lantang memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Teguh. Semua anak buahnya berjumlah tujuh orang. Namun dari depan halaman, orang yang ingin diburu sudah menunjukkan batang hidungnya. Teguh muncul dengan tangan kosong ke sarang harimau.


“Neraka sekalipun akan aku obrak-abrik. Keluar kalian iblis jahanam! Akan aku hancurkan tulang kalian satu persatu!” Teguh berteriak penuh kemurkaan.


“Rano! Akan aku keluarkan semua isi perutmu!” Teguh berlari menuju arah Rano.


Semua anak buah Rano menghadang Teguh, mereka semua membawa senjata. Clurit, parang, balok kayu, serta lainnya. Sampai di depan mereka, Teguh berhenti lalu berteriak dengan lantang.


“Jika kalian laki-laki sejati, letakkan senjata kalian! Kita lakukan dengan tangan kosong!”


“Kau meremehkan kami, hah!? Baiklah, kami turuti permintaanmu sebelum menemui ajalmu,” ucap salah satu anak buah Rano.


Pertarungan tak terelakkan, Teguh dikeroyok anak buah Rano. Dengan ilmu bela dirinya, dia terlihat tenang melawan para bedebah tersebut. Sepuluh menit berlalu, lima orang telah tumbang. Tersisa dua lagi, tapi tanpa disadari oleh Teguh. Tiba-tiba salah satu anak buah Rano mengambil clurit yang tergeletak di tanah, lalu menyerang Teguh.


Pertarungan semakin menegangkan, Teguh berhasil merebut clurit tersebut lalu menggorok leher si empunya. Sisanya dia kalahkan dengan pukulan maut. Hanya tinggal Rano, sang juragan serakah yang telah membunuh bapaknya. Teguh berjalan menghampiri Rano yang berdiri di depan rumah mewahnya.


“Hei, jangan lakukan. Bagaimana kalau aku berikan uang, rumah, mobil, atau apa pun yang kau mau. Jangan bunuh aku!” Rano merengek.


“Uang tidak akan membuat bapakku hidup kembali! Sekarang kau akan menerima hukumanmu! Rano *******!”


Rano mundur beberapa langkah karena ketakutan, Teguh mengambil balok kayu yang dipegang anak buahnya tadi. Teguh berselimut kemarahan, seuntai benci menghiasi tatap matanya. Intrik keji yang dimainkan Rano akan segera berakhir.

__ADS_1


“Akan aku akhiri hidupmu dengan balok ini, kubuat cara matimu seperti bapakku yang mati dipukul menggunakan alu!”


Suara raungan terdengar sangat keras keluar dari mulut Rano yang meregang nyawa. Mayat anak buahnya bergelimpangan di halaman rumah. Teguh meninggalkan tempat tersebut dengan penuh rasa puas karena berhasil membalaskan kematian bapakknya.


Teguh keluar meninggalkan rumah Rano, di persimpangan jalan dia bertemu teman silatnya, Hendri dan Irfan. Mereka mencegat Teguh yang penuh keringat dan baju terdapat noda darah.


“Apa yang terjadi? Kenapa bajumu penuh darah?” tanya Irfan.


“Aku berhasil membalaskan kematian bapakku.”


“Maksudmu?” Hendri menimpali.


“Rano dan semua anteknya telah aku habisi!” sahut Teguh.


“Kau membunuh mereka?” celetuk Hendri


“Begitulah!”


“Bangsat! Kau lebih hina dari mereka. Binatang kau!” Irfan memukul wajah Teguh dengan sangat keras.


“Kau tidak tahu! Bagaimana rasanya melihat bapakku mati dibunuh tepat di depan mata kepalaku! Terlebih, polisi juga tidak percaya kalau Rano yang membunuh bapakku!”


“Kau bukan pria sejati! Kami malu mengenalmu!” ucap Hendri.


“Benar, aku malu punya teman sepertimu. Silat bukan digunakan untuk balas dendam dan membunuh tanpa alasan!” sahut Irfan.


“Tanpa alasan? Hahahaha! Kalian lucu. Sudah jelas alasannya karena mereka telah membunuh bapakku yang tidak sanggup membayar hutang. Kalau kalian tidak suka, pergilah!”


“Aku hajar kau! Berani sekali menodai dunia persilatan dengan perbuatan keji seperti itu!” Irfan gusar dengan ucapan Teguh.


Terjadilah pertarungan antar anggota Gagak Putih. Mereka saling tendang dan adu jurus andalan. Teguh memang atlet silat unggulan. Dia berhasil memojokkan kedua temannya tersebut. Teguh kemudian pergi meninggalkan Irfan dan Hendri yang tersungkur.


Setelah pertarungan sengit itu ia lakukan, Teguh kabur ke luar kota agar tidak ditangkap polisi. Sejauh manapun Teguh melarikan diri, dia akhirnya tertangkap juga. Teguh dibekuk polisi satu bulan kemudian, dia didakwa hukuman mati atas tuduhan pembunuhan berencana.


Irfan cukup kaget mendengar dakwaan yang dijatuhkan pada Teguh. “Satu hal tentang kekuatan. Kekuatan sejati lahir bukan dari tubuh yang kuat, tapi dari hati yang suci. Tubuh kuat jika tidak mempunyai hati baik sama saja omong kosong. Dendam akan memakan jiwa-jiwa orang yang lemah spiritualnya.”


“Benar katamu,” Hendri menimpali. “Dendam akan selalu berakhir dengan kesialan serta penyesalan tak berujung. Memaafkan dan ikhlas adalah kunci agar hidup ini lebih berarti.” Helena-Pengorbanan Terakhir (Tercatat)

__ADS_1


__ADS_2