Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Detektif Frans


__ADS_3

Dingin, gelap, terasa sangat sesak. Di mana aku? Terakhir aku berdiri di atas gedung terbengkalai. Memandangi jalan raya di bawah—jalanan Kota Jakarta yang selalu ramai. Hanya itu hal terakhir yang teringat, tiba-tiba aku sulit bernapas, karena dua orang membekapku dari belakang. Sepertinya mereka membekap dengan sapu tangan yang telah diberi kloroform—ya, itu klorofom, butuh beberapa menit hingga aku tak sadarkan diri.


Aku mencoba meronta, tapi kesadaran semakin menghilang. Tubuh berangsur lemas dan sekeliling berubah menjadi gelap. Aku pingsan dan tidak tahu siapa mereka. Apakah musuh dari ayahku, ataukah para penculik yang suka menjual organ dalam manusia. Mau apa mereka itu? Apakah dendam kepada ayah yang seorang tuan tanah? Berbagai pertanyaan muncul di kepala.


Sekarang bagaimana? Aku tidak tahu ini di mana, tempat ini sungguh sempit dan sangat gelap. Aku merinding ketakutan, fobiaku kambuh. Ya, jelas sekali, aku menderita klaustrofobia. Sejak kecil aku takut dengan ruang gelap dan sempit. Mengerikan, seakan diriku akan terjebak dan kehabisan napas.


Samar-samar terdengar suara orang tertawa. Sepertinya tubuh ini berada di dalam peti dan terkunci sangat rapat. Suara tawa tersebut mungkin berada di ruangan lain, bersebelahan dengan tempatku berbaring. Bisa jadi diriku berada di dalam gudang. Suara tawa mereka semakin keras.


Terdengar kata pelabuhan dari salah satu laki-laki. Ramai sekali, mungkin ada sekitar lima orang yang sedang tertawa. Instingku biasanya selalu tajam, dan deduksiku seringkali tepat. Aku bisa menebak kelakuan seseorang hanya dari sorot matanya. Bahkan aku dapat mengetahui dari mana orang tersebut berasal. Benar sekali. Aku adalah detektif swasta, yang sering membantu kepolisian mengusut suatu kasus.


Namaku Frans. Tidak seperti ayahku yang seorang makelar tanah. Aku lebih suka pekerjaan yang menantang adrenalin dan penuh pemikiran dalam memecahkannya. Meski begitu aku juga memiliki rasa takut. Fobia yang aku miliki inilah yang selalu menjadi kelemahanku.


Terlintas dalam benakku, mungkin saja mereka keluarga penjahat yang aku bongkar kedok dan aksi kejahatannya. Bisa saja mereka ingin balas dendam. Entah itu adik atau anaknya, mungkin mereka tidak terima ada anggota keluarganya yang mendekam di balik jerjak besi.


Negara ini—sungguh penuh dengan kejahatan, korupsi, dan kemunafikan. Banyak pejabat yang korup. Pengedar narkoba berjualan dengan bebas. Koruptor hidup mewah di penjara—asal banyak uang, tinggal suap hakim ataupun kepolisian, mereka sudah bisa hidup enak di dalam sel tahanan. Penjara serasa rumah pribadi dengan berbagai macam fasilitas. Bahkan anak kos belum tentu mempunyai fasilitas lengkap.


Negeri ini sungguh besar. Berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya tersebar melengkapi deretan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Negeri yang indah dengan berbagai julukan. Zamrud khatulistiwa, paru-paru bumi, negara dengan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam yang melimpah. Bahkan disebut sebagai Atlantis yang hilang—surga yang pernah tenggelam di dasar samudra.


“Hoi! Keluarkan aku!!” Suaraku melengking bagai lolongan anjing yang tertembak peluru. Suaraku membuat telinga sakit sendiri. Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah berjalan mendekati tempatku berbaring.


“Hoho, rupanya kau sudah sadar, Tuan Detektif? Apa kau haus? Apa mungkin kau ingin pipis?” suara berat terdengar di atasku.


Aku menggedor papan yang menghalangi untuk melihat wajahnya. Penutup peti yang tebal, dikunci sangat kuat, pikirku.


“Hei! Keluarkan aku dari sini!”

__ADS_1


“Oya! Ternyata Tuan Detektif yang pemberani ini bisa merengek seperti anak kecil, memalukan sekali,” sahut pria tadi dengan nada mengejek. “Nikmatilah waktumu untuk istirahat, karena sebentar lagi negara ini akan hancur!”


“Apa maksudmu? Dasar bedebah! Keluarkan aku dari tempat sempit ini!” tanganku terus menggedor tutup peti.


“Nah, kau tahu di mana ini? Sekarang kita berada di kapal. Tepatnya di dek paling bawah, ruang yang penuh dengan kargo barang dan bahan makanan. Persis di dek paling atas sedang ada presiden tercinta kita, sedang berlayar menuju Kalimantan. Kami akan memberikan sedikit kado buat beliau dan rakyat negara ini.”


Jawaban pria tersebut membuatku kaget. Kado apa yang dia maksud. Aku tahu, mereka *******. Aku bisa menebak dari kalimat ancaman tadi. Jika presiden berada di kapal ini. Pasti mereka merencanakan sesuatu yang buruk.


“Kado apa yang kau maksud!? Cepat keluarkan aku, dasar pengecut!” aku semakin marah dan berteriak lebih keras.


“Apa jadinya jika terjadi ledakan dan presiden tewas? Pasti akan terjadi kekacauan dan berita besar bagi negara lain. Itu kado yang akan kami persembahkan untuk presiden terhormat kami,” jawab pria itu dengan nada enteng dan penuh percaya diri.


“Jahanam kalian, keluarkan aku, akan kuhajar kalian!” aku kehilangan kendali.


Terdengar gelak tawa dari teman-temannya. Mereka menertawaiku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tawa-tawa jahat yang sangat mengerikan. Suara tawa iblis yang sebenarnya. Betapa puas tawa mereka memikirkan nasib sial presiden yang akan tewas karena bom.


“Keluarkan aku sekarang juga! Akan kutemukan bomnya!”


“Mengejutkan! Percaya diri sekali Anda. Luar biasa, seperti yang selama ini diberitakan. Sabarlah, lima menit hanya sebentar. Akan aku beri kau kode, agar mudah menemukan bom itu. Dengarkan baik-baik, Tuan Detektif. Kodenya adalah, ‘hijau dan tenang membubung tinggi dari tengah, sulit bagai dorabellachiper titik 67.’”


Pria itu melangkah menjauhi petiku diikuti suara langkah-langkah komplotannya. Apa yang bisa aku lakukan, gelap sekali di sini, sempit dan pengap. Aku berpikir sekeras mungkin. Petiku bergoyang, karena kapal yang terombang-ambing di atas laut. Lima menit terasa begitu lama. Terdengar kembali langkah-langkah yang menghampiri petiku. Sepertinya mereka bersiap membuka peti ini. Beruntung tanganku tidak terikat. Akan aku lakukan rencana yang sudah aku susun tadi.


Mereka membuka gembok pada peti. Kurasa ada enam gembok dan satu rantai yang melilit peti ini. Terdengar suara decitan dan goresan rantai yang mengenai kayu peti. Aku bersiap-siap keluar. Jika mereka membawa senjata api aku akan tertembak satu peluru pada lenganku. Jika hanya senjata tajam yang mereka bawa, akan aku lumpuhkan mereka dalam enam serangan.


Tutup peti terbuka dan tanganku langsung meraih bagian tepi. Aku lemparkan kakiku ke atas menjepit leher pria yang berbadan paling kurus. Aku patahkan lehernya dengan kakiku yang meyilang pada lehernya. Kulihat tiga orang lainnya tidak membawa senjata. Hanya satu orang yang membawa pistol lengkap dengan peredam dan dia mengenakan topi koboi. Sesuai prediksiku, risiko terbesar aku harus tertembak. Namun akan aman jika bisa menghindari pelurunya. Pistol jenis itu hanya berisi tiga peluru. Aku tarik baju pria yang berdiri di kananku. Aku mendorongnya ke depan lalu dia jatuh tersungkur. Dua lainnya menyerangku secara bersamaan.

__ADS_1


Rupanya yang memegang senjata adalah pemimpin mereka. Aku merunduk ke bawah saat dua orang tadi melancarkan pukulan. Pria bersenjata menodongkan pistolnya. Aku tarik kaki pria di sebelah kiriku. Dia terjatuh, dengan cepat aku bekap untuk berdiri bersamaku. Pria bertopi itu menembakkan pistolnya. Tepat saat aku berdiri, pelurunya mengenai anak buahnya sendiri yang aku bekap dari belakang, peluru menembus bagian perutnya.


“Tembak lagi sekarang kalau berani!!” aku berteriak sambil menangkis serangan pria di sebelah kanan yang berusaha menendangku. Dengan gegabah, pria bertopi tersebut kembali menarik pelatuk bersamaan dengan anak buahnya yang tadi aku dorong ke depan dan tersungkur sedang beranjak bangun—peluru tepat mengenai leher anak buah yang baru berdiri tersebut—tubuhnya huyung dan berdebum keras di lantai kayu. Tinggal satu lawan lagi dan pria bertopi itu.


Aku terdesak karena anak buahnya yang satu ini lumayan kuat. Ia bertubuh kekar dan lebih tinggi dariku. Aku terpojok sampai membentur kargo. Di sebelahku ada tambang, aku menarik tambang itu lalu berlari mengitari lawanku. Posisiku tepat di belakangnya. Dengan cepat aku melilitkan tambang itu ke lehernya. Aku tarik tambangnya dengan sekuat tenaga. Lawanku jatuh terseret sambil kakinya menendang- nendang.


Slash!! Peluru menyentuh lengan kiriku. Beruntung meleset dan hanya menggores sedikit. Habis sudah peluru pria bertopi tersebut. Lawanku sudah kehabisan napas karena tercekik.


Aku berlari ke arah pria bertopi. Dia lebih pendek dariku. Aku merebut pistolnya yang sudah kosong. Aku memukulnya dengan sangat keras ke bagian belakang kepalanya. Pria bertopi tersungkur sambil mengerang. Aku pukul lagi dengan kuat menggunakan lengan kananku. Dia pingsan tak bergerak.


Aku harus bergegas mencari kabin tempat presiden berada untuk memberitahukan bahwa ada bom waktu yang siap meledak. Aku mengambil jam tangan milik pria bertopi tersebut. Lima belas menit lagi bomnya meledak. Aku berlari meninggalkan ruang kargo. Menuju dek atas, pasti presiden sedang di ruang makan. Aku tidak bisa menemukan denah kapal ini.


Akhirnya aku berhenti karena bertemu seorang pramusaji. Aku bertanya apakah benar presiden sedang berada di kapal ini. Pelayan tersebut mengatakan iya dan memberitahukan bahwa presiden sedang makan siang. Aku langsung menanyakan di mana ruang makannya. Aku bergegas menuju ruang makan. Ternyata sudah sepi. Tidak ada presiden di sana.


Aku berusaha tenang, nyawa presiden berada di ujung tanduk. Napasku terengah-engah, sejenak aku mengingat kembali kode yang diberikan ******* tersebut. "Hijau dan tenang membubung tinggi dari tengah, sulit bagai dorabellachiper titik 67." Aku langsung bisa menebak yang dimaksud titik 67. Mungkin itu adalah nomor kabin milik presiden. Terdengar suara dari speaker kapal yang memberitahukan bahwa kapal akan segera berlabuh di pelabuhan dekat hutan Kalimantan. Di samping ruang makan ada kabin nomor 54. Aku menyusuri lorong tersebut dan sampai pada kabin nomor 67. Aku mengetuk pintunya, beberapa saat kemudian pintu terbuka. Pengawal yang membukakan pintu. Aku memberitahukan bahwa ada bom di kapal ini yang dipasang oleh *******.


Aku masih berusaha mengatur napas, wajahku penuh dengan keringat. “Saya tidak berbohong, Pak! Percayalah dan segera amankan presiden sekarang. ******* ada lima orang dan sudah saya lumpuhkan, mereka di dek paling bawah,” napasku masih terus tersengal seperti orang sakit asma.


“Jangan membuat kepanikan. Apa Anda serius dengan laporan Anda?” pengawal tampak ragu.


Aku berusaha meyakinkan pengawal presiden, aku menunjukkan identitasku. Akhirnya mereka percaya dan segera membawa presiden keluar dari kapal menuju bagian paling atas. Kami bersiap turun dari kapal. Waktu tinggal dua menit lagi ketika kami menuju keluar. Sampai di galangan kapal, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari arah hutan selang beberapa detik muncul asap hitam tebal dan jingga terlihat dari buritan kapal.


Hutannya terbakar. Aku salah perhitungan, aku kalah dalam permainan ******* busuk tersebut. Ternyata yang dimaksud hijau dan tenang membubung tinggi dari tengah  adalah letak bom tersebut. Bukan di kapal, melainkan di dalam hutan rimba yang hijau, dan membubung tinggi maksudnya adalah asap akibat ledakan dari tengah hutan.


Aku menggertakkan gigiku. Aku geram dan marah, karena mereka merusak hutan dengan cara meledakkan menggunakan bom. Berapa banyak burung, kera, tanaman dan binatang lainnya yang mati. Indonesiaku yang hijau harus menangis karena hutannya terbakar.

__ADS_1


Setelah penyelidikkan lebih lanjut. Ternyata mereka adalah komplotan pemburu yang sering memburu satwa langka dan dilindungi di hutan Kalimatan. Mereka mengirim hasil buruan ke kota besar seperti Jakarta. Ditulis oleh Frans - Catatan Penghujung Karir.


__ADS_2