
Selama aku menjalani kehidupan dan berkecimpung dalam dunia rumit ini bersama Frans, banyak hal yang kutemui tentangnya. Selain penuh misteri, hal-hal menyebalkan juga kerap kualami bila tengah menjalankan pekerjaan bersama pria itu. Aku telah menuliskan tentang dirinya dalam buku harianku dan bahkan dia sendiri tidak tahu kalau aku menjabarkan semua tentang sifat-sifat dan kebiasaannya.
Melalui pengalaman dan pengamatanku, beberapa yang berhasil kuabadikan dari seorang Frans yaitu sebagai berikut:
Fakta-Fakta
1. Frans tidak mengidolakan Sherlock Holmes\, justru dia mengidolakan seorang agen MI7 bernama Johny English.
2. Frans Sina\, nama belakangnya berasal dari nama seorang filsuf\, dokter\, sekaligus penulis\, yaitu Ibnu Sina.
3. Selain menderita Claustrophobia (takut dengan tempat sempit). Frans juga menderita Nyctophobia\, yaitu takut dengan ruangan atau tempat gelap.
4. Frans suka mengumpulkan batu kerikil yang berbentuk pipih atau lempeng.
5. Selain julukan The G. Detektif Puntung Rokok adalah salah satu julukannya\, dia membenci rokok dan orang yang membuang puntung rokok sembarangan. Detektif Puntung Rokok sering disingkat DPR.
6. Frans tidak suka buah pear tapi suka apel.
7. Membenci orang yang tidak bisa mengucapkan kata maaf\, tolong\, dan terima kasih.
__ADS_1
8. Binatang kesukaannya adalah kecoa\, tidak tahu apa menariknya binatang menjijikkan ini.
9. Selai pisang adalah makanan favoritnya.
Fakta-fakta di atas sebagian sudah muncul dan masih ada yang belum dipaparkan di dalam cerita. Mungkin masih ada beberapa fakta tentang pria itu yang terlewat, aku seakan-akan menjelma seperti Watson yang begitu mengagumi kolegaku. Nanti pasti akan kulengkapi. Kuakhiri setiap catatanku dalam buku harian dengan kalimat ini, ‘Namaku Helena, jauh sebelum mengenal Frans. Aku adalah sosok wanita yang begitu pendiam, acuh dengan segala keadaan. Ketika aku mulai mengenal Frans, sikap tidak peduliku mulai menghilang’. Sungguh prestasi yang cukup gemilang bagi seorang wanita yang dari dulu selalu cuek sepertiku.
***
Mulai hari ini, waktu yang diberikan Mr.B kepada Frans hanya 6 bulan. Jika Frans gagal mengalahkan Mr.B dalam permainan ini. Maka semua anggota keluarga korban yang menghilang, akan dibunuh juga. Tim D berangkat menggunakan mobil Frans menuju rumah Hartanti. Sesampainya di sana, kami langsung turun dan mengecek keadaan rumah.
Tanpa kami sadari, sebenarnya kami telah diikuti sejak dari rumah Frans. Hanya ada satu orang yang menguntit. Mungkin saja tujuan penguntit tersebut untuk memata-matai Frans. Dia bersembunyi di seberang gang yang sempit tanpa sepengetahuan kami—ia ada di balik pagar dan pos ronda.
Sedangkan kami sedang serius menjelajah seluruh ruangan di rumah Hartanti. Kami membongkar lemari, mengecek laci, bawah kasur, air di sumur dan mengecek setiap sudut rumah. Rumah tersebut aman, tidak ada tanda-tanda pernah diawasi. Mungkin saja, jika sebelumnya ada kamera pengawas untuk memantau semua kegiatan keluarga ini. Frans berjalan menuju teras depan, lalu masuk lagi dengan memasukkan tangannya ke saku celana. Dia nampak berpikir, keningnya seskali mengkerut.
Selama dua bulan penyidikan, kepolisian belum menemukan satu petunjuk apa pun. Jika pembunuhan ini memang sudah direncanakan dan motifnya dendam. Mungkin saja pelakunya masih berkeliaran mengincar Frans.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, akhirnya Yulia menemukan sesuatu. Di dalam laci lemari bawah ada surat-surat milik ayahnya Eno. Fotokopi kartu keluarga, dan surat izin mengemudi. Ada juga surat kontrak dengan perusahaan M dua tahun yang lalu. Ternyata memang benar jika suami Hartanti dulunya bekerja sebagai sopir di perusahaan tersebut.
“Suatu petunjuk yang besar. Ini akan sangat membantuku untuk menguatkan dugaanku. Ternyata memang betul dulu suami Hartanti adalah seoranng sopir truk,” kata Frans.
“Saya tidak ragu lagi, sudah pasti dugaan Anda benar,” sahut Yulia.
“Harus benar, karena ini menyangkut nyawa kalian juga. Aku tadi sebelum masuk ke rumah ini juga sudah menemukan sesuatu.”
“Apa itu, Frans?” ucapku sambil memegang buku tabungan keluarga Hartanti yang cukup berdebu.
“Aku menemukan kerikil cantik yang sangat pipih.” Frans merogoh saku dan menunjukkan kerikil tersebut dengan wajah polos seperti bayi tanpa dosa.
Aku langsung melangkah ke arah Frans lalu menjitaknya. Dalam penyelidikan seperti ini dia masih saja bergurau. Rumah milik Hartanti mulai kotor karena tidak dirawat selama dua bulan. Debu-debu mulai menebal, sarang laba-laba mulai menutupi semua benda. Dinding anyaman bambu mulai keropos di bagian bawah karena terkena percikan air saat hujan dan dimakan rayap sebagian. Barang-barang di rumah ini tetap utuh karena ada pos ronda dekat rumah. Mungkin tidak ada yang berani memasuki untuk mengambil sesuatu. Memang rumahnya tidak ada apa-apanya, tida memiliki barang berharga.
Kami masih serius menyusuri setiap penjuru rumah. Irfan dan Agung ada di dapur. Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar. Ada yang datang. Langkahnya cukup tegas dan sepertinya ia menggunakan sepatu yang cukup berat. Frans bersembunyi di balik pintu, suara kusen diketuk—seperti berbenturan dengan cincin atau batu—orang di luar itu terus mengetuk sambil mengucapkan permisi. Frans akhirnya membuka pintu dan mendapati seorang pria berwajah lonjong dan dengan potongan rambut cepak. Ia masuk, ternyata itu adalah anggota polisi yang bertugas mengontrol rumah korban. Sungguh menyebalkan, melihat pria berseragam itu, aku memang benci sekali dengan polisi. Jika dia ingin mencampuri urusan kami, aku akan menahan diri semampuku. Lagi pula trauma yang kualami telah berlalu. Setidaknya, aku akan berusaha untuk terbuka dengan kepolisian.
“Ada yang bisa saya bantu?” ucap polisi itu.
“Ah. Jika kau punya informasi, cukup berikan informasi itu pada kami dan hal tersebut sudah akan sangat membantu.” Sahut Frans.
__ADS_1
“Baiklah. Saya mempunyai beberapa informasi.” Polisi itu melangkah mendekati kursi kayu yang cukup usang, ia perlahan duduk kemudian memandangi kami. “Sebenarnya, satu minggu setelah autopsi mayat suami Hartanti selesai. Mayat tersebut disimpan di ruang mayat pada umumnya. Akan tetapi hal di luar nalar terjadi. Mayat tersebut menghilang sesaat memasuki ruang mayat. Lenyap tidak ada bekas. Menurut petugas yang membawa, mereka baru saja meletakkan mayatnya dan mengeluarkan salah satu mayat lainnya untuk diautopsi juga. Saat mereka kembali untuk memasang tanda pengenal yang tertinggal di ruang autopsi. Mayat suami Hartanti sudah hilang. Kepolisian masih merahasiakan ini, tapi, aku justru akan menyampaikan kepada kalian, terutama Frans. Dari hasil autopsi, selain mati digorok pada leher, ternyata di tubuh sang mayat ditemukan semacam cairan aneh. Dokter tidak dapat mengetahui cairan apa itu karena cairan asing tersebut belum dites di laboratorium. Hal mengerikan terjadi saat seorang dokter akan menyerahkan ke petugas laboratorium. Dokter tersebut mendadak ditemukan tewas di kamar mandi dalam kondisi yang cukup mengenaskan.”