Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Dariku untukmu, Frans!


__ADS_3

“Dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, begitu pula dalam dunia detektif. Semuanya bisa saja terjadi. Aku telah banyak membaca cerita dengan genre fiksi detektif seperti kisah Dupin karya dari Edgar Allan Poe yang gaya ceritanya berbalut mistis. Kisah Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle yang penuh kejadian besar, tak jarang membuatku mengerutkan kening untuk menggali maksud dari kisah yang disajikan. Tidak lupa juga kisah-kisah menakjubkan karya Agatha Cristhie yang begitu melegenda. Sukses membuatku menghabiskan lembar demi lembar karyanya.”


“Benar, Frans. Cerita misteri yang bagus menurutku adalah cerita yang dapat membuat pembaca berpikir bahkan menebak-nebak hingga membuat spekulasi sendiri. Pada dasarnya misteri harus menimbulkan pertanyaan. Aku merasa senang kalau ada dari pembaca yang membaca tulisanku membuat kesimpulan sendiri. Aku tidak merasa tersaingi atau dia ingin mendahului cerita yang aku buat, itu menurutku. Karena itulah kisah detektif selalu punya tempat sendiri di hati penggemarnya. Karya-karya detektif yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia juga tak kalah hebat. Sama halnya ketika dulu aku suka sekali menonton Detective Conan serta mengikuti manga atau komiknya. Saat sudah menginjak usia remaja, aku benar-benar menelusuri kisah-kisah lahirnya tokoh bernama Edogawa Conan tersebut.”


“Menelusuri? Bisa kau jelaskan?” Frans mengunyah rotinya sambil memandangiku.


“Aku sempat membeli karya dari Edogawa Rampo yang berjudul Cermin Neraka serta menuntaskan semua karya Sir Arthur Conan Doyle. Ternyata Aoyama Ghoso sang mangaka dari Detective Conan menciptakan karakter Conan dari gabungan dua nama penulis legendaris tersebut. Tokoh Edogawa Conan diambil dari nama penulis besar tersebut, Edogawa Rampo atau sering dijuluki Bapak Cerita Misteri Jepang dan Sir Arthur Conan Doyle penulis Sherlock Holmes. Aoyama Ghoso menggabungkan nama dua penulis besar tersebut sehingga lahir menjadi karakternya yang bernama Edogawa Conan atau sering disebut Meitantei Conan (Detective Conan).”


Frans manggut-manggut lalu menyeruput es jeruknya. Banyak kisah yang memiliki nilai tersendiri dari dunia detektif. Frans berbeda dengan diriku. Dia memang mengikuti kisah petualangan Holmes, dan sebagainya, tapi dia justru sangat menyukai cerita agen absurd bernama Johny English. Tokoh agen rahasia MI7 yang diperankan oleh Rowan Atkinson. Mungkin tingkah konyolnya memang sedikit menurun kepadanya. Rowan Sebastian Atkinson juga memerankan tokoh legendaris bernama Mr. Bean. Filmnya juga identik dengan tingkah nyeleneh.


“Mengapa kau justru mengambil keputusan untuk menulis buku juga? Bukankah itu tidak menjanjikan sama sekali—lagi pula negeri ini tak banyak orang yang mau membaca.” Celetuk Frans.

__ADS_1


“Aku hanya menulis untuk terapi dan sebagai hiburan—bukan uang yang jadi tujuanku, Frans. Aku menulis untuk diriku sendiri. Sejak dulu aku menyukai kisah dari para penulis yang mampu menyajikan cerita-cerita berbobot. Mungkin ada yang bingung dengan gaya kepenulisanku yang kaku. Karena memang kiblatku adalah karya-karya dari barat. Dari buku-buku terjemahan yang menurutku sangat lugas dalam menyusun kalimatnya. Tidak lebai juga tidak terkesan terlalu tinggi, artinya mudah dicerna.”


Ketika aku memutuskan untuk menuliskan kisah yang aku jalani bersama Frans, sebenarnya aku sudah beralih profesi menjadi editor di sebuah perusahaan surat kabar. Sekarang ini tidak ada lagi nama Helena yang beraksi bersama detektif bodoh bernama Frans. Yang ada hanya Helena yang selalu sibuk menatap layar komputer, jemarinya menari-nari di atas papan ketik, sesekali menyesap kopi yang sudah dingin. Meski aku sering berkhayal jika aku ingin menjadi seperti Hercule Poirot dan Miss Marple, tokoh fiktif yang sangat legendaris karya Agata Cristhie.


Dalam hidup yang telah kutempuh sejauh ini. Pengalamanku bersama Frans adalah yang paling mengesankan. Tulisan ini kupersembahkan untukmu, Frans. Ketika kumulai memutuskan untuk mencatat semua perjalananku dengannya. Aku mengumpulkan buku-buku misteri dari berbagai penulis.


“Oh. Baguslah, aku tak bisa mencampuri kegemaran dan keputusan yang telah kau ambil. Omong-omong, buku apa yang terakhir kau baca sebagai referensi?”


“Terakhir aku membaca karya Ruth Ware berjudul The Woman In Cabin 10. Aku benar-benar ingin mendalami kisah yang sedang aku garap agar tidak mengecewakan pembaca. Karya Ruth Ware benar-benar indah, penuh dengan adegan serta kejutan yang membuatku lupa waktu saat membacanya. Tidak kalah menarik, karya dari Dan Brown juga mempengaruhi gaya penulisanku. Bukunya yang berjudul Da Vinci Code membuat mataku sukses pegal-pegal. Ditambah karyanya juga sudah diadaptasi ke layar lebar dan aku menontonnya seolah enggan untuk berkedip barangkali satu detik. Meski karya Ruth Ware terbilang cukup baru dan disebut sebagai kisah detektif modern. Namun, aku mengakui bahwa karyanya mampu menyita perhatianku yang notabene lebih menyukai karya-karya klasik. Karya klasik yang sangat aku sukai selain dari karyanya Sir Arthur Conan Doyle adalah karya Edgar Allan Poe seperti Black Cat dan The Raven yang mampu membawaku ke dalam dunia kelam yang ia kisahkan. Kisah klasik sangat memukau bagiku, karena gaya penulisan, bahasa, serta kisahnya mampu membuat otakku serasa mencair.”


“Bukankah buku-buku di ruanganmu juga kebanyakan buku cerita dari masa lalu. Kau lebih kuno dariku. Bukan maksudku untuk mendewakan karya klasik seperti cerita Sherlock Holmes dan Black Cat, tapi karena memang itu suatu asupan yang sangat aku butuhkan. Apa lagi karya agung dari Agatha Cristhie yang laku keras serta merajai pasaran. Karyanya memang banyak yang disajikan dengan kronologis runtut. Namun aku akan menulis kisahku ini dengan gayaku sendiri.”

__ADS_1


“Kisah dengan gaya penulisanmu sendiri? Cerita seperti apa—maksudku kisah yang bagaimana yang akan kau tulis?”


“Cerita perjalanan kita dalam menangani kasus-kasus selama ini, Frans.”


“Mengapa tak menulis saja kisah romantis, lagi pula banyak yang akan membaca kisah seperti itu daripada kisah berat yang menguras otak saat membacanya,” celetuk Frans.


“Sudah kubilang aku akan menulis yang kusuka dan sesuai gayaku sendiri,” aku sewot.”


 


 

__ADS_1


Kali ini kisahku bersama Frans sampai pada masa tersulit. Kembali ke kisah terakhir, di mana Frans bersikeras ingin segera pulang dari rumah sakit. Padahal kakinya tertembak sehingga merobek ototnya. Ditambah lagi dengan peristiwa pelemparan batu oleh orang tidak dikenal. Meski wajah orang tersebut sudah diketahui melalui sketsa wajah yang dibuat oleh polisi suruhannya Jason. Tetapi, Frans justru tidak yakin ada orang yang memiliki wajah seperti itu. Walau jelek seperti itu dia juga ciptaan Tuhan, dasar Frans! Dia dengan polosnya mengatakan kalau orang di dalam sketsa itu memiliki kumis seperti kumis ikan lele.


Untung polisi suruhan Jason hanya tersenyum dan menganggap itu suatu pujian. Meski dia sudah menjelaskan dengan seluruh tenaganya, bahwa orang yang ia proyeksikan ke dalam sebuah sketsa wajah memang seperti itu. Pria di dalam sketsa itu memiliki hidung yang mancung dengan alis sangat tebal menggantung di atas matanya. Dia memiliki brewok tipis yang tumbuh dengan rapi. Hanya saja kumisnya memang sedikit aneh dengan bentuk muka bulat kurasa memang tidak cocok dia menggunakan model kumis seperti lele.


__ADS_2