Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Sayap Sang Dewa: Dr. Q!


__ADS_3

“Sebenarnya aku tak mau bila harus terus menyembunyikan diri seperti ini.” Lala menenteng tas selempang dan ia bergegas keluar. Jonah mengekor dan mengunci pintu, mereka berdua lalu berjalan menuruni tangga.


“Jika begitu, sebaiknya kita datang dan serahkan diri.”


“Lalu kita mati bersama di penjara. Itu bukan yang kau maksud?” Lala mendelik. Rambutnya yang pendek berayun-ayun di kedua sisi pipinya.


“Kalaupun kita lolos, tak akan bisa hidup tenang, kan?” Joe melenguh panjang.


Mereka memasuki sebuah mobil dan menuju ke sebuah pelabuhan. Setelah sampai di tujuan mereka istirahat sejenak. Tampak awan-gemawan menggantung bak kapas dan berarak ke utara seolah ditiup dewi alam. Sekawanan burung terbang beriringan dan angin berembus lembut. Jonah menjatuhkan bokong di kursi panjang dan menarik napas dalam-dalam. Lala melepas topi lebar yang ia kenakan dan ikut duduk di samping Joe.


“Sungai Thames!” celetuk Joe. “Banyak sejarah terjadi di sungai legendaris ini—sepanjang Inggris berdiri hingga kini. Apa yang akan kita lakukan? Berwisata dan ikut naik kapal lambat itu?” Joe menunjuk sebuah kapal berukuran cukup besar yang bersandar di galangan dan banyak turis yang tengah asyik berbincang di dekat kapal tersebut.


“Ikuti saja apa kataku. Kita akan bertemu Dokter Q itu di atas kapal tersebut.”


Di atas kapal mereka tampak tenang dengan ekspresi tanpa kagum sedikit pun. Penampilan Lala dan Jonah tak akan ada yang mengetahui, tidak dengan wajah baru dan status sebagai pasangan yang tengah menikmati angin Thames. Mereka berdua memasuki ruangan utama untuk makan malam. Akan diadakan perjamuan dan semua boleh menikmati suasana di atas kapal tanpa canggung. Di sudut ruangan terdapat piano hitam mengilap yang tampaknya hanya dimainkan ketika makan malam berlangsung. Beberapa pelayan berkeliling membawa nampan dan menawarkan minuman kepada beberapa penumpang.


“Hotel di atas air.” Ucap Jonah.


“Jangan kekanak-kanakan, Joe. Kita di sini tidak untuk menikmati semua ini.” Lala tampak serius.


Joe menatap lekat ke arah Lala. “Bisakah berhenti memerintahku? Otakku bisa meledak dan aku akan mati karena terserang kebosanan. Setidaknya nikmatilah dulu malam ini. Paling hanya satu jam dan kita telah menepi. Sudah waktunya makan malam, kau harus diam, ikut duduk manis di depanku, dan kita akan menikmati perjamuan yang ada di kapal ini. Ayo! Kita lihat apa restoran kapal ini memiliki juru masak yang andal.” Joe menarik tangan Lala.


“Kau benar-benar menyebalkan. Kuharap setelah bertemu dr. Q kau tak bisa berkata-kata lancang lagi terhadapku.”


“Bicarakan nanti saja. Entah siapa dia, dr. Q, J, K, As, ataupun dr. Joker, aku tak peduli. Perutku lapar dan rasanya semua ususku telah berusaha merambat keluar melalui kerongkongan dan ingin mencengkik leherku.”


“Huh! Baiklah-baiklah. Kita akan makan sekarang.”


Permukaan air dalam gelas tenang, begitu tenang tanpa goyangan sedikitpun. Kapal sangat stabil dan Jonah tampak mengunyah makanannya dengan lahap sembari matanya memandangi sekeliling dan otaknya memikirkan kenapa begitu tenang. Ah, gravitasi, pikir Jonah. Kapal sungguh-sungguh seperti berdiam diri bak bangunan di daratan.


“Hujan?” celetuk Lala.


“Ya. Hujan datang. Suasana jadi tambah nikmat, kan?” Joe terkekeh.


Memang suasana benar-benar melenakan, tetapi semua itu terpatahkan dengan guncangan hebat yang mendadak sontak membuat piring dan gelas berderak-derak. Garpu, sendok, dan pisau di atas piring juga bergeser. Kapal benar-benar berguncang hebat. Ledakan!


“Apa?” teriak Jonah nyaris tersedak.


“Terdengar ledakan di buritan.” Lala langsung beranjak bangun.


Seluruh penumpang tampak semrawut lari tunggang-langgang. Kepala pelayan tampak lari dari dapur dan juga kebingungan. Terdengar suara seorang wanita berbicara melalui mikrofon dan meminta seluruh penumpang agar tenang. Kapal kembali tenang dan tak lagi bergoyang hebat, meski masih sedikit terasa seperti naik-turun pelan.

__ADS_1


Lala dan Jonah perlahan-lahan melangkah keluar dan mendapati api telah berkobar di buritan belakang bagian agak bawah. Derau angin dingin khas sungai membelai wajah diiringi air hujan yang menampar-nampar permukaan dek kapal. Di antara asap-asap yang membubung pekat terlihat tujuh sosok berdiri tedak. Salah satu dari mereka tampak memegang senjata api laras panjang.


“Code Breakers!” pekik Joe.


“Jangan gegabah. Tenanglah, kita dalam penyamaran.”


“Mereka datang dengan detektif dari Asia itu—si Ray dan satu lagi, orang tua ... siapa dia?” Joe berbisik.


“Entah. Aku juga tak mengenal siapa orang tua itu.”


Mereka berjalan mendekati Lala dan Jonah, penumpang lain mematung berdiri melihat ada gerombolan orang bersenjata. Belum juga sempat berkedip, Rachel langsung menarik senjata apinya dan menembaki ke arah pengunjung, peluru tepat membentur lantai dek dan tak mengenai orang—tampaknya ia sengaja. Suasana jadi semakin mengerikan karena jeritan dan tangisan para pengunjung mewarnai kapal Aurora yang berlayar tepat selepas magrib tadi. Diiringi hujan, teriakan ketakutan para penumpang membuat telinga gatal.


“Jonah! Lala! Kau tak bisa lari lagi, aku mengetahui kalian ada di kapal ini.” Teriak Ray dengan lantang.


Di tengah keributan tersebut, Lala dan Jonah saling pandang. Mereka telah sempurna dalam menyamar, tak pernah mengalami hal seperti ketahuan—yang seperti malam ini mereka alami.


“Kalian berdua. Si rambut pirang dan seperti Dora! Serta kau lelaki berwajah pucat. Joe dan Lala, itulah nama kalian.” Lelaki tua yang berdiri di samping Rachel menunjuk ke arah Jonah dan Lala. Lelaki tua itu tak lain dan tak bukan adalah Mockingbird.


“Sial!” pekik Joe. Ia langsung menarik tangan Lala dan membalikkan badan.


Dor! Letupan senjata api terdengar lagi, kali ini justru datang dari arah berbeda, dekat tempat sekoci berada, terlihat bayangan hitam dan baru saja menembakkan senjatanya.


“Butuh bantuan? Lala-Jonah?!” teriak pria pendek berwajah kemerah-merahan tersorot lampu di dek. Ia melangkah dan membidik ke arah Rachel. Senjata yang dipegang Rachel telah terlempar karena tertembak pria asing barusan.


Lala dan Joe yang tadi telah berniat lari telah menghentikan langkahnya dan mengatur napas. Para pengunjung lain telah masuk ke dalam ruang makan dan hanya para keamanan yang muncul dan bersiaga dengan senjata api masing-masing—ada empat petugas keamanan kapal.


“Ya! Ini aku!” sahut dr. Q sambil menarik pelatuknya.


Ray dan para Code Breakers berlari menghindar dan bersembunyi di balik tiang utama kapal. Tak ada yang menyangka dan tak ada yang bisa menebak gerakan gesit dari seorang lelaki tua yang kepalanya telah penuh uban. Mockingbird berlari cepat dan kakinya bertumpu pada kursi panjang—sejurus kemudian ia melompat tinggi dan hanya butuh beberapa langkah lagi, ia telah berada di hadapan dokter kontet itu.


“Halo, dokter. Mari berdansa. Kecepatan peluru Anda tak bisa mengikuti gerakan saya.” Ucap Mockingbird sambil melayangkan tinju dan senjata api yang dipegang si dokter terpental cukup jauh membentur pagar.


“Sialan kau!” teriak dr. Q.


Mockingbird mengayunkan lagi tinjunya dan mendarat di wajah si dokter. Sang dokter meringis kesakitan, hidungnya patah dan darah segar langsung mengalir. Darah itu melesar tersapu air hujan yang mengalir dari dahi si dokter.


“Anda lemah sekali, Dok!” Mockingbird mencibir.


“Berengsek! Jangan meremehkan diriku!” ia bersiaga. Sialan, kalau saja tidak hujan, pandanganku bisa jelas. Si dokter membatin.


“Gadis itu tadi menyebut nama Anda dr. Q, bukan? Sungguh menarik, saya sepertinya harus melumpuhkan Anda dan mengorek banyak informasi dari Anda.”

__ADS_1


“Hentikan keformalanmu itu! Akan kuremukkan tengkorak keroposmu, tua bangka!” si dokter berang.


Si dokter mengayunkan tangan kanan, seketika itu ditepis oleh Mockingbird. Kini giliran si Mockingbird kembali meluncurkan serangan dengan pukulan kilat, si dokter tampak meringis karena kembali menerima bogem di pipi kanan. Mockingbird mundur dua langkah, ia memasang kuda-kuda—kedua tangan ia posisikan di depan dada dan mengepal. Ia bersiap melakukan serangan kembali, kaki kirinya ia gunakan sebagai tumpuan, kaki kanan dengan gesit langsung ia ayunkan dan mengenai pinggang si dokter. Nyaris tak ada dua detik dalam menyiapkan serangan tersebut dan si dokter benar-benar tak sempat menghindar. Dokter kontet itu langsung terpelanting—ia mengerang kesakitan.


“Ayo. Bangunlah,” kata Mockingbird.


Bruk! Seketika benda keras menghantam kepala Mockingbird. Rupanya Joe yang melakukan hal tersebut, ia memukul kepala Mockingbir menggunakan dayung kecil yang tergeletak di dekat sekoci.


Rachel dan Code Breakers lainnya telah keluar dari persembunyian dan mengambil senjata laras panjang tadi.


“Menyerahlah atau peluru panas ini yang akan bicara!” teriak Rachel.


Lala dan Joe semakin tak peduli, disaat Mockingbird mengerang, mereka buru-buru menyelamatkan dr. Q dan memapah dokter kontet itu. Sungai Thames, sungai besar nan memiliki air yang bergolak menyerupai permukaan laut. Tak ada yang menyangka, ketiga buron itu, Lala, Jonah, dan dr. Q melompat bebas ke sungai dari atas dek.


“Sialan!” teriak Rachel sambil berlari ke arah Mockingbird.


Rachel melongok ke bawah, hanya aliran air yang bergolak sesaat setelah tiga buron itu melompat ke sungai. Kapal berjalan semakin jauh.


“Apa yang akan kita lakukan? Haruskah aku ikut menyelam dan mengejar mereka?” kata Antonio.


“Tidak perlu. Mereka pasti tak akan bertahan lama di sungai selebar ini dan di tengah hujan deras. Jika mereka selamat, maka kita tinggal melakukan pencarian lagi.” Rachel menyulut rokok dan memandang langit yang berselimut awan-gemawan pekat dan hujan telah sedikit mereda.


 


 


***


 


 


“Dingin, gelap, sesak, lemas. Itulah yang bisa kurasakan ketika berada di dalam air.” Ucap Lala sambil menggigil.


“Ah. Sama saja. Namun, aku tak tahu bagaimana bisa mereka melacak keberadaan kita?” timpal Joe.


“Entahlah. Penyamaran kita mungkin yang tak sempurna dan terlalu lengah bahwa komplotan itu memiliki orang cerdas dan mematikan.”


“Ya. Kau benar. Lalu, ini dr. Q itu?” Jonah menoleh memandangi dokter kontet yang tengah menggosok-gosok telapak tangan karena menggigil.


“Ya. Dialah yang menculik mayat papaku dan juga meletakkan para mayat di hotel yang saat itu kita selidiki.” Lala menatap ke arah Joe.

__ADS_1


 “Jadi dia yang memenggal kepala dan mengobrak-abrik isi perut para mayat itu?” celetuk Jonah.


“Ya. Dan jika kau tak mau membantuku dan justru berkhianat, maka kau juga akan bernasib sama.” Lala tampak melotot.


__ADS_2