
“Berikan padaku! Aku mohon kembalikan tasku!” suaranya terdengar parau karena menangis. Tubuh mungil itu terpental jatuh ke jalan raya. Mungkin, sudah tidak ada lagi rasa sakit yang bisa Eno rasakan. Sudah sangat terbiasa bagi tubuhnya menahan berbagai rasa sakit.
“Tas butut dan jelek seperti ini lebih baik kau buang!” ucap Billy yang sedang memegang tas milik Eno. “Mari kita lihat! Apakah ada sesuatu yang berharga di dalamnya.”
Di belakang Billy ada tiga anak lagi. Berdiri sambil menertawai Eno yang sedang merengek agar tasnya dikembalikan. Mereka tertawa sangat keras tanpa memperdulikan tangisan Eno.
“Huh! Payah sekali, dasar miskin! Tidak ada makanan dan uang di dalamnya,” Billy melemparkan tas tersebut ke dalam genangan air di tepi jalan. Dia lalu pergi, diikuti oleh Beni, Arka, dan Felix. Mereka adalah empat serangkai yang suka mengganggu Eno. Tidak hanya menyiksa, mereka juga mengejek dengan kata-kata menyakitkan.
Semakin hari Eno menjadi tidak tahan dengan perlakuan temannya. Dia berharap empat anak tadi bisa merasakan apa yang dia rasakan. Suatu hari, ketika pulang dari sekolah, dia bertemu dengan seorang kakek tua di persimpangan jalan. Kakek tersebut menggunakan baju kumal dan sangat kotor. Dia memanggil Eno, kakek tersebut ingin meminta makanan kepadanya. Dia bilang belum makan sejak semalam. Eno yang tidak punya uang membuka tas. Ternyata masih ada sepotong roti yang diberikan sang ibu tadi pagi. Roti tersebut dia berikan kepada kakek yang duduk di depannya.
“Terimalah. Maaf, karena hanya roti ini yang saya punya,” Eno meyodorkan kepada sang kakek.
“Tidak masalah. Terima kasih banyak atas makanannya,” jawab kakek tersebut sambil menerima roti dengan tangan gemetar.
Eno duduk di samping kakek tersebut. Dia melamun memikirkan semua nasib buruk yang menimpa. Setelah menghabiskan roti yang Eno berikan, tiba-tiba kakek tersebut mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas usang yang dia bawa.
“Aku tahu kau sedang ada masalah, terimalah buku ini, buku ini bisa membantumu,” kakek tersebut mengulurkan buku kusam dan jelek itu kepada Eno. “Buku ini bisa mengabulkan semua permintaanmu, apa saja yang kau minta. Kau hanya perlu menuliskannya di sini.”
__ADS_1
“Yang benar saja. Apa benar buku jelek seperti ini bisa mengabulkan permintaan?” Eno tidak percaya dengan ucapan kakek tersebut.
“Benar sekali. Kau bisa mencobanya dahulu agar percaya,” kakek tersebut menawarkan.
Langit menjadi gelap diliputi awan-gemawan nan pekat. Kakek tersebut bertanya kepada Eno, apakah dia punya masalah yang ingin diselesaikan. Eno menceritakan semua nasib sial yang selalu ditindas oleh empat temannya. Eno berkata bahwa dia sangat membenci mereka.
“Jadi apa yang ingin kau minta? Buku tulis ini akan mengabulkan semua,” kakek tersebut bertanya sambil memandangi lekat-lekat ke arah wajah Eno. Eno tampak sedang berpikir, wajahnya serius. Suasana sore yang mendung, diiringi gerimis rintik-rintik, ia mengucapkan permintaannya. “Aku ingin mereka semua menghilang dari bumi ini!” teriak anak tersebut.
“Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu, semua temanmu yang suka menindasmu akan lenyap.” Kakek tersebut lalu menulis di dalam buku.
Eno memasukkan buku itu ke dalam tas lalu melanjutkan perjalanan ke rumah. Dia berpikir kakek tadi sangat aneh. Sampai di rumah, Eno meletakkan tas di kamar.
Keesokan harinya, Eno sudah berangkat sekolah meski masih pukul 5.45. Terlalu pagi memang. Mungkin, dia sudah tidak sabar untuk memastikan apakah buku tersebut benar-benar bisa mengabulkan permintaan. Sesampai di sekolah, Eno masuk ke dalam kelas dan menunggu empat temannya datang. Namun, sampai bel masuk berbunyi, Billy, Beni, Arka, dan Felix belum menunjukkan batang hidung. Eno mengira mereka terlambat atau sengaja mampir ke warung di depan sekolah.
Akhirnya guru memasuki kelas, guru tersebut terlihat muram. Dia meletakkan buku-buku yang dibawa di atas meja.
“Selamat pagi anak-anak!”
__ADS_1
“Selamat pagi, Bu!!!” jawab anak-anak satu kelas dengan kompak.
“Anak-anak. Hari ini ada kabar buruk. Ibu baru mendapatkan telepon dari wali murid. Teman satu kelas kalian, kelas 4 SD Negeri Beringin I. Billy, Beni, Arka, dan Felix tidak bisa masuk dan belajar bersama kalian, mereka semua dilaporkan hilang. Sejak kemarin, mereka tidak pulang ke rumah masing-masing,” guru tersebut tampak serius..
Semua anak di dalam kelas kaget dengan berita menghilangnya empat teman mereka. Sudah pasti ada anak yang lebih terkejut. Dia adalah Eno, wajah bocah itu pucat, napasnya terasa panas, degub jantung berdetak sangat kuat seperti akan meledak. Wajahnya seketika penuh keringat dan mulut menganga lebar. Ternyata buku itu benar-benar bisa mengabulkan permintaan. Eno mencoba tenang dan mengatur napas.
Sepulang sekolah, dia mengeluarkan buku tersebut. Eno nampak cemas dan kebingungan. Senang rasanya para pengacau yang suka menindas telah lenyap. Namun, dia juga merinding menyaksikan kebenaran buku tersebut. Dia mengeluarkan pensil lalu berpikir langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
“Bagaimana kalau aku biarkan mereka menghilang selama dua hari saja. Setelah itu aku akan menuliskan di buku ini agar mereka kembali,” Eno meyakinkan diri. Dia belum membaca tulisan yang ditulis oleh kakek misterius itu. Dia membuka buku tua tersebut dan membaca yang ditulis si kakek. Ekspresi wajah Eno berubah menjadi ketakutan. Rupanya kalimat pada buku tersebut sangat mengerikan.
‘Buatlah menghilang anak-anak nakal ini. Billy, Beni, Arka, dan Felix. Kembalikan mereka ke dalam rahim ibunya masing-masing.’
Eno merinding, sungguh mengerikan nasib mereka berempat. Setelah merasa tenang, dia pergi untuk mandi. Eno menjalani kegiatan di rumah seperti biasa. Membantu ibu mencuci piring dan menyapu halaman. Sebaliknya, sang ibu juga sering merapikan kamar Eno. Kebetulan saat itu ibunya yang merapikan kamar. Malam hari Eno belajar seperti biasa dan setelah selesai langsung tidur.
Hari berikutnya sangat cerah, meski semalaman hujan lebat. Suara wanita yang sedang muntah terdengar dari kamar mandi. Ibunya Eno merasa mual, tetapi dia berpikir hanya masuk angin biasa. Sudah pukul 06.35, tapi Eno belum keluar dari kamar. Ibunya sudah menyiapkan sarapan dan memanggil berulang kali. Alhasil, ia memutuskan untuk mengecek kamar Eno. Dia berjalan menuju kamar anaknya lalu membuka pintu. Betapa kaget wajahnya, mendapati kamar Eno yang kosong dan acak-acakan. Selimut dan bantal berada di lantai. Eno tidak ada di kamar. Ke mana perginya Eno?
Kemarin, sang ibu sudah membersihkan kamar Eno dan merapikannya. Dia hanya membakar plastik bekas pembungkus gorengan dan buku jelek yang tergeletak di meja belajar Eno. Sang ibu berpikir kalau buku jelek dan kotor tersebut sudah tidak digunakan lagi, jadi dia membakarnya bersama sampah lain. Helena-Pengorbanan Terakhir. (Tercatat)
__ADS_1