Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Anjing Gila Pemecah Kode


__ADS_3

Ini sangat miris, karena aku tak bisa menceritakan semua dengan tenang. Bagaimana bisa tenang, hal paling mengerikan menimpa hidupku dan Frans. Kabar baik dan kabar buruk hadir bersamaan. Para korban yang telah mati, mengalami kerusakan pada tubuh mereka. Bahkan, Hartanti saja menjadi orang linglung. Suami Hartanti yang mati di ranjang pesakitannya, juga kehilangan kepala karena serangan dari Jason.


Memang mereka hanya mayat hidup. Termasuk mayat dari anggota Fishbone yang tewas saat melawan Frans di kapal, dan juga mayat-mayat yang menghilang dari rumah sakit. Kabar baiknya, Mockingbird berhasil dibunuh. Aku sangat bersyukur karena ternyata Mockingbird alias Mr. B bukan makhluk abadi.


Identitas asli Mr. B ternyata memang bernama Belphegor. Iblis jahat dan keji dari dalam neraka yang kelam. Nalar tak bisa menerima semua ini, melawan makhluk mengerikan yang bahkan mungkin tak ada kesempatan untuk menang.


Sedangkan, kabar buruk harus kami terima. Bahkan hatiku sangat hancur karena kenyataan pahit ini. Mr. B memang telah tewas dipenggal kepalanya oleh Jason. Namun, sebelum berhasil mengalahkan Mr. B, sempat terjadi duel yang amat sengit. Frans menantang Mr. B dengan tangan kosong. Sedangkan, Mr. B memiliki kekuatan tidak wajar. Ia bahkan mampu mengangkat batu besar tanpa menyentuhnya.


Jason yang amat mengagumi Frans, akhirnya ikut membantu. Anjing gila itu mendorong Mr. B hingga tersudut. Semakin membabi buta, Mr. B tersulut emosi dan menyerang Jason, Jason lari tunggang langgang keluar dari gua dan dikejar oleh Mr. B. Saat itu Frans sudah tak berdaya karena kakinya dihimpit batu raksasa. Kemudian, Jasonlah yang mengakhiri perlawanan. Jason membawa belati kecil dan menyerang Mr.B dari belakang. Jason berhasil menyembelih Mr. B hingga kepalanya putus. Aku berlari mengikuti Jason dan menuju tempat mereka berduel.

__ADS_1


Masih teringat jelas, bagaimana mengerikannya Jason saat ia memutus leher iblis keji itu. Iblis itu—meraung mengerikan. Namun sayang, meski kepala dari Mr.B sudah terpisah dari tubuhnya, tapi ia masih bisa bicara dan tubuhnya juga masih dapat bergerak. Kejadian itu tepat di samping gua, di tepi jurang yang kurasa memiliki kedalaman 25 meter.


Jason mengambil batu cukup besar, ia lalu menghantamkan batu itu berkali-kali ke kepala Mr. B. Hantam-hantam, dan hantam hingga remuk. Sungguh tak terduga, tubuh Mr. B memeluk Jason dari belakang tatkala Jason masih belum bisa mengatur keseimbangan badan. Mereka berdua tampak berduel lagi, meski tubuh tanpa kepala—ternyata masih punya kekuatan hebat dan seakan memiliki mata, nasib sial menimpa—mereka jatuh ke dalam jurang. Ada patahan kayu tajam yang langsung menembus dada Jason. Jason tewas seketika, tubuhnya tersangkut di patahan batang kayu yang tajam di dinding jurang. Sedangkan, tubuh Mr. B lenyap tak berbekas—awalanya menggumpal hitam seperti oli lalu sirna.


“Jason!” aku berteriak dan tak kuasa menahan air mata.


Irfan kelelahan karena melawan mayat hidup, beruntung, seketika setelah kepala Mr. B remuk, semua mayat hidup berhenti bergerak. Tinggal Pipin, Reyhan dan Teguh, mereka berdua lalu ambruk tak sadarkan diri. Yulia berhasil selamat, aku yang masih tertekan karena melihat kematian Jason, mencoba mengatur napas dan membantu Irfan melepaskan tali yang mengikat Yulia. Sungguh miris, ternyata Bu Hartanti selama ini juga telah menderita akibat ulah Mr. B. Bu Hartanti juga roboh, tubuhnya berdebum keras ke tanah gua.


“Frans!” suaraku bergetar dan serak. Aku memeluknya, wajah Frans tampak pucat, ia benar-benar lemas. “Frans.” Aku memanggilnya lagi, ia kini kehilangan kedua kakinya akibat tertindih batu raksasa yang dilempar oleh Mr. B. Kedua kakinya remuk.

__ADS_1


Selama satu bulan, Frans terus terbaring. Pasca amputasi kaki, ia menjadi lebih pemurung. Otaknya yang tajam seolah berhenti bekerja. Ia terus merasa bersalah dan tidak terima atas kematian Jason. Berhari-hari ia termenung di depan rumah dan menatap kosong.


“Aku mengerti perasaanmu, Frans. Namun Jason sudah memilih untuk melindungimu, jadi berbahagialah agar ia juga tenang.” Aku mencoba menghibur Frans.


“Helena. Apa kau tahu, nama Jason adalah nama yang ia gunakan dari sebuah permainan kata yang sering aku gunakan?” Frans berbicara dengan suara lirih.


“Maksudmu...? Jason bukan nama aslinya?”


“Ya. Dia menggunakan anagram pada namanya, karena aku sering menyusun anagram untuk membuat teka-teki ketika berada di Jogja. Nama asli Jason adalan Jonas. Jason adalah anagram sempurna untuk Jonas.”

__ADS_1


Selamat jalan Jonas....


__ADS_2