
Sekarang aku tahu, sebetulnya Yulia yang ngotot menyuruh Jason untuk membantunya, tapi Jason menolaknya. Yulia terus memaksa Jason, wanita itu mengancam akan membeberkan rahasia Jason yang telah menguntit Frans dan memberikan alat pelacak. Daripada rencananya berantakan dan Frans membencinya, akhirnya Jason hanya bisa menuruti Yulia. Sebetulnya Jason tidak tega kalau membiarkan Frans pulang dalam kondisi seperti itu.
Jason sudah tak peduli dengan ancaman Yulia. Ia justru membeberkan semua fakta kepadaku secara gamblang, dan kini aku tahu siapa Yulia itu—wanita licik!
Setelah Yulia keluar dari rumahku, dia sebenarnya menuju ke rumah sakit dan menemui Frans. Rencana mereka benar-benar kurang ajar. Aku lebih marah ketika tahu kelakuan Yulia yang membuatku ingin membunuhnya. Setelah Irfan dan Agung pergi bersama Jason. Yulia masuk ke kamar Frans dan langsung berlari ke arahnya. Dia memeluknya! Tidak! Bahkan lebih dari itu.
Bagaimana aku tahu cerita ini? Jason yang memberitahukan rencana tersebut kepadaku, si bodoh Frans juga menceritakan apa yang terjadi saat dia kabur dari rumah sakit bersama Yulia. Jason mengungkapkan semuanya setelah Frans berada di rumah karena aku kembali menghubunginya. Seketika itu juga, aku murka kepada Yulia.
Yulia memeluk Frans sambil menangis dan meminta maaf. Frans kebingungan melihat wanita itu, ranjang rumah sakit tempat Frans berbaring berdecit. Beruntung tidak membuat luka jahitan pada kaki Frans terbuka lagi. Yulia saat itu menyatakan semua isi hatinya.
Sebenarnya aku sangat berat untuk menuliskannya, tapi mau bagaimana lagi. Yulia menangis tersedu-sedu sambil membelai Frans. Si ****** Frans hanya melongo kaget dengan kelakuan wanita brengsek itu. Kenapa aku menyebut Yulia brengsek? Ya! Karena aku tidak terima, aku cemburu mengetahui hal pahit itu. Pahit bagiku tapi manis buat Yulia. Dengan sembrononya dia mencium bibir Frans. Mereka berciuman di kamar rumah sakit dengan cara licik yang dilakukan Yulia.
Setelah dia sampai rumah, Frans ingin aku menemaninya di kamarnya. Aku bergegas menuju rumahnya, aku sudah tahu apa yang terjadi di rumah sakit kenapa dia bisa pulang bersama Yulia. Setelah Yulia pamit, aku kembali ke atas menemui Frans.
“Apa yang kau lakukan ini sungguh keterlaluan, kondisimu belum begitu baik,” ucapku dengan nada tinggi.
“Bukankah ini kemauanmu? Kau yang menyuruh Yulia untuk membawaku pulang, bukan?”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Yang jelas kau harus kembali ke rumah sakit! Aku akan menghubungi Jason, kelakuanmu benar-benar sembrono!”
“Aku tidak mau. Harusnya aku yang memarahimu, kau lebih sembrono. Kenapa kau menyuruh wanita itu memperkosaku!”
“Hah?” aku terkejut mendengar apa yang Frans ucapkan. “Kau bicara apa? Aku tidak mengerti sama sekali.”
“Yulia menangis di rumah sakit, dia bilang mencintaiku dan menciumku.”
Wajahku langsung memerah ketika mendengar apa yang diceritakan Frans. Aku tidak memercayainya, karena kupikir itu lelucon yang dibuat Frans untuk mengerjaiku. Aku mendekat ke arahnya.
“Benarkah itu, Frans?”
“Bodoh kau, Frans! Aku tidak tahu sama sekali hal itu!”
Aku meninggalkannya sendirian di kamar. Hatiku rasanya panas, dadaku ingin meledak mendengar kejadian yang baru saja dialami Frans. Kenapa dia justru menuduhku seenaknya. Aku mencoba menenangkan diri, meski perasaanku masih tidak karuan. Setelah itu aku menghubungi Jason untuk memberitahunya bahwa Frans sudah keluar dari rumah sakit dan sampai rumah. Kuharap Jason bisa membawanya kembali lagi ke rumah sakit agar Frans bisa dirawat di sana. Namun tidak seperti yang kuharapkan, justru jawaban yang kudengar dari Jason membuatku tambah sakit. Dia justru kembali menceritakan tentang Yulia yang memang menyukai Frans.
Kepalaku terasa mau pecah setelah mengetahui semua ini. Frans malah menuduhku yang melakukan rencana ini. Kau pikir aku rela melakukan semua itu? Dengan menyuruh Yulia untuk menggodamu saja tidak pernah terbesit dalam otakku. Aku juga mencintaimu, Frans!!
__ADS_1
Kuputuskan untuk kembali ke kamarnya, akan kuceritakan tentang kebenaran sesungguhnya. Aku tidak sudi Frans menganggapku sebagai orang yang menyuruh Yulia untuk membawa pulang Frans. Kenapa sekarang jadi runyam seperti ini. Mungkin inilah sebabnya Frans tak pernah melibatkan perasaan dalam pekerjaan yang ia jalani. Frans memang bodoh dan seperti robot—ia tak punya hati—pikirku. Baginya, sudah pasti perasaan dan logika tak boleh bercampur. Semua memang jadi berantakan saat perasaan menguasai pikiran dan hal logis pun jadi tersudut bila telah melibatkan hati.
Setelah sampai di kamarnya, aku terdiam sejenak dan duduk di samping Frans. Dia masih meringis sesekali menahan nyeri yang dirasa—beberapa kali membetulkan posisi bantal dan mendengus. Ia melirikku sebentar lalu kembali memasang wajah kecut karena posisi berbaring mungkin kurang nyaman. Walau mungkin lukanya sudah mendingan, karena sudah satu bulan berlalu. Ototnya masih lemah, dia belum bisa menapakkan kaki dengan normal untuk berjalan. Harus dipapah atau pegangan pada tembok, sebenarnya Jason belum mengizinkan Frans untuk melakukan aktivitas seperti berjalan tanpa tongkat.
“Maafkan sikapku tadi,” aku memulai percakapan. “Sebetulnya, yang menyuruh Yulia untuk membawamu pulang bukan aku, tapi itu semua rencananya sendiri. Yulia dan Jason sudah saling mengenal, jadi mereka bekerjasama untuk mendapatkan hatimu.”
Frans menautkan kedua alisnya dan menatapku. “Tahu dari mana?” tanya Frans.
“Jason yang memberitahukan padaku. Tidak mungkin aku menyuruh Yulia untuk menggodamu! Sekarang apa yang ingin kau lakukan? Kau senang, bukan? Karena dia menciummu.”
Aku tidak tahu lagi apa yang kukatakan. Semua keluar begitu saja dari mulutku tanpa bisa aku hentikan. Frans semakin bingung mendengar ucapanku. Aku sebenarnya kasihan melihat wajahnya kebingungan seperti itu. Mau bagaimana lagi, hatiku terasa membara. Aku melangkahkan kakiku ke samping ranjang Frans. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutku. Tanganku bergerak sendiri, mengusap dahinya. Lalu kukecup bibirnya, dia terkejut dengan apa yang kulakukan.
“Apakah Yulia lebih membuatmu tertarik, Frans? Aku juga telah jatuh hati padamu.” aku bertanya dengan wajah murung.
“Tinggalkan aku sendiri. Aku jadi bodoh karena kelakuan wanita seperti kalian yang membuatku bingung.” Frans melenguh. Ia mungkin kebingungan kenapa ada dua wanita dengan liar memberikan ciuman padanya.
“Kenapa kau membiarkannya. Harusnya aku yang memiliki ciuman pertamamu. Baiklah, selamat istirahat.”
__ADS_1
Aku pergi meninggalkan Frans terbaring sendiri di dalam kamarnya. Frida baru pulang dari kampus, ia menyapaku seperti biasa dan langsung masuk kamar, katanya hanya ada satu mata kuliah.
Aku menuju dapur untuk mengambil minum mencoba menenangkan perasaanku yang masih berkecamuk memikirkan tingkah Yulia yang seperti iblis. Itulah cerita bagaimana Frans kabur dari rumah sakit. Secerdas apa pun laki-laki, dia akan menjadi bodoh saat menghadapi dua wanita yang mencintainya. Kuharap dia masih tetap waras—walau aku jadi sedikit kasihan padanya.