
Author: Halo! Semoga sehat semua. Ada pengumuman bagi yang mengikuti cerita saya. Terima kasih telah membaca dan memberikan apresiasinya. Kali ini izinkan saya memberitahukan sebuah info, bahwa saya telah merilis cerita baru, bergenre misteri dan psychological, cerita ini berjudul Theater of Mind, bisa dibaca di Noveltoon dan jangan lupa berikan komentar kalian. Berikut blurb dari cerita saya dan bab satu.
BLURB:
... tangannya tercengkeram erat, ditarik sangat cepat dan mengerikan.
Bibirnya terbelah terkantuk tunggul pungur, garpu itu masih menancap di bola mata sebelah kanan ... mengerang, semakin lirih tenggelam bersama derau hujan ...
Lantas, pria itu mengangkat linggis tinggi-tinggi, dandanan gotiknya terlihat dingin bagai serigala bermata merah dari lembah kegelapan.
Fara selalu kesal karena memiliki kepala dan ia tidak ingin terlahir ke dunia ini, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat ia berbeda dengan orang normal. Fara berjibaku dengan pikiran sendiri untuk mengatasi tragedi dan kejadian tak masuk akal dalam kehidupannya—bahkan berimbas pada orang-orang sekitar.
Ia berjuang menyelamatkan rekan-rekannya dan keluarga. Sebuah panggung penuh jebakan, kelam, dan membuat bergidik telah menguasai dirinya.
Teater mimpi bernuansa mencekam hadir dalam keheningan, bermula tanpa permisi dan menghapus semua cahaya dalam dirinya. Ia menjadi sutradara yang kepayahan karena semua yang terpikir oleh Fara akan menjadi bumerang. Fara merasa terkutuk dan diliputi hawa suram.
Kisah dimulai, meski hanya bermodal perasaan nekat—melawan sikapnya sendiri yang pemalu, kaku, dan tak suka berteman, bisakah Fara menjadi manusia normal dan menjalani kehidupan sendiri di panggung teater yang layak?
Copyright © 2020 by Dewo Pasiro
All rights reserved
Sampul by Canva free.
Bab Satu
Aku membayangkan, bahwa Tuhan telah menjelma dalam dirimu dan ada hal yang tak bisa kau kendalikan sendiri.
—Teater Mimpi
Ia membuka mata—lantas menatap tajam ke arah Sarah. “Aku peka terhadap sekitar—suasana ganjil seperti ini.”
Sarah mengusap dahi, lembab karena keringat, di dekat api unggun yang menjilat-jilat ganas, empat pemuda-pemudi itu tengah sibuk menyimak perkataan Fara yang penuh belitan—susah dicerna, rambutnya yang dikucir bagai ekor kuda melambai-lambai tiap kali Fara menggerakkan kepala. Fara mendengus dan menunggu respons dari keempat temannya. Dua tenda di belakang mereka terpapar sinar api—berkilau bak sepuhan emas meski kedua tenda itu berwarna biru. Angin dingin sesekali membelai wajah dan tengkuk, kemudian sensasi hangat berkat api unggun kembali membalut permukaan kulit wajah—tak terlalu dingin untuk malam ini, pikir Fara.
Api unggun menatap hampa, mengejek, menari dengan tarian menjengkelkan dan seakan lidah-lidah api berusaha ******* kulit. Mengapa aku terus menatap hampa ke api unggun sialan ini, Fara membatin.
Masih tak ada jawaban dari teman-temannya. Sarah yang duduk bersila tepat di depan Fara, justru menoleh menatap Dhea, gadis polos yang memakai kacamata berbingkai keperakan. Dhea menautkan alis dan menggeleng empat kali—seirama, ia juga tak paham seperti Sarah. Sarah kembali mengalihkan pandangan kepada Fara dan menatap lekat-lekat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan dengan cepat—kabut tipis keluar dari mulut Sarah seperti uap dalam cerek saat menjerang air. “Apa maksudmu?” ucap Sarah.
“Ada hal yang akan terjadi di masa mendatang dan selalu sama persis dengan apa yang kubayangkan,” ujar Fara—ia semakin serius.
“Hei! Jangan buat suasana jadi menegangkan, dong! Kita sudah sepakat, kan? Bahwa untuk kemah kali ini tidak boleh ada cerita menyeramkan atau apapun itu yang membuat suasana hati jadi rusak. Ayolah! Berpikir positif apa susahnya, Fara!” celetuk Ihsan. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam, rambut bergelombang—hidungnya bangir dan berbibir tipis. Suaranya nyaring seperti simbal ketika ditabuh, dan akan membuat siapa pun lawan bicaranya terngiang-ngiang dengan suara tenornya. Ia bertubuh sedikit gempal, pria itu yang paling jorok di antara lainnya—menggosok gigi satu minggu hanya dua kali dan anehnya ia adalah orang yang tak pernah terkena masalah sakit gigi.
__ADS_1
“Benar. Ini perkemahan tutup tahun yang sepakat kita jalani—jangan jadikan kemah ini ajang untuk berbagi cerita menyeramkan,” Bagas menimpali.
“Nah. Benar yang dikatakan dua pria itu. Bagaimana kalau kita menyanyi atau membakar sesuatu—ah, aku ingat, masih ada jagung manis. Bagaimana kalau kita bakar jagung saja?” Sarah bersungut-sungut.
Bagas berdiri—tubuhnya jangkung, ia pria dengan postur tubuh paling atletis, model cukuran rambut cepak dan bisepnya besar—kekar—pasti perutnya kotak-kotak dan ketika ia bertelanjang dada akan membuat wanita-wanita pemuja keindahan fisik ngiler dan tak berkedip. Oh, jadikan aku suamimu, marilah menari denganku, Bagas tampan sekali, pangeranku, semailah cinta suci untuk diriku, kata-kata para gadis yang mabuk kurang lebih akan seperti itu.
“Aku akan mengambil jagungnya—diletakkan di mana, ya?” Bagas menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu dan ada daunan kering tertempel di celana.
Ihsan ikut beranjak bangun, “Aku ikut. Akan kubantu membawa piring lebar, margarin, dan kecap.”
“Di dekat ransel merah—plastik putih dan sekalian tolong bawakan botol berisi soda.” Sarah menyahut sambil melempar ranting kecil ke arah api unggun.
Sarah yang paling cantik di antara tiga wanita itu. Bulu mata lentik, bibir kemerah-merahan, pipi mulus dan kulit seputih susu membuatnya selalu percaya diri. Tubuh Farah juga sintal, dengan postur yang cukup tinggi bak model papan atas, rambutnya lurus berkilau dan sangat lembut.
Dhea membetulkan kacamatanya—ia gadis paling polos dan pendiam. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan ia adalah kutu buku yang cukup susah untuk diajak bergaul—penyendiri paling membosankan karena selalu menghabiskan waktu untuk membaca.
Sedangkan, Fara adalah gadis paling aneh dan lebih kikuk daripada si kutu buku Dhea. Fara memiliki tahi lalat yang tidak terlalu besar di atas bibir, dan tatkala ia tersenyum maka dekik di pipi kiri juga tampak mempercantik wajah orientalnya. Ia gadis yang cukup canggung dan jarang bisa berbicara leluasa di depan banyak orang—kecuali di depan teman dekatnya saja—meski ia selalu menganggap tak punya teman dekat.
Fara menatap teman-temannya yang sibuk membakar jagung, mengipasi, meracik bumbu, menuangkan soda ke gelas plastik, saling terkikik, dan pukulan-pukulan kecil kerap ia saksikan, terutama Sarah yang aktif dan kadang kesal karena keisengan Ihsan. Sesekali Bagas juga tergelak sambil sesumbar perihal kehebatannya dalam membuat banyak wanita takluk padanya.
“Untung aku temanmu! Jadi masih ada wanita yang tidak akan bisa kau taklukan, yaitu kami bertiga, bukan begitu, Dhea, Fara!?” Sarah menatap ke arah Fara dan Dhea secara bergantian.
“Ugh? Ah, iya.” Sahut Fara singkat dan ia kembali menatap api unggun. Sedangkan Dhea hanya mengangguk dan membisu.
“Dasar buaya!” celetuk Sarah sinis. “Ini kuasnya, lekas oles dan gantian dengan yang lain.”
Fara masih terdiam dan ia menekuk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di antara lutut dan tangan ia gunakan untuk tumpuan dagu.
Sarah menatap Fara dengan penuh perhatian. “Aku buatkan sekalian untukmu, kau mau?”
“Em. Terima kasih.” Fara menoleh dan hanya mengedipkan mata, walau terpaksa karena ia masih kenyang, lagi pula jagung bakar tidak membuatnya bernafsu makan. Kenapa aku harus masuk ke dalam pergaulan ini—apa pelabelan makhluk sosial tak bisa dihilangkan lantas beri saja label makhluk penyendiri untuk semua orang. Mengapa pula ada yang namanya pertemanan, Fara melenguh panjang lalu memijit kening sejenak.
“Fara,” Dhea tiba-tiba memanggil.
Dengan tatapan sayu Fara mengangkat wajah. “Iya. Ada apa?”
“Temani aku buang air kecil,” Dhea berbisik ke telinga Fara.
Dengan enggan Fara menyanggupi permintaan Dhea. Mereka berdua berdiri dan melangkah ke arah selatan meninggalkan ketiga temannya yang tengah sibuk membakar jagung. Fara pamit pada Sarah.
“Lekas kembali, jagungmu sebentar lagi matang.”
“Ya. Hanya sebentar—hanya menemani Dhea buang air kecil,” sahut Fara.
__ADS_1
Satu senter cukup, lagi pula langit cerah dan cahaya rembulan sangat terang. Dhea berjalan cukup cepat karena sudah tak tahan buang air kecil. Mereka berdua melintasi deretan pohon jati dan memasuki sederet pohon mahoni yang cukup besar. Gemercik air sungai sudah terdengar, air bergolak cukup hebat dan menghantam batu-batu kali.
“Aku sudah tak tahan!” Dhea langsung berlari meninggalkan Fara. “Tunggu di situ,” komando Dhea.
Fara maju empat langkah lalu bersandar pada batang pohon. Ia menunggu Dhea yang tengah buang air kecil. Tak berlangsung lama dan Dhea sudah mendekat dengan wajah penuh kelegaan.
“Ah! Maaf membuatmu menunggu. Kau tidak buang air kecil sekalian?” tanya Dhea. Kacamatanya berkilau terpapar sinar rembulan yang mengintip dari dahan-dahan rimbun pohon hutan dan menyinari beberapa semak belukar.
“Tidak. Lebih baik segera kembali.”
Mereka lantas berjalan beriringan untuk menuju ke tenda.
“Baiklah. Omong-omong, tadi saat kau tiba-tiba berkata peka terhadap sekitar, apa maksud dari perkataanmu itu?” mendadak Dhea membahas hal tersebut.
Fara memperlambat langkahnya. “Aku bermimpi—tidak, aku membayangkan sesuatu. Sesuatu yang mengerikan kerap terbayang di dalam kepalaku dan terlintas begitu saja.”
“Membayang...membayangkan hal mengerikan?” Dhea mengerutkan kening.
Langkah mereka menginjak daun-daunan kering yang berserakan di tanah hingga timbul suara menggerisik dan menjadi pengiring dalam percakapan.
“Ya. Aku tadi berpikir saat kita sedang kemah, kita menjumpai seorang pembunuh berantai dan menyerang kita, dalam gambaran di pikiranku itu—aku membayangkan jika sang pembunuh berhasil menghabisi Ihsan.”
Sesaat setelah mengatakan itu, mendadak sontak raut wajah Fara berubah jadi kaget, ia menghentikan langkah, jantungnya berdentam-dentam hebat. Angin malam berembus menerpa wajahnya dan ia melotot serta napas tiba-tiba memburu.
“Hei! Ada apa?” Dhea kebingungan, ia berhenti dan menggoyang-goyangkan pundak Fara.
“Sama persis. Ini sungguh mirip dengan yang kubayangkan tadi. Aku ingat, dalam ingatan tadi kita pamit untuk ke sungai karena kau akan kencing. Ingatan selanjutnya, yang tepat terjadi sekarang, aku berhenti dan kau memegang pundakku dan menggoyang-goyangkan badanku—ini sama persis. Déjà vu! Benar sekali! Aku mengalaminya.”
“Hah!? Jangan bergurau. Sudahlah, kau ini suka sekali melantur.” Dhea menurunkan tangan dari pundak Fara.
“Tidak! Segera kembali ke tenda sekarang juga.” Fara membalikan badan lantas berlari sangat cepat.
Dhea mematung sejenak, ia masih kebingungan dan bergegas mengejar Fara yang berlari seperti dikejar anjing rabies. Permukaan tanah berdebum-debum tatkala dua wanita itu berlari menyusuri jalanan setapak dan melompati semak belukar, menginjak ranting-ranting kering dan menimbulkan bunyi bekertak, dengan napas terengah-engah mereka sampai di tenda.
“K-kenapa kau ... kenapa kau lari seperti itu?” Dhea berusaha mengatur napas yang putus-putus.
“Kita berlari menuju tenda dan mendapati hal mengerikan. Itulah yang kubayangkan. Ihsan telah tewas dengan leher tersembelih, Bagas babak belur dan dibawa oleh si pembunuh, sedangkan Sarah bersembunyi di semak-semak—ia terus menahan napas dan sambil menangis ketakutan. Di sana—lihat tubuh tergeletak itu.”
Dhea menyorotkan cahaya senter ke arah yang ditunjuk Fara. Ditambah dengan bantuan api unggun, sosok tubuh yang tergeletak di dekat api membuat Dhea melotot. Jantungnya langsung bertalu-talu, nadinya seolah berhenti dan ia lemas seketika. Mayat Ihsan tergeletak dan lehernya menganga lebar—darah kental tampak jelas karena tersorot sinar senter. Dhea menatap Fara. “Apa yang terjadi. Mengapa kau bisa tahu semuanya?” ucapnya dengan suara serak, Dhea gelayaran—ia jatuh terduduk di tanah.
Fara menoleh dan menatap Dhea yang duduk di dekat kakinya. “Ini kutukan! Ini adalah hal mengerikan yang kerap kualami. Aku kerap gagal dan tak bisa mengendalikan pikiran negatif, makanya aku menjadi pemurung serta jarang berbicara dengan banyak orang. Teater, sebuah pertunjukan yang ditampilkan oleh pikiranku terkadang menjadi kenyataan. Ada panggung mengerikan dan sutradaranya adalah aku sendiri.” Fara berjongkok dan duduk di samping Dhea yang ketakutan setengah mati. []
Silakan baca lebih lengkapnya di Noveltoon, ya. Terima kasih.
__ADS_1