Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Verdwijnen 2


__ADS_3

Aku langsung berteriak memanggil Frans yang sedang di dalam kamar mandi. Aku katakan semua yang kulihat, Hartanti, klien yang baru saja menemuinya, kini diculik orang. Pagi-pagi sudah dapat masalah, hidup Frans benar-benar penuh kejutan. Setelah disekap oleh kawanan penjahat. Kini dia harus berurusan dengan penculik lagi. Jantungku berdentam hebat, rasanya sudah tak sabar akan seperti apa petualangan kali ini. Meski sebenarnya aku kadang sedikit risau, gamang melakukan pekerjaan seperti ini—tetapi mau bagaimana lagi, sudah risiko diriku menjadi kolega Frans yang menyebalkan itu.


Beberapa saat kemudian dia membuka pintu kamar mandi lalu langsung berlari menuruni anak tangga. Mataku nyaris melompat keluar, apa yang kulihat? Frans hanya menggunakan celana pendek. Dia memang sudah memakai kemeja, meski handuknya masih dikalungkan di lehernya. Bodohnya dia, memakai celana pendek ketat di hadapan seorang perempuan. Aku menahan tawa meski akhirnya tersenyum malu.


“Cepatlah! Kita kejar penculik itu, siapkan mobil! Kau lihat pelat nomornya apa tidak?”


Aku yakin wajahku merah padam. “Kau mau mengejar mereka tanpa memakai celana? Sayang sekali aku tidak lihat nomor pelatnya.”


Ia menunduk memandangi tubuh bagian bawah lalu melotot. “Huah! Celanaku hilang!” Frans semakin membuatku tersenyum saat melihat wajah bodohnya.


“Dasar! Kau memang belum memakai celana.”


“Iya-iya, siapkan mobil! Aku akan mengambil celana dulu.” Frans kembali menaiki anak tangga. Derap langkahnya yang tanpa alas kaki berdebum-debum kala ia berlari menaiki anak tangga.


Aku menyiapkan mobil seperti intruksi dari Frans. Meski wanita begini, aku jago menyetir. Mobil sudah kukeluarkan dari garasi. Frans muncul sambil berlari, ia masuk mobil dan aku langsung tancap gas menuju perempatan mengikuti arah mobil jeep tadi pergi. Setelah di perempatan, kami tak tahu harus ke arah mana, Frans membuka catatan kecil dari saku celananya.


“Belok kiri!” dia memerintahkan.


Aku banting stir menuruti kata-katanya. Entah apa yang ia baca, mungkin alamat yang diberikan oleh Hartanti. Jalanan sudah penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Saat jam kerja, kota besar ini benar-benar memuakkan. Jalanan seperti tidak memiliki celah.

__ADS_1


“Kita mau ke mana? Mobil jeep tadi tidak nampak di depan.”


Frans tetap fokus, “Ikuti saja petunjukku. Nanti kau akan tahu sendiri.”


Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menurut. Daripada berdebat lebih baik aku percaya dengannya. Semoga saja bisa menemukan petunjuk, mengingat penalaran Frans dan argumennya yang lebih sering akurat. Aku merasa hidupku benar-benar konyol semenjak bertemu dengan Frans. Selain bekerja dengan sukarela, dia lebih sering menolak imbalan. Dia juga kadang lupa memberikan gaji kepadaku. Setiap kali dia lupa, aku akan menginap di rumahnya sampai dia ingat kalau aku belum mendapat komisi dari hasil pengorbananku. Seringnya dia sadar kalau Frida yang mengingatkan.


Menjadi detektif swasta benar-benar menyebalkan. Klien datang hanya sebagai pelarian atau alternatif jika kepolisian tidak bisa mengusut kasus yang mereka alami. Aku sebenarnya juga punya pekerjaan lain. Mungkin penghasilannya lebih menguntungkan daripada menangani suatu kasus yang harus memutar otak, bahkan harus bertaruh nyawa. Aku menjalankan bisnis daring dan membuka butik dirumahku. Beruntunglah meski tidak selalu ramai, tapi bisa menambah pemasukan.


Hal paling menyebalkan ketika menangani kasus yaitu saat aku harus bekerjasama dengan kepolisian. Aku sejak kecil tidak suka polisi. Peduli setan! Orang-orang kepolisian banyak yang semaunya dan keras kepala. Pengalaman pahit pernah aku alami karena ada oknum polisi yang melecehkanku. Polisi ******* tersebut benar-benar merendahkan harga diriku. Meski tidak semua polisi begitu, tapi kebanyakan memang begitu.


Selain pelecehan yang aku alami, kejadian bodoh lainnya juga pernah aku dapatkan. Aku sedang melintas di jalan raya menggunakan mobil, tiba-tiba suruh berhenti oleh seorang polisi. Entah itu polisi gadungan atau bukan—yang jelas itu polisi Indonesia, dia menilangku meminta sejumlah uang tanpa bisa memberi penjelasan apa salahku, apa yang telah aku langgar. Aku bertanya padanya untuk menjelaskan, dan aku juga meminta surat tugas serta surat tilang. Katanya tidak ada, lalu membiarkanku lewat begitu saja. Aku memakinya sepuasku! Bayangkan saja betapa bodohnya dia.


“Frans, semoga kasus ini dapat kita pecahkan tanpa campur tangan kepolisian. Biar polisi menangkap pelakunya di akhir, tanpa ikut menyelidiki.”


“Semoga saja kita berdua bisa menyelesaikan.”


Jawaban Frans terdengar datar, mungkin dia bersimpati dengan kasus yang pernah kualami karena polisi. Semoga saja masa lalu itu tidak mengganggu penyelidikan kali ini.


Frans menunjuk ke kiri, dia menyuruhku belok ke arah gang di depan. Jalan yang kecil, hanya cukup untuk satu mobil dan satu motor. Lurus saja kata Frans, aku menurutinya. Rasanya bagaikan menjadi sopir pribadi, enak sekali hidupmu, Frans, batinku.

__ADS_1


Mobil sampai di ujung jalan yang lebih sempit, tidak bisa lagi untuk menerabas masuk. Ada hal mengejutkan yang kami temukan. Di samping rumah gubuk ada mobil jeep yang terparkir. Halamannya masih tanah, terlihat bekas ban yang melintasi. Kami ke luar dari mobil dan menuju rumah tersebut. Aku yakin, itu adalah mobil jeep yang membawa Hartanti tadi.


“Kenapa kau bisa tahu kalau mereka ada di sini?” aku bertanya penuh keheranan.


Sambil berjalan, Frans mengeluarkan kertas kecil tadi. “Ini detail alamat rumah Bu Hartanti, dia yang memberikan padaku tadi.”


“Lalu mereka siapa?” tanyaku keheranan.


“Akan kita cari tahu sekarang.”


Kami berjalan pelan dan sedikit merunduk. Merapat pada tembok beton yang cukup tua dan berlumur, mentari mulai sangat tinggi dan gang-gang tampak banyak di sekitar rumah gubuk itu. Jarang rumah gubuk di zaman seperti sekarang, ini pertama kali aku jumpai rumah gubuk itu. Kelam, tenang, seakan isi rumah itu telah tak dihuni. Kini mulai terdengar suara ayam berkokok dan beberapa nyanyian burung.


Frans berjalan sekitar setengah meter di depanku, sampailah kami di pelataran rumah yang tak terlalu luas. Tanahnya ditumbuhi rerumputan pengganggu. Rumah gubuk itu bercat putih dan sudah mulai luntur—mungkin bukan cat kayu atau cat dinding berharga mahal yang digunakan, tetapi labur—kapur tembok, gentingnya terlihat ada yang melorot beberapa.


Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara teriakan seperti orang kesakitan. Suara itu begitu keras, bagaikan lolongan serigala. Sungguh teriakan yang penuh derita, pertama-tama terdengar sangat keras beberapa detik, tetapi perlahan melirih dan menjadi erangan-erangan yang semakin membuat bergidik kala mendengarnya. Frans langsung terkejut.


“Suara apa itu, Frans?”


Ia menggeleng. “Manusia, mungkin suami Hartanti. Kita akan cek sekarang juga.” Ia bersiap lari menghampiri rumah itu karena hanya berjarak beberapa meter saja. Ada kejadian apa di dalam rumah itu? Aku sama sekali tidak bisa menebak, semoga tidak terjadi hal buruk.

__ADS_1


__ADS_2