Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Rahasia Besar


__ADS_3

Awan-awan kelabu berarak perlahan ke utara. Aroma tanah basah dan bunga kamboja membuatku menahan untuk bersin. Beberapa pelayat masih ada yang di area pekuburan. Hari ini pemakaman Agung telah dilaksanakan. Duka masih menyelimuti keluarga serta rekan-rekannya. Agung yang ditemukan tewas, begitu menyesakkan dadaku. Pertama kali dia datang menemui Frans saat Frans telah menerima kasusnya Hartanti. Sampai saat ini keberadaan Hartanti juga belum terdeteksi. Irfan yang statusnya baru lulus SMA juga mulai panik karena kematian Agung.


Setidaknya kita beruntung karena ada Irfan yang ahli bela diri, Jason yang juga cerdas dan mengerti tentang medis. Yulia yang menurutku menjengkelkan ternyata juga punya pemikiran yang cukup cerdas. Ditambah sekarang ada pria tua kenalan Frans yang dijuluki Mockingbird. Setidaknya masih ada orang hebat di dalam Tim D.


Hasil autopsi yang didapat dari jasad Agung. Menjelaskan kalau kematiannya memang murni dibunuh. Tidak ada perlawanan, diperkirakan pelaku yang menyerang hanya satu orang. Organ vital Agung rusak karena tertusuk di bagian dada sebelah kiri. Kulitnya ada yang lecet karena diseret oleh pelaku saat Agung sekarat.


Mengenai pria tua yang baru saja muncul, ternyata dia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Frans. Julukan yang melegenda di kalangan kepolisian seolah membuatku ingin mengorek semua informasi tentangnya. Mockingbird begitu aneh, di negara seperti ini tidak mungkin ada nama burung seperti itu.


“Frans. Siapa pria tua itu?” aku bertanya sepulang dari pemakaman Agung.


“Dia yang mengajariku banyak hal. Dulu aku sempat kabur dari rumah saat masih SMP. Dialah yang menampung saat aku jadi gelandangan. Namanya Tn. Sam—Samuel Soedibyo.”


“Kau? Kabur dari rumah? Dasar gembel.”


“Ya.”


“Lalu kenapa dia dipanggil Mockingbird?”


“Coba perhatikan wajahnya. Dia memiliki mata seperti burung tersebut, bulat, kecil dan mulutnya sedikit njadur. Bibirnya lebih panjang bagian atas. Dia suka sekali mengolok-olok rekan kerjanya bahkan orang asing yang baru dia jumpai. Dia memberiku beberapa nama panggilan seperti udang rebon dan kelinci botak.”


Setelah kutelusuri arti nama tersebut, itu adalah jenis burung yang ada di Amerika Utara. Bahkan di Eropa saja sangat jarang, apa lagi di Indonesia. Jenis burung ini merupakan burung yang memiliki kecerdasan. Dia bisa mengingat manusia yang mengusiknya, dan memiliki banyak nyanyian yang merdu hingga disebut si peniru bahkan burung pengolok.

__ADS_1


“Jadi begitu. Apakah dia memang benar-benar hebat?”


“Tentu. Sayang, mulutnya sangat pedas kalau bicara. Kau tahulah, dia juga berotak mesum.”


“Hih. Akan kucongkel dua bola matanya kalau macam-macam padaku.”


Frans terkekeh mendengar ucapanku. Ternyata pria tua itu memang memiliki kharismatik sendiri di mata Frans.


Singkat cerita, Jason telah menyusun semua dokumen selama penyelidikan sesuai yang diperintahkan Frans. Kini Frans mulai menerima Jason sebagai rekan kerja. Namun, ada hal yang mengejutkan diriku. Pria tua bernama asli Samuel Soedibyo tersebut menemuiku. Dia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Pikiranku tentu menjadi was-was, bisa saja dia ingin melakukan hal-hal cabul. Dasar kakek cabul, akan kuhajar sampai ****** kalau kurang ajar.


Siang itu, dia memintaku datang ke sebuah restoran kecil. Dia ingin membicarakan beberapa hal tentang Frans. Aku sangat penasaran, hal apa yang ingin dia bahas tentang Frans. Aku pun datang memenuhi permintaan Si Mockingbird tersebut. Aku berjalan menaiki selasar depan restoran kemudian menyisiri deretan kursi di sebelah selatan. Mataku memandang sekeliling, sejenak berhenti dan memutar badan untuk mencari Mockingbird. Kondisi restoran lumayan sepi, hanya ada beberapa pelanggan. Di sudut timur, ternyata ia duduk sendiri dan sudah memesan dua cangkir espresso.


“Maaf kalau pesan minuman sembarangan. Semoga kau suka.”


“Begini. Kau asistennya Frans, bukan?” ia mulai membuka pembicaraan yang sepertinya akan berjalan cukup serius.


“Ya. Bisa disebut begitu—saya bekerja untuknya.”


“Ada hal penting yang harus kau ketahui.” Raut wajahnya semakin serius.


“Hal apa itu, Pak?” aku mencoba sopan dengan pria tua itu.

__ADS_1


Sorot matanya memang datar, tapi wajahnya menggambarkan ketegasan. Bibir atas memang lancip, mungkin itu sebabnya dia suka mengolok-olok. Aku membenarkan posisi duduk, meletakkan kedua tanganku di atas meja lalu memasang telinga baik-baik. Si Mockingbird menarik napas dalam-dalam. Brewok lebat membuat tatapannya semakin tajam. Mungkin malah lebih mirip tatapan elang dibandingkan mockingbird.


“Kau mengenal Frans sejak kapan?” ucapnya.


Aku pura-pura mengerutkan kening, seolah mengingat saat pertama kali bertemu Frans. “Saya mengenalnya saat memasuki dunia perkuliahan. Dia adalah kakak tingkat saya.”


“Begitu. Sebenarnya—ini adalah rahasia yang selama ini kusembunyikan. Bahkan orang tuanya tidak mengetahui tentang ini. Sebenarnya... Frans yang selama ini kau ikuti, memiliki sesuatu yang lain—”


“Maksud Anda? Maaf. Sebelumnya, apa Anda memiliki hubungan dengannya?” aku memotong ucapannya, dan bertanya seolah belum mengetahui hubungannya dengan Frans di masa lalu.


“Aku berniat membantumu, dan juga Frans. Kami sempat tinggal bersama selama beberapa tahun. Bocah itu kutemukan saat diriku masih menikmati masa-masa sebagai seorang detektif. Dia kabur dari rumah karena bertengkar dengan orang tuanya. Ketika itu—aku masih menetap di Jogja.”


“Jadi begitu. Anda ingin membantu kami, memangnya apa yang ingin Anda sampaikan?”


Aku berusaha bersikap wajar agar pembicaraan ini tidak terlalu kaku. Sebenarnya ini kulakukan untuk menghindari hal-hal negatif yang mungkin saja akan dilakukan kakek cabul tersebut. Wajar saja, aku hanya sendirian datang menemuinya.


“Ketika aku tinggal bersama bocah itu. Dia awalnya memiliki sifat seperti bocah normal pada umumnya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari ada yang aneh dari Frans. Suatu malam, aku terbangun dan ingin ke toilet. Ketika melewati ruang tengah, aku bertemu dengan Frans. Dia berdiri di depan televisi menatapku dengan tatapan aneh. Aku menanyakan padanya kenapa belum tidur. Dia hanya tersenyum kepadaku, senyumannya sangat dingin dan menakutkan.”


“Saat aku kembali dari toilet, Frans telah berpindah posisi—duduk di sofa. Aku naik ke atas, kebetulan kamar Frans berada di tikungan dekat tangga. Sedangkan kamarku berada di ujung lorong. Saat aku menaiki tangga dan sampai depan kamarnya, pintu kamar Frans terbuka. Aku melongok ke dalam, rupanya Frans juga tertidur di atas ranjangnya. Aku langsung tersadar, bukannya tadi Frans masih di ruang tengah? Seketika itu juga aku berlari menuruni anak tangga. Frans tidak ada di sana lagi, kudapati layar televisi yang pecah, sofa bergeser dan semuanya berantakan. Pemandangan mengerikan itu sungguh membuatku kaget—”


“Maaf. Tunggu. Apakah—itu sungguh terjadi?” aku terkejut sehingga memotong ceritanya.

__ADS_1


“Ya. Ini sungguh terjadi. Pagi harinya, Frans sudah bangun. Dia bertanya padaku kenapa ruang tengah berantakan. Itu pertama kali aku melihat sosok yang mirip dengannya. Sebelum itu, pekarangan rumahku juga kacau-balau. Kemudian ayam peliharaanku semuanya mati tersembelih. Ada yang ganjal semenjak kedatangan Frans. Dia memiliki sisi lain—mungkin. Aku tidak tahu menyebutnya apa, dia memiliki kembaran jahat yang bisa menampakkan dirinya. Hingga suatu ketika, untuk kedua kalinya aku bertemu lagi dengan sosok dingin tersebut. Aku bertanya siapa dia, kenapa menyerupai Frans. Dia berkata kalau dia memang Frans, lahir dari Frans. Katanya, bayangan terpisah menjadi kenyataan, dia menyebut dirinya dengan nama Belphegor. Dia adalah kembaran jahat Frans.”


Apa yang baru diceritakan oleh Si Mockingbird ini membuatku tercengang. Aku kaget bukan kepalang, ternyata selama ini yang kami lawan adalah Frans sendiri. Kembaran jahatnya—seperti yang pernah diceritakan Yulia, mengenai doppelganger. Lalu, kembaran yang mendatangi Yulia itu siapa? Apa maksud semua ini? Aku mencoba memutar otak. Tak mungkin jika Frans memiliki hal aneh semacam itu.


__ADS_2