
Mungkin dengan mengorbankan privasi orang, Frans bisa langsung mempersingkat waktu untuk menyelidiki kasus ini. Aku tidak tahu jalan pikirannya, apakah dia memiliki kemampuan untuk menerawang masa depan, atau kemampuan mencium adanya kejahatan besar, mungkin kecerdasan eidetiknya tinggi, dan bisa menentukan sesuatu dengan akurat. Entah, kita tinggalkan saja kecerobohan Frans.
Sekarang, rasa penasaran menyelubungi benak kami. Surat dari Mr.B yang baru saja dibuka membuat kami ingin tahu. Para tamu merapat ke hadapan Frans. Semua siap-siap mendengarkan isi surat tersebut.
“Baiklah, akan segera saya bacakan,” ucap Frans.
Kami benar-benar sudah penasaran. “Proklamasi! Kami bangsa....” Frans terdiam lalu nyalang memandangi kami. “Heh, ada apa?” ucapnya berlagak pilon.
“Aaaaaaa...! Apa-apaan kau, Frans! Yang benar saja!” teriakku. Semua tamu menunduk dan mendesah karena dikerjai Frans. “Serius sedikit! Kami benar-benar ingin tahu isi surat tersebut,” imbuhku.
Frans justru tergelak. “Tenang sebentar, jangan terlalu tegang. Baiklah, akan saya bacakan sekarang.” Dalam situasi seperti ini Frans masih sempat-sempatnya bergurau. Dasar!
Kini Yulia semakin merapat ke sisi Frans. Wajahnya begitu tegang dan penuh rasa penasaran, tetapi mengapa ia harus sedemikian dekat, sih? Apa ia tak bisa mendengar dengan jelas? Wanita dengan perhiasan-perhiasan mencolok itu benar-benar membuatku bertanya-tanya. Terkait cerita yang ia tuturkan tadi—apakah ia sungguh benar mengalami hal mengerikan seperti itu? Apa tidak ada kemungkinan lain, misal ada orang yang ingin merampas perhiasan Yulia? Ah, aku benar-benar tak fokus, kini kembali berusaha menyimak apa yang akan dibacakan Frans—ia mengangkat lembaran kertas tersebut.
Tuan Frans yang terhormat! Saya benar-benar tahu kiprah Anda baru-baru ini. Saya sangat bersimpati dengan kinerja dan nama baik Anda yang semakin gemilang. Namun, saya rasa Anda hanya orang bodoh yang tidak ada apa-apanya untuk saya. Jadi, dengan surat ini saya menantang Anda dalam sebuah permainan. Jika Anda dapat menangkap dan mengalahkan saya. Tentu saja akan saya akui kehebatan Anda. Dalam permainan ini, serangkaian kasus telah saya rancang. Pastinya Anda sudah menyelidikinya. Anda harus membunuh saya tanpa ampun jika tidak ingin kalah dalam permainan ini. Silakan periksa koran pagi ini pada halaman ke 5 kolom 18. Di situ sudah saya paparkan batas waktu dan penjelasan yang lengkap.
Mr.B
Dari isi surat tersebut, kami betul-betul dibuat terkejut karena Frans ditantang untuk membunuh Mr.B yang misterius. Setelah selesai membaca surat. Frans bergegas membuka halaman koran yang dimaksud Mr.B tadi. Entah kenapa surat dan koran tadi dapat sampai bersamaan. Frans tampak serius membaca koran itu dan mengabaikan kami. Sesekali dia mengerutkan kening, memutar bibir, dan menarik napas dalam-dalam. Kami hanya memperhatikan semua yang dilalukan Frans.
“Judulnya sayembara, jika ini sayembara berarti membuka peluang untuk detektif lain. Tertulis bukan tantangan sebuah permainan. Mungkin salah tulis,” ucap Frans. “Di sini dijelaskan kejadian penculikanku dan hilangnya seorang bocah. Jika aku dapat memecahkan semua kasus yang telah dia rencanakan. Nama baikku akan semakin membubung dan pamorku sebagai seorang detektif benar-benar akan diperhitungkan di negeri ini. Aku hanya mempunyai waktu enam bulan untuk mengusut semua kejahatannya. Jika aku gagal dalam waktu yang telah ditentukan, keluarga korban akan dimusnahkan. Selamat bersenang-senang tulisnya di koran.” Frans mendesis. “Aneh, percetakan sengaja mengizinkan seseorang memasang iklan seperti ini? Jika kita telusuri redaksi, siapa yang mencetak, dan mengapa kurator mengizinkan tulisan ini terbit, mungkin akan didapat petunjuk. Mungkinkah koran ini palsu? Jika Mr.B mampu melakukan hal ini, dia sungguh orang yang luar biasa. Baiklah, aku tak akan menyelidiki masalah percetakan yang mencetak koran ini dan instansi yang menerbitkan koran ini.”
Frans berdiri lalu menuju jendela, tempat kesukaannya saat memikirkan hal-hal berat. Kami hanya bisa menunggu tanpa memberikan komentar. Diam seribu bahasa. Frans larut dalam perenungan, dia benar-benar bergeming.
Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu yang nyaring. Seolah diketuk oleh tangan perkasa dan kokoh. Frans tetap masih bergeming, aku membuka pintu dan mendapati seorang pria tegap menggunakan jas hitam dan berdasi merah. Pria tersebut langsung masuk ke dalam tanpa permisi. Aku tak dapat mencegahnya lagi karena laki-laki tersebut sudah melangkah menuju sofa.
“Kau takkan dapat menyelesaikan kasusmu kali ini, Frans,” celetuk pria asing tadi.
__ADS_1
Frans menoleh, seketika ia agak terkejut dengan kedatangan pria asing tersebut. “Kau! Enyahlah jika kau hanya ingin menertawaiku, Jason!”
Tamu yang baru datang tertawa lepas. “Haha ... emosional seperti biasa setiap bertemu diriku. Kau sudah tahu maksud kedatanganku kemari, bukan?”
“Oh, sekarang sudah jelas. Kau akan ikut mengusut kasus dari Mr.B, kan?” tebak Frans.
“Tepat sekali!”
“Jadi begitu. Tulisan sayembara di koran ini ternyata bukan kesalahan.”
“Apa kau mau menerima tawaranku? Peluang akan lebih besar tentunya.” Jason memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Kembalilah ke Jogja. Aku tidak akan bekerjasama denganmu.”
“Ayolah! Aku sudah jauh-jauh datang ke Jakarta.”
Aku memperhatikan pria asing bernama Jason. Kulit wajahnya tebal dengan alis hitam nyaris menyatu. Jujur saja aku belum pernah bertemu dengannya.
Pria tersebut merogoh saku celana lalu melemparkan sebuah kotak ke arah Frans—ia membalikkan badan lalu beranjak meninggalkan ruangan. Ternyata dia juga seorang detektif, entah detektif apa. Apakah detektif pemerintah? Jika dia dibayar pemerintah sebagai polisi bagian penyelidikan, aku tidak sudi bekerjasama dengannya. Pun, aku sama sekali belum pernah melihatnya.
“Siapa pria tadi, Tuan?” tanya Yulia dengan suara sok polos.
“Sainganku saat berada di Jogja. Jason, anjing pemecah kode rahasia. Meski kemampuanku mengusut petunjuk juga bagus, tapi dia lebih unggul dalam memecahkan kriptograf dan ahli bedah. Terkadang ada kasus yang tidak dapat aku tangani di luar batas penalaranku.”
“Pantas saja tingkahnya begitu pongah seakan dia manusia terhebat,” ucap Irfan yang sedari tadi hanya terdiam dan saling pandang dengan Agung.
Frans bangun lalu mengambil kotak kecil dari Jason. Aku penasaran dengan isinya, apakah itu suatu petunjuk atau ancaman dari Jason. Hanya butuh beberapa detik, Frans langsung menutup kembali kotak tersebut dan memasukkan ke dalam saku. “Bersiap-siaplah! Kita akan pergi sekarang. Bagi yang tidak berkenan ikut, silakan menunggu di sini atau kembali ke tempat masing-masing.”
Ada apa ini, mengapa Frans tiba-tiba langsung berkata seperti itu setelah membuka kotak dari Jason.
“Ada apa? Kita akan pergi kemana?” tanyaku.
__ADS_1
“Kasus ini sudah menemui celah, tapi aku butuh bantuan para saksi untuk mengidentifikasi wajah korban dan keluarga mereka. Dari penjelasan ketiga tamuku, hipotesisku sepertinya akan masuk akal, karena Jason baru saja memberikan petunjuk.”
Aku bingung. “Apa yang dia lakukan?”
“Kotak ini hanya berisi sebuah lilin yang berbentuk angka 8. Namun aku tersadar, saat aku menyentuhnya. Jason memberi gambaran terkait kasus ini. Semua itu semakin jelas, karena dari bentuk lilin itu dapat aku simpulkan seperti sebuah permainan yang tidak memiliki ujung dan saling berkaitan ibarat angka 8. Ditambah, aku sudah memadukan kasus-kasus yang dijelaskan oleh tiga klienku—oleh kalian bertiga, tentu ditambah oleh keterangan Hartanti dan kasus ketika aku melawan penjahat di kapal.”
“Kalau boleh tahu, kasus ini kronologi sebenarnya bagaimana?” tanya Yulia.
“Hmm... baiklah! Akan kujelaskan dimulai dari menghilangnya bocah bernama Eno, hal itu terjadi bersamaan dengan penculikan diriku empat bulan lalu. Hartanti ibunya Eno datang menemuiku dua bulan lalu. Saat itu dia juga diculik dan suaminya tewas dengan leher disembelih. Jika dekduksiku tepat! Pelaku yang menggolok suami Hartanti adalah Reyhan, mantan kekasih Lisa. Ada dua orang yang bersamanya, dia bersama Teguh yang menghilang dari penjara lalu satu pria lagi yang belum diketahui. Mungkin orang ketiga adalah komplotan penculik yang selamat saat melawanku di kapal.”
“"Jika benar itu adalah Reyhan, bagaimana cara Anda menjelaskan motifnya?” tanya Agung.
“Menurut keterangan darimu, Reyhan tidak dapat merasakan rasa makanan karena setelah kecelakaan lidahnya jadi cacat. Reyhan frustrasi dengan kondisinya, sehingga memotong lidah sendiri dan bermaksud balas dendam kepada sopir truk yang menabraknya dua tahun lalu. Berdasarkan penalaranku yang sudah pasti 100% benar, orang yang menabraknya adalah suami Hartanti yang terbaring sakit-sakitan. Dulu dia bekerja sebagai pengantar barang di perusahaan ternama menurut penuturan Hartanti. Jadi, Reyhan membunuh mantan sopir itu di kediamannya. Semuanya tentu atas pemberitahuan dan perintah dari Mr.B yang mengontrol mereka.”
“Luar biasa teori Anda. Saya mulai mendapat gambaran dengan semua masalah ini,” ucap Agung.
“Jadi, Teguh ikut komplotan penjahat yang membunuh mantan sopir itu.” Irfan bergumam.
Aku mendengarkan teori Frans yang kurasa juga sudah sangat masuk akal. Mungkinkah dia telah menemukan semua jawaban saat melamun tadi. Yulia tampak bingung karena dia belum tahu semua kisah yang telah terjadi saling berkaitan.
“Nah, bagaimana dengan bayangan hitam yang mirip denganku?” celetuk Yulia.
“Itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama bayangan itu memang benar-benar doppelganger dirimu. Sedangkan, kemungkinan yang kedua sedikit tidak masuk akal, bayangan wanita yang mirip denganmu adalah Hartanti, ibunya Eno. Aku berpikir kalau Mr.B memang menggunakan kekuatan mistis untuk mempengaruhi dan mengendalikan mereka—dengan mengubah wajah Hartanti menyerupai dirimu, Hartanti meneror setiap malam di kamarmu. Sedikit aneh memang, lagi pula aku juga tak begitu memercayai hal mistis dan tak bisa dinalar seperti dedemit dan sebagainya. Kalaupun ada, dan digunakan dalam kasus ini, mungkin sudah sepatutnya kuungkap semua kasus misterius ini secepat mungkin.”
Yulia bergidik mendengar penjelasan Frans. Sesuai rencana awal, aku dan Frans akan pergi untuk penyelidikkan. Namun ketiga klien kami memutuskan untuk ikut juga.
“Baiklah, kali ini kita buang semua keformalan kita. Kalian boleh memanggilku Frans, Bro, ataupun Pakdhe. Aku putuskan kita menjadi satu tim untuk mengusut misteri ini. Ah ... baiklah, kuberi nama grup ini dengan nama Team D. Apakah kalian setuju?” ucap Frans mendeklarasikan nama timnya.
Apa-apaan dia, kenapa seperti anak kecil bermain polisi-polisian. Aku nyaris terkikik mendengar nama konyol yang dicetuskan Frans barusan. Namun, kami mengangguk dan bersorak karena akan bekerjasama dalam mengusut kasus besar. Masalah nama tim kurasa tak perlu terlalu diambil pusing.
“Baiklah! Setelah makan siang, tujuan pertama penyelidikan kali ini adalah di kediaman Hartanti. Kita mulai dari situ.”
__ADS_1
Sesuai perintah Frans, kami makan siang bersama di ruang makan, makanan sudah disiapkan oleh Frida sedari tadi. Semoga saja kasus ini akan menemui titik terang hingga bisa mengungkap siapa sebenarnya Mr.B.