
Apa yang paling menyakitkan dalam hidup ini? Kehilangan harta atau kekasih? Hal paling menyakitkan adalah saat kita kehilangan kepercayaan dari orang lain dan kehilangan harga diri. Frans sangat anti dengan semua itu, ia sekuat tenaga menjaga harga dirinya. Bagi Frans, harga diri di atas segalanya. Semua klien yang datang menemui Frans, diperlakukan dengan sangat adil, meski kadang dia suka sembrono dan suka selengekan.
Ia kerap mengabaikan yang namanya kerahasiaan di hadapan klien lain. Frans dengan seenak udel membiarkan klien saling mendengar masalah yang ditimpa. Meski pada akhirnya memang ditemukan petunjuk dari cerita mereka. Namun, tetap saja itu melanggar privasi orang, kan? Sungguh aku tak habis pikir dengan tingkah Frans.
Jam tepat menunjukkan pukul 9.00 pagi. Dua tamu yang datang menoleh ke arah pintu, aku berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Terlihat pria paruh baya mengenakan jaket abu-abu dan membawa setumpuk koran. Mungkin ketika di bawah dia dipersilakan menuju ke lantai atas oleh Frida. Tukang koran tersebut menyodorkan koran langganan Frans, di atasnya terselip amplop berwarna merah. Setelah memberikan semua, dia lalu pamit.
Aku masuk dan menutup pintu lalu melangkah menuju sofa. Baru beberapa langkah, ada yang mengetuk pintu lagi. Hari ini sungguh sibuk, sudah berapa kali ada orang yang mengetuk pintu, sudah tiga kali mungkin. Aku melemparkan koran ke atas meja kerja Frans, serta amplop merahnya aku masukkan ke dalam kantong kemejaku. Apa ada sesuatu yang dilupakan oleh tukang koran tersebut? Aku kembali membukakan pintu, Frans hanya memandangiku yang bolak-balik seperti setrika.
Setelah pintu terbuka, ternyata bukan tukang koran yang tadi. Sesosok perempuan cantik yang berdiri di depan pintu. Dia mengenakan pakaian yang begitu indah, perhiasannya begitu memukau. Anting, gelang, kalung, jam tangan, semua terlihat mahal. Dia tersenyum malu kepadaku sambil sedikit membungkuk. Kupersilakan ia untuk masuk dan bergabung bersama tamu kami yang lain.
“Selamat pagi saudara-saudara, maaf mengganggu waktunya.”
Wanita itu tersenyum ramah ketika menyapa kami. Frans mempersilakan wanita itu agar duduk di sampingku. Dua tamu pria kami menatap penuh tanda tanya ke arah wanita yang baru tiba tersebut. Raut wajahnya seketika berubah serius, senyum manis yang tadi ia persembahkan telah lenyap. Frans mengambil koran yang aku lemparkan tadi, lalu membaca berita utama yang tertulis di situ. Dia diam sejenak, lalu meletakkan korannya ke pangkuan.
“Baiklah, Nyonya. Apakah ada yang dapat saya bantu?” Frans menatap wanita tadi penuh selidik. Frans berdiri bersandar di tepi meja sambil memegang koran.
“Perkenalkan, nama saya Yulia. Saya ke mari ingin meminta Tuan Frans untuk membantu saya mencari tahu kebenaran yang saya sendiri tidak mengerti.”
__ADS_1
Frans menarik napas sejenak, lalu menatap dua tamu pria yang dari tadi terdiam sambil mengamati keadaan. Kemudian Frans bertanya apakah mereka bersedia memberi waktu kepada wanita yang baru saja datang. Dua pria tersebut mengangguk tanda setuju.
Namun wanita bernama Yulia itu juga tidak keberatan untuk bercerita di hadapan tamu lain. “Biarkan saja mereka di sini, Tuan. Saya rasa kisah saya bukan hal yang sangat rahasia dan saya tak keberatan berbagi.”
Seperti tadi, Frans sepertinya punya strategi untuk menggali informasi, atau dia sudah mengetahui semua kasus yang akan terjadi? Entahlah, mengorbankan privasi orang lain, kurasa dia sungguh kurangajar. Wanita tadi tersenyum kembali sambil mengucapkan terima kasih.
Frans kembali fokus dengan wanita bernama Yulia tersebut. Masalah apa yang akan dia ceritakan kepada kami, aku tidak dapat menebak. Kami menatap dengan saksama dan bersiap memasang telinga sebaik mungkin.
“Sebenarnya ini bukan kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, atau pelecehan. Peristiwa yang saya alami sangat sulit diterima nalar. Bagaimanapun saya tidak pernah mengalami hal aneh seperti ini sebelumnya. Jika saudara sekalian pernah mendengar tentang doppelganger, berarti saya tidak perlu menceritakan secara panjang lebar. Doppelganger adalah keadaan aneh yang menimpa seseorang seperti halusinasi. Seolah-olah saya melihat bayangan saya sendiri. Bayangan yang sangat mirip dengan yang asli. Meski hanya bayangan, tapi terlihat sangat nyata dan jelas. Dua bulan terakhir—setiap kali saya tidur di malam hari, gangguan tersebut selalu menghantui. Awalnya hanya berupa suara bisikkan yang tidak jelas, setiap dini hari menjelang fajar. Saya selalu tidak bisa tidur lagi, semakin lama bisikkan tersebut semakin membuat saya paranoia. Suara tersebut menyebut nama saya, tapi dengan nada lambat dan seperti diterpa angin, samar, lalu lenyap. Hal itu cukup membuat saya bergidik.”
“Saya selalu mencoba menepis semua kegundahan tersebut, dan berusaha untuk terlelap lagi. Namun, sampai matahari bersinar, saya tetap terjaga diselimuti rasa takut yang sangat mengerikan. Saya tinggal di perumahan dekat pabrik tekstil, tidak jauh dari rumah saya, terdapat taman di seberang jalan. Kamar saya di lantai tiga, dengan jendela meghadap ke arah taman tersebut. Dipan saya terletak di sebelah pintu masuk, berhadapan langsung dengan lemari pakaian yang berukuran cukup besar. Selama sebulan saya mencoba untuk berpikir positif, mungkin tubuh ini terlalu lelah atau pengaruh obat yang saya konsumsi. Di rumah itu, saya tinggal bersama ayah, ibu, dan adik saya yang bernama Risa. Setiap memasuki pukul 01.00 dini hari, saya pasti terbangun, dan gangguan itu selalu muncul. Malam-malam yang saya lalui dua bulan ini, sangat membuat saya frustrasi. Adik saya, Risa, tidak mungkin mengganggu saya selarut itu, kamarnya juga berada di lantai bawah, dekat dengan kamar Pak Tono—sopir kami. Lampu kamar saya selalu dalam keadaan gelap saat saya tidur.”
“Kemudian, untuk masalah doppelganger yang saya katakan sebelumnya. Menurut sejarah yang pernah saya baca dari artikel di internet. Bahwa orang yang melihat bayangannya sendiri akan meninggal. Peristiwa ini pernah terjadi dan dialami oleh Queen Elizabeth I di Inggris, hingga akhirnya beliau meninggal tidak lama setelah itu. Doppelganger adalah bayangan diri kita sendiri, entah muncul karena siluet, ilusi optik, atau halusinasi akibat pengaruh obat antidepresan. Yang jelas, bayangan yang sangat mirip dengan saya telah mendatangi saya. Sosok tersebut seolah menjelma bak malaikat maut yang sudah menanti dan siap menjemput nyawa saya. Suara-suara seram itu selalu menghantui pikiran saya.”
“Baiklah, sebentar. Apakah saya harus mencari dan menangkap bayangan tersebut?” Frans memotong kisah Yulia.
“Tidak, Tuan. Sebetulnya, inti dari masalah ini adalah teror. Saya tidak tahu, entah itu kekuatan mistis atau tipuan seperti sulap, yang jelas ada orang yang meneror saya. Ada hal besar yang belum saya sampaikan kepada Tuan. Semoga ini dapat berguna dalam penyelidikan Anda terkait masalah yang menimpa saya. Tepat pada pagi harinya, saya sedang menyapu halaman depan, tiba-tiba ada tukang pos menghampiri saya. Tukang pos tersebut memberikan sepucuk surat yang sangat aneh. Amplopnya tidak ada keterangan alamat pengirim. Isinya benar-benar membuat saya tercengang setelah membaca.”
__ADS_1
Temuilah detektif Frans Sina, ceritakan masalah yang mengganggumu setiap malam. Jika sampai satu minggu kau tidak menemuinya, kau akan aku bunuh.
Mr.B
“Surat tersebut saya bawa. Ini suratnya, Tuan. Tulisan tangannya sangat rapi dan berkarakter.”
Frans langsung mengambil surat itu dan ia kembali melangkah ke dekat meja, ia membaca dengan fokus. Aku langsung teringat amplop merah yang kuterima dari tukang koran tadi. Aku mengeluarkan amplop tersebut dari saku kemejaku. Wajah kami menjadi sangat serius, Yulia menjadi kebingungan melihat ekspresi wajah kami.
“Frans, tadi aku juga mendapat amplop aneh bewarna merah dari tukang koran.”
Aku menyodorkan kepada Frans, dengan sigap ia langsung membuka dan isinya dikeluarkan. Surat tersebut langsung dibaca oleh Frans. Raut mukanya menjadi berubah, dahi mengkerut dan jari telunjuknya mengelus dagu.”
“Ini surat dari Mr.B,” ucap Frans.
__ADS_1
Kami kaget mendengar ucapan Frans. Yulia beranjak dan langsung mendekat ke arah Frans berdiri. Misteri ini sangat membingungkan. Apa isi surat tersebut? Kenapa Mr.B juga mengirim surat kepada Frans? Mengapa tidak mengirim melalui surel saja? Kuno sekali, apakah ia sengaja ingin melestarikan surat-menyurat? Ah, rasanya amat muskil kalau itu yang diinginkan Mr.B.