Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Petaka di Tepi Sungai


__ADS_3

Hawa dingin seakan membuat kulit membeku lalu hancur seperti es yang mencair. Tatkala berdiri di tepi sungai, suara tembakan itu terdengar dari belakang kami. Semua menoleh ke belakang dan merapatkan diri menjadi satu. Siapa yang meluncurkan tembakan barusan? Suara serangga kembali nyaring terdengar. Aliran sungai bergolak dan bergemericik menusuk telinga yang masih berdengung karena pekikan dari suara tembakan.


Kami berjalan mundur dengan perlahan ke arah tepi sungai. Mata kami tidak lepas dari semak belukar yang bergoyang-goyang. Pasti ada sesuatu di balik semak-semak tersebut. Yulia melenguh karena ketakutan, dia menarik bajuku dengan sangat keras. Sedangkan Frans membungkuk dan mengambil sebuah kerikil lalu melemparkan ke arah semak rimbun tersebut.


Semak-semak itu kembali diam, lalu bergoyang lagi diikuti sosok tinggi yang keluar dari balik rerimbunan. Semua mata tercengang karena ternyata dia orang yang menembakkan pistol barusan. Dia keluar dengan wajah tersenyum lalu mengarahkan senter ke wajahnya. Rupanya dia Si Anjing Pemecah Kode, saingan Frans.


Ia tergelak. “Hahaha... kalian seperti dikepung hantu saja.” Jason melangkah ke arah kami sambil menyarungkan pistol kosong miliknya. Dia ternyata juga mengikuti kami ke hutan ini. Entah apa yang akan terjadi antara Frans dan Jason.


“Apa maumu, Jason? Kenapa kau membuntuti kami sejauh ini,” tanya Frans.


“Sudah pasti aku ingin ikut mengusut kasus yang sangat menarik ini. Asal kalian tahu saja, aku telah mengikuti kalian sejak dari rumah Frans dan berada di rumah kosong yang kalian kunjungi sebelum ini.”


“Beraninya kau mengikutiku!” Frans berang.


“Tenanglah. Aku juga sudah menyelidiki salah satu anak buah Mr. B yang menculik klien pertamamu. Polisi yang menemui kalian tadi adalah suruhanku, aku sudah mencari tahu tentang jasad suami Hartanti yang menghilang secara misterius.”

__ADS_1


“Jadi itu ulahmu?” Frans mulai mereda dari emosinya.


Ternyata polisi yang mendatangi rumah Hartanti adalah suruhannya Jason. Kalau polisi itu punya hubungan dengan lelaki itu, apakah memang Jason bekerja untuk pemeritah? Kucari tahu nanti saja. Jason maju beberapa langkah lalu duduk di atas tanah. Dia mengeluarkan sebuah foto dari sakunya. Kami mulai duduk merapat ke arah Jason. Sedangkan Frans masih saja berdiri menjaga jarak dengan rivalnya itu.


“Kau tidak ikut bergabung? Fobiamu yang takut dengan kegelapan sudah berkurang, ya? Apa memang sudah dapat kau atasi?” Jason berkata dengan nada sarkastis.


“Bukan urusanmu! Sekarang katakan petunjuk apa yang kau miliki.” Sahut Frans angkuh.


“Foto ini adalah foto Pipin, orang yang membakar hutan di Kalimantan, dia salah satu anggota dari kelompok yang menculikmu.”


“Kau dapat informasi dari mana?” Frans akhirnya mendekat ke arah kami. Dia mengarahkan cahaya senternya ke arah foto tersebut.


“Sial, kau selangkah di depanku,” gerutu Frans.


“Jangan risau. Akan aku jelaskan tujuan orang ini membakar hutan. Dia adalah anggota sebuah kelompok bernama Fishbone, kau pasti sudah menyelidiki sepak terjang mereka yang sering menyelundupkan satwa langka. Dia melakukan ini atas perintah dari Mr. B, orang yang sama dengan pengirim surat misterius itu. Pipin yang merakit bom tersebut, lalu bersembunyi di dalam hutan selama seminggu sampai akhirnya diringkus polisi berkat keterangan dari anggota yang kau lumpuhkan di kapal. Tujuannya adalah untuk memberikan kesan hebat karena kau gagal memecahkan kode dari mereka dengan cepat. Pipin sudah dipenjara dengan anggota lainnya. Namun, dia menghilang dari penjara secara misterius, sedangkan anggota lainnya masih berada di dalam tahanan. Kemungkinan dia kembali bergabung dengan Mr. B sebagai tangan kanannya.”

__ADS_1


“Meski aku tidak menyukaimu, tapi terima kasih atas bantuanmu. Sekarang aku tahu, dia adalah pria ketiga yang menculik Hartanti dan membantu Reyhan membunuh suami Hartanti. Sekarang sudah jelas, Reyhan, Teguh, dan Pipin menjadi anak buah Mr. B itu,” Frans menanggapi penjelasan Jason.


“Apa maksudmu?” tanya Jason.


“Dia menghilang dari penjara seperti kasus teman dari klienku ini. Teman Irfan yang bernama Teguh juga pelaku pembunuhan. Teguh menghilang dari sel tahanan secara misterius. Sekarang sudah hampir pukul 22.00 malam. Akan aku jelaskan semuanya sambil jalan.”


Kami meninggalkan tepi sungai lalu kembali mengikuti rasi bintang pari menuju selatan. Semoga saja kami dapat menemukan tempat yang dimaksud oleh Mr. B tersebut. Sekarang kami mempunyai tiga senter yang kurasa akan cukup membantu perjalanan kami malam ini. Semoga saja tidak ada binatang buas yang menghadang.


Dengan keberadaan Jason dipihak kami, akankah peluang untuk menangkap Mr. B menjadi lebih mudah? Entahlah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk mengusut misteri besar ini. Kasus ini harus benar-benar diselesaikan agar tidak memakan korban yang lebih banyak lagi.


Malam semakin naik, lantas apa yang akan kami temukan di depan nanti? Entah, semua masih samar dan membuat berbagai pertanyaan menumpuk di kepala. Frans tampak kesal—ia masih tak terima Jason ternyata satu langkah lebih di depannya dalam mengumpulkan informasi. Kini aku telah paham, kasus ini sungguh memiliki benang merah yang benar-benar saling berhubung, semoga saja kami bisa segera menemukan siapa sebenarnya Mr. B itu.


Sembari berdiri, aku menepuk pundak karena kejatuhan dedaunan kecil yang gugur. Yulia sudah siap di belakangku, ia tampak menarik napas dan dadanya sedikit membusung, sial—perasaan apa ini, aku sungguh iri melihat dandanannya dan gundukan di dada wanita itu. Aku spontan melirik ke arah Frans, beruntung ia tak melihat Yulia yang tadi sempat melenguh. Ah! Ada apa denganku hari ini, lebih baik fokus, ini tempat masih penuh bahaya. Kumencoba menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran-pikiran negatif.


Kami baru berjalan sekitar dua ratus meter meninggalkan tempat berkumpul tadi. Tiba-tiba saja kembali terdengar suara tembakan dari balik semak-semak sama seperti tadi. Kali ini bukan ulah Jason, sepertinya memang ada orang lain yang mengikuti kami. Semua panik dan merapat. Frans yang berada di paling depan ambruk memegangi kaki sebelah kiri. Rupanya betis kaki ditembus oleh timah panas. Darah segar mengalir membasahi celana panjang berbahan katun yang ia pakai.

__ADS_1


Mataku langsung melotot dan nyaris memekik tetapi tertahan karena mulutku yang terbabang langsung kututup dengan telapak tangan. Frans, ia bertelut lalu memutar badan dan menyelonjorkan kaki. Jason langsung berlari ke arah Frans dan melepas jaketnya lalu menyobek kaos yang ia pakai. Dia berusaha menghentikan pendarahan pada kaki Frans. Gerahamnya mengeras, Frans meringis menahan sakit, matanya terpejam kadang membuka dengan sangat cepat. Keningnya mulai dipenuhi keringat dan ia terus berjuang menahan rasa sakit tersebut. Meski dalam kondisi gawat, dia masih sempat bertanya jam berapa sekarang. Aku melihat jam tanganku, sekarang sudah pukul 22.05, rupanya Frans menyadari kesalahannya. Karena kami terlambat menemukan tempat yang telah ditentukan oleh Mr. B.


“Cepat pergi dari hutan ini!” perintah Jason, sambil membangunkan Frans untuk dipapah menuju mobil. Agung bersiaga di belakang sedangkan Irfan bersiaga di depan. Yulia dan aku berjalan di belakang Frans yang dirangkul Jason.


__ADS_2