
Maria menaiki tangga karena lift sedang mati. Ia berhenti sejenak dan tampak gamang, wajahnya diselimuti berbagai rasa penasaran, ia menggeleng dan berusaha mengenyahkan semua pikiran rumit yang menjeratnya. Maria kembali melangkah, setiap kali hak sepatunya yang tak terlalu tinggi membentur permukaan anak tangga maka akan menimbulkan bunyi yang sangat khas. Setelah sampai di depan pintu, ia kembali berhenti sebentar dan mengatur napas yang sedikit putus-putus. Dari lantai satu ke lantai dua ternyata kakiku cepat pegal, batin Maria.
Ia mengetuk pintu dan Tn. Alexander mempersilakan wanita itu masuk. Ruangan masih sama—tak berubah terlalu banyak dan berkas-berkas tertata rapi di rak besar. Meja berbentuk leter U juga tampak mengilap dan di atasnya tergeletak papan nama pemipin tertinggi kepolisian tersebut.
“Selamat pagi, Tuan Alexander. Ini berkas-berkas yang Anda minta. Sesuai dengan yang telah Anda beritahukan, ini adalah berkas kasus di La Costa Motel dan artikel tentang para Code Breakers.”
“Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang.” Sahut Tn. Alexander.
“Baik.” Maria meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja dan kembali turun ke bawah. Ia masih harus mengurusi jadwal pertemuan yang akan diikuti oleh Tuan Alexander.
Di lain sisi, Ray dan Mockingbird kembali ribut dengan Inspektur Fredie. Tentu inspektur tetap tak terima bila ternyata Ray masih memaksa kehendak terkait berkerjasama dengan para Code Breakers.
“Sudah kubilang berapa kali, huh!? Para monster itu tak akan membantu apa-apa dan justru akan menyulitkan kita. Jika mereka membuat masalah—menyiksa para buron bila tertangkap, mau ditaruh mana mukaku ini. Negara ini telah hancur dengan julukan kota ini sebagai kota penjahat, apa kau tak mengerti maksudku? Lihatlah kondisiku yang seperti ini, semua gara-gara ulah para monster berengsek itu!” inspektur bersungut-sungut dengan wajah merah padam.
“Tenanglah. Para Code Breakers itu tak akan berani berbuat macam-macam. Sekarang sudah dapat kami kendalikan, tentunya ini semua berkat Mockingbird.” Sahut Ray dengan intonasi tenang.
“Apa maksudmu?” Inspektur Fredie menautkan kedua alisnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lelaki tua yang sedang menikmati tembakaunya. “Apa yang anak songong ini katakan? Semua berkat Anda?” dengan langkah tersendat, inspektur mendekati Mockingbird.
“Ya.” Sahut Mockingbird singkat.
“Ya? Hanya itu? Jawaban Anda tak memberikan penjelasan yang berguna.”
__ADS_1
“Ya.” Mockingbird kembali mengisap rokok dan menyemburkan asap ke wajah inspektur.
“Jelaskan padaku! Uhuk! Ah sialan, asap rokok apa itu.”
“Kemenyan.”
“What?” inspektur mendelik.
“Tak ada yang perlu kujelaskan terkait para Code Breakers. Anda lihat saja, kita akan menemukan titik terang dalam kasus ini. Saat ini kita hanya masih berfokus pada pengejaran sejoli bernama Lala dan Jonah, kan? Tentunya juga akan membagi fokus pada pemecahan kode petunjuk yang telah kita uraikan terkait mayat-mayat yang ditemukan di hotel.”
“Aku tetap tak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran kalian.” Inspektur melenguh panjang. Ia berjalan ke kursi lalu berusaha duduk meski masih meringis menahan sakit yang mendera tubuhnya. “Jadi, kalian gagal karena mereka menceburkan diri ke sungai dari atas kapal? Ray, kau bilang ada satu orang lagi yang bersama Lala dan Joe, siapa dia?” inspektur menatap lekat-lekat ke arah Ray.
“Dr. Q? Baiklah, kerahkan semua anak buahku dan ikut menelusuri setiap tepi sungai dan gunakan kapal motor untuk menjangkau sampai ke tengah apa bila ada penemuan segera laporkan padaku.”
“Ya. Seperti yang kau perintah, akan kami laksanakan—sepertinya satuan yang anda bentuk cukup berpengalaman untuk melakukan pencarian. Anda bisa tunggu hasilnya sambil menikmati sereal Anda.”
“Aku tak bernafsu.” Inpektur Fredie memijit keningnya.
***
__ADS_1
Perapian menyala ganas dan lidah api seakan-akan seperti tentakel gurita yang menari-nari. Rachel tetap mondar-mandir di depan perapian dan mengeraskan rahang, sesekali ia melenguh dan kembali berjalan bolak-balik bak setrika.
“Pria tua itu! Benar-benar membuatku ketakutan.” Ucap Rachel.
“Antonio, siapa namanya?” Gabriel menukas.
“Entahlah, dia dipanggil Mockingbird.” Sahut Antonio.
Rachel menarik napas dalam-dalam dan mengepalkan tangan, giginya bergemelatuk. Baru kali ini Rachel menampilkan ekspresi wajah seakan terintimidasi oleh sosok bernama Mockingbird. Mungkinkah wanita yang dijuluki titisan sang pencabik itu telah kehilangan nyali?
Terdengar suara dering dari gawai milik Gabriel. Ia mengangkat panggilan tersebut dan langsung berubah ekspresi menjadi tersenyum.
“Ada mayat ditemukan di pinggiran kota dekat Thames, Felix akan segera mencari identitas si mayat tersebut karena belum teridentifikasi dan masih dalam penanganan polisi setempat.” Ucap Gabriel.
“Ayo kita ke sana sekarang.” Rachel menyarungkan pistolnya yang tergeletak di atas meja kecil.
Ikuti kisah lengkapnya dalam novel Yes, My Queen di Noveltoon dan Mangatoon.
__ADS_1