Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Percakapan Dua Wanita


__ADS_3

Para suster serta pasien melintas beberapa kali melewati depan kamar Frans. Aku keluar untuk mencari udara segar. Lorong rumah sakit membuat pusing, aku melangkahkan kaki menuju lobi. Ada beberapa orang yang duduk di kursi roda dan didorong oleh anggota keluarganya. Bau khas rumah sakit menusuk hidung, geli rasanya—aroma obat-obatan. Yulia mengejar, ia menyusulku.


Kami berdua sampai di depan, lalu keluar menuju taman. Yulia terus mengekor di belakangku. Wajahnya tampak sedikit pucat, bisa saja dia sedikit tertekan dengan kasus yang sedang menimpa kami. Teror yang menghantuinya setiap malam, juga kasus yang ternyata saling berkaitan. Maksud dari pelemparan batu yang memecahkan kaca kamar Frans kupikir hanya sekedar teror untuk membuat kami lebih ketakutan.


Agung dan Irfan masih setia menemani Frans di dalam kamar. Suster yang bertugas mengontrol pasien juga sudah memberikan jatah makan siang untuk Frans. Setelah sampai di taman, aku duduk di kursi kayu yang menghadap ke sebuah kolam kecil. Yulia ikut duduk di sampingku sambil menyibakkan rambutnya. Dia menatap taman dengan tatapan kosong sejenak. Dia lalu tersenyum dan menoleh ke arahku. Ada apa gerangan? Kenapa dia tersenyum mesum ke arahku, apa dia penyuka sesama jenis.


“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” ucapnya tiba-tiba.


Apa dia ingin bertanya apakah dia seksi? Aduh! Kenapa justru aku yang menjadi salah tingkah begini. Sepertinya otakku mulai sinting karena terlalu lama berada di rumah sakit.


“Ya,” jawabku singkat.


Yulia menundukkan kepala sejenak. Dia tampak berpikir serius, sesekali memainkan jari tangan.


“Apakah kau menyukai Frans?” dia bertanya.


Aku kaget bukan main, ternyata pertanyaan seperti ini yang akan dia lontarkan kepadaku. Ada apa dengan dirinya? Jangan bilang kalau dia menyukai Frans. Rasanya tidak mungkin, mengingat tingkah Frans yang selalu menjengkelkan.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Ah. Tidak, aku hanya penasaran, lupakan. Omong-omong, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


“Baiklah. Aku akan kembali ke rumah untuk mengambil uang tunai dan kartu kredit serta beberapa losion. Biaya perawatan si bodoh itu belum aku urus semuanya. Kasihan kalau adiknya Frans yang harus menangani semuanya.”


“Boleh aku ikut ke rumahmu?”

__ADS_1


Aku sedikit gamang untuk menerima permintaannya, tetapi mulutku tak kuasa untuk bilang tidak. “Tentu.” Ucapku berat hati.


Kami menikmati pemandangan di taman itu untuk beberapa saat. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk segera kembali ke kamar Frans dan berpamitan untuk menuju rumahku. Yulia ikut bersamaku, mobil Frans aku gunakan lagi, sungguh merepotkan kalau harus mencari taksi.


Selama perjalanan, Yulia hanya termangu tanpa berucap sepatah kata pun. Aku mengatakan kalau sudah sampai kediamanku. Dia mengangguk lalu turun dari mobil. Aku bergegas membuka pintu rumah. Yulia tampak merapikan rambut serta perhiasannya.


Kami masuk ke dalam, Yulia tampak kagum dengan desain interior rumahku. Dia juga terpukau saat melihat berbagai model baju yang terpajang di ruang tengah. Dia berjalan mengeliling ruang tamu. Aku melepas sepatu dan menaruhnya di rak.


“Kau ingin mandi dulu atau tidak?” aku menawarinya.


“Boleh,” ucap Yulia sambil mengangguk.


“Ikutlah, kau bisa gunakan kamar mandi di kamarku.”


“Itu fotomu dengan Frans?” ucapnya tiba-tiba.


“Ya. Ketika dia lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana pertamanya.”


“Wajahnya tetap lucu, kau pasti sangat dekat sekali dengannya.”


“Tidak juga,” jawabku sedikit ketus.


Entah, kenapa hatiku bergetar setiap kali Yulia menanyakan tentang Frans. Apakah dia menyukainya? Pikiran itu kembali terngiang-ngiang Tidak mungkin, lagi pula dia baru saja mengenalnya. Aku mencoba menepis pikiran-pikiran buruk itu. Hatiku seakan tidak rela kalau ada wanita lain yang ingin menanyakan banyak hal tentang Frans. Aku sadar, Frans sangat menyebalkan, tapi ketika aku menatap wajahnya, membuat hatiku teduh. Ah! Aku jadi mengingat kembali kejadian memalukan yang kulakukan saat itu.


 

__ADS_1


 


Setelah Yulia selesai, giliran diriku yang mandi. Yulia kusuruh untuk menunggu dan bersantai di kamar. Namun, ketika aku masih di dalam kamar mandi, dia mendapat telepon dari seseorang. Dia pamit kepadaku setelah menerima panggilan tadi, katanya ada urusan mendadak. Aku berteriak dari kamar mandi, apakah mau kuantarkan. Dia hanya menjawab naik taksi saja. Ya sudah, bagiku tidak masalah, selama dia bisa menjaga dirinya.


Aku tidak tahu ada urusan apa, sehingga membuatnya tergesa-gesa seperti itu. Mungkin saja keluarganya ada keperluan yang mendesak dan menyuruhnya pulang. Setelah aku selesai mandi dan berdandan, tiba-tiba suara telepon di lantai bawah berbunyi. Dengan langkah cepat, aku turun ke bawah untuk mengangkat panggilan itu. Ternyata dari Jason, katanya Frans berpesan agar aku kembali ke rumah sakit nanti malam saja dan suruh mengajak Frida sekalian. Tanpa rasa curiga, kuturuti permintaan Frans.


Saat ini Agung dan Irfan yang menemani Frans di rumah sakit. Iya, itu yang kutahu. Namun, semua itu salah, Agung dan Irfan telah diajak Jason untuk menemaninya ke hotel tempat Jason menginap. Katanya ingin mengajak mereka berdiskusi tentang bukti baru yang sudah ditemukan.


Frans tebaring sendirian di kamar rumah sakit. Ini adalah kisah saat dia akan kabur dari rumah sakit. Baru juga sebulan dirawat, malah kabur. Yang membantu dia melarikan diri adalah Yulia dan Jason. Mereka bekerjasama untuk mengeluarkan Frans dari rumah sakit secara diam-diam.


“Mengapa kau tak bercerita padaku sejak awal, Jason?” suaraku naik.


Jason melenguh, bisa kudengar desahan napasnya dari seberang. Ia bersiap berbicara lagi. “Maka dari itu aku meneleponmu sekarang. Aku merasa bersalah dan tak enak bila tak memberitahumu. Memang aku mengikuti kalian saat di hutan waktu malam itu. Isi kotak berupa lilin berbentuk angka delapan yang saat itu kuberikan pada Frans, memiliki pelacak. Aku menggunakan pelacak yang dipasang di lilin berbentuk angka delapan tersebut dan ketika kalian akan menuju rumah Hartanti, Yulia mengambilnya lalu memasukkan lilin itu ke dalam dompetnya. Inilah alasan kenapa aku bisa menemukan Frans dan kalian saat di dalam hutan.”


“Aku sungguh tak menyangka kau sampai sejauh ini.” Aku nyaris mematikan teleponku.


“Tunggu. Aku bisa membantumu. Ada hal yang harus kuberitahukan padamu selain masalah aku membututi kalian. Yulia dan aku sudah saling kenal jauh-jauh hari. Kemudian dia membantuku agar Frans mau bekerjasama denganku. Dengan syarat, aku harus membantu Yulia untuk mendapatkan hatinya Frans. Benar, Yulia menyukai Frans.” Kalimat Jason di telepon seketika membuat dadaku sesak.


“Kenapa? Kenapa kau memberitahukan ini padaku. Berarti Yulia juga sudah lama mengetahui tentang Frans?” ucapku dengan suara bergetar.


“Yulia pertama kali melihat Frans saat berada di sebuah mall. Ketika itu, Frans tidak memperhatikannya. Nama Frans semakin mengudara, Yulia semakin terobsesi untuk memilikinya. Satu hal lagi, ini cukup fatal dan aku harus memberitahukan juga padamu. Yulia mematikan ponsel pintarnya ketika bersama kalian di hutan—ia memang memiliki gawai canggih, tetapi ia mematikan gawai itu agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa dia menjalin kontak denganku.”


“Ah! Kalian sungguh keterlaluan. Benar, Agung memakai ponsel lipat model lawas. Irfan menggunakan ponsel biasa yang lebih kuno. Inilah sebabnya mereka tidak bisa menentukan arah ketika di dalam hutan! Aku sungguh tak tahu lagi ingin berbicara apa. Segera tutup teleponnya, aku masih ada urusan.”


“Ya. Sekali lagi maaf. Beruntung Frans bisa selamat dan keluar dari hutan itu hidup-hidup.”

__ADS_1


__ADS_2