Doppelganger: Petualangan Detektif Frans

Doppelganger: Petualangan Detektif Frans
Identitas Mr. B


__ADS_3

Bencana apa yang akan terjadi selanjutnya, semua sungguh membuat kepala terasa ingin meledak. Teror demi teror berdatangan seperti anak panah yang menghujani kami. Pengantar surat ketika kami di rumah Hartanti juga tidak diketahui, ditambah pria berkumis lele yang memecahkan kaca rumah sakit. Saat polisi suruhan Jason datang, petugas rumah sakit masih membersihkan pecahan kaca serta memasang dengan yang baru. Pihak rumah sakit sepertinya tidak terlalu cemas karena melihat ada polisi di ruangan kami.


Hari sudah mulai petang, Jason sudah kembali ke hotel di mana dirinya menginap. Agung bersama Irfan baru saja membeli nasi kotak untuk kami. Yulia berniat mandi di rumah sakit, tetapi ia mengurungkan niat. Frans masih terus memainkan selimut—menendang-nendang hingga melorot, sedangkan polisi suruhan Jason berjaga di depan kamar Frans. Kami benar-benar seperti binatang buruan yang terkurung di dalam kandang besi.


Selama di rumah sakit, Frans selalu membuat ulah dan menyusahkan kami. Dia benar-benar tidak sabaran dan ingin segera keluar dari kamar itu. Ranjang pesakitan seperti itu membuat Frans jenuh. Mungkin, ini adalah hal terbodoh yang dia lakukan, meski dia memang bodoh dari dulu. Detektif sembrono yang selalu bertindak seenaknya sendiri. Satu bulan berlalu, Frans nekat kabur dari kamar rumah sakit. Dia pulang ke rumah tanpa sepengetahuan kami.


Aku sangat kasihan dengan adiknya, dia selalu kerepotan saat Frans dirawat. Namun Frida merasa baik-baik saja, karena sudah menjadi tugasnya untuk merawat sang kakak selama di rumah sakit. Frida benar-benar gadis yang pengertian, sangat bertolak belakang dengan Frans. Segala keperluan selama Frans di rumah sakit, dialah yang mengurus semua. Sekarang, Frans justru ngeyel dan ingin segera melanjutkan penyelidikan meski kondisinya masih sangat memprihatinkan.


“Berengsek si Jason itu! Ia pikir aku ini kera rabies yang harus dirantai.” Frans menggerutu.


Semua karena Jason sempat ingin merantai Frans agar tidak melarikan diri. Selama satu bulan itu, Frans hanya terbaring serta melakukan segala sesuatu dengan tersendat. Irfan menerima tawaran dari Agung untuk menginap di rumahnya. Yulia juga sudah berani kembali ke rumah sendiri, meski setiap malam dia memutuskan untuk menginap di rumah Frans bersama Frida. Ketika itu, bisnis butik yang aku jalani sempat aku tutup sangat lama untuk menangani kasus ini.


Alhasil butik tersebut aku berikan kepada sepupuku untuk mengelolanya. Ada hal yang harus aku selesaikan, karena itulah aku tidak mungkin selamanya menjalankan bisnis tersebut. Saat ini, menulis kisah yang pernah aku alami adalah kegiatan yang sangat utama. Ditambah lagi dengan suasana tempat kerja serta teman baru yang sangat baik.

__ADS_1


Kasus ini adalah kasus terberat yang pernah aku selidiki bersama Frans. Begitu banyak pengorbanan untuk memecahkan kasus sialan ini. Darah, air mata, waktu, pokoknya banyak sekali. Tidak dapat kubayangkan lagi betapa dahsyatnya kisah ini. Sebelum akhirnya Frans memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya karena sekarang dia cacat. Bukan kakinya lagi, melainkan dia sudah tidak punya kaki. Bagaimana dirinya kehilangan kedua kakinya akan aku ceritakan nanti. Yang jelas, ini adalah kasus berbahaya dan juga kasus terakhir yang dia selesaikan mati-matian.


Meski kelak Frans berhenti dari detektif, dia masih sering melakukan penyelidikan kecil. Jika kepolisian yang meminta bantuannya, dia akan senang hati membantu. Meski dia tidak suka jika bekerjasama dengan polisi. Otaknya akan busuk kalau tak melakukan pekerjaan dan tidak berpikir, itu yang ia bilang.


Kita tinggalkan dulu kisah kaburnya Frans dari rumah sakit. Aku akan membeberkan apa saja yang terjadi selama satu bulan ini. Selama Frans dirawat, Jason melakukan penyelidikan sendiri tanpa sepengetahuan kami. Dia nekat menelusuri semua hal yang berkaitan dengan Mr. B. Jason pergi menuju ke rumah Hartanti, dia juga menelusuri data dari Teguh dan Pipin yang menghilang secara misterius dari penjara. Jason benar-benar ingin mendahului Frans untuk memecahkan kasus ini.


Tempat koran itu dicetak juga sudah di datangi oleh Jason. Sampai sejauh itu, bukti-bukti serta runtutan peristiwa dia kumpulkan sendiri. Jason pergi ke Kabupaten Purworejo, di mana Teguh berasal. Tentu hal ini tanpa sepengetahuan dari Irfan. Kami mengetahui apa yang dilakukan Jason saat dia menceritakan sebuah perkumpulan yang misterius. Perkumpulan ini dia selidiki dari seorang kakek tua yang sedang sekarat di bangsal 199. Kakek tersebut tidak akan bisa mati sebelum benda pusakanya dibuang. Akhirnya dia menceritakan kisah tentang organisasi besar.


“Ada sebuah organisasi yang menamakan diri mereka Organisasi Bel. Mereka menganut sekte Or, sekte yang mengajarkan tentang kecurangan hidup. Artinya, siapapun dapat menjadi kaya raya secara cepat, setelah itu mereka akan bermalas-malasan hingga menjadi miskin lagi.”


“Berengsek! Meski kau berusaha mendahuluiku, tetapi aku tetap akan berada satu langkah di depanmu.” Frans mulai mereda emosinya. “Organisasi itu dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Mr. B. Kalian akan kaget mendengar ini, jika informasi yang disampaikan oleh Jason benar. Maka dugaanku tidak salah lagi, nama Mr. B sebenarnya adalah Belphegor.”


“Bagaimana kau bisa tahu?” Jason terkejut.

__ADS_1


“Dari sebuah diari yang ditulis oleh bocah bernama Eno. Beraninya kau menyelidiki bagian terpenting ini, Jason!” Frans kembali berang karena masih sedikit dongkol.


Kami terperangah mendengar apa yang diucapkan oleh Frans. Aku sama sekali tidak mengetahui tentang diary, atau catatan apapun terkait sekte aneh tersebut. Agung dan Irfan mendekat ke tempat Frans berbaring.


“Kau terlalu banyak berkhayal, sepertinya efek obat yang kau konsumsi mempengaruhi otakmu, Frans. Tenangkanlah dirimu, agar kau tidak gila.” Celetk Jason.


“Aku tidak berkhayal. Bocah bernama Eno, menuliskan dalam diary-nya, bahwa dia bermimpi melihat orang-orang aneh yang sedang menyembah sesuatu yang mengerikan. Salah satu di antara mereka ada seorang kakek yang pernah memberinya sebuah buku ajaib. Buku tersebut dapat mengabulkan semua permintaan pemiliknya. Eno sering ditindas oleh teman-temannya. Maka dia menuliskan nama-nama penindas itu di buku ajaib. Empat anak bangor itu menghilang selama beberapa hari. Eno berencana mengembalikan mereka beberapa hari lagi, niatnya agar mereka merasakan hukuman. Kalimat terakhir yang dia tulis berbunyi seperti ini. Kakek yang memberikan buku itu, terlihat sangat mengerikan, dia kurus kering, di atasnya ada makhluk berwajah sangat menyeramkan yang menyebut dirinya Belphegor.”


“Lalu apakah ada petunjuk lainnya?” aku menimpali.


“Coba kau cari di internet tentang nama itu, setahuku Belphegor adalah pangeran iblis dari neraka. Dia menguasai perihal kemalasan pada manusia. Tidak heran jika anggota organisasi mereka kaya raya, kemudian jatuh miskin karena malas-malasan, seperti yang tadi disebutkan Jason.”


Apa-apaan ini? Ternyata yang selama ini kami lawan adalah iblis. Yang benar saja? Bagaimana nasib kita, apakah ada cara untuk mengalahkan hal-hal di luar nalar itu? Entah, aku benar-benar bingung sekarang.

__ADS_1


“Aku sendiri tak percaya kisah tak masuk akal dari si bocah itu. Jika memang iblis itu ada, maka ini akan jadi kasus paling menarik yang pernah kutangani.” Frans tersenyum lebar.


__ADS_2