
Suara ban mobil milik Frans berdecit ketika ia mengerem dengan penuh tenaga. Setelah memarkirkan mobil, dia langsung berlari keluar. Kondisi taman kota tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pasang remaja serta orang lanjut usia yang sedang mencari udara segar. Beberapa pemuda yang membawa sepeda tampak bersepeda ria di sebelah timur.
Jason muncul dengan wajah penuh keringat. Ia bersama Irfan dan seorang polisi suruhannya. Mereka juga tampak cemas karena Yulia menghilang.
“Kenapa dia pergi tanpa memberitahukan tujuannya?” Frans menyeringai.
“Mana kutahu. Dia pamit untuk menemuimu.” Jason berjalan lalu menyalakan rokok.
“Kuhajar hingga gigimu copot kalau berani merokok di depanku.” Frans sewot.
“Aku butuh konsentrasi. Tembakau membantuku untuk berpikir. Apa salahnya, lagi pula ini tempat terbuka.”
Mereka berdua selalu saja berdebat. Seperti kucing dan tikus yang selalu bermusuhan. Aku berdiri di dekat Frans sambil memandangi seluruh taman kota—segala sudut taman kupandangi dengan fokus. Aku sama sekali tidak melihat Yulia. Apakah dia belum sampai?
Jika dia berangkat menuju taman lebih dulu, harusnya dia sudah ada di taman. Akhirnya Frans dan Jason berhenti berdebat. Jason mau mematikan rokoknya, maklum, Frans sangat membenci asap rokok. Frans memutuskan untuk mencari Yulia. Akhirnya kami menyebar berkeliling taman kota.
Sepuluh menit kemudian kami kembali berkumpul di titik awal. Yulia tidak terlihat, semua tidak ada yang menemukan Yulia. Di mana dia berada? Apakah ini hanya lelucon yang ia buat-buat? Mengingat dia pernah berbohong padaku dan membawa pulang Frans dari rumah sakit. Perempuan itu benar-benar membuatku menggertakkan gigi. Kelakuannya yang sok cantik membuatku muak melihat wajahnya.
__ADS_1
“Dia tidak ada di mana-mana. Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Irfan mencoba membuka suara.
Jason dan Frans sama-sama termangu. Dua pria itu, ketika memikirkan sesuatu yang serius pasti mengabaikan sekitarnya. Menyebalkan sekali, apa semua pria memang begitu. Frans sungguh cuek dengan siapa saja saat dia berpikir serius—semoga tidak padaku!
Aku tahu segala sesuatu yang ia sukai—selai, apel, dan kecoa. Mungkin aku belum menjelaskan semuanya. Frans memang sangat menyukai kecoa. Binatang menjijikan tersebut seperti saudaranya sendiri. Dia memelihara kecoa dengan berbagai ukuran. Kecoa-kecoa itu ia pelihara menggunakan kandang dan diletakkan di dalam gudang. Ia memang memiliki tabiat aneh sejak awal aku mengenalnya.
“Irfan. Kau cobalah untuk menghubungi nomornya,” Frans berucap.
“Tidak bisa. Aku sudah mencobanya berulang kali.”
“Ah. Ke mana dia...?”
Dunia seakan memenjarakanku di dalam sebuah jerjak besi nan penuh permainan mengerikan. Penjara bebas dimana orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Game survival, mungkin cocok untuk menamai kisah petualangan panjang ini. Semoga kisah ini lekas menemui titik akhir.
“Hoi. Rupanya ada rubang rebon di sini. Sedang apa kalian?” Suara kakek tua membuyarkan lamunan kami. Ternyata itu ada si tua Mockingbird.
“Oh. Kami sedang mencari teman kami,” jawab Frans.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Ya. Dia katanya menuju ke sini. Namun tidak ada di mana pun.”
“Seperti apa ciri-cirinya?”
“Wanita yang kau bilang seksi saat di rumah sakit. Dia Yulia, yang berdiri dekat Helena waktu itu.”
“Ah. Ya, aku ingat. Sepertinya tadi aku melihatnya.” Kata Mockingbird.
“Benarkah!?” Frans langsung bersemangat.
Sebentar. Dia barusan menyebut Yulia dengan kata seksi? Apa Frans mulai tertarik dengannya? Apanya yang menarik dari wanita iblis itu. Aku jadi sangat kesal mendengar Frans mengatakan kalau Yulia seksi. Apakah Frans benar-benar tertular penyakit cabul dari Si Mockingbird?
Beruntung si tua Mockingbird melihat Yulia. Kini, yang masih menjadi pertanyaan adalah ke mana sekarang dirinya.
“Di sebelah mana kau melihatnya?” tanya Frans.
__ADS_1
“Tadi. Dia sedang duduk di kursi dekat pohon mahoni itu. Kurasa sekitar 25 menit yang lalu.” Mockingbird menunjuk sebuah kursi panjang di dekat pohon mahoni.